
Prosesi akad nikah telah selesai di laksanakan. Laki-laki berdarah jawa melayu itu kini telah sah beristrikan perempuan cantik bernama Indah. Kini tiba saat resepsi, semua mata kini tertuju kepada mereka. Bak pasangan yang tidak ingin keturunannya menurun, mereka adalah pasangan cantik dan juga tampan.
Keduanya berjalan bergandengan menuju pelaminan, kedua orang tua Pramono, orang tua Nia dan juga si cantik Nia berada di belakang mereka.
Nia tampak cantik dengan hijab yang tetap melekat menutup rambutnya. Kebahagiaan mencintai tak harus memiliki telah ia terapkan. Senyuman ikhlasnya membuat sepasang mata begitu terpesona, menatap gadis yang tak pernah melepas hijabnya itu menunduk malu.
Dua anak manusia yang mendekati kedua pengantin menebar senyumannya. Laki-laki berginsul itu memeluk mempelai pria.
"Selamat, Bro. Akhirnya. Aku menepati janjiku kan! lihat ... aku juga membawa gadis ku. Lebih cantik dari perempuan di sebelahmu itu kan?" godanya, membuat Indah yang mendengarnya tersenyum.
"Cantik itu relatif, Bro. Tapi kenapa aku merasakan wanita yang kau bawa ini tak sesuai gambar? apa kau tertipu saat membelinya?" Pramono berbisik.
"Kau pikir aku belanja online! yang aku tunjukkan kepadamu waktu itu bukan yang ini." laki-laki itu juga ikut berbisik.
"Loh, udah ganti! dasar sok ganteng." wajah yang tadi ceria sedikit berubah mendung, "Ceritanya panjang, Bro. So jaga bae bae orang pu jodoh." ucap nya lirih.
"Wahaha, di tinggal pas sayang-sanyange iki ceritone." Pramono menepuk bahu teman yang di pernah satu pesawat dengannya dulu.
"Kapan-kapan aku cerita deh. Aku lapar! selamat sekali lagi buat mu." Pram menerima kembali tangan laki-laki yang ter ulur itu, dan memeluknya.
Bukan Marchel namanya kalau tidak bisa cepat akrab dengan siapapun. Pribadinya yang supel dan ceria, membuat orang yang baru mengenalnya beberapa jam saja, jadi tak sungkan lagi untuk ikut mengakrabkan diri.
Tubuh atletisnya kali ini tak di balut dengan jaket hoodie melainkan tuxedo, pakaian wajibnya ia ungsikan sementara demi terlihat sempurna di hadapan semua orang. Dia tak lagi sendiri kali ini. Seorang gadis manis bertubuh mungil mendampinginya.
\=\=\=\=
"Kau sedang apa?" hati Juna bergetar melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Ya, Juna masih menyimpan nomor telepon dokter itu.
"Lagi duduk-duduk aja! kenapa?" Siang itu, Juna memang sedang duduk di teras, memandangi koleksi bunganya yang tersengat matahari.
"Tanya aja, kan pengen tau Arjuna ku sedang apa!" suara dari seberang sana membuat degup jantung gadis itu kian terpacu.
"Gini amat sih rasanya ...." Juna menggigit jemarinya.
__ADS_1
"Aku jeput ya, kita makan siang bareng."
"Waduh! aku sudah makan, Dok. Lima belas menit yang lalu" bukannya mengelak, Juna memang baru saja selesai makan. Walau jam masih menunjukkan pukul 11.45, karena gadis itu hanya di rumah saja berkutat dengan dapur dan pekerjaan rumah lainnya, membuatnya cepat menyantap makanan yang baru saja ia masak.
"Makan apa?"
"Sambal goreng udang tempe, sop jamur di campur sayuran." Ucap gadis itu detil, "Ih, apaan sih kepo!" Juna membatin.
"Apa kau membohongiku?" suara itu mulai meninggi
"Maksudnya?" Juna juga tak kalah meninggikan suaranya
"Apa kau sedang makan di luar bersama orang lain? bukannya itu menu makanan luar?" laki-laki berkacamata itu terus menyelidik.
"Ya Allah, apaan sih. Aku juga bisa memasak makanan itu! bahkan jauh lebih enak dari masakan restoran sekalipun!" ingin rasanya gadis itu mematikan teleponnya, memblokir nomor itu sekalian.
"Yang benar? kalau begitu tunggu aku! aku akan kesana. 15 menit lagi aku sampai." senyum Adzka mengembang.
"Dasar! modus!" Juna mematikan panggilan itu, menghentakkan kakinya, masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikum salam!" Juna dengan tatapan tajam membukakan pintu.
"Bunda mana?"
"Bunda ke tetangga. Mau ketemu bunda! ya udah biar aku panggilin." Juna hendak melangkah keluar, memanggil bunda yang sedang bantu-bantu di rumah tetangga. Kebetulan tetangga seberang rumahnya sedang arisan. Di komplek perumahan tempat Juna tinggal masih sangat saling perduli satu sama lain. Bila ada acara masing-masing tak sungkan membantu.
"Temani aku makan saja dulu! aku lapar." Adzka menarik tangan Juna, gadis itu hanya mengikut. Wajahnya terpaku, ada keinginan untuk menepis tangan yang erat memegang jemarinya saat ini. Tapi, ada rasa lain yang membuatnya ingin tetap seperti itu.
Juna menyiapkan nasi putih hangat yang baru ia ambil dari rice cooker, satu mangkuk sop jamur dengan aneka sayur, dan satu piring udang sambal.
"Ih, pedas sekali ini! apa kau memakannya?" mata Adzka membulat sempurna, dia yang begitu gemar cabai saja kepedasan apa lagi calon istrinya itu.
"Apa di kulkas masih ada udang yang masih mentah?" laki-laki itu terus bertanya, padahal pertanyaan sebelumnya masih belum di jawab.
__ADS_1
"Sudah habis. Tadi hanya beli setengah kilo saja."
"Kalau begitu nanti kita beli lagi. Aku akan menghabiskan ini. Kau siap-siap lah. Setelah ini, kita jalan. Kau bisa mengulangi memasaknya dengan rasa yang tak terlalu pedas." Adzka menuang seluruh udang yang ada di piring.
"Modus banget loe! parah!" Juna bergumam dalam hatinya. Masih tetap pada posisinya, tak ingin bergerak sedikitpun.
"Tunggu apa lagi? mau pergi gitu aja? aku sih gak masalah." Adzka melihat Juna yang masih menggunakan kaos oblong dengan celana jeans selutut.
"Males!" gadis it mencebik
"Gak boleh loh, males-malesan. Assalamu'alaikum." ucap wanita paruh baya menghampiri mereka.
"Bunda!" sapa Adzka yang masih lahap menyantap makanannya.
"Enakkan masakannya, Ka?" ucap Cindy
"Banget, Bun."
"Iya, tapi gak di habisin juga kali. Aku males masak lagi" Juna menghentakkan kakinya, rasanya ingin menangis saja.
"Kakak gak boleh gitu ah!" Cindy menatap anaknya dengan senyuman.
"Ya sudah bunda tinggal dulu ya, bunda belum shalat. Oh ya, Kak. Nanti kalau jadi pergi, bunda titip beliin minyak goreng ya." ucap wanita itu, suara Adzan baru saja selesai di kumandangkan.
"Iya, Bun. Beres!" Adzka langsung menjawab, membuat Juna semakin senewen.
Walau harus menggunakan berbagai jurus, aku akan melakukannya demi untuk selalu melihat dan bersama dengan mu.
Adzka*
"Shalat lah dulu, aku ke masjid sebentar habis itu kita jalan ya." Adzka mencuci tangannya di wastafel, membiarkan piring kotornya tetap ada di meja.
"Ya udah!" Juna masih mencebik sambil membereskan meja makan.
__ADS_1
"Laki-laki itu suka semaunya ya! bagaimana kalau nanti sudah menikah, apa sifat serba perintahnya ini akan lebih parah! oh ... tidaaak!"
"Pokoknya kalau sudah jadi istriku nanti kau akan bahagia, Insya Allah." Adzka datang kembali mengambil kunci mobilnya yang ia letakkan di meja makan membuat Juna mematung mendengar ucapan manis sang dokter.