Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
42


__ADS_3

Mobil berplat kuning menepi di bawah pohon rindang yang berjejer rapi di seberang ruko pertokoan. Dua orang berbeda jenis kelamin keluar dari dalamnya, dengan membawa satu koper berukuran besar, laki-laki berbadan kekar menyeret koper tersebut sedangkan wanita cantik yang mungil berjalan melenggang mendahuluinya.


Seolah tak sabar menuju tujuannya, gadis berhijab itu segera masuk kedalam ruko dua pintu yang bertuliskan apotek Maria. Menerobos antrian, memberikan satu lembar kertas kepada penjaga toko yang bertugas.


"Antri dong, Kak." ujar salah seorang pelanggan, namun gadis berhijab itu seolah tak mendengar.


"Tolong cepat, kakak." ucap gadis itu pula. Penjaga toko pun membawa selembar kertas yang seperti resep dokter tadi ke belakang. Lembaran kertas itu diambil Juna melalui celah yang sengaja dibuat seperti tempat pengambilan karcis.


"Apa nih? surat cinta, Neng? Kok gak ada nama dokternya. Mana tulisannya asli gak bisa kebaca juga. Banyak banget tulisannya, tapi yang bisa ku baca cuman antalgin doang." Juna membaca lebih teliti lagi kertas yang ada ditangannya.


"Ya, gak tau kak. Tu cewek ngasinya begitu. Pake nyerobot antrian malah." ucap Neneng.


"Ya udah, aku kedepan dulu deh. Mau tanya dia berobat kedokter apa. Kok aku gak tanda juga nih tulisan dokter siapa." Juna menutup kembali pintu ruangannya berjalan menemui gadis yang memberikan resep dokter tersebut.


"Permisi kakak, ini resepnya dari dokter mana ya? asli gak kebaca, Kak. Nama dokternya juga gak tertera disini. Tolong kasi tau saya siapa nama dokternya, biar saya telepon." ucap Juna yang kembali mencermati kertas yang masih ia pegang, tanpa melihat perempuan berhijab dihadapannya.


"Oh, itu dari dokter Dewi, Mba. Dokter gigi yang cantik itu loh." ucap gadis berhijab. Juna terperangah, memfokuskan pandangan kesumber suara. Nama dokter Dewi membuatnya teringat temannya di kampung halamannya.


"Astaga! Dewi. Ini beneran loe? ish ... gak percaya gue. Loe ngapain? kabur dari laki loe. Astaga ...." ucap Juna tak percaya.


"Iya, ni gue. Ya Allah, loe nyumpahin gue, jauh-jauh ya Allah. Ngapain gue lari dari Zuan. Sengaja loh kesini, kami kangen." ucap Dewi cengengesan.


"Keluar yuk. Ngobrol dulu kita." ajak Dewi pula


"Duh, aku lagi kerja. Sebentar ya, aku izin sama bos dulu." Juna mengambil handphonenya dalam saku.


"Halo, Bos. Masih lama sampai sininya?"


"Enggak, ini baru aja markirin mobil. Napa kangen?" suara Marchel dari seberang sana.


"Iya, bangeeet! cepetan kesini ya." ucap Juna pula


Sepasang sepatu beradu dilantai jalanan, melewati laki-laki tegap yang menatapnya seperti akan menagih hutang.

__ADS_1


"Siapa sih? sok diseremin gitu mukanya. Baru diusir ya, pake bawa-bawa koper segala." batin Marchel melihat laki-laki yang baru saja dilewatinya. Ia bergegas masuk kedalam apoteknya menerobos antrian.


"Mana yang kangen tadi." ucapnya begitu masuk keruangan peracik obat.


"Saya pak!" Juna mengacungkan tangan seperti anak sekolah.


"Mana sini biar aku peluk." Marchel merentangkan tangan. Juna menyambutnya dengan mengepalkan tinju yang hampir mengenai perut Marchel.


"Apaan sih, katanya kangen." Marchel mencebik.


"Iya, aku memang kangen. Aku mau izin. Temanku dari Medan datang nih. Kamu jaga kandang ya. Hehe" Juna memberikan senyum terbaiknya.


"Siapa yang datang? brondongmu itu?" seka Marchel


"Enak aja. Bukan lah, ngapain dia kesini. Itu loh, yang datang pengantin baru. Aku mau ngajak mereka keliling Makassar."


"Emang tau Makassar? paling taunya cuman pantai Losari doang."


"Ih, ngeremehin banget sih."


"Gak pake tarik-tarik berapa?" Juna menepis tangan Marchel. Disambut seringai khas lelaki tampan itu


"Gratis." bisiknya pula


"Ya udah ayok." Juna berjalan mendahului menemui Dewi yang menunggu dan berjalan meninggalkan apotik tersebut.


Laki-laki yang masih memegang koper tadi berjalan menemui Juna yang juga mau menghampiri. Dengan tangan tegapnya, lelaki itu menjitak kepala Juna.


"Dasar gadis nakal. Kenapa gak kasi tau aku kalau kau mau datang. Aku juga mau foto sama gadis malang ini." Juna hanya mengelus kepalanya yang sakit. Hubungan antara Juna dan Zuan sudah seperti kakak Adik, walau kadang memang seperti tom and Jerry. Beberapa tahun menjadi pengawal pribadi Juna non gaji membuat mereka menjadi akrab.


"Dih, siapa yang sudi foto sama pengantin perut gendut" Juna bergidik seolah jijik. Zuan kembali mendaratkan tangannya di atas kepala Juna, namun kali ini hanya mengelus pucuk kepala gadis tersebut.


"Maaf, Jun." hanya itu kata yang diucapkan Zuan. Matanya berkaca-kaca. Laki-laki itu tak bisa membayangkan betapa sakitnya hati gadis yang ada didekatnya saat ini karena perkataan ibunya.

__ADS_1


"Jangan mulai deh. Gak ada sedih-sedihan ayo kita jalan!"


\=\=\=\=\=


Suasana siang itu seolah menyambut kedatangan pengantin baru yang berbulan madu. Langit yang sedikit mendung dengan angin semilir membuat mereka tak mengurungkan niat untuk mengeksplore tempat tersebut. Setelah selesai sholat dimasjid Amirul Mukminin, mereka berempat memutuskan untuk makan siang.


Tak lupa acara makan mereka kali ini juga disponsori oleh Marchel.


"Jadi gak enak nih, di traktir terus." ucap Zuan yang berada di kursi samping kemudi.


"Santai aja, Bro. Anggap ini kado dari aku." ucap Marchel.


Keduanya terlihat akrab. Mungkin semua laki-laki memang seperti itu. Tak susah untuk mengakrabkan diri satu sama lain, tak seperti wanita.


Marchel dan Zuan saling bertukar cerita, mulai dari pekerjaan sampai hobby mereka kupas tuntas. Sedangkan kedua wanita yang berada di kursi belakang menjadi pendengar budiman saja. Sesekali mereka ikut dalam cerita kedua lelaki itu.


"Eh, kita kayak double date deh." ucap Dewi


"Ya, anggap saja lah begitu, Dew. Kalau aku sih mau ya. Tapi yang disebelahmu itu pasti enggak. Aku ini apalah. Hanya laki-laki tampan." Seringai Marchel. Juna hanya tertawa, menggelengkan kepalanya.


"Kenapa gak mau, Jun?" tanya Zuan


"Ya gak mau aja." ungkap Juna mengangkat bahu.


"Belum move on, Bro. Biasa ...." Marchel melirik Zuan yang tampak sungkan.


"Apaan sih." ucap Juna pelan, Dewi masih bisa mendengarnya.


"Dapat salam dari Adzka. Dia minta maaf. Dan doanya semoga Arjunanya bahagia." ucap Dewi berbisik ketelinga Juna.


Wajah gadis yang ceria itu seketika menjadi murung. Pandangannya dilemparkannya keluar, menatap sekeliling untuk menyembunyikan air matanya yang sudah mulai menggenang.


Tak ada yang mengetahuinya, selain laki-laki yang mengemudikan mobil tersebut. Wajah gadis yang berubah sendu itu tertangkap dari kaca spion miliknya.

__ADS_1


"Kau bisa menyembunyikannya dari mereka. Tapi tidak dariku." gumam Marchel dalam hati. Semangatnya untuk membuat gadis itu bahagia kian bergelora. Seolah pejuang bangsa yang begitu berapi-api.


"Aku berjanji, jika kau belum bahagia aku tidak akan bahagia." dia berazam dalam hatinya.


__ADS_2