
Rintik hujan membasahi bumi, meninggalkan sisa-sisa air yang turun dari langit itu disetiap bagian yang tak tertutupi. Seseorang baru saja keluar dari ruangannya karena ada tamu yang mengunjunginya.
"Ada siapa mang?" ucap laki-laki tegap itu berbicara kepada office boy.
"Saya tidak kenal, Pak. Tapi potongan rambutnya seperti ibu-ibu polisi juga!" ucap mang Wito.
"Perempuan itu menunggu di taman, Pak!" sambungnya lagi.
"Baiklah, terimakasih Mang. Saya kesana dulu!" ucap Zuan menepuk pundak laki-laki paruh baya tersebut.
Langkah tegap dari pemilik kaki jenjang itu, menuju ke suatu tempat. Netranya menangkap punggung wanita yang sedang duduk menunduk memainkan ponsel pintarnya dikursi taman yang ada tepat didepan air pancur dengan logo instansi tempatnya bekerja disekitarannya.
Zuan mendudukkan tubuh tegapnya disamping gadis itu. Sontak perempuan itu tersadar dari kesibukannya, karena goncangan dari bangku taman yang dia dudukki.
"Kau sudah datang!" ucap gadis berambut lurus itu.
"Hm ... ada apa kau kemari? kalau ada perlu kenapa tidak telepon saja!" ucap Zuan tanpa melihat kearah lawannya berbicara.
"Apa kau lupa? kapan kau memberikan nomon ponselmu? yang ada pada orangtuaku hanya nomor dokter Fatmala itupun nomor telepon prakteknya, masak iya aku harus telepon kesana. Bukannya menyelesaikan masalah, tapi justru malah memperkeruh suasana saja." ucap perempuan itu menatap Zuan, matanya berbinar ada sedikit kesedihan disana. Betapa tidak, saat ia pertama kali jatuh cinta, laki-laki itulah orang yang membuatnya mengenalnya.
"Oh ... maaf! aku lupa." ucap Zuan sedikit tersenyum.
"Langsung saja, mau apa kau menemuiku!" tanya Zuan penuh selidik.
"Aku mau menikah! ibu menyuruhku segera menikah agar aku bisa ikut dengan mu, dan tidak lagi bekerja dibagian seperti tugasku sekarang!" ucap perempuan itu tanpa ragu sedikitpun.
"Apa! yang benar saja! aku tidak mau! Ismi, apa ini? kita bahkan belum saling mengenal!" ucap Zuan terkejut mendengar ucapan perempuan cantik itu yang to the point.
"Lalu bagaimana? apa aku harus menunggu kau siap? berapa tahun lagi? ini sudah lima tahun setelah cerita perjodohan itu! sebenarnya aku juga sudah mulai kepikiran untuk menikah umurku sudah cukup matang untuk hal itu." ucap Ismi menyandarkan tubuhnya di bangku panjang yang masih sedikit basah karena hujan gerimis tadi. Ismi hanya mengeringkan bangku untuk nya duduk dan Zuan, sehingga belakang bajunya menjadi sedikit basah.
"Baiklah, aku siap! kapan kau mau menikah? besok! ayo!" Zuan menarik tangan Ismi, tubuh Ismi terangkat mengikuti gerakan tangan laki-laki tampan itu.
"Tunggu dulu! aku tau kau tak mencintaiku!" Ismi menarik paksa tangannya yang erat di pegang Zuan.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau tetap mau menikah denganku!" ucap Zuan lagi.
"Siapa yang mau menikah denganmu? aku tau kau dan dokter gigi berjilbab itu punya hubungan spesial kan? jadi untuk apa aku memaksamu untuk menikahiku. Kau memang cinta pertamaku, Mas. Saat itu aku bertekad untuk tetap menunggumu datang dan mencintaiku juga, tapi kau tak pernah datang lagi setelah pertemuan keluarga waktu itu.
Aku mencoba untuk setia, tapi kesetiaan itu sirna oleh yang selalu ada! aku jatuh cinta lagi setelah dua tahun mencoba bertahan menunggu kejelasan darimu. Dia temanku SMA, dia juga seorang polisi sama seperti kita. Aku mau menikah dengannya. Tapi perjodohan itu bagaimana?" Ismi meremas jarinya, kegundahannya semakin terasa saat mengingat sosok pujaan hatinya yang sebenarnya sedang menunggunya di dalam mobil.
\=\=\=\=\=
Waktu istirahat dimanfaatkan seluruh staff rumah sakit untuk makan dan beribadah. Beberapa orang ada juga yang tetap didalam ruangannya.
Adzka berjalan keluar dari ruang prakteknya, menuju apotik yang terletak diujung koridor. Dengan semangat yang berkobar untuk menemui gadis pujaannya.
"Makan yok!" ucapnya melihat Juna yang hendak keluar dari ruangannya juga.
"Oh ... maaf dokter, saya sedang puasa!" ucap Juna menolak ajakan Adzka tanpa senyuman.
"Puasa?"
"Ini kau mau kemana?" tanya Adzka penuh selidik.
"Apa dokter tak melihat apa yang ku bawa?" Juna mengangkat kantung kecil berwarna coklat berbahan kain yang sangat lembut.
"Mau shalat ya! ya udah bareng ke mushollanya ya!" Adzka sedikit berbinar, tak apalah tak jadi makan bersama. Berjalan berdua ke musholla saja sudah bahagia, pikirnya lagi.
"Hah! aku harus bilang apa! terpaksa aku mengiyakan ajakannya. Ya Allah, apalagi alasan yang akan kukatakan besok. Aku harus tetap menghindarinya." Juna melirik Adzka dari ekor matanya. Dokter tampan itu berjalan beriringan dengannya dengan senyum ramah yang mengembang disana.
\=\=\=\=\=
"Mas, pulanglah duluan atau temui aku lagi nanti jam lima sore. Kami harus berbicara serius. Tolong percaya padaku, aku dan Zuan tak ada apa-apa!" ketik Ismi dalam ponselnya, tak lama ia mengirimkan pesan tersebut.
Ismi dan Zuan saat ini sedang berada dalam mobil. Zuan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak sabar untuk segera menemui Dewi, mereka akan membicarakan masalah ini bertiga dengan Ismi juga tentunya.
"Kenapa kau bisa jatuh cinta kepadaku, Is?" tanya Zuan memecah kesunyian dalam mobil itu, tak ada pembicaraan atau musik yang terdengar setelah mereka meninggalkan kantor tempat Laki-laki tampan itu bekerja.
__ADS_1
"Tak usah dibahas lagi, aku sudah menguburnya dalam-dalam, Mas. Aku tak mau melihat kebelakang lagi. Pacarku begitu menyayangiku, dan aku juga!" jawab Ismi tak ramah, perasaan kecewa itu akan kembali hadir dalam hatinya jika mengingat kesetiaannya ah ... bukan kesetiaan, melainkan kebodohannya menunggu orang yang dicintainya pada pandangan pertama itu tanpa ada kejelasan sama sekali. Hanya berlandaskan kesepakatan dari dua keluarga yang bersahabat sejak lama.
"Hm ... baiklah, maafkan aku. Semoga kau bisa berbahagia tanpa aku!" ucap Zuan sembarangan, tak tau lagi apa yang harus dikatakannya. Ismi sebenarnya juga cantik, tapi entah kenapa dia tak merasakan sedikitpun getaran dihatinya saat bertemu dengan gadis itu, ataupun saat namanya disebut.
"Its Okay. Aku sudah bahagia kok! tenang saja." imbuh Ismi mencoba tersenyum.
Tersenyum adalah cara terbaik untuk menghadapi setiap masalah, untuk menghancurkan setiap ketakutan dan untuk menyembunyikan setiap rasa sakit.
Ditempat lain dokter Dewi masih disibukkan dengan rutinitasnya, penanganan yang dilakukan kali ini lumayan menyita waktunya untuk tidak memperhatikan benda pipih yang terletak didalam tasnya.
Dengan terisak seorang gadis kecil memohon untuk segera dibawa pulang oleh ibunya, terkadang gadis itu juga meronta karena perasaan takut yang menghantui perasaannya. Tapi setelah Dewi berhasil membujuknya dengan beberapa boneka berbentuk sebuah gigi yang tampak sangat imut, membuat anak tersebut sedikit merasa tenang, "Ibu dokternya baik ya, Bu!" ucap gadis kecil itu. Meskipun begitu, proses pencabutan gigi yang dilakukan juga diselingi dengan drama-drama yang melelahkan.
Setelah semuanya selesai barulah dokter gigi cantik itu memiliki kesempatan untuk melihat gawainya.
"Astaga, 14 panggilan tak terjawab!" ucapnya terkejut saat layar Hapenya menyala. Diapun mengecek pesan melalui aplikasi pesan berwarna hijau.
"Abang kesana, abang bersama Ismi!" dengan kening yang berkerut, Dewi membaca pesan singkat itu.
"Ismi! sepertinya aku pernah mendengar nama itu." dia mencoba menguatkan ingatannya. Mengetuk-ngetukkan benda pipih yang dipegangnya itu kemeja kerjanya.
"Ismi itu perempuan yang dijodohkan om Pras dengan bang Zuan kan? untuk apa dia kesini? apa jangan-jangan tante menyuruhnya menemui bang Zuan, apa tante akan menikahkan bang Zuan dengan Ismi sesegera mungkin? bagaimana denganku! astaga ... apa ini! kenapa harus ada perjodohan itu! dan aku juga, Adzka. Ah ... sedikitpun aku tak punya perasaan apa-apa lagi padanya. Saat ini fokusku hanya bang Zuan, aku benar-benar sudah sangat mencintainya! bagaimana ini!" Dewi mondar-mandir diruangannya yang tak begitu luas. Langkahnya terhenti setelah melihat mobil Zuan baru saja sampai dan berhenti tepat disebelah mobilnya. Perempuan berambut sebahu keluar dari mobil terlebih dahulu. Kepala perempuan itu menengadah keatas, mulutnya tampak membaca tulisan yang ada diatas sana, sebagai identitas bangunan tempatnya berdiri saat ini.
"Tit!" suara mobil yang dikunci.
Zuan berjalan menghampiri Ismi yang masih berdiri menunggunya.
"Ayo masuk!" ucapnya, melangkahkan kakinya melalui Ismi.
"Masalah ini harus segera selesai. Kita harus menikah dengan orang yang mencintai kita juga! Aku akan mengenalkanmu dengan pilihanku. Dan kau, teleponlah pilihanmu, aku juga ingin mengenalnya." Zuan menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menghampiri Ismi.
"Okay, setuju!" ucap Ismi dengan senyum yang sangat manis.
"Apa yang mereka bicarakan, kenapa tampak sangat akrab!" Dewi melihat pemandangan dari balik kaca ruangannya, ada rasa sesak didadanya.
__ADS_1