Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
66


__ADS_3

Senja kini berganti malam, gadis manis tersenyum manis menatap sosok yang baru saja masuk kedalam ruangan yang cukup luas itu. Lelahnya seakan hilang dengan sambutan senyum yang baru saja ia terima.


"Andaikan kau sudah kumiliki, pasti lelahku akan hilang sempurna jika aku bisa memelukmu." batin laki-laki berlesung pipi. Menutup pintu kamar VVIP tersebut.


"Apa Zuan belum datang juga?" Tanya Adzka sambil meletakkan tas kerjanya di atas kursi.


"Tadi katanya sudah mau kesini, tapi Dewi muntah-muntah terus. Jadi ya aku bilang saja gak usah kesini. Kasian Dewi gak ada temannya." jawab Juna pula


"Hm ... dokter, apa aku sudah bisa pulang sekarang?"


"Oh iya, maaf. Bisa ... bisa. Terimakasih sudah mau menjaga mamaku. Maafkan kami karena sudah menyita waktumu." Adzka tampak canggung, tanpa memikirkan Juna yang ingin pulang dia malah sibuk dengan handphonenya tadi.


"Ya sudah aku antarkan ya." lelaki itu menawarkan jasa antar gratis.


"Gak usah, Dokter. Masih banyak kang ojek. Pulang ya, Dok. Ibu ... Juna pulang ya." ucap Juna mengelus bagian kaki Fatmala.


Gadis bertubuh langsing tersebut berjalan mengitari koridor rumah sakit. Bau khas rumah sakit membuat gadis itu merindukan tempat kerjanya dulu. Derap langkah sepatu yang beradu dilantai jelas di pendengaran, malam mulai semakin menghitam, bintang terang berkilauan dihamparan langit luas. Juna memakai helm berwarna hijau yang diberikan driver ojek yang baru saja ia hampiri.


\=\=\=\=


"Bagaimana kondisi bu Dokter, Nak? apa sudah ada kemajuan?" Cindy yang masih berada di dapur menarik kursi makan menemani Juna yang sedang makan malam. Gadis itu makan dengan lahapnya dengan es teh manis yang sengaja ia buat.


"Masih gitu aja, Bun. Kasian ...."


"Hm, apa besok kakak kesana lagi?"


"Sepertinya iya, Bunda. Niat Juna sih sampai Ibu sembuh. Itung-itung balas jasa, Bun. Dulu waktu papa sakit Adzka ikut bantu jaga Papa juga kan? Eh, Bunda ... waktu itu kenapa gak kasi tau Juna sih kalau papa sakit, gak asyik ah!" gadis itu mencebik, teringat kondisi ayahnya waktu itu.


"Tega banget deh semuanya. Apa Papa bunda dan mama anggap Juna ini masih anak kecil? padahalkan kalian sering bilang aku ini perawan tua." gadis itu srmakin mencebikkan bibirnya.


"Maaf ... maaf. Papamu yang minta. Beliau tidak ingin membuat anak cantiknya semakin sedih."


"Iya tapi kalau sampai Papa kenapa-kenapa gimana? masih tetap mau merahasiakannya juga?" suara itu semakin melemah.


"Nyatanya Papa gak kenapa-kenapa kan!" Rudi sudah berada diantara mereka, dengan dua tangannya dimasukkan disaku celananya.


"Papa baik-baik saja. Bagaimana kondisi Fatmala?" Rudi mengecup kening istrinya sembari berbicara dengan anaknya.


"Ya masih gitu aja, Pa." Juna menutup kedua matanya, kebiasaannya jika melihat Papa dan Bundanya bermesraan.

__ADS_1


\=\=\=\=


"Ka, sebaiknya kita cari orang saja untuk jaga mama. Aku bukannya gak sayang, tapi kau tau sendiri bagaimana kondisi Dewi saat ini?"


"Kalau kau tidak mau jaga mama ya sudah. Aku bisa kok!"


Pembicaraan dua saudara di subuh hari. Keduanya baru saja melaksanakan shalat berjamaah diruangan tempat ibu mereka dirawat.


"Sekarang masih aman kebetulan orangtuanya Dewi datang, kalau tidak? aku gak tega meninggalkan dia sendirian dirumah, kalau sudah muntah itu bawaannya lemas. Gak kuat jalan." Zuan masih mencoba membuat Adzka mengerti.


"Ah, nanti lah itu. Mules." Adzka meninggalkan Zuan yang tampak masih ingin bicara.


"Apa aku menawarkan ini pada Juna saja ya. Dia kan nganggur." gumam Zuan memainkan ponselnya.


\=\=\=\=\=


Suara notifikasi pesan singkat menghidupkan layar ponsel yang sejak tadi dibiarkan diatas kasur. Pemiliknya tengah bercengkrama dengan tanaman-tanaman hiasnya. Hari ini Juna agak siangan pergi ke rumah sakit, karena Papa dan bundanya ingin pergi bersama menjenguk orangtua dokter muda yang sudah Rudi dan Cindy anggap seperti keluarga.


Gadis itu memberikan tanamannya pupuk dan menambahkan tanah untuk tanaman yang tampak kurang subur.


"Lama gak ketemu ya sayang-sayang aku. Kalian sudah besar sekarang." ucapnya kepada barisan pas bunga batu, mawar aneka warna tampak sedang berdaun muda.


"Jam berapa berangkatnya, Pa?" Juna mengibas-ngibaskan tangannya, membersihkan sisa air di jemarinya kemudian melapkan kedua tangannya ke bagian bawah bajunya.


"Jam delapan. Kenapa? kelamaan?" jawab Rudi tanpa melihat. Hari ini laki-laki itu meluangkan waktunya.


"Tanya saja, Papa. Ya sudah kalau gitu Juna mandi dulu deh." gadis itu masuk kedalam rumah, Rudi hanya mengangguk mengiyakan ucapan anak kesayangannya.


"Panggil papa, Kak. Sarapan sudah siap." teriak Cindy, saat melihat anak sambungnya ingin menaiki tangga. Juna pun mengurungkan niatnya, dengan mode mundur teratur gadis itu melangkah menuju pintu depan. Cindy yang melihatnya geleng-geleng kepala.


"Papa ... kata bunda sarapan sudah siap." ucap Juna mengeluarkan kepalanya dari sudut pintu.


Juna melangkah kembali meneruskan perjalanannya yang terhambat, langkah itu semakin kencang bahkan berubah menjadi lari saat netranya menangkap jam di ruang tamunya yang sudah menunjukkan jam 7.45.


"Kakak kok lari-lari sih!" teriak Cindy dari ruang makan.


Dibesarkan oleh seorang ayah yang berprofesi sebagai polisi, membuatnya harus selalu cekatan dan tepat waktu. Walau hanya jika ada janji pergi bersama. Rudi paling tidak suka orang yang ngaret. Terlambat lima menit saja kalau laki-laki itu tidak ngomel pasti ditinggalkan.


\=\=\=\=

__ADS_1


"Waduh, jam berapa ini tadi ngirimnya." Juna baru saja melihat hapenya. Pesan singkat dari aplikasi berwarna hijau menjelaskan pukul berapa sms tersebut dikirimkan.


Juna mencari kontak yang tertera nama pengirim pesan, di gulirnya tombol hijau, tak lama panggilan itu sudah dijawab oleh orang diseberang sana.


"Zu, ada apa? apa Ibu sudah sadar?" ucap gadis itu penasaran.


"Belum, mama masih gitu aja. Jun, apa kau jadi kesini?"


"Iya, jadi. Sebentar lagi berangkat. Aku sama bunda dan papa."


"Oh, baiklah. Aku akan bicarakan hal penting kepadamu nanti setelah kau sampai" ucap Zuan


"Oke lah." Juna mengakhiri panggilannya.


Gadis itu menyisir rambutnya yang masih terlilit handuk. Membubuhkan bedak, dan lipstik tipis di bibirnya sambil sesekali bersenandung ria.


Tin ...Tiin!!!


Suara klakson mobil dari arah luar membuatnya harus bergegas menyelesaikan semuanya. Disambarnya tas yang tergantung di balik pintu, memasukkan ponselnya dan segera berhambur keluar.


Sambil menggerutu gadis itu berlari menuruni tangga, Cindy sudah bersedia dengan kunci pintu ditangannya.


"Ih, gak sempat sarapan dulu deh." gadis itu menggerutu lagi.


"Tadi papa sudah bilang jam lapan kan!" ucap Rudi dari dalam mobil.


"Iya, Pa. Maaf. Tadi Zuan ...." ucapan Juna terhenti, Rudi langsung menyela ucapan anaknya itu.


"Jangan menyalahkan orang lain!" ucapnya menjalankan mobil dengan wajahnya yang sangar tapi tampan.


.


.


.


.


Maaf terlambat gaes, banyak kerjaan di dunia nyata heheh. Gak sempat pratinjau langsung lanjut ini, bantu koreksi ya gaes, happy reading 💕💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2