Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
24


__ADS_3

Adzka kembali membuka aplikasi yang dilihatnya tadi. Tak tampak lagi pesawat dengan nomor penerbangan yang dia amati. Bersamaan dengan itu announcement menandakan yang dinanti telah tiba. Ia bersiap-siap menunggu pujaannya .


"Aku akan menjewer kupingnya. Seenaknya saja dia memblokir nomorku." gumamnya. Senyuman tak pernah lepas dari bibir tipisnya. Beberapa orang telah melewati Adzka yang setia berdiri menunggu kedatangan Juna.


Senyumannya seketika hilang saat melihat Juna berjalan dengan seorang laki-laki dan terlihat sangat akrab. Juna tampak tertawa sangat lepas. Mereka tampak seperti pasangan serasi.


"Siapa laki-laki itu. Tak mungkin Juna baru mengenalnya. Juna tak akan mau seakrab itu dengan seseorang yang baru dikenalnya." gumam Adzka, tangannya mengepal kecemburuannya tak dapat disembunyikannya.


Juna dan laki-laki yang bersamanya tampak sangat asik mengobrol, tanpa Juna sadari ia telah sampai ketempat Adzka berdiri menunggunya.


"Dokter! sedang apa disini?" Juna tampak dangat terkejut.


"Gawat! kenapa aku merasa seperti sedang ketangkap basah berselingkuh ya." gumamnya dalam hati.


"Om gak bisa jemput! jadi minta tolong aku yang menjemputmu. Zuan juga tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya." ketus Adzka.


"Oh, ya sudah kalau begitu Juna biar aku yang antar, dokter!" Marchel tersenyum ramah kepada Adzka, tapi tidaj kepada Juna.


"Apa dia dokter yang di maksud?" ucap Marchel dalam hati.


"Tak perlu. Aku sudah menunggunya disini selama dua jam. Masak iya aku harus pulang sendiri!" Juna yang mendengarnya merasa iba.


"Apa? dua jam dia menungguku? buat apa? kan aku sudah mengirimkan boardingpass ku ke Papa, seharusnya dia tau aku sampai Medan jam berapa!" dalam hati Juna terus berkata-kata.


"Ya sudah kalau begitu. Aku pulang bersama dokter saja. Maaf aku duluan, Chel. Titip salam buat mama." ucap Juna mengulurkan tangannya. Marchel menyambut uluran tangan itu.


"Kau berhutang penjelasan padaku. Siapa dia? apa dia orang yang spesial? sehingga rela menunggumu selama dua jam disini! tunggu dulu, dia itu spesial atau bodoh. Kan sudah tau jadwal keberangkatan pesawat. Apa dia gaptek? hahaha." Marchel dan Juna tampak saling berbisik membuat rahang Adzka mengeras, matanya tampak merah. Dia memilih pergi meninggalkan Juna dan laki-laki itu.


"Aku ambil mobil!" ucap Adzka, disusul anggukan Juna dipandanginya punggung laki-laki yang menggunakan baju batik dan celana bahan itu. Ketampanannya semakin terpancar dengan stelan khas Indonesia.


Cetak!


"Segitu terpesonanya. Aku juga tampan!" Marchel mendaratkan sentilannya di telinga Juna.


"Aw, apaan sih Chel. Tu tangan jahil amat!" Juna mengusap-usap daun telinganya yang merah.


"Pacarmu?"


"Bukan!"


"Terus siapa dia?"


"Dia itu dokter dirumah sakit tempat aku kerja. Masih muda gitu dokter spesialis loh. Enak aja bilang dia bodoh!"


"Wah, hebat ya. Bisa dijemput dokter. Gak kerja tu dia! ini kan masih hari kerja."


"Tau ah. Kepo."

__ADS_1


"Hm ... katanya udah jadi adek gue. Ya abangmu ini harus tau dong, adeknya pulang sama siapa. Keselamatan adik itu nomor satu!" dengan gaya super songongnya Marchel meyakinkan Juna.


"Iya iya, percaya abang yang ketemu gede!"


Flashback On


"Apa tidak ada kesempatan lagi, Jun?" ucap Marchel saat menepikan mobilnya.


"Tidak Chel."


"Apa sudah ada yang lain?"


"Bukan urusanmu!"


"Baiklah. Aku akan melamarmu."


"Dasar playboy gila!"


"Aku tidak gila. Aku tampan!"


"Ueek, ayo antar kan aku. Nanti aku ketinggalan pesawat!" Juna seperti mau muntah mendengar ocehan laki-laki yang mengaku tampan itu.


Marchel melihat jam dipergelangan tangannya. Benar saja jam sudah menunjukkan waktu yang sangat mepet dengan waktu untuk check in.


"Oh, iya. Aku juga tak mau ketinggalan pesawat." ucapnya pula kemudian kembali memacu kendaraannya membelah kota.


"Ke Medan!"


"Serius, Marchel!"


"Dua rius, Juna."


Juna yang mendengarnya memilih membuang mukanya. Ia menatap gedung-gedung tinggi yang dilewatinya dari balik kaca mobil.


"Mama sedang ada urusan di Medan. Tadinya aku mau ikut, tapi karena mama Lia memberitau ku kalau kau sedang di Makassar, jadi aku membatalkannya. Dan sekarang aku akan menyusul mama. Apa kau tak merindukannya?" Marchel menjelaskan.


"Mama? aku sangat rindu. Mama dikota mana, Chel? urusan hotel kah?"


"Iya, mama membuka hotel di sebelah pusat perbelanjaan terbesar di Medan katanya. Mama kesana untuk peresmian tiga hari yang lalu."


"Temuilah mamaku. Dia sangat merindukanmu. Kau pulang tanpa berpamitan padanya. Jun ... kalau kita tak berjodoh, mau kah kau menjadi adikku? aku ingin persahabatan kita terjalin lagi. Aku ingin kau tetap menganggap mamaku itu adalah mamamu juga." mencoba meraih tangan Juna. Juna menampiknya.


"Dont touch me."


"Ok, im sorry!" Marchel paham, prinsip perempuan yang bersamanya saat ini memang benar-benar kuat.


"Kapan pulang ke Makassar?"

__ADS_1


"Mungkin dua hari lagi!"


"Baiklah, abang. Aku akan menemui mama nanti." ucap Juna menatap Marchel dengan tatapan haru.


"Ini takdir kita. Chel. Mama aku rindu!" ucap Juna dalam hatinya.


Flashback End.


Marchel merampas benda pipih yang dipegang Juna, persisi saat pertama kali mereka bertemu lagi waktu itu.


"Ini nomorku!" Marchel memberikan lagi ponsel itu kepada pemiliknya.


"Abang tampanku!" Juna membaca nama kontak yang batu saja tersimpan dalam ponselnya.


"Hahah ... paksa kali ya, abang tamvan!" Juna menertawakan kelakuan laki-laki itu.


Notifikasi ponselnya berdering, pesan singkat dari Adzka.


"Masih lama kangen-kangenannya? kan tadi satu pesawat. Masih kurang?" tulisnya dalam pesan itu.


"Ini aku jalan kesana!" balas Juna


"Aku sudah ditunggu, Chel. Duluan ya!" Juna meninggalkan Marchel, berlari kecil berharap secepatnya sampai menemui Adzka.


Marchel terus menatap sampai wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu hilang dari pandangannya.


"Lelakinya sepertinya posesif! semoga kau bahagia, Jun!" ucapnya. Ia pun berjalan keluar, menemui sopir ibunya yang sudah menunggu.


\=\=\=\=


Mobil putih milik sang dokter melesat dengan kecepatan sedang. Sunyi, keadaan dalam mobil itu benar-benar sunyi. Juna tak berani bertanya apapun, karena wajah dokter yang ada disebelahnya saat ini tampak beda dari biasanya.


Sekalipun Juna tak pernah melihat wajah Adzka yang seperti ini. Dia terlihat seperti orang yang sedang menahan amarah. Setir mobil dia genggam begitu keras, sehingga urat-urat tangannya tampak begitu kelihatan.


Klakson mobil dia bunyikan secara membabi buta. Walau tak ada kendaraan yang akan di salipnya.


"Ada apa, Dok?" Juna memberanikan diri untuj bertanya.


"Itu tadi siapa?"


"Yang mana, Dok?"


"Laki-laki yang bersamamu tadi lah, siapa lagi!" Adzka membentak. Membuat Juna terperanjat.


"Namanya Marchel, dulu satu kampus denganku. Dia kesini mau nyusul Mamanya. Kebetulan mamanya sedang ada urusan di Medan." Juna menundukkan pandangannya, dia sangat terkejut, dia tak habis pikir, Adzka yang begitu lembut membentaknya.


Airmatanya jatuh, semakin deras. Sebisa mungkin suara tangisnya dia sembunyikan.

__ADS_1


"Jadi ini jawaban kenapa nomorku di blokir? maaf kalau aku mengganggu." Emosi Adzka sedikit berkurang, kini ada rasa bersalah dalam hatinya. Kenapa aku membentaknya! gumamnya pula.


__ADS_2