Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
64


__ADS_3

Kuah santan yang diberi campuran bumbu yang dihaluskan, kemudian di padukan dengan lontong dan sayuran serta kerupuk merah putih khas Medan plus satu telur rebus utuh sudah tandas tak bersisa. Piring batu putih dengan lukisan mawar mewah di sekelilingnya kini hanya menyisakan sendok dan garpu.


Dua anak manusia kini sedang menikmati hangatnya teh manis panas.


"Kok gak abis, Dek?" laki-laki itu menatap piring yang ada di depan istrinya.


"Apanya yang adek sisain? licin gini!" jawab perempuan berhijab keheranan.


"Katanya pengen banget makan, tuh sendok garpu nya kok gak sekalian?" seringainya. Seketika jangkrik berbunyi entah dari mana asalnya.


"Oh ini! ilmu yang itu adek belum belajar, Bang" Dewi tertawa lepas, benar-benar perempuan yang baik dia itu. Demi menghargai candaan suaminya yang garing itu dia rela pura-pura tertawa.


Notifikasi pesan singkat membuat layar hape yang Dewi letakkan di atas meja menyala, dengan cepat ia membukanya. Jari lentiknya menari di atas papan huruf dan angka.


Ya udah cepat kesini.


Tulisnya dalam pesan singkat. Wanita yang dulu pernah ia anggap sebagai ancaman, saat ini hendak menemui dia dan keluarganya dirumah sakit.


"Bohong dikit gak apalah, supaya mereka bisa bertemu berdua, eh ... enggak, ada mama kok." gumam Dewi


Setelah bahan bakar lontong membuat laparnya hilang, kantuknya pun datang, lelah semakin dirasakan oleh dokter gigi itu. Suaminya yang paling pengertian pun memahaminya setelah pundak kekar Zuan menjadi tumpuan kepala istrinya.


"Ayo kita pulang sekarang!" Zuan menghabiskan sisa teh panasnya yang sudah menjadi dingin, memanggil nenek-nenek yang menjual sarapan tersebut untuk membayar semua yang mereka makan.


Mobil putih pun kembali melaju melewati jalan yang semakin ramai kendaraan berlalu lalang.


\=\=\=\=\=


"Ini enak sekali! sejak kapan kau bisa masak?" Adzka masih menikmati suapan demi suapan nasi goreng pattaya buatan Juna.

__ADS_1



"Makan lah dulu, jangan bicara saat mulut penuh!" ucap Juna tanpa melihat Adzka, ia hanya sibuk dengan ponselnya. Bibirnya terus menggerutu akan kebohongan yang di ciptakan kakak ipar dari laki-laki yang bersamanya saat ini.


"Kenapa kau tega membohongiku Dew, issh ... kalau tau cuman ada dia disini lebih baik aku pulang saja." batin Juna


"Kau sudah makan?" Adzka mengusap bibirnya dengan tissue, sisa saos yang sengaja Juna siramkan di atas telur yang membalut nasinya masih tampak di bibir dokter tampan itu.


"Itu disini!" Juna menunjuk bibirnya sendiri.


"Apa?" Adzka tampak bingung


"Saos Dek, Saos ... masih nempel tuh di bibir." Adzka mengusap kasar bibir tipisnya, lagi-lagi wanita itu memanggilnya dengan sebutan yang ia tak suka.


"Bagaimana perkembangan Ibu? Apa tadi malam ibu sadar, Dokter?" Juna mengalihkan pembicaraan sambil membersihkan sisa makanan Adzka, menyusun rapi kembali kotak bekal yang masih menyisakan dua kotak nasi goreng lagi.


"Belum ... mohon doanya." Adzka masih saja ketus. Moodnya berubah turun seketika.


"Tidak, kenapa memangnya?" masih ketus


"Oh, mungkin efek nasi gorengku itu hanya membuat yang memakannya kehilangan senyuman." Juna menyeringai.


"Sudah tau aku gak suka, masih aja di buat!" Adzka bergumam. Juna hanya terkekeh mendengarnya. Adzka kini telah kembali duduk disamping brangkar Fatmala.


"Hahah, maaf ... maaf. Jadi aku harus panggil apa?" Juna masih saja membahasnya, melihat Adzka cemberut adalah sesuatu hal yang menggemaskan dalam ingatan Juna, beberapa kali moment seperti itu terjadi.


"Panggil Mas kek!" ucap Adzka lirih tapi masih tertangkap oleh pendengaran Juna


"Apaa!!"

__ADS_1


"Enggak gak ada apa-apa. Apa kau mau pulang?"


"Kau mengusirku?" Juna yang masih sibuk dengan ponselnya menatap lekat-lekat Adzka.


"Bukan begitu! kalau aku bisa minta tolong, bisakah kau menemani mama sebentar? aku ingin mandi, badanku rasanya lengket." ucap Adzka


"Iya benar kau sangat bau! mandilah, biar aku yang menjaga ibu." Juna menghampiri brangkar dari arah yang berbeda.


\=\=\=\=\=


Mata Juna menyapu seluruh ruangan dan berhenti di alat pendeteksi detak jantung. Diambilnya telepon genggamnya, mendengarkan murottal al-qur'an mungkin akan membuat suasana lebih baik. Dan berharap semoga ada keajaiban untuk wanita paruhbaya itu.


Di elus-elusnya lengan yang sudah mulai menampakkan keriput itu, berkata lirih "Ibu bangun, Bu. Buka mata ibu." ucapnya.


"Masih banyak orang yang membutuhkan Ibu, Apa ibu tidak ingin menimang cucu, Bu. Dewi dan Zuan kan sudah menikah pasti beberapa tahun kedepan Dewi akan hamil, wah ... pasti ibu sangat senang melihat cucu pertama ibu. Wajahnya pasti cantik secantik mamanya. Juna doakan semoga saja jangan mirip Zuan ya, Bu. Jelek! perutnya gendut lagi, dah gitu hobbynya tidur pula, ish ...."


"Ayo dong, Bu. Bangun. Apa enak tidur terus, Bu?" Juna terus berbicara sendiri. Sepasang mata mengintip dari balik pintu dengan senyuman terkembang menghias wajahnya yang sudah fresh.


Dua indra pendengar menangkap dengan jelas sosok gadis yang sedari tadi terus berbicara, seakan ingin menjawab semua ucapan dari nya, namun bibir itu masih kelu dan mata pun sangat berat untuk di buka, hanya cairan bening yang terus berjatuhan membasahi bantal yang menyangga kepalanya.


"Kenapa ibu menangis?" Juna menyeka buliran airmata dari sudut mata Fatmala.


"Apa ibu masih ingat saat kedua kali kita bertemu. Aku sampai enggan memanggil ibu dengan sebutan ibu kan. Aku malah ingin memanggil ibu kakak! Ibu itu masih muda, masih cantik, jangan malas gini dong, Bu. Udah siang gini masak masih tiduran aja. Kalau kata bunda Juna, pantang perempuan bangun siang-siang. Nanti ketimpah taik mata, hahaha ... Ibu percaya gak? kalau Juna gak percaya sih." gadis itu terus mengoceh, Adzka mengambil benda pipih yang memutar murottal al-qur'an. Adzka menghentikannya.


"Loh kok dimatiin?" Juna heran sekaligus kaget, dia tak menyadari sejak kapan laki-laki ity selesai dengan ritual wajibnya.


"Kasian mama, bingung mau dengarkan yang mana. Dari tadi kau terus mengoceh!" manik mata laki-laki itu tak lepas memandang gadisnya.


"Haha iya. Aku pernah dengar katanya orang yang koma itu bisa mendengarkan orang bicara hanya saja tak bisa membuka mata dan ikut bicara. Betul kan, Dokter? aku hanya ingin membuat ibu memarahi ku. Aku rela, asal ibu bangun." gadis itu menatap Fatmala dengan tatapan iba.

__ADS_1


"Ya ... menurut penelitian dokter sih begitu. Semoga saja lah. Tapi jangan membuat mama marah, kau mau di marahin mama lagi?" Adzka menatap kasian wanita pujaannya itu, masih segar ingatannya atas perlakuan mamanya yang diliar dugaan waktu itu


"Tidak apa-apa, asal Ibu sadar." Juna menunduk, masih terdengar jelas ucapan Fatmala kepadanya, tapi karena itu Juna justru bersyukur, tak ada kata-kata yang salah dari perempuan paruhbaya itu. Semua yang diucapkannya memang benar.


__ADS_2