Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
46


__ADS_3

Suara benda-benda berjatuhan semakin sering terdengar. Dari dapur rumah sederhana tersebut tampak gadis yang menggunakan apron masak yang tampak berantakan penampilannya.


"Kakak itu masak atau nguli sih." ucap laki-laki paruh baya.


"Biarlah, Bang. Yang penting udah mau dia ke dapur." ucap Lia tersenyum.


"Nih, cobain masakan Yuyun. Gurame goreng saos asam manis, cah kangkung ala chef Juna." ucap gadis berkaos oblong tersebut. Hari ini adalah hari Jum'at, jadwal tutup apotek, makanya Juna bisa berada di rumah.


"Ih, enak ini chef Juna kan yang masak. Ayah ngefans banget tuh sama chef yang irit senyum itu." ucap laki-laki yang dipanggil Juna dengan sebutan ayah tersebut.


"Hm ... nyam ... nyam, yummy. Ini benar-benar enak loh, Ma. Kamu ada bakat, Kakak." ucap laki-laki itu lagi.


"Alhamdulillah kalau begitu, masak sudah bisa. Sekarang waktunya mandi. Mandi sana, bauk. Kalau sudah selesai masak, makanan sudah terhidang di meja satu syarat lagi menjadi istri idaman itu adalah, kamu harus wangi." Lia menarik hidung Juna yang mancung.


"Perlu kali ya, Ma. Harusnya kan suami itu terima istri apa adanya." Juna mencebik.


"Iya, tapi gak bau bawang juga kali, Nak." ucap Lia sambil menyendok nasinya.


"Udah cepat sana. Mama sama ayah makan duluan ya. Ayahmu juga mau ke masjid. Sudah jam dua belas juga. Ayo bang, makan. Nanti keburu Adzan." Lia memberikan piring kepada suaminya.


"Kenapa harus mandi, kalau bekerja aja libur kenapa mandi gak ada liburnya sih." Juna terus menggerutu menuju kamarnya.


Diruang makan, Lia dan suaminya membicarakannya. Melihat Juna yang mulai menyibukkan dirinya dengan memasak, dan hal lainnya yang tak biasa dilakukannya. Mereka menyimpulkan bahwa anak gadis mereka itu memang benar-benar sudah siap menjadi seorang istri.


\=\=\=\=\=


Seorang laki-laki dalam kerumunan jamaah masjid sedang memakai kaus kaki. Sedikit berbincang dengan jamaah yang lain pula. Laki-laki berkacamata itu menempelkan telepon genngamnya ketelinga. Taxi online pesanannya telah sampai. Laki-laki tersebut pun berpamitan, memakai sepatunya dan berjalan keluar dari pelataran masjid dengan membawa kotak yang ukurannya tak terlalu besar. Slingbag menggantung di tubuhnya yang atletis.


"Dengan bapak Adzka?" tanya seseorang yang baru keluar dari mobil.


"Iya, saya." jawabnya. Adzka pun memasukkan kotak tersebut dengan hati-hati, seolah ada barang pecah belah di dalamnya.


"Kita berangkat, Pak. Sesuai aplikasi kan?" tanya supir itu ramah.


"Iya."


Taxi online itu berjalan dengan kecepatan sedang, mengantarkan Adzka ke tempat tujuannya. Rasa lelah karena menempuh perjalanan yang lumayan jauh membuatnya sempat tertidur dalam perjalanan itu.


Satu jam telah berlalu, kini taxi tadi telah berada tepat didepan rumah bercat hijau telur asin. Dengan sopan supir yang usianya sebaya dengan penumpangnya itu, membangunkan sang dokter.


"Maaf, Pak. Kita sudah sampai." ucapnya.


Adzka pun terbangun dari tidurnya. Setelah membayar tarif perjalanan itu beserta tipnya, Adzka melangkahkan kakinya menuju rumah tersebut. Pagar rumah yang terbuka sebagian membuat Adzka langsung masuk kedalam nya.


Bel pun dia bunyikan, terdengar suara seseorang berlari dari arah dalam dengan berteriak mengucap kata 'sebentar'.


Deg

__ADS_1


Suara itu membuat jantung Adzka seperti ingin meninggalkan tempatnya.


Pintu rumah itu pun terbuka, menampakkan sosok gadis periang yang hampir setiap malam ada dalam mimpinya. Tapi kali ini, dia melihatnya dalam dunia nyata, bukan mimpi atau khayalan belaka.


Kedua mata itu saling menatap. Manik mata coklat gelap khas Indonesia itu saling beradu. Sesaat perputaran bumi seolah berhenti. Ada rasa tak percaya dari pandangan keduanya.


"Kenapa dia kesini." batin Juna


"Apa aku bermimpi. Benarkah dia sudah di hadapanku?" batin Adzka.


"Siapa, Kak. Ada tamu?" suara perempuan dari dalam rumah. Wanita itupun keluar melihat siapa yang membuat anaknya seakan jadi patung seperti saat ini.


"Dokter Adzka!" ucap perempuan paruh baya itu. Dia tak kalah terkejut, namun Lia bisa secepatnya menguasai dirinya.


"Masuk, Nak. Wah ... kejutan nih, nak dokter bisa sampai kesini." ucap Lia, dia mempersilahkan Adzka masuk kedalam rumahnya, sementara Juna yang masih tampak terkejut dia rangkul dan membawanya masuk kedalam.


"Jam berapa sampai bandara tadi? kok gak telepon tante sih, kan bisa dijemput tadi." Lia beramah tamah, memberikan satu cangkir teh dan sepiring biskuit.


"Jam berapa tadi ya, Tan. Pokoknya gitu nyampek terus cari masjid. Udah keburu Adzan." jawab Adzka dengan senyum ramahnya. Ekor matanya melirik Juna yang memandanginya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Sudah makan?" tanya Lia pula.


"Belum tante, nanti saja." Adzka tersentak, dia sama sekali tak menyadari bahwa sejak semalam dia belum makan.


"Ya sudah kalau begitu makan dulu deh. Kebetulan tadi Juna masak. Tapi makannya Juna yang temani ya. Kerjaan tante lagi banyak-banyaknya nih. Si Om juga lagi keluar. Gak pa-pa ya. Jun, anterin dong pak Dokternya. Siapin makannya." ucap Lia. Juna hanya mengangguk dan berjalan kearah dapur. Baru beberapa langkah dia berbalik kebelakang.


\=\=\=\=\=


Makanan yang disajikan sebenarnya menggugah selera, namun perasaan yang tak karuan membuat laki-laki itu seolah susah menelan makanannya.


"Makanannya gak enak ya, Dok?" Juna melihat laki-laki dihadapannya seperti tak berselera makan.


"Kalau begitu biar saya belikan lauk ke warung ujung komplek sini ya." Juna ingin beranjak dari kursinya, namun Adzka menahannya.


"Ini sangat enak. Ternyata kau pandai memasak. Jadi kau makan apa? apa kau memakan masakanmu ini juga, bukannya ini sangat pedas." Adzka mulai berani bicara banyak karena Juna sudah tampak seperti biasa.


"Hm, aku sudah mulai mencoba memakan makanan yang sedikit pedas, Dok."


"Apa perutmu tidak sakit?"


"Sakit, Dok. Hehe ... ya sedia obat saja." ungkap Juna


"Hah, jangan menyakiti dirimu. Kalau kau tidak bisa makan pedas ya jangan dipaksakan. Apa karena Marchel suka makanan pedas makanya kau melupakan sakitmu itu?" serkah Adzka


"Sudah lah, jangan banyak tanya. Makan saja dulu." Juna mencebik.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Dua anak manusia diam seribu bahasa. Mereka duduk sedikit berjarak di dekat bangunan yang berbentuk huruf bertuliskan Pantai Losari.


Mereka adalah Juna dan Adzka. Setelah selesai makan, Adzka meminta izin kepada Lia untuk membawa Juna ke tempat yang menjadi salah satu tujuan setiap wisatawan yang datang ke Sulawesi Selatan itu.


Kotak yang berukuran kecil tadi dibawanya, Juna dari tadi bertanya apa isi dari kotak tersebut, namun Adzka hanya menjawabnya dengan 'Nanti kau akan tau'.


Dia membukanya dengan hati-hati. Satu boks berwarna pink berukuran jauh lebih kecil dikeluarkannya dari kotak tersebut.


"Ini milik mu." Adzka memberikan kotak tersebut kepada Juna.


"Entah berapa lama aku mengumpulkannya. Setiap aku mengingatmu, aku ingin membelikan sesuatu untukmu. Harganya memang tak ada yang mahal. Tapi semua ini ku beli, dari hasil keringatku sendiri. Tolong terimalah. Sudah lama aku menyimpannya." Adzka menjelaskan tanpa di minta, melihat wajah Juna saja dia sudah paham bahwa gadis itu akan bertanya.


"Sebentar lagi kau akan menjadi milik orang lain. Aku tak akan bisa mencintaimu. Maaf kalau aku lancang. Juna sejak aku tau rasanya jatuh cinta, wanita itu adalah kau. Mungkin orang seusiaku sudah berkali-kali jatuh cinta tapi anehnya aku hanya satu kali. Dan mungkin tak akan pernah jatuh cinta lagi setelah ini. Kotak ini rencananya akan kuberikan setelah kau resmi menjadi istriku. Didalamnya ada coretan-coretan yang menjadi semangatku meraih prestasiku."


"Itu tujuanku datang kesini. Hanya untuk ini. Aku takut terlambat, mumpung Marchel masih belum kembali, aku memberanikan diri menemuimu. Walau sebenarnya aku masih malu. Maafkan Mama, Jun ... maafkan aku juga, karena aku kau menangis."


Sore itu, Matahari, angin, pasir pantai dan air laut menjadi saksi bisu cinta diantara mereka berakhir. Kotak yang dalam dekapan Juna menjadi lembab karena air mata Juna yang turun begitu deras bagai hujan. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Yang ada hanya air mata. Air mata duka.


Jikalau kau cinta


Benar-benar cinta


Jangan katakan


Kamu tidak Cinta


Jangan sampai, hingga waktu perpisahan tiba


Dan semua yang tersisa hanyalah air mata


Hanya air mata


Mungkin saja, cinta kan menghilang selamanya


Dan semua yang tersisa hanyalah ait mata


Hanya air mata ... cinta


(Judika)


.


.


.


Nyanyi bareng yuk 😉

__ADS_1


Happy reading gaes, likenya jangan lupa ya. Vote juga seikhlasnya, oke. 🙏


__ADS_2