Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
30


__ADS_3

"Ma, lihat siapa itu!" laki-laki tampan itu mengangkat telunjukknya. Wajah Mama yang tadinya sedih berubah menjadi sangat senang. Terlihat dari senyuman manisnya yang merekah indah.


"Itu Juna, Chel? benarkan itu Juna, Sayang! Mama nggak salah lihat?" ucap wanita itu memastikan. Anak laki-laki kebanggannya itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Bertahun-tahun lamanya dia tak melihat gadis itu. Gadis yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Gadis yang unik, sopan, lucu dan sangat humble.


"Em ... Hari, sekali lagi selamat ya. Kami permisi!" ucap Marisa mama Marchel.


"Iya, terimakasih. Pelayanan disini sangat memuaskan. Tak salah aku mengadakan resepsi di hotelmu ini." cetus dokter Hari menjabat tangan sahabat lamanya tersebut.


Merekapun lantas meninggalkan tempat itu menuju gadis yang sangat dirindukan Maria. Gadis itu tampak sedang termenung, laki-laki yang bersamanya sesaat yang lalu meninggalnya sendirian.


"Ayo, Chel. Cepat!" Maria mengangkat bagian atas roknya agar lebih leluasi menapaki lantai untuk segera sampai, takut gadis yang berada diujung ruang itu pergi.


"Sabar, Ma. Pelan-pelan jalannya!" Marchel mengimbangi Maria setengah berlari.


Langkah keduanya terhenti saat seorang wanita yang menutup rambutnya dengan pashmina sudah berdiri disamping Juna. Pandangannya sangat tak ramah.


\=\=\=\=


"Jangan ngambek gitu dong! nanti cantiknya ilang. Maaf deh, maaf. Aku gak bermaksud apa-apa. Aku cuman gak mau kamu ninggalin aku. Ayolah Juna. Mau ya! atau kau memang mau menikah dengan Dadang? bisa-bisa nanti kalian rebutan daster lagi." Adzka menatap Juna yang masih setia dengan wajah jutek dan ketusnya.


Flashback On


"Papa mau kau menerima lamaran, Adzka. Dia sangat menginginkan kau jadi istrinya, Nak. Kurang apa dia, dia itu baik, mapan, ganteng lagi. Mau cari yang seperti apa? apa teman laki-laki yang tadi bersamamu itu lebih hebat dari Adzka? kalau lebih hebat juga papa tak akan merestuimu! dia orang Makassar kan? langkahi dulu mayat papa, kalau kau memilihnya."


"Pokoknya kalau kau tak menerima Adzka, ayah akan menikahkanmu dengan Dadang. Dia juga suka kan sama kau. Mungkin kau lebih bahagia menikah dengan Desainer itu!" ucap Rudi penuh dengan ketegasan.

__ADS_1


Flashback Off


"Is, tuukan Adzka!" seperti biasa Juna menghentakkan kakinya kelantai. Membayangkan dia rebutan daster dengan Dadang saja membuatnya bergidik juga tersenyum geli.


"Nah, gitu dong. Senyum gitu kan manis! biar tambah manis aku ambilin Ice cream ya!" ucap Adzka secepat kilat meninggalkan Juna yang kembali ke mode cemberutnya.


Entah apa yang gadis itu lamunkan. Pikirannya beberapa hari ini sangat kacau. Tanpa sadar seorang wanita dengan tatapan penuh intimidasi berada tepat disebelahnya.


Wanita paruhbaya itu menarik kursi yang terbalut rapi dengan kain dan pita melingkarinya.


"Ternyata kau apoteker yang selama ini menggoda anak ku. Apa yang kau lakukan sehingga dia seperti pengemis cinta. Aku sudah memperhatikan kalian dari kejauhan. Anakku itu seorang dokter, ganteng dan mapan. Kalau kau tidak menyukainya ya sudah katakan saja. Lagipula aku juga bisa mencarikannya pasangan yang 'selevel' dengan kami. Pun kau juga sudah dijodohkan oleh orangtuamu bukan?" emosi wanita itu masih bisa dia tahan, ucapannya tersebut bervolume sangat rendah, walau begitu gadis yang menatap tak percaya kepadanya itu pun merasa amat tertusuk oleh tajamnya kata-kata dari Fatmala tadi.


"Ibu, maaf. Ini ada apa? anak ibu siapa? aku tak pernah menggoda siapapun." Juna tampak sangat terkejut, perempuan yang beberapa menit yang lalu itu masih bersikap ramah kepadanya, tapi sekarang ... dia seperti punya kepribadian ganda.


"Ma! apa-apaan sih!" Adzka datang, dua cup ice cream masih dipegangnya.


"Oh, jadi karena perempuan ini kau tak melirik Dewi sedikitpun! apa kurangnya dia, kalian sama-sama dokter satu profesi, pasti nyambung! kenapa malah kau memilih gadis ini. Apa yang kau lihat darinya." hardik Fatmala


"Mama, profesi yang sama tak menjamin kita bisa nyaman. Juna lah yang Adzka mau, Ma. Hanya Juna."


"Dia sudah dijodohkan, Adzka. Tak boleh mengganggu tunangan orang lain! masih banyak gadis diluar sana yang bersedia jadi pendampingmu. Anak teman-teman mama juga banyak yang masih jomblo. Ayo kita pulang! mama tak suka melihatmu seperti ini. Kalau dia tidak mau ya sudah, tinggalkan saja." Fatmala memang memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan, Fatmala berfikir anaknya seolah-oleh sangat bucin kepada Juna.


"Tapi, Ma!" sergah Adzka


"Tak ada tapi-tapian! dan kau, berhenti bermimpi! terima saja perjodohanmu itu. Jangan mengharapkan anakku!" Juna menundukkan pandangannya, jemarinya meremas ujung baju kebayanya. Airmatanya tak berhenti menetes.


"Ya Allah, kenapa rasanya sakit sekali. Ibu ini tadinya sangat baik, lembut dia sangat keibuan. Kenapa jadi seperti ini! aku tidak tau kalau dia adalah ibunya Adzka, dan aku juga sama sekali tak pernah menggoda anaknya sehingga dia menolak perjodohan dengan Dewi." batin Juna menangis.

__ADS_1


"Mama aku harus apa? bunda! hiks ... hiks, Aku juga tak mau menerima perjodohan itu. Orangtua Adzka juga tak menyetujui hubungan yang belum terjalin ini, hiks"


"Dia memang hanya apoteker, tapi dia itu gadis yang baik! Bahkan semua ibu yang mempunyai anak laki-laki pasti menginginkan dia menjadi menantunya. Jangan bangga dengan profesi anda nyonya. Bahkan profesi yang anda banggakan itu bisa dibeli! tapi ketulusan hati gadis ini tak akan bisa dibayar semahal apapun!" ucap Maria yang sedari tadi diam mendengarkan perdebatan mereka.


Juna mengangkat kepalanya, melihat sumber suara wanita yang membelanya. Matanya membola sempurna, dengan seluruh kekuatannya dia berhambur kepelukan Maria.


"Maa ... hiks, hiks" Juna memeluk erat tubuh berisi Maria, dia tenggelamkan kerinduannya dalam tangisnya.


"Tenang sayang, Mama disini!" usapan lembut dipundak Juna membuatnya sedikit tenang.


"Oh, jadi anda orangtuanya! baguslah, tolong ajarkan anakmu ini ngaca." hardik Fatmala


"Untuk apa? untuk bertanya siapa wanita yang paling cantik didunia ini! hahahaha. Aku ini calon mertuanya!" Maria membawa Juna untuk duduk kembali ke kursinya, Marchel membawakan segelas air putih, lalu memberikannya kepada Juna. Kini mereka sudah menjadi pusat perhatian dari semua tamu undangan.


"Ayo, Adzka. Semua memperhatikan kita!" Fatmala kembali mengajak Adzka meninggalkan tempat itu. Dokter obgin itu pun meninggalkan Adzka yang masih menatap iba Juna yang menangis terisak. Dia menghampirinya, walau tatapan tajam Maria dan Marchel yang seolah-olah hendak mematuk karena kesayangan mereka diganggu.


"Jun, maafkan aku. Maafkan Mama. Aku sendiri terkejut kenapa Mamaku seperti itu." Adzka menundukkan badan kekarnya, bersimpuh dihadapan Juna yang terus menunduk.


"Bagaimana kau bisa membuat Papaku seyakin itu, sedangkan Mamamu sendiri ... mamamu, hiks ... hiks, ah sudah lah, Dokter. Lupakan aku!" Juna kembali tersedu, Maria yang melihatnya pun memeluknya.


"Tolong tinggalkan dia, Nak." ucap Maria sopan. Adzka tak tau harus berbuat apa.


"Calon mertua? tak mungkin, bukannya mereka sudah putus!" gumam Adzka mengingat ucapan wanita paruhbaya tadi.


"Jangan pernah kau buat dia menangis lagi. Juna tak pantas diperlakukan seperti ini." Marchel yang dari tadi diam, kini emosinya mulai tersulut melihat Juna yang semakin terisak.


"Aku tak pernah sedikitpun berniat membuat Junaku menangis seperti ini." Adzka sangat putus asa, berjalan gontai keluar dari gedung resepsi itu. Kristal bening jatuh dari sudut matanya. Dia membiarkannya begitu saja. Tak perduli apa kata orang yang melihatnya. Baginya malam ini adalah malam yang sangat buruk dalam hidupnya.

__ADS_1


"Arjuna, maafkan aku dan mama. Maaf!"


__ADS_2