
"Selamat pagi! sudah mandi? pasti belum?" Juna membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Gadis itu masih memegang handuknya, hendak menggantung kain putih itu, baru saja rambutnya kering dan langsung mencepolnya.
"Sudah dong." balasnya singkat.
"Hm ... gak percaya. Kata bunda kalau hari minggu begini kau akan bangkong dan mandi kalau sudah jam shalat Dzuhur, iya kan?" balasan itu seperti nyata Adzka yang berbicara, tampang yang tampan namun menyebalkan terbayang di ingatan.
"Jangan percaya sama bunda! percayanya sama Allah." gadis itu seperti ingin menghancurkan handphone nya. Jarinya bukan hanya menyentuh huruf-huruf di layar, namun menekannya dengan sekuat tenaga.
"Ih, apaan sih! aku sudah mandi, sudah wangi, sudah cantik tau!" Juna menyalakan kameranya, meletakkan benda pipih itu di meja riasnya.
Cekrek!
Tangkapan layar itu begitu sempurna, tanpa mengeditnya Juna langsung mengirimkan fotonya.
"Sudah cantik kan!" tulisnya menyertai
Bergaya semanis mungkin, tanpa polesan make up sedikitpun. Juna ingin agar calon suaminya itu tak terkejut melihatnya tanpa riasan sedikitpun.
"Apa sayapmu putus?" bukan pesan yang di terima gadis itu, melainkan langsung suara dari luar kamarnya.
"Astaga! kau ini benar-benar ya." Juna malu, melihat laki-laki berkaca mata itu kini di depan pintu kamarnya.
"Sepagi ini? mau ngapain? mana hapenya siniin, hapus aja fotonya." Juna berkacak pinggang sejenak, tangannya lalu memburu benda pipih milik Adzka.
"Eh, apaan sih, rampok! rampok!" Adzka teriak
"Hapus aja fotonya. Malu iiih!" kedua anak manusia itu sedang berebut handphone.
"Kalian ini! Bunda gak percaya deh kalau kalian bakalan jadi suami istri." Cindy menghentikan langkahnya di anak tangga.
"Ayo sarapan bareng. Ka, tolong panggilkan Papa ya. Kalau gak di stop gak berhenti tuh!" Cindy berjalan menuruni tangga, Adzka pun mengikuti. Rudi sedang di luar, bicara dengan tetangga.
"Ayo sarapan! mau ngapain masuk kamar lagi?" Adzka menatap Juna yang hendak masuk kembali ke kamarnya.
"Udah, ayo!" Dokter itu menarik lengan gadis manis itu. Juna tak bisa mengelak lagi, tadinya ia ingin sekedar membubuhkan bedak ke wajahnya.
__ADS_1
\=\=\=\=
Suara dentingan sendok yang bertabrakan dengan piring sesekali terdengar, ke akraban kian terjalin antara calon menantu dan mertua. Sang adik ipar juga sedang berada di rumah. Juni yang tengah libur sekolah saat ini menghabiskan masa liburnya di rumah.
Meski hanya beberapa kali bertemu, gadis belia itu sudah menyukai Adzka, ia merasa kakaknya menemukan laki-laki yang tepat.
"Sudah seperti apa persiapan pernikahannya, Ka?" Rudi mulai bicara, santap pagi nya telah usai, menyisakan tulang ikan beserta beberapa butir nasi.
"Hampir rampung, Pa. Undangannya juga sudah jadi. Nanti rencananya mau ambil. Sekalian sama baju pengantinnya juga."
"Papa! Papa! Om kali. Berasa udah jadi mantu aja." ucap Juna menyuap nasi. Bola matanya berputar.
"Satu bulan lagi aja. Latihan! biar gak canggung." Adzka menyeringai. Cindy dan Rudi hanya tersenyum.
"Ijab Qabulnya, Kak?" Juni ikut bicara.
"Oh, kalau ijab qabul gak perlu latihan, Dek. Kakak sudah sering." Laki-laki itu melirik kekasihnya
"Maksudnya udah sering?!"
"Cepat pergi, Ka. Kalau tidak dagingmu akan cobel!" ucap Rudi, membuat Juna mencebik
"Papa ...." ucap Juna manja
Gaun pengantin memang sudah mereka pesan dua bulan yang lalu. Juna memilih warna yang tak biasa dipakai untuk pengantin yang akad. Warna hijau tua menjadi pilihan gadis itu. Hijau itu warna surga katanya. Juna mau pernikahannya kekal sampai surga.
Undangan, mereka tak banyak mencetaknya. Pernikahan itu hanya berlangsung sederhana, di rumah mempelai wanita saja. Juna hanya mengundang teman-temannya, sedangkan Rudi hanya mengundang keluarga dekat dan tetangga saja. Juna ingin acara sakral itu berlangsung khidmat, hanya keluarga inti yang hadir, karena setelah acara itu di gelar, Keluarga Adzka akan mengadakan resepsi ngunduh mantu satu minggu setelahnya.
Sudah terbayangkan berapa banyak tamu yang hadir, karena itu Juna tidak mau capek dua kali.
"Undangan ini nanti aku bagikan pas acara reuni sekolah sajalah." ucap gadis itu, mereka sudah di dalam mobil
"Kapan?"
"Sebentar lagi. Aku sudah tak sabar." Juna menghela nafas, tersungging senyum di bibirnya,
"Gak sabar mau jadi istriku?"
__ADS_1
"Ih! pede! gak sabar mau ketemu teman-teman, Dokter. Sudah berapa tahun aku tak melihat mereka. Sudah seperti apa wajah mereka ya, Mamat pasti sudah gendut. Erwin juga pasti udah kelihatan seperti om-om." gadis itu tertawa sendiri, tak perduli melihat Adzka yang sudah berubah moodnya
"Aku ikut!" kata-kata itu keluar nyata, dengan penekanan diatas rata-rata.
"Apa? kau mau ikut aku reunian?" Juna membenarkan duduknya. "Ya Tuhan, aku menyesal menyebut Mamat dan Erwin di depan manusia pencemburu ini!"
"Ya, pokoknya aku ikut! siapa itu Mamat, Erwin? kenapa teman yang kau sebutkan itu laki-laki semua." Mata itu seperti elang yang hendak menerkam mangsanya.
"Jangan macam-macam!" Laki-laki itu mendekatkan wajahnya, membuat Juna menelan saliva nya
"Siapa yang macam-macam. Kau yang terlalu cemburu. Kedua teman yang ku sebut itu sudah punya istri. Untuk apa aku macam-macam! istri mereka juga temanku."
"Oh"
"Kalau begitu gak usah ikut ya."
"Ikut!" Adzka kembali menjalankan mobilnya yang sengaja ia berhentikan di tepian jalan.
Aku memang menginginkan cinta yang seperti ini. Di cintai dengan sepenuh hati dengan manusia setampan ini. Tapi, ternyata rasanya lumayan membuat risih. Tak sebebas waktu bersama Marchel, tapi belakangan aku faham. Yang benar mencintaiku ya orang ini. Dia tak rela aku dekat dengan siapapun, aku mulai yakin inilah cinta sebenarnya.
Semoga Allah menuntunku, menjadikan ku wanita yang mendekati sempurna di mata nya kelak.
Menjadi istri tulen tak bekerja hanya menjadi ibu rumah tangga? biarlah. Mungkin itu memang sudah takdir ku. Meski harus mengubur mimpi, tak apa!
Gadis langsing itu terus bicara dalam hatinya, melirik laki-laki yang sedang fokus menyetir, mungkin!
"Kenapa senyum-senyum? tuh kan! ada apa-apa ini sama siapa tadi namanya? Mamat!" Adzka kembali menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba, membuat deru klakson riuh di belakang mobil mereka.
"Adek!! kau mau buat aku mati." Juna mengelus jidatnya yang menabrak dashboard
"Apa kau bilang? Adek lagi, adek!" Adzka menarik tubuh kurus wanita di sebelahnya,
"Aku buat sekarang ya!"
"Ampun ampun ampun!! Sayang ayo jalan. Nanti ada yang ngetuk kaca mobil kita pake balok ini." Juna mencoba melepas pelukan Adzka, tapi naas jidat lebar itu kali ini menabrak porsnelling mobil yang lumayan keras.
"Aduh!"
__ADS_1