Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
55


__ADS_3

Suasana sepi, di keheningan malam laki-laki berlesung pipi itu masih duduk menengadahkan tangan, meminta kesembuhan untuk orangtua satu-satunya yang terbaring lemah dan masih belum sadarkan diri. Sementara gadis berhijab tampak tertidur menggenggam tangan wanita paruh baya itu. Sedangkan satu laki-laki tampan lagi, duduk di kursi, meluruskan kakinya. Dia juga tampak lelah, namun kantuk seperti tak bisa menyerangnya.


"Apa mama kena serangan jantung, Ka. Seperti Papa dulu?" ucap laki-laki itu membenarkan posisinya, setelah Adzka menghampirinya.


"Kemarin mama ada ngeluh sebenarnya, akhir-akhir ini dada mama sering nyeri, tengkuknya berat juga. Mama sendiri sadar kalau terlalu sering ngopi dan ngeteh. Gak ngurangi garam juga. Kalian tau sendiri kan, mama kelihatan happy banget ada Indah dirumah. Sampai gak nolak makan-makanan yang Indah masak. Walau mama tau kalau beliau harus menjaga pola makannya." gadis berjilbab itu menghampiri keduanya setelah terbangun, badannya sedikit pegal karena tidur dalam keadaan duduk.


"Sebenarnya aku sudah khawatir sih. Tapi kalian tau sendiri kan mama gimana. Kejadian kan ...." Dewi merasa bersalah, seandainya dia bisa membantu Fatmala mencegah kemungkinan yang terjadi hari ini.


"Kita berdoa saja, semoga Mama cepat sadar. Dan kemungkinan buruk gak terjadi." ucap Adzka, mereka bertiga kini diam dalam doa tulus dari hati masing-masing.


\=\=\=\=


Seorang anak kecil berkepang dua duduk di pangkuan wanita paruh baya yang tampak santai memberi makan ikan-ikan di kolam belakang rumahnya. Gadis kecil itu ikut memberikan pakan ikan yang berwarna putih dan orange itu.


"Oma, adek bobok disini ya sama oma. Nanti kalau papa sama mama jemput jangan izinin adek pulang." ucap gadis kecil itu. Kira-kira usianya 6 tahun.


"Iya beres, enakan bobok sama Oma kan dari pada tidur sama Papa Mama. Sempit!" ucap wanita yang dipanggil Oma itu semakin menghasut.


"Oma kan tidurnya sendiri, jadi nanti kita cuman berdua ... bisa sambil guling-guling adek." ucapnya sambil tertawa.


"Iya, Oma. Kalau sama Mama harus hati-hati kata papa. Kasian adek bayi dalam perut mama nanti ketendang." ucap gadis berambut hitam tersebut. Wanita paruh baya itu pun tersenyum, memeluk cucunya yang sangat menggemaskan itu.


Suara mobil berhenti disusul suara pintu yang ditutup.


"Assalamu'alaikum." ucap laki-laki berlesung pipi, mencium tangan wanita paruh baya tersebut. Disusul perempuan yang memakai kerudung di belakangnya.


"Apa kau menyusahkan Oma, Nak?" ucap perempuan itu menurunkan gadis kecilnya yang berpangku.


"Enggak kok, Sayang. Adek pintar kok." ucap sang mertua.


"Mama sudah makan obat, Ma?" wanita itu menggeleng, gadis berhijab tersebut mengambil obat yang berada di dalam laci tak jauh dari mereka duduk.


"Mama boleh merasa sehat, tapi mama kan tetap harus makam obat. Nanti kalau mama sudah benar-benar sembuh baru gak apa-apa lupain obatnya." ucap wanita cantik itu, memberikan satu gelas air putih dan beberapa butir pil.


"Terimakasih, Sayang. Mama jadi bingung yang dokter siapa." ucap wanita paruh baya itu tersenyum. Menantunya hanya menyeringai.


"Maaf, Ma. Kalau aku cerewet." ucapnya.


"Mama yang minta maaf. Mama bersalah kepadamu." ucap perempuan tua itu mengecup pucuk kepala menantunya. Air mata mengalir dari ujung matanya, rasa bersalah selalu menghantuinya.


\=\=\=\=


Air mata itu terus berjatuhan, semakin deras. Gadis berjilbab yang menjaga wanita paruh baya yang masih belum sadarkan diri itu melihatnya.


"Adzka! Bang! Mama menangis." ucap Dewi pagi itu, kedua lelaki yang baru pulang dari shalat subuh berjamaah pun mendekat.

__ADS_1


Dewi menyeka air mata itu, melapnya dengan tissu.


"Mama, bangun." ucapnya namun tak ada sahutan.


"Shalat lah dulu, gantian aku yang jaga." ucap Adzka


Mengambil mushab kecil yang dibawanya dari musholla rumah sakit itu, dia membacanya lirih. Sunyinya suasana membuat suara Adzka melantunkan ayat demi ayat kitab suci ummat Islam tersebut terdengar.


Tangan yang ditusuk jarum infus itu bergerak. Fatmala batuk. Membuat Adzka menghentikan bacaannya.


"Mama sudah sadar." ucapnya, namun dokter senior itu masih diam, hanya matanya saja yang terbuka.


"Ya Allah, kenapa aku tidak bisa berbicara. Menggerakkan tangan dan kaki ku saja begitu berat." Fatmala terus berkata-kata dalam hatinya. Ingin rasanya ia bicara, namun suaranya tak dapat keluar.


"Panggil dokter." ucap Zuan. Adzka memencet tombol. Tak berapa lama dokter pun datang.


\=\=\=\=


Sudah satu minggu berlalu, gadis berjilbab itu sedang menyuapi ibu mertuanya. Perempuan paruh baya itu masih kesulitan melakukan segala aktifitasnya sendiri. Jangankan untuk makan sendiri, berjalan dan berbicarapun dia masih kesusahan. Semua serba di bantu. Anak dan menantunya selalu berjaga bergantian.


"Sedikit lagi, Ma. " Dewi menyendok bubur itu lagi, namun Fatmala merapatkan mulutnya.


"Cepat sembuh, Ma." Dewi memeluk tubuh yang sudah mulai kurus itu.


Dewi mendorong kursi roda Fatmala mengelilingi taman belakang rumah dokter spesialis kandungan itu. Setiap pagi Dewi selalu mengajak mama mertuanya berkeliling, menghirup udara segar. Zuan merasa tak salah pilih, laki-laki itu terus memandangi dua orang terkasihnya.


\=\=\=\=


Laki-laki berjaket hoodie duduk memasang sabuk pengamannya, perasaannya tak sabar untuk segera sampai ke tanah kelahirannya.


Sebuah kotak biru beludru dia simpan di dalam slingbagnya dia keluarkan. Membukanya, kemudian menutupnya kembali dengan senyuman merekah menampakkan giginya yang rapi.


"Mau melamar, Bang" sapa laki-laki di sebelahnya. Laki-laki itu tampak sangat rapi, dengan kemeja lengan panjang dan celana bahan serta sepatu pantofel yang mengkilap.


"Iya. Kelihatan ya." ucap laki-laki itu yang sedikit merasa malu.


"Pastilah, kotak cincin itu tidak kecil. Selamat ya, semoga lancar sampai hari H."


"Terimakasih. Apa rasanya memang sebahagia ini kalau mau melamar ya?" kali ini si pemilik kotak biru yang mengajak bicara, laki-laki disebelahnya mengurungkan niatnya untuk tidur, kebiasaannya setelah pesawat lepas landas.


"Tentu saja. Itu artinya kan selangkah lagi kita akan menikah dengan pujaan hati kita. Aku juga dulu begitu waktu melamar pacarku. Rasanya gak bisa di ungkapkan."


"Lalu kalau sudah menikah?" tanyanya lagi.


"Kalau sudah menikah? mana aku tau. Aku kan belum menikah. Ya semoga saja lebih bahagia lagi."

__ADS_1


"Haha, ternyata kau masih belum menikah. Jangan bilang sekarang kau jomblo ya." laki-laki itu meninju lengan lawan bicaranya, baru beberapa menit mengenal mereka tampak akrab, keduanya memang pandai membawa diri.


"Enak saja, aku sudah bertunangan. Insya Allah tahun ini aku akan menikah." laki-laki itu menunjukkan cincin di jari manisnya.


"Lihat! pasti dia lebih cantik dari calonmu kan?" lelaki tadi menunjukkan foto yang mengisi layar beranda handphonenya.


Deg


"Aku Marchel. Kau?"


"Aku Pramono."


"Tunanganmu cantik ya. Apa dia ada di Makassar?" tanya Marchel.


"Tidak, dia di Jakarta. Aku ke Makassar karena ada keperluan kerja saja."


"Oh, orang Jakarta asli kah? wajahnya seperti orang batak-batak sumatera utara gitu ya."


"Ah, bisa saja. Dia asli Jakarta. Mungkin karena terlalu lama menetap di Medan mungkin ya, hahaha." Pram tertawa.


"Haha ... bisa jadi bisa jadi." Marchel ikut tertawa.


\=\=\=\=


Juna masih sibuk dengan pekerjaannya. Hari ini mungkin apotek rujukan dokter ditempat lain tutup. Banyaknya orang menebus obat membuatnya belum sempat makan siang padahal jam sudah menunjukkan pukul 2 siang.


Sebenarnya perutnya sudah berdemo minta di isi, namun tiga resep obat yang ada di mejanya akan ia selesaikan terlebih dahulu.


Pukul 2 lebih 45 menit, semuanya selesai. Juna bergegas melaksanakan sholat Zuhur di sambung makan siang. Benda pintar miliknya pun di aktifkan. Beberapa notif pesan masuk , Juna langsung membukanya.


Aku pulang hari ini. Ni udah di dalam pesawat. Jangan titip apa-apa ya. Titip rindu aja.


Pesan itu di kirim dua jam yang lalu dengan emoticon hati berwarna biru. Senyum Juna mengembang, capeknya sedikit berkurang.


"Dasar pelit. Udah di pesawat baru kirim pesan. Takut di titipin oleh-oleh tu." gerutunya, kemudian membaca pesan yang lain.


Jangan jeput aku, aku bisa pulang sendiri.


"Hahaha, pede banget sih. Siapa juga yang mau jemput!" Juna berbicara sendiri.


Masih merasa kenyang gadis itu duduk menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, membuka sosial medianya.


Matanya membola melihat insta story mantan bodyguardnya.


"Ibu ...." ucapnya lirih.

__ADS_1


Di gulirnya kontak di layar ponselnya kemudian menelepon nomor yang di carinya. Beberapa saat panggilan itu tersambung.


"Hallo, Dewi!"


__ADS_2