Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
95


__ADS_3

Walau hanya terlihat berdiri saja, namun lelah sisa resepsi kemarin membuat tubuh hadis yang tingginya 170 cm itu merasakan kepegalan yang berkepanjangan, ditambah lagi harus lembur memenuhi perintah suami.


Namun begitu, wajah cerah Juna tetap menghias pagi. Waktu masih menunjukkan pukul setengah lima pagi. Namun gadis itu sudah selesai mandi. Tadinya lupa kalau mereka masih menginap di hotel tempat resepsi, tapi dari pada kebablasan tidur sampai pagi, gadis itu melawan rasa malasnya.


"Mas, bangun!" tangannya mengusap kepala sang suami, mencium kening laki-laki tampan yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Kira-kira dia mau bawa aku bulan madu kemana ya?!" Juna mengingat percakapannya dengan suaminya tempo waktu, memang setelah akad kemaren Adzka tidak mengambil cuti dan akan menggantinya setelah resepsi ngunduh mantu.


"Mas bangun! sedang tidak wajib shalat apa gimana?" Juna membaringkan tubuh di sebelah Adzka, memeluk suaminya dengan sangat erat, gadis itu masih mengenakan mukena.


"Eh, apa aku ketindihan! berat banget." ucap Adzka seperti orang yang sedang tercepit.


"Ngarang! katanya dokter, percaya sama ketindihan?!" Juna pun memberikan cubitan kecil, membuat Adzka seperti tersengat lebah.


"Aduh, yank. Benar kata papa, lama-lama badanku akan banyak lebam-lebam ini. Memar loh, Dek. Bekas cubitannya." muka bantal Adzka menambah ke imutannya.


"Lebay, deh. Mandi, Mas. Sudah hampir jam enam loh. Belum shalat."


"Ha!! jam enam. Aduh, Mas harus kerja loh. Ada janji jam delapan lagi." Adzka melempar selimutnya, masuk ke dalam kamar mandi tergesa-gesa.


"Apa? kerja?! lagi!!!" Semangat Juna yanh tadinya hampir seratus persen, kini seakan menjadi low hanya menyisakan 10 persen saja.


"Katanya mau honey moon. Kalau saja waktu itu enggak kasi angin segar aku juga enggak ngarep kok." batin Juna menangis, lidah nya pun terasa kelu. Tak tau harus mengatakan apa.


"Sayang! Mama masih di sini kan?"


"Iya, tadi barusan WA, nanya kita check out jam berapa."


"Oh, kalau gitu mas tinggal duluan boleh, Yank? takut enggak keburu soalnya hotel ini kan lumayan jauh dari rumah sakit. Pulang sama Mama nggak apa-apa ya."


"Tapi Mas sarapan dulu kan?"


"Nanti aja, Sayang. Mas sarapan di sana saja."


Dengan rasa kecewa yang semakin bertambah, Juna menutupinya dengan tersenyum mengiyakan. Meredakan emosi agar tidak meledak itu adalah suatu hal yang paling susah.


"Mas pergi ya!" Adzka mencium kening istrinya secepat kilat, sekedar pelukan hangat seperti biasanya tak Juna dapatkan pagi ini.


Gadis itu menatap punggung suaminya sampai pintu lift tertutup.


"Mas ...." lirihnya


"Beginikah rasanya menjadi istri dari seorang dokter? hm ... mungkin ada pasien yang harus segera di tangani." Juna mencoba berdamai dengan hati.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Menjelang siang Fatmala dan Juna baru keluar dari hotel, tanpa sengaja dokter spesialis kandungan itu bertemu dengan teman bisnis almarhum suaminya. Pembicaraan ngalor ngidul pun tak dapat di elakkan. Hingga menyita waktu dua jam.


Mobil Fatmala melaju dengan kecepatan sedang. Jam makan siang membuat lalu lintas lumayan padat. Fatmala yang sekarang menggunakan supir pribadi pun mengalihkan rute untuk mampir ke pusat perbelanjaan.


"Man, kita ke Mall yang ada di persimpangan jalan sana ya." perintah itu di iyakan oleh Arman, sopir Fatmala.


"Kita makan dulu ya, Jun. Ibu lapar! Sekalian kita belanja, maam belum kasi hadiah pernikahan untuk kalian." ucap Fatmala.


"Ibu, mau kasi apa? bukannya harta yang paling berharga milik ibu sudah Juna miliki." ucap sang menantu puitis.


"Juna juga lapar, Bu."


Jarak antara mall yang akan mereka datangi tak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Adzka bekerja, "Kalau sudah sampai nanti aku sekalian ajak Mas makan deh. Kan tidak jauh dari rumah sakit, mungkin juga urusannya sudah selesai." Juna membatin.


\=\=\=\=\=


Juna dan Fatmala menikmati makanan yang berbeda, keduanya makan dengan sesekali berbicara dan bercanda layaknya ibu dan anak.


Juna mengedar pandang, kepergian Fatmala ke toilet membuatnya merasa sendiri di tempat seramai ini.


Dadanya terasa terbakar, detak jantungnya tak beraturan. Pandangannya hanya fokus ke satu arah. Hanya berjarak lima meja, Juna melihat suaminya sedang makan bersama seorang wanita yang dia kenal.


"Oh, jadi ini alasannya. Sampai enggak sempat sarapan."


"Jangan cengeng Juna!! air matamu tak pantas menangisi orang seperti itu!" hatinya memberikan kekuatan.


"Jun!" Fatmala menghampiri


"Ayo!"


"Iya, Bu." Juna menyampirkan tas nya. Sesekali menyapu kristal bening yang jatuh tanpa permisi.


\=\=\=\=


Rumah tampak sepi, seperti tak ada kehidupan. Samar-samar Juna menangkap suara isakan tangis. Mencari asal suara tersebut, Juna membuka pintu kamar yang ada di lantai satu tersebut.


"Ya Allah, Dewi ... kau berdarah! Tolong!!!!!" Juna keluar dari kamar itu, kedapur, ke taman belakang rumah, ternyata Zuan sedang menjadi mandor bi Mirna yang sedang membersihkan taman.


"Zu!! Dewi!" Juna menjerit dari kejauhan. Sontak laki-laki itu berlari dalam kepanikan.


"Dewi berdarah!" mereka berdua pun masuk melihat kondisi Dewi.

__ADS_1


Fatmala yang baru selesai shalat Ashar, tampak terkejut. Menghampiri keributan di lantai bawah.


"Ma, Dewi!!" Zuan mengangkat tubuh mungil istrinya, Juna mengikut dari belakang.


"Bawa ke klinik!" perintah Fatmala.


"Dewi ... Dewi! bangun, Nak. Buka matamu. Bertahan!" Fatmala menepuk-nepuk pipi Dewi, sesekali memgelus kepalanya.


"Jun, hape Ibu."


"Ini, Bu." Juna memegang telepon genggam mertuanya, Juna duduk si samping Zuan yang mengemudi.


"Telepon, Nia!" perintah wanita paruh baya itu.


"Halo, Nia." tak berselang lama panggilan itu sudah tersambung.


"Persiapkan segala keperluan oprasi, saya otw Dewi mau lahiran." perintah Fatmala, benda pipih itu menangkap jelas perintah dari empunya, Nia segera melaksanakannya.


"Zuan, persiapkan dirimu juga. Juna, telepon Adzka!"


"Iya, Ma. Bu." jawab mereka bersamaan


\=\=\=\=


Tangisan Bayi berbobot hampir lima kilogram itu membuat sosok laki-laki gagah nan tampan itu ikut menangis. Tak perduli pandangan para asisten yang membantu dokter menatapnya, cengeng! mungkin itu kata yang tepat untuknya. Namun Zuan sama sekali tak perduli, hanya seorang papa baru yang bisa merasakannya.


Bayi laki-laki itu kini sudah bersih, dengan balutan kain lembut makhluk menggemaskan itu di letakkan dalam box. Dewi masih belum sadarkan diri, karena bius total yang ia terima.


"Ih lutuna ponakan Tante!" Juna mengusap-usap bagian bawah bayi besar yang tertutup kain bedong itu.


"Mana jagoannya, Uncle!" Adzka yang langsung masuk kedalam ruangan VIP itu mengalihkan pandangan semua orang.


"Dari mana aja sih, Loe!" tanya Zuan. Juna kembali bermain dengan baby, seolah tak melihat ada Adzka disana.


"Ih, comelnye! gede banget, Ma. Gimana nggak gempor mak loe mbawa loe kemana-mana, Boy!"


"Iya, dari bulan kemarin mama sudah jaga-jaga, perkiraan maam memang Dewi tidak akan bisa melahirkan normal. Baby nya segede ini!" jawab Fatmala.


"Ayo, uncle. Fadzli mau punya teman! buatin adek ya." Zuan bicara dengan suara yang di imut-imutkan seperti anak kecil.


"Iya, beres. Nanti paman akan berikan Fadzli teman main bola atau teman main boneka, atau apalah! iya kan, Sayang." Adzka merangkul Juna yang ada di sebelahnya. Senyuman terpaksa Juna lukis di wajahnya.


"Sana buat adik sama wanitamu itu!" omel Juna dalam hati

__ADS_1


__ADS_2