Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
40


__ADS_3

Burung besi melesat dengan kecepatan super membelah awan yang luas tak terbatas. Pesawat boing itu membawa sepasang anak muda yang dikira menjalin hubungan oleh siapa saja yang melihatnya.


"Pengantin baru ya, Mas?" tanya laki-laki paruhbaya yang ada disebelah Marchel. Laki-laki itu sekilas melihat Juna yang tertidur bersandar tepat disebelah Marchel, tampak seperti merebahkan kepalanya di bahu kekar itu.


"Hm, kenapa bertanya seperti itu, Pak? apa kami terlihat serasi." Marchel membenarkan posisinya duduk, merasa sangat antusias punya teman ngobrol.


"Ah, mas ini. Kenapa harus tanya orang kalau diri sendiri sudah merasa cocok? udah lamar saja. Nanti keburu diambil orang loh." Bapak tadi bisa menyimpulkan bahwa anak muda disebelahnya bukanlah suami istri.


"Kalau saya sih mau banget, Pak. Tapi yang lagi ngiler itu enggak mau." ucap Marchel sedikit berbisik.


"Perempuan itu menginginkan bukti, Nak Mas. Bukan janji. Kalau didepan mata sudah ada laki-laki ganteng begini, ditambah lagi kemampuan sudah mumpuni ... gak ada yang nolak, Mas. Udah jangan tunggu lama-lama." nasehat bapak berkumis tebal itu diterima Marchel, seolah-olah kata-kata yang keluar dari tetangga duduknya itu memang benar adanya.


"Gitu ya, Pak. Nanti di praktekin deh. Doakan ya, Pak." Marchel menunjukkan kepalan tangannya, mengharap tambahan semangat dari bapak tersebut.


Beberapa jam berlalu, pesawat mendarat di bandara internasional soekarna hatta dengan selamat. Perempuan berambut sebahu masih merasa kantuknya belum hilang. Dengan susah payah dia mengerjapkan kedua netranya.


"Dasar putri tidur! dua jam tidur masih kurang?" Marchel menonyor kepala Juna yang terkulai malas dekat bahu kanannya.


"Ih, apaan sih, Dok!" Juna memindahkan kepalanya dan mendaratkannya lagi didinding besi.


"Apa katanya? Dokter? dokter kepala loe, dasar butet. Belum move on juga. Baru aja niat mau nembak ulang eh, udah ketolak ama keadaan. Nasib mu itu Chel tragis amat." gumam Marchel.


"Ayo, Nak Mas. Semangat! bapak duluan ya." ucap bapak paruh baya tersebut.


"Bapak itu kenapa, Chel? kau mau perang pake disemangatin gitu?" tanya Juna yang mendengar ucapan bapak berkumis itu.


"Iya, aku mau perang melawan angkara murka. Menggapai cinta yang tertutup tembok raksasa dan jerat Arwana hahaha" sembari berkacak pinggang Marchel seperti pelakon pewayangan.


"Tukul kali Arwana. Dasar Udin. Aneh!" Juna mendahului Marchel keluar dari pesawat.


"Loh, malah aku ditinggal." kejar Marchel pula.


\=\=\=\=


"Alhamdulillah semuanya baik, Om." dokter Adzka bersyukur atas hasil yang baru disampaikannya. Entahlah, mungkin bukan hanya karena Rudi adalah orangtua Juna saja Adzka merasa nyaman bersamanya. Tapi mungkin juga karena dia merindukan sosok laki-laki yang mengayomi dan menjadi panutannya seperti Rudi, maklum saja ayahnya sudah lama meninggal dunia.

__ADS_1


"Alhamdulullah. Tak perlu minum obat lagi kan, Dokter." tanya Rudi


"Tidak, Om. Asal jaga kesehatan olahraga ringan dan jaga makan. Tolong makan om diperhatikan ya, Bunda." Cindy pun mengangguk dan tersenyum ramah kepada Adzka.


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu, Dok. Terimakasih" ucap Rudi hendak bangkit dari duduknya, namun terhenti karena tampaknya Adzka ingin berbicara lagi


"Mm-m, Om ... apa om tau Juna datang kesini?" Adzka sedikit berhati-hati menanyakan hal ini.


"Apa kalian bertemu semalam?"


"Iya, Om. Tapi saya tidak mengenalinya karena dia memakai masker. Apa dia mampir, Om. Bagaimana kabarnya? apa dia baik-baik saja. Kapan rencana dia kembali lagi ke sini. Dia bukan akan tinggal disana selamanya kan, Om." kali ini usia memang menunjukkan kekuasaannya, jelas terlihat sifat kekanak-kanakan Adzka muncul dengan sendirinya. Tak sabarnya mengetahui kabar gadis satu-satunya yang mengisi penuh hatinya tersebut.


"Yang mana satu yang mau aku jawab, Dokter." Rudi tertawa begitupula dengan Cindy, namun Tomy tak berani ikut. Dia hanya menahan senyum dan menyibukkan diri melihat data pasien selanjutnya.


"Jangan bertanya pertanyaan diluar pekerjaanmu, Nak. Ini rumah sakit. Datanglah kerumah kalau kau ada waktu. Yang pasti Juna baik-baik saja dan sepertinya dia bahagia. Kau juga harus bahagia, Dokter. Jangan siksa hatimu dengan terus menunggu yang tak pasti. Yang sudah ada didepan mata dan itu yang terbaik menurut orangtuamu, jangan disia-siakan. Om permisi, Assalamu'alaikum." ucap Rudi panjang, menepuk bahu Adzka yang diam mematung memaksakan senyum tetap menghiasi wajah tampannya.


"Tomy, panggil pasien selanjutnya." ucap Rudi kemudian disusul posisi siap dengan tangan seperti hormat bendera.


"Siap, Pak." ucap Tomy spontan.


Hampir satu jam gadis itu fokus kearah benda pipih miliknya. Kebosanan sudah melanda jiwanya yang sebenarnya pantang untuk diam ditempat berlama-lama seperti saat ini. Namun keinginan untuk sekedar berkeliling mencari buah tangan diurungkannya, mengingat keharusannya untuk berhemat.


Menunggu diruangan itu memang keinginannya sendiri, menyerahkan semua urusan transitnya kepada laki-laki yang terbang bersamanya.


Derap langkah sepasang kaki jenjang terdengar mendekat. Juna menatap sepatu sneakers coklat dihadapannya. Juna menatap dari bawah sampai keatas, melihat pemilik kaki tersebut.


Seringai senyum diwajah orang tersebut membuat Juna seolah tersihir untuk ikut tersenyum. Kedua tangan lelaku itu menenteng barang yang berbeda warna papper bagnya.


"Banyak amat, Din. Loe mau jualan kue di apotik?"


"Enak aja, ya enggak lah. Yang ini titipan mama, yang ini buat tante. Yang ini buat ku." Marchel menunjukkan dua box yang berisi kue lapis talas bermerk nama tokoh dalam dongeng.


"Kalau ke Jakarta gak beli ini, rasanya gak lengkap." seru Marchel, mengambil satu plastik kecil berisi box lapis talas yang sudah dipotong. Dia melahapnya seperti anak kecil yang sedang menikmati gula kapas. Dunia serasa milik pribadi.


"Ditawarin kek, ada yang ngiler ini." Juna mencebik.

__ADS_1


"Oh mau? kirain gak suka." Marchel menyodorkan kotak kecil tersebut.


"Lain kali ambil aja apapun yang kau mau, aku gak perlu harus menawarkannya terlebih dahulu. Kayak sama siapa aja." seru Marchel


"Siap bos!" Ucap Juna yang kini sedang menikmati kue itu juga.


"Kok enak?" Juna kembali mengambil sepotong kue


"Ini bahan dasarnya talas?"


"Kata yang jual sih iya. Lihat aja warnanya."


"Kalau warna, ubi ungu juga warnanya gini kalau dibuat cake." debat Juna


"Cake? kayak bisa buat aja loe."


"Eh, bisa ya. Jangan menganggap remeh anda. Aku ini multitalenta."


"Benarkah? kalau begitu apa kau bisa memasak?"


"Bisa. Kau sendiri tadi pagi memakan masakanku."


"Apa kau bisa mengurus rumah?"


"Begh ... itu apalagi. Aku sudah terbiasa dari kecil mengurus rumah, dari beberes, berkebun dan lain-lain, aku jagonya." Juna menepuk dada membanggakan dirinya.


"Wah hebat ya, kalau begitu apa kau bisa membahagiakan aku?" raut wajah Marchel berubah serius


"Ha! ow- i-tu tergantung. Kalau kau bahagia makan bersamaku seperti sekarang ini berarti aku bisa dong." air muka Juna tampak sedikit memerah


"Apa kau mau menikah dengan ku?" kata-kata itu spontan keluar dari mulut Marchel.


"Tentu saja. Nanti kalau sudah tidak ada lagi laki-laki di dunia ini." ucap Juna mengambil box kecil berisi lapis talas yang hanya tinggal satu potong lagi.


"Dasar serakah. Aku masih mau. Bagi dua ya." rayu Marchel.

__ADS_1


__ADS_2