
Sepasang tangan tanpa sarung asik bermain dengan gundukan tanah yang menghitam bagai arang. Beberapa pas yang masih belum berisi seketika tersusun rapi dengan bermacam aglonema didalamnya. Dengan rambut yang dikuncir ala harajuku, membuatnya leluasa untuk melakukan hobbynya tersebut. Kupu-kupu dan kumbang madu berterbangan kesana kemari, seolah riang banyak tanaman baru ditaman yang hampir dupenuhi dengan mawar dan beberapa anggrek.
Dua pasang mata sedang mengawasi dari kejauhan, dengan tangan yang disilangkan kedepan wanita paruhbaya itu tersenyum puas.
"Kenapa enggak dari kemarin-kemarin kasi ide begitu, Chel. Udah tiga hari dia disini, baru ini mama lihat dia kembali seperti Juna yang mama kenal dulu" Maria tak memalingkan pandangannya.
"Ternyata kau masih sangat paham apa yang disukai Juna. Kalau saja waktu itu kau tak menghianatinya, mungkin saat ini mama sudah punya cucu."
"Oh, mama mau punya cucu? ya sudah nanti Marchel ajak Juna bikin." Marchel beranjak dari duduknya.
"Ck, semua dibecandain! dasar!" Maria berdecak sebal. Marchel hanya cengengesan.
\=\=\=\=\=
"Bagaimana keadaannya, Dokter? apa itu berbahaya untuk kesehatannya dalam jangka waktu lama?" ucap Lia dalam telepon.
"Untuk saat ini, itu adalah langkah yang tepat, Tante. Apa Juna sudah mengetahuinya, Tan?" suara dari seberang sana.
"Belum, bahkan tante belum menemuinya saat tante sudah kembali kesini. Haha, dia mungkin merasa nyaman bersama ibunya Marchel." kata itu keluar sangat lancar, tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya.
"Iya, Tante. Ibu Marchel dan juga Marchelnya." senyum yang terukir melukis luka yang dalam, ikhlas adalah obat yang paling ampuh untuk mengobati luka yang serasa disiram air garam tersebut.
"Tolong berikan yang terbaik, Nak. Tante percaya padamu." putus Lia setelah merutuki kebodohannya yang begitu lancarnya berbicara seperti tadi.
Panggilan itu berakhir, Adzka menyimpan ponselnya dan meletakkannya kembali diatas meja kerjanya. Direbahkannya tubuh atletisnya kepada kursi yang tampak empuk sama dengan kenyataannya bukan hanya tampak saja. Pelipisnya ia pijit perlahan.
"Kalau jodoh gak kemana pak dokter!" Seru Tomy yang tau akan masalah yang tengah dipikirkan atasannya tersebut.
"Tau ah, pusing gue. Kalau aja nih perasaan bisa dikeluarin seperti operasi, dah gue bedah ni." oceh Adzka memakai jasnya kembali yang tersampir dikursi.
"Udah gak ada pasien lagi kan, Tom?"
"Habis, Dok!"
"Oke, aku keruangan pak Rudi dulu" menemui lelaki paruhbaya itu mungkin akan membuatnya sedikit tenang, karena merasa senasib sepenanggungan menanggung rindu yang teramat berat, sepertinya kata Dilan waktu itu benar, hehe.
Adzka menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar VVIP, tempat Rudi dirawat. Wajah Cindy tampak begitu penat, senyaman-nyamannya tinggal di kamar VVIP rumah sakit, pasti lebih nyaman tinggal dirumah sendiri.
"Bunda mau pulang?" tanya Adzka setelah mengucap salam dan masuk keruangan tersebut.
"Sebenarnya iya, tapi dari tadi om mu tidur. Takut nanti kalau beliau bangun nyari bunda." Cindy menatap wajah suaminya yang tertidur lelap dari setengah jam yang lalu.
"Ya sudah, Bunda pulang saja. Biar Adzka disini. Lagipula saya sudah selesai."
__ADS_1
"Kalau nanti om bangun kan saya bisa jelaskan, Bun. Adzka pesankan taxi ya, Bunda" tambahnya lagi.
"Terimakasih, Nak. Bunda gak tau bilang apa lagi. Coba aja kalau gak ada kamu ...." mata Cindy mulai penuh dengan cairan bening.
"Masih ada Allah, Bunda." Adzka mengelus pundak wanita yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri itu.
Keheningan mengisi ruangan kamar yang berwarna putih gading tersebut, suara jarum jam yang sengaja Cindy letakkan diatas nakas sengaja dibawanya dari rumah, terdengar begitu jelas.
"Uhuk ... uhuk." Rudi mendadak batuk dan terbangun dari tidurnya. Adzka memberikan satu gelas air hangat.
"Minum dulu, Om." ucapnya, Rudi menerima satu gelas air itu dengan senyum datarnya.
"Kemana bundamu?"
"Bunda pulang sebentar, Om. Mengambil baju ganti dan beberapa keperluan yang lain." jawabnya, Rudi hanya Oh saja.
"Kenapa kau disini dokter? apa jadwal pemasangan ringnya dipercepat?"
"Enggak, Om. Adzka mau jenguk om saja. Sudah tidak ada pasien lagi, jadi setengah jam lalu Adzka kesini saja."
"Maaf merepotkanmu." Rudi merasa tak nyaman.
"Om ini. Kayak sama siapa aja. Gak ada yang direpotkan, Om."
"Siapa, dok?"
"Juna" Adzka memberikan ponsel itu, kemudian melangkah menjauh dari brangkar Rudi.
Rudi menatap layar ponselnya, perasaan senang rindu dan rasa bersalah pun bercampur menjadi satu. Tak menunggu lagi dia gulirkan icon berwarna hijau itu kesebelah kanan. Suara gadis kecilnya pun terdengar begitu nyata seolah ia ada bersamanya sekarang.
"Assalamu'alaikum, Papa. Juna rindu" suara itu bergetar seperti menahan tangis
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Apa kabarmu?" Rudi pun merasakan hal yang sama.
"Alhamdulillah, Pa. Papa sehat? papa sedang dikantorkah sekarang? Juna juga rindu bunda, nanti kalau ayah sudah pulang kerja Juna telepon lagi deh." ocehnya, jam segini biasanya memang Rudi masih bekerja.
"I-iya, Papa masih belum pulang kerumah sekarang. Nanti kalau sudah dirumah papa telepon deh." Rudi berbohong. Saat ini putri kesayangannya sedang menenangkan diri, egois sekali rasanya jika ia memberitau kalau saat ini dia sedang tidak baik-baik saja.
"Papa sudah makan? Pa bunga-bunga kakak tolong disiramkan ya, Pa. Kasian bunganya nanti pada layu. Juna disini dulu ya, Pa. Masih kangen sama mama."
"Papa, apa papa tidak rindu kakak? kenapa hanya Juna saja yang dari tadi bicara. Papa hanya menjawab saja, hm."
"Bagaimana papa mau bicara, dari tadi kau bicara terus."
__ADS_1
"Hehehe, namanya juga rindu. hiks ... hiks" Juna pun terisak, aneh memang bukan hanya kali ini dia jauh dari sang Papa, tapi entah kenapa jarak antara Medan-Makassar kali ini seolah menjadi Medan-Papua saja.
"Kenapa kau menagis? kalau rindu ya pulang saja. Repot amat. Jangan nangis ah, Papa tidak suka mendengarnya."
"Iya, Pa. Juna gak nangis kok. Cuman rada ingusan aja."
"Hm ..."
"Papa, bolehkah Juna pergi keluar negri beberapa hari?" Juna sedikit ragu-ragu, walau ini perjalanan kedua baginya tapi dirasanya restu dari Papanya itu perlu saat ini.
"Mau kemana sama siapa?"
"Ke Jepang. Sama Mama Maria." intonasi suara Juna melambat dan perlahan. Ada rasa takut mengucapkannya.
"Sama Marchel juga?" Rudi mengintrogasi
"Ya, mungkin. Juna tidak begitu tau. Bisa iya bisa tidak. Kata mama besok mama ada perlu kesana jadi Juna diajak deh. Boleh ya, Pa."
"Hm"
"Papa" kali ini dengan rengekan, mungkin kalau bertemu Juna pasti sudah bergelayut manja dilengan Rudi.
"Papa percayakan semua kepadamu. Kalau kau bahagia pergilah. Tadinya papa ingin Mamamu ikut menemani, tapi mana mungkin pengacara yang sangat sibuk itu punya waktu, yakan!" Rudi menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Kalau papa gak ngizinin gak apa-apa kok, Pa. Juna bilang ke mama Maria sekarang." Juna hendak bangkit dari duduknya menyusul Maria yang sudah masuk kembalu kedalam rumah beberapa menit yang lalu.
"Jangan! pergilah, Nak. Kau sudah dewasa eh ... kau sudah tua. Papa percaya kau bisa menjaga dirimu."
"Issh ... siapa yang tua? Juna masih belia gini. Ya udah deh, makasi papa. Papa sehat-sehat disana ya. Juna belum bisa pulang dulu dalam waktu dekat. Gak ada ongkos, nanti Juna akan cari kerja lagi hihi. Bye papa." Juna menutup panggilan telepon itu dengan tawa khasnya.
Percakapan itu memberikan boster tersendiri untuk Rudi. Semangatnya seakan kembali, ibarat batrai saat ini isinya sudah full.
Semarah dan sebenci apapun, ikatan batin antara orangtua dan anak tidak akan bisa sirna. Keterikatan yang terjalin jauh sebelum anak hadir didunia seolah-olah karomah dari yang kuasa. Memaafkan adalah hal terbaik yang dimiliki orangtua tanpa limit, sedangkan kata "maaf" harus dimiliki anak juga tanpa limit.
.
.
.
.
Happy reading ya, maaf keun kalau update karyanya gak tiap hari, bosternya author masih dicari ni hehe, batrainya sudah soak pula. Haduuh, coba deh kalian komen like dan vote kali aja langsung full nih batrai ane 😂 modus.
__ADS_1
Oh ya, yuk follow sosial medianya author receh ini. Kali aja kita jadi saling akrab kan, manatau juga ada yang mau lihat wajah manusia gemuk dan manis ini beserta krucil2nya heheh yuk. Namanya sama dengan nama pena author ngge, tak enteni. 😁