Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
11


__ADS_3

Perempuan cantik baru saja memarkirkan mobilnya, tepat di depan gedung berwarna hijau muda dengan ornamen-ornamen berbentuk gigi.


Dengan langkah tergesa-gesa, perempuan itu berjalan memasuki ruangan kerjanya.


"Maaf saya terlambat. Tunggu sebentar ya, dik!" ucap perempuan itu, melihat pasiennya sudah duduk di kursi tunggu yang ada didalam ruangannya.


Dia berjalan ke arah wastafel, mencuci


tangannya dengan sabun cair yang disediakan di atasnya.


"Ayo, silahkan duduk disini. Kenapa giginya?" Dokter gigi itu mempersilahkan pasien yang umurnya masih belasan itu, untuk duduk di kursi panjang khas klinik kesehatan gigi.


"Tunggu sebentar, Dok! kakak saya masih di toilet!" jawab gadis kecil tadi.


"Loh, yang sakit bukannya adik toh!" ucap dokter itu mengulas senyum.


"Saya sih, Dok! tapi saya takut." ucapnya menyeringai.


"Ya sudah kesini, apa saya terlihat menyeramkan?" tanya dokter gigi itu menatap dengan tatapan sedih.


"Tidak Dokter! Dokter sangat cantik! saya hanya takut gigi saya di cabut!" pungkasnya lagi, berjalan mendekati tempat pemeriksaan. Bersamaan dengan itu, perempuan berambut panjang, masuk kedalam ruangan itu.


"Dokternya sudah datang, ya!" ucapnya menggeser pintu itu, untuk menutupnya.


"Loh, Juna!" dokter gigi tadi menatap Juna dengan senyum mengembang.


"Eh, iya Dew, kenalin nih adikku!" Juna memegang pundak Juni.


"Pantesan tadi waktu aku liat Juni, kok mirip siapa gitu! eh ... ternyata mirip loe! ya sudah ayo sini, ku periksa!" Dewi menatap Juni, seolah berkata cepat datang kesini!


Proses pemeriksaan dilakukan hanya memakan waktu 20 menit saja, tak ada pencabutan gigi. Gigi Juni hanya di tambal, karena lubang di giginya masih kecil. Setelah tindakan selesai, beberapa menit di manfaatkan oleh kedua gadis yang saling kenal itu untuk berbincang.


"Adzka sudah pulang, Dew! apa kau tak berubah pikiran?" tanya Juna. Setelah pertemuan mereka pertama kali di bandara waktu itu, beberapa kali mereka pernah bertemu lagi. Keberadaan Zuan yang menjadi orang kepercayaan Papanya Juna, membuat dia menjadi teman curhat polisi ganteng itu. Ternyata Zuan sudah lama tertarik kepada Dewi.


"Setelah dijalani, sepertinya memang benar. Perasaanku pada Adzka hanya seperti obsesi. Sekarang aku sudah merasa sangat nyaman dengan bang Zuan, walau kami masih backstreet." Dewi menyandarkan badannya di kursinya. Sementara Juni hanya bisa mendengarkan saja, tak paham dengan cerita kedua gadis cantik disekitarnya tersebut.


"Kau berhutang cerita padaku! kami pulang dulu. Gak enak sama pasien yang lain!" Juna menyampirkan tasnya mengajak Juni beranjak dari sana.


"Baiklah, lain kali kita ketemu. Aku akan menceritakan semuanya!" balas Dewi, mengantar Juna dan adiknya sampai keluar ruangan.



\=\=\=\=\=


"Apa dia sudah kembali?" tanya laki-laki yang memakai jas putih, kepada asistennya.

__ADS_1


"Belum ada kelihatan lewat, Dok!" jawab Toni.


"Itu, Dok! dia baru sampai!" ucap Toni seketika, saat matanya menangkap sosok perempuan yang selalu diperhatikan oleh Dokternya baru saja turun dari motor.


"Oh, ya. Apa kita ada pasien lagi?" tanya dokter Adzka melihat jam di pergelangan tangannya.


"Tidak, Dok!"


"Baiklah, kau boleh pulang. Aku juga akan bersiap pulang!" Adzka membuka jasnya dan menyampirkannya di tangan kekarnya. Tas hitam yang selalu dibawanya saat bekerja ia tenteng di tangan satunya lagi.


Tak terasa sudah empat bulan dia bekerja di rumah sakit tersebut. Hubungannya dengan Juna juga semakin dekat. Walau hanya sebatas teman.


"Dari mana, Jun? tadi aku keruanganmu mau ngajak makan siang, tapi kata Toni kau pergi!" sapa laki-laki itu saat berpapasan dengan Juna yang berjalan keruangannya.


"Aku baru saja dari klinik dokter Dewi!"


"Ngapai kesana? apa gigimu sakit?"


"Apa aku harus melapor dulu padamu, Dokter?" tatapan Juna begitu menusuk.


"Ketus amat sih, Neng!" Adzka mencebikkan bibir tipisnya.


"Jangan di ganteng-gantengin gitu mukanya! udah ah, aku mau absen dulu!" Juna berlari meninggalkan Adzka yang masih diam mematung.


"Kenapa lama sekali? cuma absen kan?" Adzka melipat tangannya di dada.


"Apa urusanmu?" tatapan tajam dari Juna tak membuat dokter Adzka takut.


"Ayo ku antar pulang!" Adzka masih pada posisinya.


"Tukang ojek langgananku sudah datang! kau pulang saja duluan!" Juna malah duduk di kursi koridor rumah sakit.


"Mumun sudah ku suruh pulang!" ketus Adzka.


"Kau ini! seenaknya saja." Juna menempelkan benda pipih miliknya ketelinganya. Tapi panggilannya tak di angkat. Dia mencoba sekali lagi. Akhirnya panggilan itu tersambung.


"Mun, kau dimana?"


"Aku dijalan, ada orderan!" jawab Mumun yang menghentikan motornya di tepi jalan yang belum terlalu jauh dari rumah sakit.


"Kan tadi aku sudah order duluan! gimana sih!" Juna menghentakkan kakinya, menatap Adzka dengan tatapan yang lebih menakutkan dari yang tadi.


"Tadi kan aku udah disana, tapi tadi ada dokter yang menyuruhku pulang saja. Katanya dokter itu, yang akan mengantarmu! ya aku cancel saja, dokter tadi juga memberiku uang ganti rugi karena sudah lama menunggumu!" jelas Mumun.


"Apa dokter itu pacarmu?" selidik Mumun

__ADS_1


"Ah sudah lah!" Juna mematikan Hapenya. Berjalan meninggalkan Adzka yang masih menunggunya untuk pulang bersama.


"Jun, mau kemana? Juna!" Adzka mencoba mengejar Juna yang malah berlari meninggalkannya.


"Kenapa aku merasa akhir-akhir ini, dia sengaja menjauhiku!" gumam Adzka.


Flashback on


"Kita makan ya!" pesan dengan emoticon senyum dibaca perempuan yang sedang duduk diruang kerjanya.


"Oke, Dok! hari ini aku yang traktir!" balas perempuan itu.


Keduanya kini bertemu di parkiran rumah sakit, jam istirahat dimanfaatkan mereka untuk food hunting, berbagai jenis makanan yang ada di kota itu namun yang masih terjangkau jarak dari rumah sakit mereka coba. Kali ini pilihan makanan berkuah di warung legendaris milik seorang nenek tua, menjadi tujuan makan siang mereka. Juna sudah merencanakan ini dari bulan lalu.


"Pertigaan di depan, belok kiri!" Juna menunjukkan arah.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai ketempat tujuan. Juna langsung turun berjalan memasuki warung makan itu, memesan menu andalan disana, lalu menunggu di meja lesehan. Adzka menyusulnya dan mendudukkan tubuhnya di seberang Juna, merekapun berhadapan hanya meja yang menjadi pembatasnya.


"Silahkan!" ucap pramusaji, setelah selesai menata pesanan Juna diatas meja.


"Terima kasih!" Adzka menyunggingkan senyum ramahnya.


"Mie sop kampung! belum pernah kesini kan? enak lo, kuahnya aja enak, cobain deh!" Juna menyeruput kuah yang tampak bening itu.


"Sruuuup! Em ... enak! tapi seperti ada yang kurang!" Adzka kemudian menambahkan dua sendok saus cabai, saus sambal dan kecap kemudian kembali menyeruputnya.


"Ini baru pas!" ucapnya.


Kemudian keduanya melahap seluruh makanan yang sudah tersedia. Hening, tak ada pembicaraan diantara mereka.


Adzka mengambil selembar tissu, tangannya berhenti di ujung bibir Juna yang terdapat sedikit kecap.


"Makan kok belepotan seperti anak kecil!" oceh Adzka menempelkan tissu itu dengan kasar.


"Sengaja! biar keliatan romantis! hahaha." Juna mengambil tissu itu dari tangan Adzka. Yang sebenarnya menahan malu dan rasa aneh yang dirasakannya beberapa minggu ini.


"Kenapa jantungku berdetak secepat ini! apa aku sakit jantung! apa aku harus memeriksakannya, ah ... tapi justru dokter jantung ini yang membuatku jantungan! astaga, aku harus segera menjauh darinya!"


.


.


.


Hai selamat idul adha besok ya, Author mau pamit dulu. Tiga hari kedepan gak up dulu ya, Quality time sama keluarga, author receh ini mau pulang kampung hee, Terimakasih yang setia memberikan like, komentar dan votenya ya 🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2