
Mobil putih bersih telah memasuki area perumahan yang cukup besar, pilar-pilar megah tampak berdiri kokoh dengan cat berwarna putih dengan paduan gold dan coklat tua. Gerbang hitam dengan pos satpam di hujung bagiannya juga telah terbuka. Ke empat sosok manusia yang paling Juna sayangi telah menanti kedatangan mereka.
"Mama, Bunda! sudah disini." Juna memeluk keduanya.
"Sayang, Ayo." ajak Adzka, kedua mertuanya memang sengaja ia undang, sekalian makan bersama di rumah baru yang akan mereka tempati, mungkin hari ini juga.
"Papa sama bunda kok gak bilang sih kalau mau kesini. Kan bisa sekalian tadi, jadi mas nggak usah jemput Juna segala." ucap Juna manja, bergelayutan memegang lengan Rudi.
"Sudah punya suami ya sama suaminya dong! ini lagi ngapain, lendetan terus sama Papa. Sana sama suami kamu. Dua tangannya nganggur itu!" Rudi melepas paksa lengan itu.
"Papa issh ... Jadi kalau sudah jadi istri gak boleh manja sama papa lagi gitu!" Juna mencebik
"Boleh, tapi lihat dong!Adzka juga menginginkan kau bergelayutan memegang lengannya seperti tadi. Enggak peka banget jadi istri. Adzka yang sabar ya!" Rudi semakin gencar meledek, membuat lengan kanannya menjadi kemerahan. Kalian pasti tau kenapa kan?
Beberapa furnicure, dan barang penunjang keindahan ruangan tampak memenuhi ruangan yang cukup luas tersebut. Saat pertama masuk kedalam rumah itu, pasti yang ada di benak Juna adalah "Mulai jam berapa aku bangun pagi nya, bagian mana yang lebih dahulu aku bersihkan dan ke ribetan lainnya!"
Seolah mengerti isi hati istrinya, Adzka menepuk bahu istrinya perlahan sekali. "Nanti kita cari Art! jangan panik dulu. Oh ... ya, ada satu lagi untukmu. Ayo kita ke kamar utama." ajak Adzka, menggenggam jemari Juna kembali.
"Nanti makanannya datang, Mas."
"Kan ada mama, sama Bunda." benar saja, kedua wanita yang kini akrab seperti kakak adik itu masih berada di ruang tamu, sedangkan kedua laki-laki pasangan mereka masing-masing tampak berkeliling menuju area belakang rumah.
"Ayo, kamarnya yang itu! kamar kita di tengah-tengah. Nanti kalau kita punya anak dua laki-laki dan perempuan mereka akan tidur di kamar kanan dan kiri kita, kalau anak kita keduanya perempuan mereka satu kamar saja, dan kita harus berusaha mempunyai anak laki-laki." oceh Adzka menaiki anak tangga, Juna hanya tersenyum simpul.
"Satu saja belum, Mas. Sudah menghayal dua!"
"Jangankan mau satu, merasain saja belum. hiks ...." Adzka memasang wajah memelasnya
"Sabar ya, Mas." Juna menepuk-nepuk bahu Adzka
Lengan Adzka memegang handle pintu kayu berwarna coklat. "Silahkan masuk, Istriku! inilah kamar kita."
Ranjang ukuran besar dengan sprey dan badcover putih polos tampak tertata rapi. Tirai penutup jendela kaca berukuran besar berwarna biru tua, tampak cantik. Warna kesukaan mereka berdua itu membuat mata Juna merasa betah memandang sekelilingnya.
Adzka membuka laci yang terdapat dalam lemari pakaian yang masih kosong. Laki-laki itu kini memegang map berwarna hijau dan memberikannya kepada gadis pujaannya.
"Untuk mu."
__ADS_1
"Apa ini, Mas?" Juna langsung membukanya. Beberapa berkas menempati isi dari map itu, namun yang membuat Juna sangat bahagia adalah SIA. Surat izin Apotek. Ya, Adzka menghadiahkannya sebuah apotek yang berada di bagian lain rumah tersebut.
"Mas!" Seakan mengetahui pertanyaan dalam hati istrinya, Adzka menggandeng istrinya tersebut. Membuka pintu kaca, dan keluar menuju balkon.
"Tidak sampai dua pintu seperti milik mantanmu itu sih, hanya ini yang bisa aku berikan." Adzka menunjuk ke sebelah barat, tampak bangunan yang menyatu dengan halaman sebelah kanan rumah mereka.
"Ini sudah sangat cukup, Mas. Terimakasih." Juna memeluk suami tampannya itu. Uang tabungannya masih utuh, seandainya di pakai juga tidak akan cukup untuk mewujudkan mimpinya untuk memiliki usaha apotek sendiri.
"Makasih doang?"
"Lah, terus?"
"Cium kek!" Laki-laki berkaca mata itu mencebik.
"Ih, Mas genit. Malu dong, kita kan di luar."
"Ya sudah sekarang ayo kita masuk!" Adzka menarik paksa, Juna mengimbangi dengan setengah berlari.
"Ayo cium!" Adzka menunjuk bibirnya.
"Mas, ih! kok bibir."
"Hehe, eh ... mas, makanannya udah datang mungkin. Turun yuk!" mencoba melepas lengan Adzka yang kini melingkari pinggang rampingnya posesif.
"Mau kemana? jangan kabur!" tatapan laki-laki berkacamata itu menghujam tepat ke hati Juna membuat darahnya berdesir, belum pernah ia merasakan hal ini sebelumnya.
"Maas ...." Juna balas memandang dengan harapan yang di kabulkan.
"Ya Tuhan, Adzka. Betapa malangnya nasibmu." laki-laki itu mengelus dada bidangnya.
"Sabar ya, Mas. Orang sabar menderita! hahak." Juna berlari membuka pintu kamar mereka dan menuruni anak tangga secepatnya.
"Sayang, Hati-hati!" Adzka pun mengekor di belakang.
Beberapa vigura yang menempel di dinding membuat Juna menghentikan langkahnya. Diam mematung di atas anak tangga.
"Ini kan? kok masih ada?" Juna mengalihkan pandangan kepada suaminya yang sudah ada disampingnya
__ADS_1
Foto berbingkai putih itu memperlihatkan dua anak manusia yang sedang makan di sebuah warung makan bernuansa hijau.
"Itu foto kita pertama kali makan bareng, masih ingat? ayam geprek pake kecap!" Adzka tersenyum, kilas balik kejadian itu terputar di memorynya.
"Dan ini! Ini foto setelah beberapa tahun aku tak melihatmu. Ini pertama kalinya aku melihatmu setelah aku mengambil spesialis di Inggris. Kau ingat? waktu itu kau terus memakai headseat tanpa memerdulikan orang di sekitarmu. Dasar wanita anti sosial!" umpat Adzka memperhatikan foto Juna saat pertama kali pulang kampung setelah menyelesaikan pendidikannya.
"Ini! apa ini? astaga! ternyata suami ku berbakat jadi paparazi!" Juna tak percaya melihat wajah bantalnya dengan apron yang melekat.
"Itu pemandangan yang sangat membahagiakan tau! melihat seseorang yang kita sayangi dengan ikhlas rela menyiapkan sarapan di pagi-pagi buta."
"Waktu itu aku sangat berharap, walau saat itu salah sih! aku ingin melihat pemandangan seperti itu setiap pagi suatu hari nanti. Walau waktu itu kemungkinannya sudah sangat minim, tapi gak ada salahnya kan berdoa!"
"Dan Alhamdulillah, akhirnya semuanya terwujud!" Adzka memeluk Juna kembali, dagunya menempel ke bahu.
"I love you, Istriku." ucap Adzka, mencium pipi kanan Juna lama.
"Mas ih, geli!" jerit Juna
"Hey! apa yang kalian lakukan. Enggak bisa nahan sampai kami pulang apa!" suara Lia dari bawah, membuat ke dua pasangan baru itu kembali tersadar bahwa mereka sedang berada di bumi saat ini bukannya di surga.
"Ayo makan dulu. Nanti lanjut lagi mesra-mesraannya." Cindy ikut bicara, kini semuanya sudah siap menyantap makanan yang telah tertata rapi di meja.
"Nih, Ka. Ada udang, kepiting, cumi. Makan yang banyak, supaya nambah tenaga." Sosok yang di panggil dengan sebutan Ayah berbicara penuh maksud, membuat Adzka tersenyum kecut.
"Nambah tenaga buat apa, Yah. Nganggur terus tiap malam." ucapnya lirih, namun Juna yang duduk di sebelahnya masih bisa mendengarnya.
"Nyantai, Bro. Syukuri apa yang ada ya." Juna menepuk pundak suaminya, membesarkan hati namun sebenarnya hatinya amat bersyukur, tamu bulanannya datang disaat yang tepat. Wahahah.
.
.
.
**Maaf lama ya, updatenya, dah gitu garing lagi 😁
maaf keun ya, tinggal di goreng atuh kalau sudah kering mah😍
__ADS_1
Pokokna like aja deh, vote yang banyak dan komentar! Nuhun 😉**