
"Yes!"Seru Marchel, luapan kebahagiaannya begitu jelas terlihat. Ia kembali duduk di sebelah Juna kali ini bahkan lebih dekat.
"Gak usah dekat-dekat juga kali" ketus Juna
"Biarin, bentar lagi juga bisa lebih dari ini kan"
"Ih, apaan sih." pipi tirus itu terasa panas.
Antara Juna dan Marchel kali ini tak seperti biasanya, tak ada pertengkaran manja. Yang ada hanya gombalan-gombalan krishpy ala laki-laki berginsul itu. Kegaringannya membuat jangkrik bernyanyi, namun tawa dari nya membuat Juna tertular dan ikut tertawa bahagia.
Satu jam berlalu, Juna sudah tampak sangat gelisah. Beberapa kali mengajak Marchel untuk meninggalkan tempat itu, tapi jawabannya tetap saja sebentar lagi.
"Ayo dong, Chel. Kita pulang. Pesawat Adzka bahkan sudah sampai Medan ini." Juna menyilangkan tangannya diatas perut, merasa sudah sangat bosan dengan lingkungan disekitatnya.
"Ya sudah pulang sana. Naik taksi saja."
"Loh, teganya. Ya udah deh." Juna pun berdiri, tak percaya akhirnya Marchel membiarkannya pulang sendiri.
"Aku duluan." ucap Juna berjalan meninggalkan Marchel. Bukannya menahan, laki-laki tersebut hanya menjawab 'ya, Hati-hati'.
Juna tampak sangat kesal, bibirnya tak berhenti komat-kamit, membuat orang lain berfikir dirinya sedang membaca mantra untuk memelet seseorang.
"Aku menyesal sudah menerimanya. Bukannya makin Sweet. Ih, menyebalkan." Juna terus menggerutu dalam hati, tanpa melihat kebelakang Juna terus berjalan.
"Aku akan berangkat lagi. Tak mau menghabiskan waktu bersamaku? jadwal keberangkatan ku dua jam lagi." Juna terkejut, Marchel menggandeng tangannya dan mengucapkan berita itu lirih.
__ADS_1
"Mau kemana?" ada rasa tak rela harus berpisah.
"Jepang! mau ikut?" Juna hanya menjawab dengan gelengan.
\=\=\=\=
Kedua gadis tampak sedang berbicara serius di sebuah kedai kopi sore itu. Rintik hujan yang semakin deras mengguyur bumi, membuat keduanya mengurungkan niat untuk segera pulang.
Perbincangan terus berlanjut, sepertinya mereka sedang berdebat, dilihat dari urat leher salah satu gadis berambut panjang tersebut. Sedangkan gadis yang berhijap tampak sedikit lebih tenang, namun aura menahan kemarahan tampak jelas.
Gadis berjilbab itu menyesap kopi susu nya. Netranya menerawang menembus kaca lebar yang sedikit terkena tempias.
"Mereka orang baik, jangan pernah mempermainkan orang lain seperti itu!" ucapnya penuh penekanan.
"Kau sudah bertunangan, Ndah. Jangan mempermainkan laki-laki seperti itu. Pramono sangat menyayangi mu. Kakak tau itu. Kakak sangat mengenal nya." Nia tampak mengepalkan tangannya. Kesalnya sudah sampai ke ubun-ubun. Dulu, saat ia ikhlas mengubur cintanya untuk seorang laki-laki yang jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap sepupunya itu, dia sudah sakit. Dan sekarang, setelah pengorbanannya itu, sepupunya justru malah menduakan laki-laki itu.
"Pokoknya kalau sampai tante Fat tau masalah ini itu pasti dari kakak." Indah menggebrak meja kemudian meninggalkan Nia. Dia menerobos hujan yang kian deras. Menghampiri mobilnya yang terparkir di sebrang jalan.
Gubrak!
Suara benturan mengalihkan perhatian semua orang yang berada disekitar kedai kopi tersebut. Termasuk Nia yang baru saja menyesap kopinya yang hampir habis.
Kerumunan bak semut bertemu gula tak bisa dihindari, meski hujan sedang deras-derasnya.
Nia membelah kerumunan, menatap wanita yang berlumur darah dibagian kepalanya.
__ADS_1
"Ya Allah, Indah!" jerit Nia, memangku tubuh yang lemah tak berdaya itu. Sedikit menepuk-nepuk pipinya, berharap kesadaran sepupunya kembali namun semuanya sia-sia.
Suara sepatu saling beradu melangkah menapaki jalan dikorodor rumah sakit, wanita paruh baya itu tampak sangat cemas. Telepon genggamnya kini menempel di pendengaran.
"Ruangan mana, Nia?" ucapnya, balasan dari seberang sana mungkin sangat jelas. Gawai pipih itu kemudian di simpannya kembali kedalam jas putihnya yang belum sempat ia lepaskan.
Ceklek
Pintu kamar rumah sakit itu terbuka, kedua gadis yang sedang berada didalamnya pun tertuju ke sosok dari balik pintu tersebut. Wanita paruh baya itu berhambur memeluk gadis yang tampak pucat dan lemah itu.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" sapanya mencium kening gadis itu.
"Beginilah, Tante. Kepala Indah sakit." ucap gadis itu lirih. Cairan bening mengalir dari ujung matanya.
Gadis berhijab yang menemaninya hanya bisa mengelus dada.
"Aku tau kau merindukan sosok orang tua, Dek." gumamnya.
\=\=\=\=\=
"Indah kecelakaan, mama sekarang sudah dirumah sakit. Secepatnya datang kesini, Adzka!" panggilan suara itu seperti perintah yang haram dibantah. Tanpa menjawab sepatah kata pun, panggilan itu berakhir.
"Semoga tidak apa-apa." ungkap nya menyandarkan tubuh tegapnya di kursi.
Perasaannya masih tak karuan, pertemuannya dengan Juna beberapa hari lalu masih tak bisa dilupakan. Melihat kemesraan Juna dan Marchel membuatnya begitu sakit, tapi kebersamaannya dengan Juna yang hanya dalam hitungan jam itu juga membuatnya bahagia.
__ADS_1