Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
51


__ADS_3

Waktu terus berlalu


Tanpa ku sadari yang ada hanya


Aku dan kenangan


Masih teringat jelas


Senyum terakhir yang kau beri


Untukku


Tak pernah ku mencoba


Dan tak inginku mengisi hatiku


Dengan cinta yang lain


Kan ku biarkan ... ruang hampa di dalam hidupku


Bila aku


Harus mencintai


Dan berbagi hati


Itu hanya denganmu

__ADS_1


Namun bila ... ku harus tanpamu


Akan tetap ku arungi


Hidup tanpa bercinta ....


(Element)


Mata sayu itu menatap nanar langit dengan tebaran bintang yang berkilauan. Tubuh tegap itu tampak penuh keringat, di atas matras biru polos tersebut dia merebahkan dirinya.


Semangat hidupnya akan kembali hadir kala dia memakai pakaian putih yang menjadi identitasnya itu, melihat wajah pasien yang membutuhkannya, menatap keluarga pesakit yang seolah penuh harap uluran tangan berbakatnya. Setelah tiba waktu kembali pulang, laki-laki berkacamata nan tinggi itu kembali menjadi Adzka yang memiliki tatapan dingin nan sendu. Semangat hidupnya seakan ikut menggantung bersama dengan jas putihnya yang kini selalu ia sampirkan di kursi kerjanya.


Alunan lagu yang pernah hits pada zamannya itu benar-benar mewakili perasaan Adzka saat ini. Melalui pemutar musik mininya, lagu yang dipopulerkan Band Element itu seolah menjadi sountrack Film perjalanan hidupnya. Lambaian tangan Juna saat pertemuan terakhir mereka memberi luka yang masih belum mengering, berbeda dengan lambaian tangan dari orang yang sama sewaktu dulu dia kembali bertolak menuju negara milik ratu Elisabeth beberapa tahun silam.


"Habis olahraga, ya?" kini wajah gadis berambut panjang itu ada diatas Adzka, gemerlap bintang yang sedari tadi dipandang tertutup oleh tubuh langsing nan manis itu.


"Bisa gak sih masuk kamar itu ketuk pintu dulu!" ketus Adzka, namun gadis yang bersamanya malah tersenyum.


"Kenapa marah-marah terus sih? memangnya salahku apa?" ucapnya pula sedikit mencebik, berharap lawan bicaranya sedikit mencair dari kebekuannya.


"Dasar perempuan aneh, namanya tak seperti perilakunya. Aku semakin gak respect." batin Adzka terus bicara.


Entah apa yang ada dalam pikiran Fatmala. Semenjak kecelakaan waktu itu, dia memutuskan untuk mengajak Indah tinggal bersamanya. Mungkin karena ia tak mempunyai anak perempuan, atau sengaja mendekatkan Adzka dengan gadis itu.


Kesibukan Fatmala yang pergi pagi pulang malam, membuatnya tak mengetahui bahwa gadis yang digadang-gadang sebagai menantu idamannya itu berprilaku tidak baik. Bukan hanya sekali ini gadis itu masuk ke kamar anaknya tanpa permisi. Kelakuan Indah membuat Adzka merasa jengah, sedikitpun rasa cinta tak pernah tumbuh di hatinya.


"Keluar kau! Gadis seperti apa dirimu masuk ke kamar laki-laki seenaknya!" Wajah Adzka memerah, rahangnya mengeras tangannya pun terkepal

__ADS_1


"Haruskah aku meminta izin untuk masuk ke kamar yang akan menjadi kamarku juga?"


"Kamar mu juga? hei ... kenapa kau belum bangun juga? sudah ku bilang jangan bermimpi. Aku tidak akan pernah menikah denganmu. Cam kan itu!" Adzka semakin berang.


"Siapa bilang kau tidak akan menikah dengannya? kau akan menikahi Indah beberapa bulan lagi. Mama sudah atur semuanya." Suara wanita paruh baya yang bersandar di pintu. Entah sejak kapan Fatmala berada disana.


"Indah, tinggalkan kami berdua dulu. Kau kembali lah ke kamarmu." perintah Fatmala. Seringai yang tersembunyi terlukis dari bibir Indah. Fatmala dan Adzka tak melihatnya.


"Ia, Tante." Indah menunduk seolah-olah merasakan kesedihan. Ia pun keluar dari kamar tersebut kemudian menutup rapat pintu berwarna coklat itu.


"Mama apa-apaan sih. Se enaknya mama bawa dia tinggal disini. Sekarang se enak mama juga mau menikahkan Adzka dengan perempuan itu!" Adzka duduk terduduk dilantai.


"Mama hanya menginginkan kebahagianmu, Ka. Indah itu gadis baik. Mama mengajaknya tinggal disini karena kasihan, dia sudah tidak punya orang tua. Gak mungkin mama membiarkan dia dirawat Nia sendiri. Kau kan tau Nia bekerja sampai malam dengan Mama."


"Sudah cantik, baik, sopan, pintar masak pintar cari uang juga. Apa lagi yang kurang?" Suara Fatmala sedikit meninggi.


"Tak ada wanita baik-baik yang se enaknya masuk kamar laki-laki. Dan tak ada wanita baik-baik yang dengan gampang merangkul bahkan memeluk lawan jenisnya. Adzka tidak suka, Ma. Gak menutup kemungkinan kan, Ma. Dia melakukan hal serupa dengan laki-laki lain. Adzka tidak mau sisa." Adzka berlalu melewati Fatmala, masuk kedalam kamar mandi dan membanting keras pintu tersebut.


Ada rasa nyeri di hati ibu dua anak itu. Fatmala mengelus dada. Laki-laki itu dulunya sangat penurut. Tak pernah sekalipun ia mengecewakannya. Semua ke inginannya selaly dituruti. Tapi ini ... sisi lai dari Adzka terlihat.


"Perempuan pembuat obat itu telah memberikan racun kepada mu. Apa hebatnya dia. Bahkan keturunan pun mungkin tidak akan kau dapatkan jika kekeh ingin bersama gadis itu." gumam Fatmala dalam hati.


Laki-laki berlesung pipi itu mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Berharap segala emosinya yang meluap-luap hilang seiring air yang mengalir diseluruh tubuhnya.


"Aku seperti Siti Nurbaya versi pria. Bahkan Dewi yang jelas-jelas baik dan solehah saja aku menolaknya, apalagi wanita yang seperti nenek sihir itu. Apa yang ada di pikiran mama!" ia mengusap kasar wajahnya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2