Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
86


__ADS_3

Sisa air hujan masih menggenang, dedaunan pun masih tampak basah. Seiring doa setulus hati, air mata terus membasahi. Sangat menyedihkan, bahkan lebih sedih dari pada menghadapi jasad yang nyawanya sudah pergi.


Sahabat sejati telah berpulang kepangkuan Ilahi, pergi dengan tenang, berpulang dalam keadaan sudah baik-baik saja pun meninggal di tanah suci.


Tak ada yang mengetahui kapan Tuhan akan memanggil kita untuk kembali. Bukan sakit untuk bisa memastikannya bahkan justru sebaliknya. Ini semua adalah rahasia-Nya.


Dari balik tirai kamar ber-tirai putih itu, Juna menatap nanar keluar jendela, sesekali sisa hujan masih menetes dari atap rumah sederhana tersebut. Kamar dimana Juna berada saat ini, juga menjadi saksi keteguhan hati gadis manis yang telah meninggalkan dunia.


"Semoga Allah menempatkan mu di tempat terbaik-Nya, Kawan."


"Apa kau senang aku seperti ini? lihat, Mil. Semenjak aku menjenguk mu tempo hari sampai saat ini aku tetap menggunakan jilbab, ya ... walaupun tak selebar jilbab yang kau pakai. Tapi, lumayan kan untuk pemula." Senyuman mengembang dari sudut bibir gadis yang berbicara sendiri itu.



Gadis berhijab pink muda itu saling berpelukan, keduanya sama-sama menangis namun senyum mereka sunggingkan seolah ikhlas menerima semuanya.


"Doakan kakak ku ya, Jun. Maafkan kesalahannya." ucap gadis berkacamata itu dalam dekapan


"Pasti, dia tidak punya salah. Aku yang banyak salah sama Mila." Juna mengusap air matanya yang terus mengalir.


Adzka dan Erwin menghampiri mereka. Dengan senyuman yang menenangkan laki-laki itu mengajak Juna untuk pulang. Hari semakin sore, bukan acara reuni hari ini yang berkesan dalam ingatan, melainkan kepergian dari teman terkasih yang meninggalkan dunia untuk selamanya.


Mobil putih pun melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan rumah duka.

__ADS_1


"Mila itu baik banget ya, Jun."


"Baik banget, Dok. Baiiik, banget." Juna menyeka ait matanya yang jatuh tanpa di pinta


"Allah lebih menyayanginya, yang ikhlas." Adzka mengelus lembut lengan kanan Juna.


"Iya" Juna menarik tangannya.


\=\=\=\=\=


Tiga hari sebelum pernikahan, Juna tampak cantik dengan balutan hijab berwarna biru. Acara pengajian sukses di laksanakan. Berharap ridho dari sang Ilahi dan keberkahan dalam pernikahan yang akan menjelang.


"Mama kok belum datang sih?" gadis itu mencebik, panggilan video itu menampilkan wajah Lia yang masih berada di kantornya.


"Maaf, Sayang. Kerjaan mama harus di selesaikan. Mama pasti akan datang di pernikahanmu. Janji."


"Eh, iya. Insya Allah, Sayang."


"Sekarang sama papa dan bunda dulu ya." suara itu melembut, berharap anak gadisnya tak lagi merajuk.


"Iya deh. Ya sudah Juna bantu beberes dulu ya, Ma." Juna mengakhiri panggilan setelah mengucap salam.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


"Ok, mantap. Terimakasih sudah memberikan karya terbaik bapak. Sudah sesuai dengan selera saya." Dokter tampan itu memberikan amplop coklat.


"Apa ini, Pak?" lelaki paruh baya itu heran.


"Bonus, Pak." Adzka menepuk pundaknya.


"Alhamdulillah, terimakasih pak Dokter. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Iya, pak. Jangan lupa datang ya pak. Sudah saya kasi undangannya kan?!"


"Sudah pak. Insya Allah saya dan keluarga akan datang." ucap laki-laki paruh baya itu sopan.


Adzka berkeliling, melihat semua tanaman yang sudah tampak subur. Senyuman pertanda puas menghias wajahnya yang tampan, menampakkan lobang di kedua pipinya.


"Finish!" dengan perasaan bahagia ia melajukan mobilnya kembali kerumah.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading, pembaca semuanya like dong, jangan cuman dibaca doang atuh. Kalau gak suka ceritanya, atau ada saran dan kritik monggo di komentari kolom komentarnya di isi. Lepas tu tekan yang berlogo pesawat kertas. Lihatkan? masak yang baca 500 likenya cuman limapuluh 🤣. Sayang aku dong, seperti aku sayang kamu. Iya kamuuu 😉


__ADS_2