Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
47


__ADS_3

Angin bertiup sedikit kencang, rambut lurus nan hitam terbawa angin membuatnya oleng seperti hati pemiliknya. Juna menyelipkan beberapa sulur rambutnya yang menutup muka yang tampak sembab itu ke balik telinganya.


Menyeka cairan yang sudah hampir mengenai bagian bibirnya, untung laki-laki yang bersamanya tak melihatnya. Jika saja Adzka melihat itu, mungkin kadar cintanya yang mungkin tinggal sisa menjadi usang tak bersisa. Itu pendapat Juna, tapi sebaliknya Adzka sama sekali tak mempermasalahkan itu. Walau cairan kental itu bahkan masuk kemulutnya dan Juna juga menikmatinya, tak akan pernah mengurangi rasa cintanya. Cinta itu memang benar-benar buta.


"Sudah sore, ayo ku antar pulang." Adzka membuka percakapan setelah sekian lama mereka terdiam.


"Mm ... gak mau lihat matahari terbenam dulu, Ka?" Juna mengangkat wajahnya yang lebih banyak menunduk.


"Ngapain? udah mau maghrib juga. Lebih baik kita ke masjid aja. Dari tadi aku pesan taxi online juga gak dapat-dapat. Matahari terbenam gak usah di lihatin juga terbenam sendiri." ucap Adzka yang berjalan di depan Juna beberapa langkah.


"Tapi kan Indah, semua orang yang datang kesini rata-rata mau lihat itu loh. Sayang kan kalau dilewatkan." Juna mengejar Adzka yang langkahnya panjang-panjang. Sambil memeluk kotak pemberian dokter itu.


"Eh, Indah. Kabar Indah gimana? dia cantik ya, Dok. Kalian serasi, pokoknya uwwu deh, kalian berdua. Semoga jodoh ya." menyebut 'Indah' Juna teringat dengan wanita yang bersama Adzka saat pernikahan Dewi waktu itu.


"Siapa Indah? aku gak kenal." Adzka berubah ketus, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya. Wajahnya pun tiba-tiba menjadi datar dan dingin.


"Ih, sok gak kenal. Awas aja kalau tiba-tiba aku dapat undangan pernikahan kalian ya." Juna kini telah berada diposisi yang sejajar dengan Adzka.


"Aku bilang gak kenal ya gak kenal. Sekiranya makhluk itu benar-benar ada, aku juga gak perduli. Kejauhan sampai cerita undangan pernikahan." Adzka menjitak kepala Juna tanpa merasa bersalah.


"Aw, ih ... sadis amat, Dek. Beneran kayak anak kecil yang gak terima di comblangin ya. Pakai jitak kepala segala." Juna mengelus-elus kepalanya yang terasa benjol. Adzka yang sudah berjalan didepan, membalikkan badannya dan menyusul Juna yang ketinggalan lagi di belakang.


"Sekali lagi panggil aku Adek, kau akan menyesal. Adek-adek begini aku bisa membuat adek berada dalam perutmu." bisiknya ketelinga Juna. Membuat gadis itu mematung mendengarnya.


"Apa maksudnya barusan? ah ... aku masih terlalu kecil untuk mengerti hal itu." gumam Juna melanjutkan perjalanannya.


"Tungguin dong, Dok. Jangan cepat-cepat kenapa jalannya. Kamu tuh jalannya seperti pakai enggrang tau gak." Juna tampak kesusahan mengimbangi Adzka yang seperti slogan merk kendaraan bermotor "Semakin di depan" 😊


Bagi mereka yang tak mengetahui apa hubungan antar keduanya, pasti menyangka bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang baru jadian. Sedikit bertengkar namun tetap bersama, membuat iri para jomblo sejati yang berlalu lalang disekitarnya.

__ADS_1


Pemandangan itu juga tak luput dari pandangan seseorang yang dari tadi seperti sembunyi di keramaian. Topi Hoodie Jumper hijau lumut yang dikenakannya, serta masker hitam membuatnya tak dikenali siapapun. Tak ada yang tau ekspresi apa yang ada dibalik masker tersebut.


\=\=\=\=\=


Lia tampak membersihkan meja makan, kemudian menata sajian makanan untuk santap malam. Makanan yang di pesannya sudah datang lima belas menit yang lalu, karena kesibukannya bekerja Lia memilih memesan makanan saja ke resto langganannya.


Suaminya juga telah selesai membersihkan tubuhnya dan shalat. Sembari menarik kursi makan, ia mengedarkan pandangannya ke semua bagian dirumah itu.


"Si Kakak mana? belum turun?" tanyanya pada Lia


"Belum pulang sepertinya, Bang. Tadi pergi sama Adzka." jawab Lia


"Mama ini gimana sih, pakai salah sebut nama lagi. Apa yang mama pikirkan? ngapain Juna perginya sama Adzka. Marchel, Ma ... Marchel!"


"Dih, abang gak percaya. Adzka memang datang tadi. Gak lama abang pergi, dia sampek sini. Makan siang disini juga tadi."


"Huss, Do'anya. Semoga aja enggak. Mereka udah dewasa, Bang. Mungkin bang Rudi ngasi tau kalau Juna mau menerima Marchel. Jadi, Adzka mau tau kepastian dari Juna. Mungkin ya, mama nebak-nebak aja. Kalau Mama sih, Juna mau pilih siapa aja, Mama selalu dukung kok, Bang. Kedua laki-laki itu baik dan sayang sama Juna." ucap Lia panjang lebar.


"Sama, Abang juga. Semoga Allah pilihkan yang terbaik untuk Juna, ya."


Keduanya pun memilih diam dan menyelesaikan makan malam mereka.


Ceklek ... Assalamu'alaikum.


Pintu rumah mereka terbuka, Juna dan Adzka tampak dari baliknya. Juna berhambur masuk menuju ruang makan, dia hapal betul kedua orangtuanya pasti berada di sana. Adzka pun menutup pintu, dan mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Ma, Ayah." Juna menyapa, mau mencium tangan keduanya. Tangan mereka berdua masih berlumur nasi.


"Sudah pulang, Nak. Dari mana saja? makan bareng sini. Adzka didepan kan." ucap Lia, samar dia mendengar Juna tadi berbicara setelah mengucap salam untuk masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Muter-muter aja, Ma. Iya tuh di depan. Adzka mau pulang." jawab Juna.


"Loh, mau pulang sekarang?" Lia menatap jam dinding ruangan itu. Kemudian menyuci tangannya dan berjalan keruang tamu.


"Adzka mau pulang malam ini? gak nginap aja, Nak. Capek loh." tanya Lia. Adzka yang tadi tampak menyandar membenarkan posisinya.


"Iya, Tante. Penerbangan terakhir nanti." jawab Adzka.


"Kalau hari Sabtu, dokter gak ada jadwal kerumah sakit kan biasanya?"


"Gak, Tante. Sabtu Minggu waktunya dokter istirahat heheh." balas Adzka.


"Kalau begitu batalkan tiketnya. Pulangnya besok saja. Sekarang mandi cepetan, setelah itu makan. Adzka nginap disini. Walau rumah tante kecil, tapi adalah kamar tamunya. Tapi gak gede, cukup buat satu ranjang aja." ucapan Lia seperti perintah yang tak bisa dibantah apalagi ditawar.


"Jun, Juna!" panggilnya berteriak


"Iya, Ma." Juna berlari dari arah dapur.


"Ambilin Adzka handuk!" Juna mengiyakan saja, dari balik tubuh Lia dia seolah bertanya kepada Adzka dari tatapan mata. Adzka hanya mengangkat bahunya dengan senyuman manisnya tersungging memperlihatkan bolongan dibagian pipinya.


"Ma." Juna memberikan handuk bersih kepada Lia.


"Kok malah kasi ke Mama. Buat pak Dokter itu." sebut Lia


"Ini, Dokter." Juna memberikannya, dan menunjuk kearah pintu kamar yang ada di sebelah kiri.


"Kakak! makannya jangan dilanjutin. Nanti bareng makan sama Adzka. Tega banget sih, makan duluan enak-enakan. Adzkanya di anggurin." tegur Lia, anak gadisnya itu hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Adzka mendengar ocehan Lia dari balik pintu kamar tamu sambil tertawa. Dibelahan dunia manapun tidak ada yang namanya ibu yang tak mempunyai keahlian mengomel, Pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2