Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
93


__ADS_3

Ketukan pintu membuyarkan lamunan gadis berambut lurus itu. Sosok laki-laki tampan muncul dari balik pintu.


"Mas." sapanya, laki-laki itu hanya menatapnya datar tanpa senyuman sedikitpun seperti biasa.


"Ayo kita pulang!" ucapan itu bagai perintah yang tak menerima penolakan.


Juna pun bergegas memakai kembali kerudungnya. Mengambil tas dan memasukkan hapenya ke dalam tas yang tadi masih mengisi daya.


Gadis itu berjalan mengikuti suaminya dari belakang. Laki-laki itu kembali diam. Setelah sampai di bibir pintu, dia melihat kebelakang.


"Ayo, apa lagi!" ucapnya


"Belum pamit sama ibu, Mas." entah kenapa gadis itu merasa sangat takut, tak pernah Adzka bersikap sedingin itu.


"Tadi mas sudah pamit, Mama sedang istirahat di kamar. Sudah ayo!" Juna pun mengikutinya, membuka pintu mobilnya sendiri. Adzka telah lebih dulu masuk ke dalam.


"Dia kenapa? baru kali ini aku buka pintu mobil sendiri! biasanya dia memperlakukan aku seperti ratu. Apa jangan-jangan benar, Silva sudah masuk ke dalam hatinya. Oh, tidak! secepat itu kah umur pernikahan ku, Tuhan." Juna masih dalam angan-angannya, saat klakson mobil menyadarkannya.


"Tutup pintunya, Jun." suara itu tak kalah mengagetkannya, suatu hal yang sudah tak biasa setelah mereka sah menjadi suami istri.


"Memang itu namaku, tapi kenapa aku sedih dia menyebut seperti itu." Juna menangis dalam hati.


Mobil pun melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi, kebetulan jalanan juga lengang.


Empat puluh lima menit berlalu, gerbang rumah terbuka. Pak Mukhlis menyambut majikannya dengan senyum ramahnya.


Tak ada pembicaraan sedikitpun selama dalam perjalanan. Sampai di rumah, Adzka juga langsung masuk tanpa perduli sang istri sudah keluar atau belum. Mengekori Adzka menaiki tangga, Juna terus berkutat dalam tanya.


"Mas kenapa?" akhirnya kata itu meluncur dari bibirnya


"Kenapa pulang duluan?" Adzka menyilangkan tangannya


"Mm, iya ... tadi Dewi katanya lelah, Mas. Maklumlah sudah hamil tua. Tadinya mau aku yang setirin, tapi dia enggak izinin. Jadi ya, nemenin pulang ke rumah saja. Tadi kan, aku sudah whatshap, Mas." Juna menautkan jari jemarinya.


"Kata Dewi kau tidak makan tadi!"

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku kenyang. Sebelum kita berangkat tadi kan aku makan dulu. Aku sudah memasak untuk mu. Tapi setelah semuanya selesai kau mengajakku untuk bertemu dengan teman-temanmu."


"Juna!"


"Iya, Mas."


"Apa yang kau sembunyikan dari ku?"


"Maksud, Mas?"


"Pasti dia menebak aku cemburu lagi kan! oh, Juna, kenapa kau tidak bisa menyimpannya. Kenapa harus terlihat sih!" umpatnya dalam hati.


"Sini!" Adzka menepuk kasur empuk tepat di sebelahnya. Juna menghampiri dengan wajah tertunduk.


"Apa kau tidak mencintaiku?"


"Hah? maksudnya? itu pertanyaan yang sudah terlambat, Mas." Juna mencebik, namun wajah dingin Adzka tak kunjung menghangat.


"Maas ... maaf kalau sikap ku di depan teman-temanmu tidak ramah. Aku juga pulang lebih dulu. Tapi aku benar-benar merasa sangat rendah dan tak pantas berlama-lama dekat kalian. Mas juga tadi terlihat sangat nyaman. Aku bahkan belum pernah melihat mas seriang itu." Lagi-lagi Juna menunduk, cairan bening pun tak tertahan lagi untuk jatuh.


Cup


Adzka mengecup bibir Juna seperti ikan yang menyambar makanannya. Mata Juna membeliak, memegang bibirnya.


"Apaan sih, Mas. Tiba-tiba!" wajah itu memerah.


"Biarin! itu hukuman pertama karena sudah menyiksa mas."


"Maksudnya apa sih, aku enggak ngerti, Maaas!"


"Sekarang jelaskan satu alasan kenapa istri mas yang tega ini tidak bersedia mas sentuh." Juna semakin bingung.


"Adek sudah shalat kan! tadi momon bukan cuman di suruh ambilin baju doang kan di rumah papa, tapi mukena juga! Tadi mas lihat adek shalat Dzhuhur dari gazebo."


"Momon?!"

__ADS_1


"Astaga, tamat! ketauan deh." Juna menganjur napas.


"Maaf, Mas. Aku hanya ingin membuktikan sejauh mana rasa cinta mu itu. Aku enggak mau, tujuan seseorang menikah itu hanya untuk menikmati tubuh istrinya saja."


"Ya Allah. Hubungan itu justru malah memperkuat rasa cinta dari pasangan itu sendiri, Sayang. Ya ampun! apa kau tidak menginginkan kita mempunyai generasi penerus yang mewarisi ke cerdasanku dan kecantikanmu?"


"Ya, Maulah. Tapi ...." belum sempat Juna memberikan alasan lainnya, Adzka sudah menyerang kembali bibirnya.


Yang seharusnya terjadi pun terjadi. Tampilan awan jingga di langit, sayup-sayup alunan merdu dari qori internasional terdengar, mengharuskan keduanya berpisah. Adzka masuk ke dalam kamar mandi, tapi sebelumnya ciuman di kening yang begitu lama membangunkan sosok yang paling ia cintai tersebut.


"Mas."


"Hm"


"Udah enggak marah lagi kan?!"


"Marah!" Adzka memasang wajah serius


"Loh, kok masih marah." muka bantalnya sengaja di imut-imutkan.


"Cepat bangun, habis maghrib kita langsung makan malam. Selesai isya nanti kita ulangi lagi." kedipan mata Adzka membuat Juna bergidik ngeri


.


.


.


.


.


Maaf ya yang nunggu-nunggu seperti yang di tunggu Adzka berakhir sedemikian rupa wkwkwk, author ini kan receh. Buat karya keren aja rak iso, apa lagi nulis part 21+ 🤣


Maaf ya. Pokoknya komen aja deh, lanjut aja pun gak apa guys, hayoo 7 ratus orang itu nulis lanjuuuut di kolom komentar 😁

__ADS_1


__ADS_2