
Kadang janji adalah kebohongan termanis.
"Terjebak Cinta Brondong"
_______
"Ngemeng-ngemeng, Tet. Dimana beli sarapan ini?" Marchel masih melahap makanan yang disukanya tersebut.
"Mana ada yang jual sarapan se enak ini. Kalau ada juga pasti aku yang bakalan jadi penjualnya. Masih gak percaya aja kalau masakan ku enak!" Juna menyilangkan kedua tangannya.
"Hm" Marchel menghabiskan satu potong roti lagi.
"Enak kan? jangan lupa udah ada janji loh."
"Iya iya. Besok akan aku berikan. Hadiah spesial untuk orang yang spesial." Marchel menatap gadis di hadapannya dengan senyuman termanis Harap-harap gadis itu mencintainya.
"Jadi penasaran, apaan sih, Chel? kasi kisi-kisi lah dikit." Juna menghentakkan kaki. Penasaran adalah hal yang paling ia benci.
"Ada deh. Pokoknya tunggu besok." Marchel menutup kotak bekal, menghapus sisa mayones di pinggir bibir.
"Apa hari itu besok?" gumam Juna, hatinya seolah berkabut.
"Oh ya, katanya tadi mama telepon. Tapi kamu gak angkat." Marchel menyalakan laptopnya.
"Apa iya? aku tadi buru-buru kesininya. Bang ojeknya aja ku suruh ngebut. Jadi gak sempat lihat handphone." Juna mengingat aksi gilanya yang hampir menggantikan driver ojek karena gadis itu merasa dia lebih ahli dalam hal mengebut.
"Kenapa harus gitu? biasanya gak takut sama sekali kalau terlambat. Udah berasa jadi istri yang punya apoteker katanya." Marchel menggoda.
"Apaan sih. Siapa yang bilang gitu? aku tu tadi buru-buru ya karena ini. Nanti keburu dingin kan kurang mantap."
"Pokoknya harus di apresiasi pengorbananku ini pak bos!" sambungnya lagi.
"Tenang saja. Semuanya sudah di atur." seru Marchel.
\=\=\=\=
"Pagi semua!" gadis berambut panjang sudah tampak segar dan rapi
"Pagi! aku baru mau ke kamar, Ndah. Kirain masih tidur. Mama nyariin loh." sapa Dewi, satu-satunya manusia yang ramah di rumah itu. Zuan dan Adzka kini sedang menikmati sarapannya, kedua diam seperti tak menganggap keberadaan gadis cantik itu.
"Hello para lelaki! aku sudah mengurus mama kalian, setidaknya ramah-lah sedikit!" Indah merasa sangat kesal.
"Aku ke tante dulu ya" Indah pun meninggalkan ruang makan tersebut.
"Makan dulu!" Adzka menghampirinya, beberapa saat yang lalu ia telah menyelesaikan sarapannya. Membawa tas kerjanya dan berlalu mendahului Indah yang sama-sama ingin menemui dokter Fatmala.
Wanita itu tertegun, bukan hanya dia saja sebenarnya. Sepasang suami istri disana pun saling bertatapan. Zuan dengan wajah datarnya, sedangkan Dewi menyimpan senyuman.
"Apa aku tidak salah dengar? dia menyuruhku sarapan. Aku tak percaya ini ... apakah ini bentuk dari perhatiannya?" hati Indah serasa sedang pesta kembang api. Meletup-letupkan kebahagiaan
"Mulai perhatian ini pak dokter. Apa Adzka sudah move on." Dewi membatin.
"Jangan bilang kau mulai membuka hati! Aku tidak setuju wanita matre ini jadi adik iparku." Zuan terus saja menggerutu. Pesan singkat yang di kirim seseorang di sertakan foto perempuan yang sangat di sayang mamanya itu, membuat Zuan semakin yakin, Indah tak baik untuk keluarganya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Pagi telah pergi
Mentari tak bersinar lagi
Entah sampai kapan
'Ku mengingat tentang dirimu
'Ku hanya diam
Menggenggam menahan
Segala kerinduan
Memanggil namamu
Di setiap malam
Ingin engkau datang
Dan hadir di mimpiku
Rindu
Dan waktu 'kan menjawab
Pertemuanku dan dirimu
Hingga sampai kini
'Ku hanya diam
Menggenggam menahan
Segala kerinduan
Memanggil namamu
Di setiap malam
Ingin engkau datang
Dan hadir di mimpiku
Rindu
(Tentang Rindu, Virza)
Marchel tampak galau, matanya menatap sayu kotak biru beludru yang ada di atas nakas. Diambilnya kotak tersebut, sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Besok kau akan bertemu pemilikmu, semoga kau betah disana." ucap laki-laki itu sembari mengeluarkan isi nya.
"Janjiku telah ku penuhi, aku yakin ini yang terbaik." ucapnya memberi semangat kepada dirinya sendiri.
Dering panjang telepon genggamnya membuatnya harus segera panggilan yang terus saja berbunyi itu.
__ADS_1
"Iya, Ma." ucapnya setelah menggulir gambar telepon warna hijau.
"Apa Juna bersamamu, Nak?" suara tanya dari seberang sana.
"Oh iya lupa. Tadi waktu mama telfon Juna sedang di jalan. Nyampe apotek tadi gak ingat mau hubungi balik. Ada apa sih, Ma?"
"Gak apa-apa sih. Mama hanya kangen aja. Apa lusa kau bawa saja dia kemari, Chel?"
"Mm ... gak usah deh, Ma. Gak enak sama dokternya. Nanti dia salah sangka lagi hahah."
"Salah sangka apa? maksudnya gimana, Nak. Mama belum mengerti. Apa jangan-jangan ...."
"Udah, Mama jangan menebak-nebak. Mama fokus saja untuk kesembuhan Mama, Oke." ucap Marchel menutup percakapan.
\=\=\=\=\=
Malam semakin larut, Dewi dan Indah meninggalkan kamar Fatmala. Waktu jaga mereka selesai, kini giliran para anak lelaki yang berjaga.
"Aku tidur duluan ya." ucap Indah, matanya memang sudah nampak sayu.
"Iya, selamat malam." Dewi juga sudah terserang kantuk sesekali tampak menguap.
Indah berhambur ke ranjangnya, tubuh ramping itu seakan merindukan ranjang big size itu.
"Hadeh, rontok tulang belulang gue. Apes banget, apa kalian gak tau kalau mama kalian itu berat hah! Baru aja Adzka mulai ngerespon aku, bisa saja ini pertanda baik kan. Mungkin dia merasa berhutang karena aku merawat ibunya. Tapi enggak ah, aku gak mau terus jadi perawat lansia itu. Ia kalau bakalan sembuh, kalau seumur hidupnya gitu? waktu ku pasti banyak di habiskan untuk merawat tante Fat aja. Tidaak!Pokoknya aku mau pulang." Indah sudah mantab dengan keputusannya, di bereskannya beberapa pakaian yang dibawanya. Merapikannya kedalam koper kecil miliknya.
\=\=\=\=
Juna kini sedang berada di dalam pesawat, matanya memandang hamparan langit luas dari jendela.
"Semoga ini jalan yang engkau ridhoi ya, Rabb." Gadis itu mengangsur nafas, menatap laki-laki di sebelahnya yang tertidur.
"Makasi untuk semuanya." ucapnya lirih.
Flashback.
Sebuah motor berhenti di rumah sederhana yang penug dengan bunga di bagian terasnya. Laki-laki berjaket kulit dengan helm yang menutup seluruh bagian wajahnya turun dari sana.
Helm tersebut di letakkannya begitu saja diatas motornya, kemudian melangkah mantap menemui tuan rumah.
"Assalamu'alaikum" ucapnya setelah pintu terbuka, sosok laki-laki paruh baya yang membuka kan pintu tersebut menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Duduk dulu. Ada apa sih?" ucap wanita paruh baya yang duduk di ruang tamu, dia pun sama penasarannya dengan suaminya.
Laki-laki berjaket kulit tadi pun memulai perbincangan. Ketiganya tampak sangat serius. Entah apa yang di bicarakan mereka. Wanita paruh baya tersebut tampak menangis dan memeluk laki-laki yang tampan tersebut.
"Aku sudah berjanji untuk membuatnya bahagia kan, Tante. Bahagianya bukan bersama ku." Laki-laki itu menyeka air matanya.
.
.
.
.
__ADS_1
Siang gaes, happy reading. Flashbacknya kita lanjut besok ya. Terimakasih sudah membantu saya mengedit kata-kata yang typo ya manteman. Sayang kalian 💕💕💕