Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
60


__ADS_3

Masih Flashback


Lia meyentuh icon telepon yang ada di sebelah kanan atas dari pesan singkat yang baru ia baca.


"Kebetulan sekali Juna baru saja pergi, katanya belanja keperluan bulanannya. Ada apa, Nak?" tanya perempuan itu.


Lawan bicaranya seperti memberikan penjelasan. Disusul dengan anggukan dari Lia.


"Baiklah, hati-hati dijalan" percakapan itu di akhiri.


Marchel bergegas mengambil jaket kulitnya dan mengambil kontak motornya. Lebih cepat naik motor pikirnya, dan akhirnya dia berhasil dengan selamat dan cepat di rumah kediaman orang tua Juna.


"Kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu, ya ... Om tidak bisa menghalanginya. Pokoknya yang terbaik untuk kalian." suami Lia memeluk Marchel.


Juna yang sudah masuk kedalam rumah tersebut menatap mereka penuh tanya. Hampir 15 menit dia berada disana, namun kehadirannya tak dirasakan oleh mereka bertiga.


"Ada apa ini? kok Mama nangis." Juna semakin mendekat, netranya pun menangkap laki-laki yang selalu membuatnya tertawa itu juga sedang menahan tangis. Cairan bening sudah menumpuk di pelupuk matanya.


"Marchel, apa yang kau lakukan? kenapa kau buat mama menangis? dan ... kenapa kau juga ...." ucapan itu tak selesai saat Marchel menarik lengan Juna menuju teras rumah sederhana tersebut. Kedua orang tua Juna membiarkannya.


"Ada apa? sakit, Chel. Lepaskan!" Juna tak nyaman, cengkraman Marchel begitu kuat, laki-laki itu seperti menahan emosi.


"Maaf!" ucapnya setelah sampai di teras.


"Ada apa?" suara Juna semakin lirih, dia tak tega melihat orang yang sedih apalagi menangis.


"Duduk lah, aku ingin bicara serius." Juna pun menurut, dengan isi kepala yang masih penuh tanya, gadi itu menatap dalam-dalam pemilik apotik tempatnya bekerja.


"Ini Janji ku, tadi pagi." Marchel memberikan kotak biru beludru, Juna hampir mengambilnya tapi dia urungkan karena Marchel menarik kotak itu kembali. Kemudian Marchel membukanya, satu buah cincin bermata ungu terpajang di dalamnya. Di ambilnya cincin tersebut.


Marchel memasangkan cincin tersebut ke jari tengah Juna.


"Kok jari tengah, Chel?" gadis itu mencebik.


"Gak ada romantis-romantisnya, Ih!" sambungnya lagi.

__ADS_1


"Ini tanda persahabatan kita. Mahal ini loh. Jari manis mu itu khusus untuk cincin pernikahanmu nanti." ucap Marchel dengan penuh senyum. Juna menautkan kedua alisnya.


"A-pa mak-sudnya?" Juna benar-benar tidak mengerti, kenapa Marchel berkata seperti itu, bukannya Marchel yang akan menikahinya kan?


"Mana sini hapenya?" Marchel menjulurkan tangannya.


"Iya sini!" Marchel mengambil handphone tersebut, membuka kuncinya dengan menghadapkan layar tersebut di depan wajah gadis nya.


"Lihat ini." Marchel membuka aplikasi yang mencatat riwayat penelusuran.


"Tanggalnya tertera, dan ini ...." Marchel membuka album, terlihat satu tangkapan layar.


"Kalkulator?" Juna mengingat angka yang tertera pada foto screenshot.


"Itu kan!" batin Juna


"Kau jangan mengorbankan dirimu hanya untuk kebahagiaan keluarga mu, kebahagiaan ku dan Mama ku. Jun, aku sudah berjanji sejak saat itu, saat dimana aku memberikan luka kepadamu. Aku memang salah, aku tak menghargai perasaanmu. Dan sekarang aku sudah menebusnya. Bahagialah. Aku tidak apa-apa, mungkin jodohku nanti adalah gadis cantik, bukan gadis yang seperti mu." Marchel berusaha tersenyum.


"Kau masih belum bisa melupakan dokter sialan itu! pergilah, jenguk mamanya. Kalau perlu kau jadi perawatnya saja, kebetulan mereka membutuhkan seseorang yang mau menjaga dan merawat orang tua itu." Marchel terus berbicara


"Gak ada tapi-tapian. Indah bukan gadis yang baik. Dia sudah bertunangan dan tahun ini akan menikah." Juna mendengarnya tak percaya.


"Dari mana kau tau? jangan asal bicara."


"Aku kemarin bahkan bertemu dengan calon suaminya. Sudah jangan banyak tanya lagi, kemasi barang-barang mu. Dan ini hadiah yang ku janjikan tadi pagi." Marchel menunjukkan satu tiket pesawat dalam hapenya.


"Penerbangan pertama, jangan begadang cepatlah tidur!" ucap laki-laki itu lagi.


"Chel ...." Juna kini terisak. Perasaan bersalah bersarang di relung hatinya.


"Aku mencintaimu dulu, dan aku menyayangimu sekarang dan sampai kapan pun. Aku juga sudah membicarakan hal ini kepada orang tuamu. Kalau yang waktu itu dalam islam namanya khitbah, hari ini aku batalkan semuanya. Kau sudah bebas saat ini, kau bukan wanita dalam pinangan orang lain sekarang." beberapa cairan bening jatuh.


"Peluk boleh, Yang? cium?" Marchel menyeringai, Juna menghentakkan kakinya, menangis dalam tawa.


Flashback End

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Siang ini matahari masih bersembunyi di balik awan. Petir sesekali terdengar, Juna telah berada di dalam taksi saat ini. Ia menatap lekat-lekat kota terbesar ke dua di Indonesia itu dengan perasaan lega, lega ... entah apa yang membuatnya begitu tenang saat ini.


Pa, Juna sudah di Medan. Ini sudah otw ke rumah ibu nya Adzka. Mohon doanya ya, Pa. Semoga ibu cepat sembuh, kalau papa ada waktu samperin Juna disana ya, Pa. Sekalian nebenh pulang. Hehe


Pesan singkat itu di kirimkannya. Tadi malam setelah Marchel pulang kerumah, Juna menceritakan semuanya kepada Papanya. Rudi bisa menerima keputusan dari calon mantunya yang gagal itu.


Aku sudah di Medan, kau bagaimana? Apa penerbanganmu menyenangkan? salam sama mama ya. Terimakasih, Abang.


Juna memgirimkan pesan itu kepada laki-laki luar biasa yang rela mengorbankan perasaannya hanya untuk menebus kesalahan yang sengaja ia buat di masa lalu.


Malam itu juga, sepulangnya dari rumah Juna, Marchel pun terbang ke negri matahati terbit. Menjauh lebih baik untuk saat ini pikirnya. Dan saatnya untuk move on.


\=\=\=\=\=


Suasana sore itu begitu sepi. Bibi yang membantu membersihkan rumah tampak sedang memasak malan malam di dapur. Dewi bersama mertuanya sedang ada di taman belakang. Sedangkan para lelaki masih belum pulang bekerja.


Seorang gadis mengendap-ngendap keluar dari kamar tamu. Berjalan seperti kucing yang ingin menerkam seekor cicak.


"Mau kemana, Non?" bibi yang melihatnya pun bertanya, kenapa gadis yang beberapa hari ini datang dan tinggal kembali dirumah majikannya itu pun mengangkat kopernya.


"Ssstt!" telunjuk Indah berada di depan bibirnya yang merah.


"Gak usah kepo!" ucapnya lagi. Gadis itu memang selalu ketus kepada asisten rumah tangga itu. Indah juga menjunjung tinggi masalah status yang tak bisa sembarangan membaur.


Gadis itu berhasil keluar dari rumah besar tersebut. Taksi yang ia pesan telah menunggu di depan. Setengah berlari Indah menggendong kopernya yang mini.


"Untung aja aku cuman bawa kamu!" dia memukul koper mininya.


Disaat bersamaan mobil putih memasuki halaman, Adzka yang menangkap gelagat aneh dari gadis kesayangan ibu nya itu pun langsung turun dari mobilnya.


Tapi Indah sudah masuk kedalam taksinya. Dan mobil berplat kuning itu pun sudah meninggalkan rumah tersebut dengan kecepatan tinggi.


"Maa! Dewi!" Adzka berlari masuk, segera menemui Dewi yang sedang mendorong Fatmala.

__ADS_1


__ADS_2