Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
69


__ADS_3

Kesejukan air memberikan efek kesegaran kepada wajah putih bersih yang baru tersentuh wudhu, Juna tampak masih memakai sneakers, tubuh ramping itu membungkuk membuat rambutnya ikut berjatuhan kebagian wajahnya yang ayu.


Secepatnya Juna melakukannya, tak enak dengan Adzka yang sudah menunggu di dalam mobil yang sudah standby di depan pagar masjid dengan mesin mobil yang sudah menyala.


Tanpa mengatakan apapun Juna sudah duduk di sebelah kursi pengemudi, mobil tersebut pun melaju dengan kecepatan sedang mengantarkan wanita itu ke kediamannya.


"Kau lapar?" Adzka menghapus kebisuan, manik mata coklat itu sesekali melihat gadis di sebelahnya.


"Lumayan." jawab Juna sekenanya


"Kita makan dulu ya." Adzka langsung melancarkan aksinya.


"Eh, gak usah Dok. Paling bunda udah masak. Nanti bunda marah loh, udah capek-capek masak aku malah makan di luar." Juna menggeser posisi duduknya, mencoba menjelaskan ketidak inginannya untuk berlama-lama dengan laki-laki yang beberapa waktu lalu pernah membuatnya rindu.


Laki-laki itu mengurangi kecepatan mobilnya, mengambil benda pipih miliknya dan menekan tombol panggilan. Beberapa saat suara dari seberang sana telah menjawab, Adzka berbicara dengan headset bluetooth yang menempel di telinga kirinya.


"Halo, Bunda. Bunda masak apa?" ucap Adzka, suara dari seberang sana seperti menjawab pertanyaan laki-laki itu.


"Bunda mau dibawain apa? mau nasi uduk? atau martabak?" seru Adzka masih dalam panggilan telepon, Juna hanya menautkan kedua alisnya.


"Apa dia menelpon bunda ku?" ucap wanita itu dalam hati, matanya menatap keluar jendela melihat banyaknya pedagang kuliner di sepanjang jalan.


"Bunda tidak masak! bunda malah minta bawakan makanan." ucap Adzka sambil melepas alat bantu dengan dari telinganya.

__ADS_1


"Ha! maksudnya?"Juna menatap dengan tanya, "Benar ... dia menelpon bunda ku. Ih, anak ini ada-ada saja!" Juna menggerutu dalam hati


"Kalau begitu ayo kita makan. Kasian cacing di perutmu, meronta-ronta seperti itu masih bilang hanya lumayan lapar! itu Dzholim namanya!" Adzka lagi-lagi menatap Juna dengan tatapan yang sama seperti dulu.


"Iya, Pak Ustadz. Terserah saja." Juna membuang nafasnya kasar, tak tau harus menolak dengan dalih apalagi. Laki-laki disebelahnua punya seribu satu cara untuk bisa membuatnya berlama-lama di dekatnya.


"Astaga! bau apa ini!" Adzka menutup hidungnya saat Juna menghembuskan nafasnya dengan kasar. Membuat gadis itu malu dan jengkel.


"Mana ada! nafas ku wangi kali, Dok." Juna menghembuskan nafasnya di lengan kirinya, kemudian mengendus lengannya sendiri.


"Orang lapar itu ketauan dari aromanya!" Adzka mengibas-ngibaskan tangannya kemudian menutup lubang hidungnya yang mancung.


Adzka menghentikan mobilnya di warung tenda pinggir jalan. Di sepanjang jalan ahmad rivai itu, berbagai macam kuliner ada disana, mulai berbagai jenis kue seperti putu bambu, sarabe, dadar gulung, pukis, kue cubit sampai lapis. Kalau makanan beratnya ada sate, somay, mie rebus medan, mie goreng, nasi uduk pecel lele sampai lontong malam. Tinggal pilih, asal ada uang dizamin kalian tidak akan kelaparan.


Pilihan Adzka sudah pasti yang berbau sambal. Nasi uduk pecel lele menjadi pilihannya. Adzka duduk disusul Juna yang masih memikirkan bau mulutnya.


"Ayam aja. Aku gak suka Lele." jawab gadis itu memangku dagunya, menatap sekeliling yang tampak ramai pasangan muda, maklumlah ini malam minggu.


"Sejak kapan gak suka Lele?" laki-laki itu menautkan kedua alisnya, ternyata masih ada yang aku belum tau darinya. Pikirnya


"Sejak lahir, Dok. Hehe" jawab Juna menyeringai. Benar memang, Juna tidak menyukai ikan berkumis itu.


"Hm" Adzka menaikkan alisnya kemudian berdiri melangkahi bangku panjang yang mereka duduki. Menemui penjual lebih baik dirasa laki-laki itu, dari pada harus menunggu pramusaji datang, melihat banyaknya pembeli yang juga ingin segera dilayani.

__ADS_1


Adzka datang membawa satu piring ayam goreng dan satu piring tahu goreng, masing-masing disertai sambal yang diletakkan di wadah kecil mirip asbak rokok.


"Nasinya sebentar lagi diantar." ucapnya meletakkan kedua piring tersebut dihadapan Juna, gadis itu tampak sungkan karena perhatian Adzka yang rela menjadi pramusaji dadakan.


"Loh, kenapa dokter yang bawa? Apa lagi yang perlu diambil?" Juna berdiri hendak menuju ke rak makanan tempat pemilik gerai meletakkan sajian yang di jajakan.


"Udah duduk aja. Tuh udah datang." Adzka menarik lengan Juna agar kembali duduk. Benar saja, wanita muda datang membawa semangkuk Nasi hangat beserta satu piring lalapan disusul satu orang laki-laki yang membawa ikan Nila bakar. Adzka mengucapkan terimakasih kepada gadis itu, menunjukkan senyuman manisnya, membuat gadis itu salah tingkah.


"Senyumlah untuk semua orang, tapi hatimu jangan!" tiba-tiba syair lagu dangdut yang hits di era 90an terngiang ditelinga Juna.


Mereka pun mulai menyantap makan tersebut, sambil sesekali berbicara. Juna tak perlu mengeluarkan barang wajibnya karena Adzka sudah memesan khusus cairan hitam yang manis itu kepada pemilik warung, yang kebetulan memang menggunakan kecap dengan merk yang sama.


"Tadi katanya mau makan Lele, kok jadinya Nila?"


"Kan ada yang gak suka Lele, jadi ya sudah aku pesan Nila saja. Dari pada makan berduanya batal, kan gak asyik. Orang lagi mau malam mingguan juga. Lihat tuh mereka, pada mesra kan, enggak iri? aku juga mau gitu. Jangan karena Lele semua jadi gagal." Adzka menyeringai. Jarang-jarang Juna melihat tingkah dokter tampan itu seperti saat ini.


"Kalau iri kenapa enggak bawa pacar mu saja Dokter?" Juna menjawab asal, sambil menyuap nasi yang masih terasa hangat itu.


"Huh! Dasar gak peka. Mikir dong, kau itu orang spesialnya! malah nyuruh bawa yang lain!" batin Adzka, nafsu makannya berkurang.


"Kenapa berhenti Dok, makannya?" Juna melihat Adzka yang memasukkan tangannya kedalam bowl yang berisi air, orang-orang bilang namanya itu kobokan.


"Tiba-tiba gak selera aja." ucap Adzka tak semangat. Juna malah tertawa melihatnya membuat mood Adzka kembali bertambah melihat tawa gadis itu.

__ADS_1


"Kenapa tertawa!" Adzka pura-pura cemberut, berharap gadis itu berbicara manis seperti pasangan yang ada di sebelah mereka.


"Enggak apa-apa, Dokter. Lucu aja, tiba-tiba gak selera makan? jelas aja Dok, noh ... tinggal tulang!" Juna menunjuk piring ikan yang memang hanya menyisakan tulang belulang.


__ADS_2