Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
74


__ADS_3

Mata itu masih tak dapat terpejam, mungkin karena ia sudah menyicil tidurnya sehabis maghriban tadi. Di ambilnya benda pipih miliknya, menggulir daftar kontak dan menelpon. Beberapa saat panggilan itu masih tak di jawab, beberapa menit kemudian, "Assalamu'alaikum." suara dari seberang sana begitu segar, tak seperti orang yang sedang terganggu tidurnya.


"Kau belum tidur juga?" gadis berpiyama abu-abu itu mengernyit.


"Kau lihat jam berapa ini! aku bahkan sudah bangun. Ini masih di atas sajadah, kau mengganggu aku dengan Rabb ku." suara dari seberang sana berbisik.


Juna melihat jam kecil di atas nakas, menggaruk kepalanya yang sebenarnya memang gatal.


"Hehe, aku gak bisa tidur! Eh, tapi aku udah tidur kok tadi habis maghrib." jelas wanita itu


"Teruuus?? cukup itu aja, pikirkan kesehatanmu Junaedi!"


"Iya Ustadzah, besok aku akan tidur teratur deh janji!" Juna membentuk huruf V dengan jarinya.


"Insya Allah!" suara dari seberang sana membenarkan.


"Eh, iya mak. Insya Allah." gadis itu tertawa renyah.


"Mil!" panggilan itu di jawab dengan "hm" saja dari seberang sana, mungkin saat ini sahabatnya itu sedang melipat mukenanya.


"Ternyata begini rasanya dilamar ya. Kau dulu? apa juga tak bisa tidur seperti ini?" Gadis itu merona, pipinya memerah.


"Hah! apa?? siapa yang sudah melamar mu? apa dia baik-baik saja?"


"Jangan berjanda! aku sedang serius ini!"


"Hahah, jangan bawa-bawa status orang yang tak berdosa, Jun. Segala Janda di sebutkan. Serius nih, siapa babangnya? apa si adek dokter itu?"


"Yes, tebakan tepat!" Juna membaringkan tubuhnya, benda pipih itu masih tetap menempel di telinga kirinya.


"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya! aku senang sekali, Jun. Semoga lancar sampai hari 'H'! kapan rencananya?"


Pembicaraan itu berakhir sepuluh menit sebelum adzan subuh di daerah tempat Mila tinggal. Saat suaminya sudah bangun dan bersiap mandi panggilan telepon itu di akhirinya.

__ADS_1


"Kau harus memprioritaskan suami mu juga nanti." ucap Mila sebelum telepon itu benar-benar berakhir.


Juna memejamkan matanya, beberapa menit berlalu akhirnya ia berhasil terlelap. Adzan subuh membangunkannya, mungkin hanya beberapa menit dia hanyut dalam mimpinya yang ia sendiri lupa bagaimana ceritanya.


Dengan langkah malas, gadis itu mengambil handuknya. Mandi akan membuat tubuhnya segar. Tak butuh waktu lama, gadis itu keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya.


"Kau dirumah saja!" seketika gadis itu terngiang ucapan Adzka, calon suaminya.


"Hm ... pakai baju tadi saja lah. Kan gak boleh kemana-mana." gadis itu kembali masuk ke dalam kamar mandi, mengambil pakaian yang dari semalam ia pakai.


Kebahagiaan yang ia rasakan malam tadi, walau tak sesempurna impiannya masih membuatnya senyum-senyum sendiri. Berdiri menatap wajahnya di depan cermin, tangannya tergerak untuk memberikan polesan berwarna peach pada bibirnya. Rambutnya yang bertambah panjang ia biarkan tergerai begitu saja.


Buku yang ia sambar dari rak buku mininya ia bawa turun ke bawah, dia tak begitu suka membaca. Buku itu sebenarnya hanya pengalihan ingatannya yang masih belum bisa move on dari kejadian tadi malam.


Novel karya Asma Nadia yang berjudul Sakinah bersamamu, malah membuat nya semakin senyum-senyum sendiri.


"Ya ampun, aku ini kenapa sih."



Laki-laki berkacamata sedang menyantap sarapan paginya. Satu gelas susu, dua potong roti yang ia beri selai coklat dan selai strobery telah habis tak bersisa.


"Coklat di mix sama stroberi mana enak?" Zuan menatap heran kelakuan Adzaka yang tak biasa, biasanya laki-laki itu anti dengan selai stroberi walau warnanya mirip dengan makanan kesukaannya tapi dia tak pernah mau menyentuhnya.


"Sesuatu yang tak biasa di satukan kalau Tuhan berkehendak semuanya akan bisa, manisnya coklat ditambah dengan manis-manis asamnya stroberi, akan nyambung dengan sendirinya." Adzka meneguk air putih yang baru ia tuang di bekas gelas susunya.


"Terserah dah! maklum yang lagi kasmaran." Zuan menyendok nasi putih hangat dan menambahkan lauknya. Laki-laki itu dengan semangat menghabiskan hidangan di depannya.


Lain dengan Dewi, wanita itu hanya memakan buah-buahan segar saja. Nasi membuatnya jijik, untung saja dia masih bisa makan bersama di meja makan.


"Memangnya gak masalah ya, Ma. Ibu hamil makannya buah aja?" Zuan bicara dengan mulut penuhnya.


"Selagi yang Dewi makan, makanan sehat apalagi buah insya Allah tidak akan apa-apa. Tapi tetap harus di coba, Sayang. Ikan, sayur juga di butuhkan untuk janin dan juga ibunya." Fatmala mengelus perut Dewi yang masih rata.

__ADS_1


"Apa dulu sewaktu mama hamil seperti ini?" tanya Dewi ingin tau.


"Persis!" senyum Fatmala mengembang, mencoba berdiri tanpa bantuan orang lain.


"Ma!" ke tiga orang yang mengelilingi meja makan itu spontan berdiri seperti ingin menangkap sesuatu yang jatuh dari atas. Ke tiga anaknya tampak takut Fatmala akan terjatuh.


"Mama sudah bisa! kalian tidak perlu se-khawatir itu." Fatmala bangga dengan ke dua anaknya plus menantu pertamanya itu.


\=\=\=\=


Waktu yang di tunggu tinggal menghitung hari, perempuan yang sedang berada di salon kecantikan itu keluar dengan wajah yang masih tertutup masker di keseluruhan wajahnya, hanya menyisakan lingkaran mata dan mulut yang tak terjamah dengan masker berwarna putih keruh tersebut.


"Kenapa mas nyusul kesini!" ucap gadis itu dengan bibir yang tak bisa terbuka lebar, untung calon suaminya mengerti


"Mas kan sudah bilang, gak usah pergi ke salon segala. Kan bisa perawatan di rumah, tinggal telpon semuanya beres. Dasar! apa ada laki-laki lain lagi yang ingin kau pikat?" Pramono tampak marah, dengan tangan yang ia lipat ke depan.


"Ayo pulang!" kata itu ibarat perintah yang tak bisa di bantah lagi. Bahkan untuk mencuci mukanya saja Indah tak di beri kesempatan oleh calon suaminya.


"Masuk mobil duluan! biar mas yang ambil tas nya." Pras langsung mengerti saat calon istrinya ingin mengatakan sesuatu menunjuk pintu salon.


"Aku sudah sangat menyayangi mu! aku mencintaimu tapi kau berani bermain api di belakangku. Awas saja kalau kau berani mengulanginya lagi!" Pras terus mengumpat dalam hatinya, masuk kedalam ruangan yang lumayan luas itu. Semua mata memandangnya dengan terpesona.


Di dalam mobil Indah terus cemberut, wajahnya yang masih kaku tertutup masker membuatnya malu untuk melirik kaca yang ada di hadapannya.


"Kenapa?" Pras bicara tanpa melihat gadisnya.


"Mau cuci muka." ucap gadis itu manja


"Gak usah gitu aja. Cantik kok!" sambil mengulum senyumnya Pram tetap fokus menyetir.


"Mas ... ini risih loh, Tuh ... pada jatuh kan." masker itu retak seribu, berjatuhan mengotori bagian dalam mobil.


"Hahaha, rasain. Makanya jangan bandel, jadi gadis baik aja udah." Pramono menggenggam erat jemari Indah.

__ADS_1


Sepintar apapun kau menyimpan cerita mu, lambat laun aku akan mengetahuinya. Aku beruntung bude mau bercerita jujur padaku tentang mu yang mencoba mendua.


__ADS_2