
Kaki itu terus melangkah maju, lengannya tak luput memegang benda pipih miliknya, entah berapa kali gadis itu mencoba aplikasi ojek online namun dunia seakan mengabaikannya, tak satu pun kang ojek menerima permintaannya.
Sambil terus menangis Juna turun dari lantai 3, pintu keluar sudah di depan mata, sambil mempercepat langkahnya gadis itu menyeka air matanya yang terus mengalir, tak perduli pandangan orang yang beredar di sekitarnya.
"Kalau gak ada ojek, naik taxi kan bisa. Yang penting aku harus jauh dulu dari tempat ini." ucapnya lirih
Tiba-tiba lengannya di tarik paksa, membuat tubuh kurus itu terhuyung. Tampak pemilik badan atletis menumpunya dengan lengan. Dengan terkesiap Juna menjauhkan tubuh dari laki-laki yang tak sengaja memeluknya.
"Jangan sentuh aku." Juna menepis tangan Adzka yang kembali menyentuh lengannya.
"Jangan menangis." Laki-laki dengan tatapan sayu itu berucap, tak ada niatan sekalipun membuat gadisnya itu menangis sampai seperti ini.
"Untuk apa aku menangis? kau salah lihat. Aku hanya Flu." Juna ingin berlari meninggalkan laki-laki itu sendirian. Namun lagi-lagi Adzka berhasil mencegahnya.
"Jangan salah paham. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Nia."
"Apa kau cemburu, Hm ...." Netra mereka saling bertemu.
"Gak usah la kau tanya lagi masalah itu. Menurutmu kenapa aku sampe nangis gini kalau bukan karena aku cemburu, Ucok!" Juna membatin.
"Lihat mereka, itu Nia sama suaminya. Tadi kau tidak melihatnya karena suaminya sedang ke toilet." Adzka menunjuk ke lantai dua, Nia dan seorang laki-laki melihat mereka dari atas sana. Dewi juga menyusul Juna dan sekarang sudah berada dekat dengan Adzka.
"Iya, Jun. Adzka sudah jelaskan semuanya." ucap Dewi
Juna hanya bisa menunduk, wajahnya bersemu kemerahan. Gadis itu memilih memeluk Dewi sambil berbisik.
"Ayo bawa aku pulang. Aku malu!" ucap gadis itu, matanya tak berani menatap Adzka yang sedari tadi mengulum senyum.
"Aduh, makanan ku belum habis. Aku harus kembali menghabiskannya, kau tau kan kalau orang ngidam seperti apa? kau pulang saja bersama Adzka. Ka ... tolong antarkan Juna ya. Bisa kan? aku masih belum kenyang!" ucap Dewi bermain mata dengan Juna.
"Eh, aku ikut makan aja deh. Jadi lapar." Juna tampak kikuk
"Kau makan apa, Dew?" tanya Adzka
"Ayam super pedas lah pokoknya, Juna pasti gak suka." Dewi seakan begitu mengerti keinginan Adzka.
"Ya sudah ayo kita pulang. Kalau laper nantu kita cari makan di tempat lain. Disini makanannya pedas semua, iya kan kakak ipar?" Dewi seketika mengangguk, membuat Juna semakin kesal dan malu.
__ADS_1
"Awas kau ya!" Juna mengepalkan tinjunya ke arah Dewi, gadis berjilbab itu tertawa sambil mengusung jarinya membentuk huruf V
Adzka dan Juna kini sudah di dalam mobil.
"Jadi kemana tujuan kita, Tuan putri?" ucap Adzka penuh dengan kelembutan
"Pulang!" gadis itu justru membalasnya dengan kebalikannya.
"Duh, masih ketus aja. Awas loh! nanti ada kerutan di sini ... di sini!" Adzka menunjuk wajah Juna hampir menyentuhnya.
"Apaan sih! iya iya, gak usah di perjelas, aku memang sudah tua. Wajahku yang tidak seberapa ini sudah mulai ada kerutannya." setetes cairan bening kembali jatuh, sabuk pengaman yang sudah ia pakai kembali di buka, gadis itu hendak keluar dari mobil.
"Kenapa aku jadi cengeng gini sih!" Juna menyeka air matanya
"Eeeh! Kok mau turun. Katanya mau pulang. Jangan ngambek lagi dong. Tadi maksud aku tuh gak gitu." Adzka memegang pundak Juna yang hampir membuka pintu, membalikan tubuh itu sehingga menghadapnya. Adzka menghapus air mata yang semakin deras mengalir dari sudut mata pemiliknya.
"Jangan menangis lagi. Aku merasa sangat berdosa membuatmu meneteskan air mata. Maaf kan aku. Aku janji, kalau kau tak suka aku bertemu dengan wanita manapun, aku tak akan melakukannya lagi."
"Tak usah seperti itu! aku tidak apa-apa." Juna mulai meredupkan emosinya, tak mungkin kan Adzka mampu menepati janjinya, pikirnya
"Nanti kau marah lagi."
"Oh! oke, baiklah." Adzka menghidupkan mesin mobilnya.
"Hm ... di perjelas kek, dikuatkan gitu keyakinan calon istrinya, katanya gak mau buat aku nangis lagi!" batin Juna terus meronta-ronta. Lain di mulut lain dihati.
"Tapi, walaupun aku di berikan kebebasan oleh istri ku! aku tetap tidak akan memberikan kebebasan yang sama ya. Istriku tidak boleh pergi kemana-mana tanpa aku. Istriku wajib lapor dimanapun kapanpun dengan siapapun!" Adzka bicara dengan penuh penekanan.
"Masih calon, dokter. Ca-Lon!"
"Sebentar lagi juga!"
"Sebentar lagi juga gak boleh bilang aku ini istri mu. Dokter gak adil ah, harus nya aku memiliki kebebasan yang sama dong." Juna mencebik, laki-laki di sebelahnya ini memang benar-benar posesif gila.
"Pokoknya gak boleh." Adzka menjalankan mobilnya, sesaat suasana menjadi hening, hanya deru nafas yang terdengar sesekali suara ingus yang di tarik masuk lagi ke sarangnya juga terdengar.
"Jorok banget sih, Sayang. Ingus itu dibuang jangan di simpan lagi." Adzka mendekatkan tissue
__ADS_1
"Kenapa jorok? katanya cinta?" gadis itu melap sisa cairan putih yang ia simpan, membuka sedikit jendela mobil mengeluarkan tissue kotor itu dari celahnya.
"Loh kok buang sampahnya sembarangan. Kena pengendara lain gimana, itu ingus loh, Sayang. Kasian kalau kena orang yang naik motor."
"Tissuenya kan berat sudah di isi tadi, mana bisa terbang dia. Paling aku hanya memberikan kerja tambahan sama kang sapu jalan."
"Terserah deh, Terserah!" Adzka serba salah. Mengalah adalah jalan yang terbaik. Tak ada menangnya jika bicara dengan wanita di sebelahnya ini.
Juna menyunggingkan senyumnya, laki-laki di sebelahnya ini cukup sabar menghadapinya.
"Jun!" suara Adzka lirih
"Hm"
"Katanya gak cinta!"
"Iya, memang!"
"Kok cemburu?" Adzka tertawa menatap gadisnya yang tak berani menatapnya.
\=\=\=\=
Di tempat lain, ada bumil yang masih lahap menyantap makanannya ditemani sepasang pengantin baru yang masih indah-indahnya menjalani hari-hari bersama.
"Selamat ya atas pernikahan kalian. Gak tau kapan punya pacarnya tau-tau udah jadi istri aja, Nia. Keren!" ucap Dewi di sela-sela makannya.
Gadis itu hanya tersipu malu, Laki-laki di sebelahnya melingkatkan tangannya di pinggang Nia yang langsing.
"Aku gak mau keduluan orang! Begitu tau dia masih jomblo, hari itu juga aku melamarnya, seminggu setelahnya ketemu keluarga dan menikah deh." Laki-laki yang bernama Rei itu menatap Nia dengan tatapan penuh cinta. Dewi yang melihatnya memakluminya saja.
"Aku juga pernah merasakan itu, bahkan masih merasakannya saat ini" Dewi melahap makanannya kembali
.
.
.
__ADS_1
komen ya manteman, komen kalian itu serasa nyawa tambahan buat ku loh. 😁