Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
91


__ADS_3

Menjelang Ashar kedua pasang mertua Adzka telah meninggalkan rumah mereka, Rudi dan Cindy pulang ke rumahnya sedangkan Lia dan suamimya harus segera ke bandara. Kepulangan Lia membuat mood Juna berubah seketika, perasaan yang tadinya begitu bahagia sekarang berubah menjadi kesedihan.


"Mama katanya ada waktu tiga hari disini ...." rengek Juna, ait matanya jatuh satu-satu.


"Mau mama begitu, Nak. Tapi enggak enak sama teman mama. Mama lupa kalau mama ada janji dengan beliau. Tolong mengerti mama ya, Nak. Maaf kan mama mu ini, yang selalu membuat mu kecewa." peluk Lia, dia juga menangis.


"Kami antar ya, Ma." tawar Adzka


"Tidak usah, Nak. Ayah sudah pesan taksi. Sudah dekat katanya tadi, iya kan, Ayah!" Lia memandang suaminya, di balas dengan anggukan dan senyuman ramahnya.


"Titip, Juna. Bahagiakan anak kami!" ucap sang ayah dalam pelukan Adzka, lengannya menepuk punggung menantunya tersebut.


"Jadi istri yang baik, Nak. Patuhi semua perintah suamimu." pesan laki-laki paruh baya tersebut. Juna mencium punggung tangan ayah sambungnya itu.


Juna terus memandang mobil berwarna silver sampai tak terlihat lagi. Rumah yang besar itu menjadi sunyi, detak jam dinding seukuran lemari yang ada di ruang tamu terdengar sangat jelas.


"Masuk, Yuk." ajak Adzka, Juna mengikut di belakangnya.


"Mandi, Yank. Sebentar lagi maghrib. Kita sekalian makan di luar saja ya."


"Hm" Juna hanya menjawab dengan berdehem, kesedihannya belum hilang


"Eh, tapi ... aku enggak bawa ganti, Mas." Juna teringat.


"Udah ada di lemari. Lihat saja." perintah Adzka, mereka berdua pun menuju kamar utama


\=\=\=\=


Warung tenda dengan gambar beberapa hewan berbeda spesies menjadi pilihan mereka. Bebek penyet dan Nila bakar menjadi menu yang akan mereka santap malam ini.


Walau warung pinggir jalan, tapi pembelinya bukan hanya dari kalangan bawah. Terbukti ramainya mobil yang terparkir di sepanjang jalan, bahkan ada yang tidak kebagian bangku untuk makan.


"Rame ya, Mas. Mas sering kesini?" tanya Juna, letak warung itu tepat di samping masjid tempat Adzka shalat maghrib tadi.


"Lumayan, kalau lagi pengen makan ikan bakar ya kesini. Makanya tadi mas suruh istri mas yang manis ini pesan menunya duluan. Jadi kita gak harus desakan kan. Adek duduk manis disini, mas selesai shalat kita tinggal makan deh."

__ADS_1


"Eh, mas biasain manggilnya adek ya. Enggak apa-apa kan."


"Terserah Mas saja." senyum Juna mengembang.


Sepasang mata dari jarak beberapa meter terus memperhatikan gerak-gerik suami istri itu. Hingga ia merasa yakin kalau yang di perhatikannya sekitar setengah jam yang lalu adalah benar.


"Adzka!" perempuan itu menghampiri meja mereka. Mengulurkan tangannya, Adzka menyambutnya dengan alis berkerut mengingat sosok di depannya.


"Silva!!? ya ampun pangling aku. Kapan pulangnya? bukannya kamu bekerja di Palembang. Kok jadi ramping gini, diet loe." Adzka dan gadis bernama Silva itu terus berbincang. Juna menggeser duduknya lebih ke kiri, agar Silva bisa ikut duduk, walaupun harus merelakan suaminya berdampingan bukan hanya dengannya.


Ibarat kawan lama yang sudah lama tak berjumpa, keduanya hanyut dalam cerita masa lalu. Juna merasa menjadi obat nyamuk kali ini. Dengan hati yang terasa aneh gadis itu menghabiskan bebek penyetnya dengan sambal pedasnya yang awalnya tak ia sentuh.


Peluh memenuhi keningnya, hijab yang ia kenakan menjadi lembab di bagian wajah mulusnya. Pedasnya sambal yang merah merona itu ia hilangkan dengan panas dan manisnya teh hangat.


Setelah makanan di hadapannya habis, Juna beralih kepada ikan nila yang masih tersisa banyak. Tak perduli dengan suaminya yang semakin asik mengobrol, Juna pun menghabiskan hidangan itu juga.


Adzka yang sesekali mencuri pandang merasa aneh awalnya. Namun, bibirnya membentuk bulan sabit melihat istrinya berprilaku tak biasa.


\=\=\=\=\=


"Salah sendiri, udah tau enggak bisa makan sambal sepedas itu, kenapa di makan? Bukannya tadi bawa kecap dalam tas!" Adzka yang tak tega tidur lebih dulu memilih memainkan ponselnya. Grup sekolah yang baru saja ia ikuti begitu ramai.


"Bantuin beliin obat atau kasi obat apa gitu kek. Katanya dokter! Istrinya sakit gini cuman di bantu doa doang." cebiknya membanting badannya duduk di tepi ranjang.


"Obat adek habis?"


"Enggak!"


"Terus? kenapa enggak di minum?"


"Obatnya di rumah papa!"


"O" Adzka meneruskan kegiatannya.


"Cuma O!! iissh ...." Juna masuk ke dalam selimut, menutup seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Dasar bodoh! perasaan apa itu tadi? konyol ... sudah tau cabe itu musuh besar mu. Malah di embat dua piring! Juna ... juna." gerutunya dalam hati. Bagian ranjang terasa bergerak kemudian suara pintu terbuka, membuat gadis dalam selimut itu bertambah kesal.


"Dasar enggak peka banget sih jadi suami! hiks ... hiks" Juna semakin terisak, antara menahan sakit perut yang melilit atau justru hatinya yang sakit.


Selimut tebal berwarna putih itu di buka, sosok pria tampan berdiri dengan satu gelas air putih dan dua buah pil berbeda warna.


"Ayo, makan obatnya. Tadi mas turun ambil obat ini. Mas order waktu kamu di toilet tadi." Laki-laki berlesung pipi itu tersenyum hangat.


"Cemburu?!" ucap Adzka menerima gelas yang sudah kosong.


"Siapa yang cemburu?!" Juna tidur membelakangi suaminya.


"Eh, suaminya masih ngomong kok di punggungi!" Adzka naik ke atas ranjang. Memposisikan dirinya di depan istrinya.


"Hayoo, iya kan cemburu kan?!" tawa Adzka begitu renyah, ada rasa kemenangan disana. Juna menutup wajahnya dengan bantal sambil teriak.


"Enggaaaak!!!"


"Oh, enggak ya. Kirain!" Adzka mengambil kembali ponselnya, duduk bersandar di sisi ranjang.


Suara notifikasi yang terus berbunyi membuat Juna jengah, dengan mata yang masih tertutup dia mengambil benda pipih suaminya.


"Hape mulu dari tadi! masih kurang pertemuannya tadi dengan siapa itu namanya, Silva! telepon aja sekalian, ajakin ketemuan lagi." oceh Juna seperti mengigau, matanya masih saja ia pejamkan.


"Enggak salah kan kalau cemburu, lihat suaminya selengket itu dengan perempuan lain! istrinya nyadar sih, kalau Silva itu memang cantik, seksi, sama-sama dokter juga. Aku mah apa atuh!" sambungnya lagi, kali ini suaranya terdengar parau


"Apaan sih! istri mas jauh lebih cantik, lebih seksi. Mas enggak mau yang lain, Sayang. Mas hanya mau yang ini!" Adzka menarik hidung istrinya. Pelukan yang meng-intimidasi tak bisa Juna tolak.


"Kalai mas semudah itu tertarik dengan seseorang, tak mungkin kan mas rela galau sepanjang masa saat kamu pergi dan memutuskan untuk menerima Marchel. Percayalah, sayang. Hanya kau!" Adzka mencium kening Juna sangat lama.


"Ini sudah hari keberapa? masih lama? Biasanya durasinya berapa hari?" Juna paham maksud dari pertanyaan suaminya.


"Hari ke 4, Mas. Durasi nya enggak tentu. Normalnya 7 hari. Tapi beberapa kali, aku pernah sampai dua minggu. Seperti waktu itu, makanya ketemu sama Ibu."


"Dua minggu, Sayang! astaga!!" Adzka menepuk jidatnya.

__ADS_1


__ADS_2