Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
17


__ADS_3

Wajah ganteng paripurna milik laki-laki berkacamata itu tampak penuh dengan keruwetan. Gantengnya seketika memudar. Moodnya sedang tidak baik saat beberapa hari terakhir ini.


"Apa yang harus aku lakukan, kenapa dia terus menghindariku! kemaren puasa ganti, besok puasa senin kamis, besoknya lagi puasa Daud. Ya Tuhan, aku harus apa!


mana Zuan terus mendesakku membawa Juna kerumah lagi. Bagaimana ini!" gerutu Adzka dalam hatinya.


"Permisi, Dok! ada paket makanan." Tomi memegang dua kotak yang berisi makanan.


"Makanlah, ajak Indah juga. Aku sedang tak berselera makan!" ucap Adzka tersenyum malas, memberikan selembar uang seratus ribu mengganti makanan yang baru saja diterima Tomi dari driver ojol.


Adzka berdiri membuka jas putihnya, menggantungkannya kemudian berlalu meninggalkan Tomi dan Indah tanpa berkata sedikitpun. Kedua asistennya itu tak berani bertanya, mereka hanya bisa saling menatap dan mengangkat bahu.


"Pak Dokter sepertinya sedang ada masalah." ucap Indah.


"Sepertinya begitu!" ucap Tomi.


Keduanya lalu melahap dua nasi kotak tersebut, sedangkan satu kotak lagi mereka letakkan di atas meja kerja dokternya, mungkin nanti dokter mendadak lapar, pikir mereka.


Adzka melarikan diri ke musholla rumah sakit, berjalan dengan langkah gontai. Saat berada dalam musholla yang sudah sepi karena sudah pukul 14.00, dokter ganteng itu menangkap suara isakan tangis. Perlahan dia mendekati sumber suara, dia sedikit menyingkap tirai yang memisahkan antara tempat laki-laki dan perempuan. Betapa terkejutnya dia, wajah sendu penuh dengan kesedihan tampak jelas didepan matanya.


"Kenapa dia menangis? siapa yang membuatnya menangis?" gumam Adzka. Tak menunggu lagi, Adzka langsung menyibak tirai itu, ia langkahkan kakinya mantap kedepan menemui sosok yang sedang berurai air mata itu.


"Juna, kenapa menangis?" ucapnya mendudukkan tubuhnya tepat disamping Juna yang masih bersimpuh diatas sajadah.


"Dokter! apa yang dokter lakukan disini? ini tempat perempuan!" ucap Juna begitu terkejut.


"Tirainya sudah kubuka lebar, lagipula tak ada yang masuk lagi kesini. Jawab aku kenapa kau menangis!"


"Aku tidak apa-apa, aku hanya punya sedikit masalah, Dok. Dan maaf, ini privasi dokter tak berhak tau!" Juna berdiri membuka mukenanya.


"Maaf aku hanya tak tega melihatmu menangis. Kalau ada masalah ceritakan saja padaku, walau hanya jadi pendengar budiman. Tapi setidaknya bebanmu pasti sedikit berkurang! Nanti ku antar kau pulang! aku tunggu di parkiran." Adzka meninggalkan Juna yang bengong mendengar ucapan dokter tersebut.


"Kenapa itu seperti perintah buatku, dan aku tak bisa menolaknya!" Juna terpaku memeluk mukenanya yang telah terlipat rapi dalam tempatnya menatap punggung Adzka yang telah keluar dari musholla.


\=\=\=\=\=


Perempuan paruh baya sedang sibuk di dapur bersama dengan seorang perempuan juga yang usianya tak terpaut jauh dengannya.


"Gak terasa ya, Mbok. Besok kita sudah puasa." ucap dokter Fatmala kepada asisten rumah tangganya.

__ADS_1


"Iya, Nya. Waktu begitu cepat berlalunya." ucap perempuan kurus tersebut.


Laki-laki berseragam coklat baru saja masuk kedalam rumah itu, dan ia langsung berjalan kedapur.


"Mama, masak apa?" sapanya, mengambil tangan kanan mamanya yang memegang sendok sayur. Dengan khidmat di ciumnya punggung tangan orang yang paling disayangnya itu.


"Gulai ayam kampung, Mie hun goreng dan ini on proses, sartika kesukaan kamu!" ucap Fatmala


"Saritemnya mana, Ma? ntar ada yang iri loh!" ucap Zuan mengingat sang adik.


Sartika, sambal teri kacang. Makanan kesukaan Zuan dari kecil, laki-laki itu sangat menyukainya. Saritem, sambal teri tempe. Beda dengan Zuan, Adzka suka dengan sambal teri yang dicampur dengan tempe, dia tak suka dengan kacang sedangkan Zuan tidak suka dengan tempe. Karena seperti itu, Fatmala selalu membuat dua menu itu, kalau hanya satu macam saja akan terjadi perang dingin antara keduanya, ada yang berfikir mamanya paling sayang padanya, dan yang satu lagi mamanya pilih kasih.


"Ada dong, sayang! tempenya tuh masih di potongin Mbok." Fatmala menunjuk kearah asistennya itu.


\=\=\=\=\=


"Kok diam aja sih dari tadi, kayak gak Juna deh! sebenarnya kamu itu kenapa, Jun? aku merasa kau sengaja menghindariku." ucap Adzka melihat Juna yang pura-pura sibuk dengan gawainya.


"Kan aku memang pendiam, Dok." ucap Juna datar.


"Pendiam? iya kah?" Adzka tetap fokus kedepan, dia mengurangi kecepatan mobil yang dikemudikannya agar waktu mereka berbicara lebih panjang.


"Kalau aku salah, aku minta maaf!"


"Dokter tidak salah apa-apa kok! aku hanya ... aku hanya mau menjaga jarak dok, aku malu orang-orang dirumah sakit sering mengejek ku. Aku hanya apoteker dok, tak pantas terlalu dekat dengan dokter." ungkap Juna


"Apaan sih! sejak kapan Juna mementingkan omongan orang. Kenapa tak pantas? bukannya cocok dokter dengan apoteker? dokter kan hanya memberikan resep, sedangkan apoteker yang meracik obatnya. Kita itu pasangan serasi loh." Adzka tampak serius, dia memang tak lagi bercanda, mungkin sudah saatnya pikirnya.


"Dih, pasangan serasi? kemana nyambungnya dari ceritaku tadi!" ucap Juna ketus.


"Lah kan tadi kamu bilang, tak pantas kamu dekat dengan dokter kan? ya udah aku jawab. Jun, kau menghindariku karena kau juga suka padaku kan?" Adzka menelan salivanya, detak jantungnya berdetak lebih cepat.


"Juga suka? maksudnya apa ni?"


Ciiiit, Adzka menghentikan mobilnya, menepi di pinggir jalan.


"Aku menyukaimu, Jun. Bahkan dari aku kecil!" tatapan Adzka penuh dengan kebenaran.


"Kau semakin mengingatkan ku pada umurku, Adzka!" Juna semakin merasa galau. Bagaimana ceritanya laki-laki itu bisa menyukainya dari kecil.

__ADS_1


"Aku serius! kau ingat tidak anak yang kau tolong sewaktu dia terjatuh dari sepeda, anak laki-laki cengeng yang kau bantu mengambilkan layangannya yang tersangkut diatas pohon mangga. Anak laki-laki yang selalu memanggil namamu dengan sebutan Arjuna!, anak laki-laki yang selalu berjalan dibelakangmu sewaktu kau pulang sekolah!"


"Anak laki-laki cengeng, jatuh dari sepeda, layangan, Arjuna!" Juna mencoba membuka kembali memorynya. Untung mengingat sesuatu adalah kelemahan Juna, tapi ia tetap mencobanya. Arjuna, kata itu memang sedikit familiar ditelinganya, memang dia merasa pernah dipanggil seseorang dengan nama itu.


Flashback


"Hei ... kenapa menangis?" sapa Juna, dia baru saja pulang dari les komputer. Dengan baju kaos dan celana panjang berwarna hitam, serta jilbab senada dengan baju nya dia sampirkan dibahunya.


"Layanganku tersangkut, Juna! aku tak berani memanjat pohon itu." ucap anak laki-laki kecil dihadapannya.


"Hah! anak ini memang tak suka bertutur, seperti orang bule saja. Aku yang sudah segede ini dipanggilnya dengan sebutan nama saja! dasar bocah semprul!" gumam Juna.


"Laki-laki kok takut manjat, cemen ah! nih peganging tas kakak!" Juna memberikan tas sandangnya, ia membuka kaus kakinya kemudian dengan sangat lihai dia sudah sampai di atas pohon mangga itu.


"Duh, cepat amat. Itu orang apa ******!" ucap Adzka kecil.


"Heh bocah, Kakak dengar ya!" jerit Juna dari atas pohon.


Tak berapa lama Juna sudah kembali berpijak dibumi dengan layangan yang sedikit sobek di tangannya.


"Nih layangannya. Lain kali main boneka aja biar gak sangkut diatas pohon lagi!" seringai Juna memberikan layangan itu.


"Aku ini laki-laki, bukan perempuan! terimakasih Arjuna!" ucap Adzka kecil.


"Arjuna lagi! namaku Juna bukan Arjuna!" ketusnya mengambil tas sandangnya yang dipeluk Adzka.


"Tadinya aku mau bilang kau Hanoman, karena kemampuan mu memanjat, tapi karena namamu Juna ya lebih baik Arjuna saja!" imbuhnya.


"Tapi akukan perempuan!"


"Yakin perempuan? kalau perempuan itu main boneka kan, bukan manjat pohon. Dan perempuan itu wangi bukan asem!" Adzka kecil berlari sambil tertawa meninggalkan Juna yang tampak bengong.


"Dasar bocah tengil, tadi nangis gak bisa manjat, sekarang malah ngatain orang yang udah nolongin dia. Dibilang asem lagi. Aku kan wa ...." Juna mengangkat tangannya, memalingkan kepalanya kearah tangan yang terangkat itu.


"Week, asem!" ucapnya saat hidungnya menangkap bau tak sedap dari ketiaknya. Beneran asem ternyata gumam gadis itu pula.


"Asem kan, ku bilang juga apa!" jerit laki-laki kecil dari jauh.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2