
Andai jalan bisa di lipat agar pendek, dengan satu ajian gunung bisa rata dengan tanah aku akan melakukannya untuk membuat jarak antara kita menjadi hanya satu meter saja. Agar aku bisa melihatmu, mengetahui apa yang sedang kau inginkan. Meski kau tak mengetahuinya. Aku sangat merindukanmu.
Adzka "Terjebak Cinta Brondong"
___________
Dokter muda itu terpaku dalam tatapan yang menengadah, memandangi gugusan bintang yang bertebaran menghias awan hitam. Cahaya bulan pun tak luput mengimbangi, seakan pesonanya tak ingin disaingi.
Tubuh yang atletis itu masih mengucurkan keringatnya, olahraga malam menjadi rutinitas Adzka hampir setiap malam. Tak adanya waktu untuk berolahraga membuatnya harus mencuri waktu pada malam hari setelah dia selesai bekerja dan tak ada jadwal operasi tentunya.
Hubungannya dengan orang yang telah melahirkannya mulai membaik, namun tak akan membuatnya seperti dulu. Tiga bulan terakhir ini, Adzka selalu menyibukkan dirinya di rumah sakit, dan juga mengunjungi Rudi hanya sekedar untuk bermain catur bersama menghilangkan beban pikiran sekaligus memeriksa kesehatan Rudi pasca tindakan pemasangan alat bantu untuk jantungnya.
Adzka pulang ke rumah hanya untuk tidur, sedangkan kalau weekend dia pergi ke alun-alun kota untuk sekedar lari pagi, dan pulang setelah Dzuhur. Tidur siang menjadi rutinitas barunya.
Dokter Fatmala merasa Adzka sengaja menghindarinya. Dia tau, Adzka masih saja memikirkan gadis yang pernah ia antar pulang kerumahnya dan sedikit mendengarkan curhatannya pula pada malam itu.
"Ka, besok pagi sebelum berangkat kerja tolong antar-kan mama dulu, Ya. Mobil mama di bengkel." bukan untuk beralasan Fatmala meminta Adzka mengantarnya esok, mobilnya memang benar sedang di bengkel.
"Iya, Ma." Adzka menjawab dengan sopan. Wajahnya menoleh menatap mamanya yang duduk di kursi disampingnya yang masih terbaring dilantai balkon.
"Ka, besok mampir dulu ya. Mama mau kenalin kamu dengan sepupunya Nia." Nia adalah asisten dokter Fatmala yang baru beberapa bulan ini bekerja dengannya.
"Mau ngapain, Ma?"
"Ya gak ngapa-ngapain. Namanya Indah, orangnya cantik. Sopan, pinter."
"Selevel gak dengan mama?" ketus Adzka yang mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Dia pemilik jasa ekspedisi itu loh."
__ADS_1
"Oh, pengusaha toh." Adzka masih saja ketus. Baginya tidak ada wanita yang cantik, sopan, pintar selain Juna. Cintanya yang sudah mendarah daging itu seperti cinta buta saja, dia bahkan hampir gila merasakan rindu yang menjadi-jadi jika saja tidak ada iman di dadanya.
\=\=\=\=\=\=
"Mama tuh suka sekali melihat foto kalian yang ini!" Maria senyum-senyum sendiri melihatnya
"Berasa seperti dunia milik berdua ya, Chel. Juna sepertinya sangat bahagia ya. Senyumnya itu lepas banget." sebutnya lagi, lawan bicaranya hanya sedikit melengkungkan bibirnya keatas.
"Kalau sudah dekat Marchel, siapapun orangnya pasti senyumnya selepas itu ma, pak Raden sekalipun." sombong Marchel. Maria hanya berdecak, kemudian menggelengkan kepalanya. Anak bungsunya ini memang selalu begitu pikirnya.
"Juna mana ya kok belum nyampek juga." Maria melihat jam dindingnya menunjukkan keangka 10. Jum'at pagi adalah jadwal Maria membagikan nasi kotak kebeberapa panti asuhan dan para peminta-minta di pinggir jalan. Juna selalu membantunya dalam tiga bulan terakhir ini.
Saat ini Juna sudah kembali tinggal bersama Lia, ia tinggal dengan Maria hanya dua minggu saja. Karena tidak mau jauh-jauh dari Juna lagi, Maria merayu Juna untuk bersedia bekerja di apotik yang ada tak jauh dari rumahnya. Tentu saja itu milik Marchel. Gaji yang diterima Juna jauh diatas UMR.
Suara motor yang memasuki garasi memusatkan perhatian Maria dan Marchel yang berada di balkon lantai dua. Garasi itu tepat dibawahnya.
"Ya ada apa, Sayang." Marchel memperlihatkan wajahnya yang dirasa imut.
"Bukan kau Hasanuddin. Aku cari Mama." lenguh Juna
"Eh butet, jangan cari mamaknya saja lah. Anaknya ganteng gini dianggurin." ucap Marchel dengan songongnya.
Pangeran Hasanuddin itu yang ada dibenak Juna saat Marchel memanggilnya dengan sebutan untuk wanita yang identik dengan tempat kelahirannya tersebut.
Tak lama Mariapun berdiri dan menatap Juna dari atas sana.
"Ada apa,Sayang? Naik sini, sudah sarapan belum?" panggilnya.
__ADS_1
"Kalau dia sih Ma jam segini tuh udah dua kali makan kali. Yakan, Tet!" Marchel mengolok
"Wah sekate-kate loe, Din. Aku beberapa hari ini diet ya." Juna tak terima
"Beberapa hari? alah, paling juga niat dietnya gitu berangkat dari rumah tadi. Kan ... kan, yakan."
"Kalian ini ribuut terus, ntar mama nikahin loh." Maria menengahi.
"Tidaaak!" terit Juna dari bawah.
"Siapa juga yang mau sama loe. Ih" Marchel melempar Juna dengan kerikil kecil yang menghias bunga diatas balkon itu, Juna menutup kepalanya dengan kedua tangannya berlari masuk kedalam rumah.
\=\=\=\=\=
Persiapan Pernikahan telah hampir seratus persen selesai, tinggal eksekusi satu minggu lagi. Perasaan senang, sedih bercampur jadi satu.
Senang karena cintanya sebentar lagi akan menjadi halal, sedih karena tanggung jawab Papanya diambil oleh Zuan. Dia sudah menjadi istri, dan harus ikut dengan suaminya.
Klinik kesehatan gigi pagi itu tampak tak terlalu ramai seperti biasa, mungkin karena ini hari Jum'at. Biasanya prakteknya selalu ramai di hari Senin.
Dewi menyandarkan tubuhnya di kursinya. Tiba-tiba dia teringat dengan salah satu orang yang berjasa dalam kesuksesan hubungannya dengan Zuan. Diambilnya gawainya dalam tas mungilnya. Mencari kontak yang bertuliskan nama itu dan langsung menelponnya.
"Assalamu'alaikum. Apa kabar? beneran nih gak bisa datang. Juna gak asik deh. Datang dong, gak lengkap rasanya kalau gak ada loe." ucapnya berderet saat panggilan teleponnya diangkat.
"Busyet, kayak kereta api, Neng. Panjang amat ngomelnya. Wa'alaikumsalam." ucap Juna dari seberang sana
"Habisnya Juna gitu sih. Aku pesanin tiketnya ya. Ya, ya ... ya. Kakaaak!" Suara Dewi begitu manja merayu temannya itu untuk hadir diacara bahagianya.
"Maaf, Dew. Aku gak bisa. Maaf banget, Kau kan tau sendiri aku disini karena apa? kalau aku disana nanti aku takut acaramu jadi berantakan. Aku tidak mau hari bahagia kalian berubah karena Ibu melihatku." ungkap Juna, bukan hanya sekedar alasan saja. Seseorang yang dipanggilnya Ibu itu dirasa sangat membencinya. Tak mungkinkan sosok itu tak hadir dalam acara penting tersebut, lagipula mempelai prianya adalah anaknya sendiri.
__ADS_1
"Aku gak nyangka tante seperti itu loh, Jun." Dewi menggeleng tak percaya.
"Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Masak iya Ibu merelakan anaknya untuk seorang buruh sepertiku ini" ucap Juna dengan ekspresi datar. Senyuman tersungging dibibirnya. Tak ada dendam dalam hatinya sedikitpun. Selama ini ia terus mencoba mengikhlaskan segalanya.