Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
54


__ADS_3

Terik matahari siang itu sangat menyengat, membuat kulit putih mulus itu seperti terbakar. Gadis itu menutup sebagian kepalanya dengan tangan kanannya, memfokuskan diri menatap jalan yang dilaluinya karena kesilauan.


"Haah!" ucap gadis itu menganjur nafas. Seketika mendudukkan tubuhnya di kursi yang terasa sangat empuk itu, bungkusan makanan yang di belinya masih di pegang erat.


"Panasnya, Ya Allah." gerutunya sambil mengibas-ngibaskan baju bagian lehernya.


"Kenapa sih? Ac nya nyala juga. Aku saja hampir beku nih." ucap seorang laki-laki di depan laptop.


"Ya iya lah, dari tadi kamu disini aja. Coba keluar sana! langsung meleleh itu kebekuanmu, Udin."


"Haha, maaf ya Sayang. Sudah merepotkan mu. Kerjaan ku sangat banyak, besok juga aku harus ke Jakarta." ungkap laki-laki itu pula.


"Pergi lagi?" Juna menautkan kedua alisnya


"Maklumi ya, Mama kan masih disana. Jadi semua pekerjaan mama aku yang handle."


"Mau ikut?"


"Enggak!" Perempuan itu berdiri meninggalkan Marchel, mengambil sendok dan garpu agar lelaki itu bisa segera makan.


"Pergi terus kapan cerita seriusnya. Sebenarnya dia itu serius enggak sih mau nikahin aku. Mau tanya langsung gengsi dong. Mama juga gak ada cerita masalah itu waktu aku telfon kemarin." Juna terus menggerutu sambil menyiapkan makanan untuk laki-laki yang selalu di panggilnya Udin itu.


"Pasti jadi gak enak tu makanan ku. Nyiapinnya gak ikhlas." ucap Marchel menatap Juna dengan manja. Suara sendok yang jatuh kelantai membuatnya menghentikan pekerjaannya.


"Aku gak sengaja jatuhinnya. Bukan gak ikhlas. Nih, makan dulu." Juna menyuguhkan makanan yang telah di pindahkannya dari styrofoam. Satu gelas air putih, dan kalian pasti tau apa yang diambil Juna dari tas kecilnya kan?


"Terimakasih." ucap laki-laki yang selalu menggunakan jaket hoodie itu.


"Hm"


Mereka berdua makan bersama, sesekali mereka terdengar bercanda, membahas dengan susah payahnya gadis itu membeli sajian yang terhidang di meja tersebut.


"Perjuangan banget tau gak, aku rela melawan terik matahari demi semangkuk nasi soto yang kau makan itu. Kayak orang ngidam aja, pake harus beli di tempat itu lagi, kan jauh." ucap Juna mencebik.


"Itu kan tempat makan langganan ku. Kau harus terbiasa!"


"Maksudnya? terbiasa bepergian dipanas terik demi membeli soto gitu? hm ... lebih baik aku membuatnya sendiri. Masakan ku jauh lebih enak dari ini. Sedap tanpa penyedap lagi."


"Sejak kapan kau bisa masak?" tanya laki-laki tak percaya.


"Ya, sejak saat itu. Pasti kau tidak percaya kan?"


"Aku harus belajar masak biar jadi istri yang baik, Dodol. Memangnya mau ku kasi minum air putih doang kalau sudah jadi istrimu nanti." gumam Juna dalam hatinya.

__ADS_1


"Kalau aku percaya padamu, aku musyrik!" Marchel mengacak-acak rambut Juna.


"Sini piringnya, biar aku yang taruh." Marchel mengambil piring kotor Juna, mereka sudah selesai makan.


"Gak usah, biar aku saja. Kau mau kemana?" Juna menatap Marchel yang berjalan hendak keluar ruangan itu.


"Shalat lah! gak dengar itu udah Adzan. Kau juga. Jangan shalat di akhir waktu terus." ucapnya menutup pintu.


\=\=\=\=\=


Sudah beberapa hari ini Fatmala merasakan kesepian. Kepergian Indah yang sudah disayanginya seperti anak sendiri membuatnya sedih. Ditambah lagi Adzka yang tetap bersikap dingin kepadanya.


Malam itu, Adzka tampak memasuki rumahnya. Setelah mengucap salam laki-laki itu langsung menuju kamarnya. Setengah perjalanan menaiki anak tangga, Fatmala memanggilnya.


"Dari mana, Ka. Sudah makan? makan bareng yok. Mama udah selesai masak nih." sapa perempuan paruh baya itu.


Adzka pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamarnya. Segera menuruni anak tangga. Dia pun menarik kursi makan dan segera mendudukkan diri. Piring sendok dan keperluan makan lainnya sudah tersedia di meja itu.


Dengan semangat Adzka menyendok nasi beserta lauknya yang masih mengepulkan asap. Sepertinya memang benar-benar baru di masak. Laki-laki berkacamata itu makan dengan sangat lahap.


"Alhamdulillah." ucapnya setelah ritual wajib seluruh manusia itu selesai.


"Adzka ke kamar ya, Ma. Terimakasih makanannya." Fatmala yang tadinya ingin membuka pembicaraan pun mengurungkan niatnya. Tadinya mau sambil ngobrol, tapi melihat Adzka sangat lahap dia hanya bisa menatap anak bungsunya itu dengan senyum.


"Kenapa tak ku ajak bicara saja tadi!" Fikirnya


"Mau bicara apa, Ma? kalau masalah jodoh, Maaf Adzka gak berminat." ucap Adzka kembali dingin dan datar.


"Mama mau bicara tentang, Indah." ucap perempuan itu.


"Maaf, Ma. Adzka tidak berminat." ucapnya sekali lagi.


"Kalau Mama suka sama Indah, ya terserah mama saja. Mama tinggal adopsi dia. Jadikan dia putri mama. Tapi kalau Mama memaksa Adzka menikahinya, maaf Ma. Lebih baik Adzka pergi dari rumah ini." kata-kata itu penuh dengan penekanan.


Laki-laki itu terus berjalan, sedikitpun dia tak menoleh kebelakang. Meski di rasa tak sopan tapi rasanya itu adalah yang terbaik menurutnya. Dia juga berhak menentukan pilihannya, apalagi dia seorang laki-laki.


"Adzka!" panggil Fatmala berniat menghentikan langkah anaknya tersebut, namun Adzka seolah tak mendengarnya.


"Adzka dengar kan mama dulu." suaranya melemah. Fatmala memegang dada kirinya, ada rasa perih dan sakit yang menusuk disana. Wajahnya memerah dia merasakan panas ditubuhnya dan kepalanya juga terasa sakit.


Bruk!


Tubuh yang sedikit berisi itu ambruk. Tangannya yang kuat mencengkram kursi makan membuatnya tertimpa kursi minimalis itu. Adzka yang mendengar suara benda jatuh dari bawah sana pun segera keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Mama!" Laki-laki itu berlari menuruni tangga, menemui Mamanya yang sudah tergeletak di lantai.


Adzka mengangkat sang Mama, membaringkannya di atas karpet dengan bantal menopang kepalanya. Dengan sigap dia memeriksa keadaan orang yang melahirkannya.


Fatmala tak sadarkan diri tubuh yang sudah setengah abad itu mendengkur.


"Mama, bangun!" Adzka menepuk-nepuk pelan pipi mamanya.


Disaat yang sama, pintu rumah mereka terbuka. Dua orang yang baru saja masuk kedalam rumah itu tampak panik.


"Mama kenapa, Ka?" tanya gadis berjilbab.


"Mama pingsan. Tensi mama tinggi." ucap Adzka yang baru saja memeriksa tekanan darah Fatmala.


"Kita bawa kerumah sakit saja." ucap Zuan diangguki oleh adik dan juga istrinya.


Rumah sakit


Satu jam sudah Fatmala terbaring di brangkar, selang infus tertancap di lengannya yang sudah menampakkan keriput.


Hanya suara dengkuran yang terdengar dari dirinya, sudut matanya basah. Seperti orang yang sedang menangis.


Dewi yang berhati lembut tak kuasa menahan air matanya, melihat sosok yang sangat ia hormati terbaring lemah tak sadarkan diri.


"Apa yang mama rasakan? apa begitu sakit, Ma. Sehingga mama menangis dalam ketidak sadaran mama. Ma, buka mata mama. Dewi mau kasi kabar gembira, Ma" Dewi terus mengusap-usap punggung tangan Fatmala. Zuan menepuk pundak istrinya, mengelus punggungnya. Dia sama sedihnya dengan gadis itu, namun ia berusaha kuat.


Pandangan Adzka menerawang, hatinya terus mengutuk dirinya.


"Kalau saja aku tak berkata kasar, mungkin mama akan baik-baik saja." batin Adzka.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Zuan bersikeras membujuk istrinya untuk pulang kerumah. Namun wanita itu kekeh ingin menjaga ibu mertuanya.


"Sayang, kau tidak akan nyaman tidur disini." ucap polisi tampan itu.


"Bang, Adek mau jaga Mama. Adek akan pulang setelah mama sadar!" ucap Dewi tegas


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading Gaes. Jangan lupa like, koment dan vote seikhlasnya ya. Kritik dan sarannya juga dinanti loh. 🥰😍


__ADS_2