
Air muka sang dokter tampan berubah seketika, setelah selesai makan mereka masih berbincang di teras. Adzka yang merasa di abaikan merampas telepon genggam Juna.
"Lihat apa sih, aku disini di cuekin!" laki-laki itu sungguh menyebalkan, Juna menggerutu
Benda pipih itu menampilkan layar permainan warna-warni era 90'an. Adzka tertegun, menganjur nafas pelan.
"Dari tadi nunduk terus main ini?" tatapan itu seakan membunuh. Entah mulai kapan Adzka berperangai semenyebalkan ini, seolah tak ingin berbagi calon istrinya dengan siapapun.
"Aku gak suka di abaikan! jadi sedari tadi aku bicara kau tidak mendengarkan ku?" wajah itu mulai memerah
"Aku mendengarnya!" suara Juna tak kalah tinggi
"Hah! apa yang kau dengar? bagaimana bisa kau mencermati ucapanku sedangkan konsentrasimu ke layar ini!" Adzka menunjukkan benda pipih yang kini tak lagi menyala.
"Aku bisa mendengarnya, kau dari tadi bicara tentang pernikahan kita kan? dan kau bertanya siapa yang tadi menelpon ku!"
"Lalu kenapa kau hanya menjawabnya dengan 'hm' saja."
"Ck! seharusnya handphone ku ini kau saja yang pegang, bawa pulang sekalian! kalau mau tau kabarku tanya saja sama Papa, bunda. Semakin kesini semakin aku merasa gak punya privasi!" sandaran kursi teras menjadi saksi betapa emosi gadis itu ketika ia menghempaskan punggungnya.
"Aku jadi takut, mungkin saja setelah menikah kau mengunci pintu rumah dan jendela begitu kau berangkat kerja. Aku tak boleh bertemu siapapun dan tak boleh pergi kemanapun! kenapa tak sekalian saja kau buatkan aku sangkar!" kali ini Juna bicara tanpa melihat ke arah calon suaminya.
"Aku sengaja tak mengatakan padamu siapa yang menelpon ku. Aku tak mau kau marah karena aku masih berhubungan dengan keluarga Marchel." batin Juna, ada ke khawatiran jika ia mengatakan yang sebenarnya. Lagi pula dia merasa sifat Adzka semakin keterlaluan.
"Apa yang kau katakan, Jun. Aku begini karena aku takut kehilanganmu ... lagi! aku gak mau kau berhubungan dengan orang lain, apalagi orang yang ada di masa lalu mu." Adzka terbayang wajah Maria yang memeluk gadis itu tempo waktu.
"Aku tau kau dekat dengan Mamanya Marchel! tapi aku takut kau menanyakan kabarnya, kau jadi mengingat kembali laki-laki itu, bagaimanapun dia pernah bersamamu bahkan hampir memilikimu." batin Adzka meronta, setelah melihat nama yang tertera di register.
__ADS_1
"Masih belum terlambat. Kau cari saja wanita yang bersedia kau perlakukan seperti tahanan kota. Bukan aku orangnya!" Juna bergegas masuk kedalam rumahnya, menutup pintunya dengan keras, terdengar suara mengunci dari dalam.
"Aaargh! kenapa jadi seperti ini!" Adzka mengusap kasar wajahnya
"Ya, aku memang salah. Aku memang memperlakukanmu seperti tahanan kota seperti yang kau ucapkan. Aku takut kau pergi dari ku lagi, Jun. Aku gak mau di tinggalkan lagi. Ku mohon mengertilah, tak ada wanita lain di hatiku ... hanya ada kau. Aku akan tenang setelah kita sudah sah menjadi suami istri, aku janji! aku tak akan memperlakukanmu seperti burung dalam sangkar, aku akan memberikanmu kebebasan seperti apa yang kau inginkan. Aku percaya kau tau batasan-batasan bagi seseorang yang sudah bersuami." Setetes air mengalir di sudut pipi, hidung pun mulai memerah, wanita di balik pintu menangkap dengan jelas ucapan dari dokter spesialis itu.
"Jun, aku pulang ya. Assalamu'alaikum!" Adzka mengetuk pintu sejenak sebelum berjalan meninggalkan rumah itu, berharap Juna masih mendengarnya.
\=\=\=\=\=
Mobil putih terparkir di halaman sebuah rumah, aroma cat kian menusuk hidung, ruangan demi ruangan yang masih terasa sangat luas itu kian rampung semuanya, bahkan taman yang sepertinya sengaja di buat di depan rumah pun sudah mulai di tanami bunga aneka warna.
Hanya tinggal satu bangunan yang menjorok ke depan, bisa di bilang terpisah dari rumah berlantai dua itu. Beberapa orang yang tangannya tampak kotor berlapiskan adonan semen menyapa laki-laki berkemeja yang datang menghampiri.
"Jangan takut, Pak. Insya Allah akan siap tepat waktu." ucap salah seorang diantaranya, wajah yang tampak lelah itu berkata di iringi senyuman yang menampakkan susunan giginya yang sudah tak lengkap.
Merasa puas dengan hasilnya, mobil putih itu telah meninggalkan rumah tersebut. Ada kelegaan dalam relung hati, namun kejadian siang tadi membuat pandangannya tampak sendu.
Kumandang adzan Ashar membuatnya menghentikan kembali mobil yang baru saja melaju, pilihan yang tepat. Memiliki hunian dengan masjid besar yang hanya berjarak 200 meter saja.
\=\=\=\=
Pagi menjelang, matahari mulai meninggi. Manusia mulai di sibukkan dengan aktifitas sehari-hari. Setelah selesai menjemur pakaian, kini giliran tanaman yang membutuhkan perawatan rutin. Dapur biarkan Bunda yang urus! pikirnya.
Sedikit menyenandung dengan suaranya yang pas-pasan, gadis itu menggemburkan tanah dalam vas yang mulai tampak menyusut.
"Lagi berantem sama Mas dokter, Kak?"
__ADS_1
"Kenapa bunda tanya begitu?" Juna masik asik dengan tanah-tanahnya
"Hm ... kalau lagi adem ayem, kau pasti masih sibuk di dapur jam segini."
"Adzka tadi telpon nanya calon istrinya sedang apa! apa namanya kalau tidak sedang bertengkar." Cindy kini mendudukkan tubuh mungilnya
"Kakak ... bunda rasa wajar Adzka seperti itu, perjalanan cinta kalian unik, butuh waktu untuk bisa melangkah ke jenjang ini. Di tambah lagi, kau itu satu-satunya wanita yang mengisi hatinya, awalnya bunda gak percaya loh ... tapi melihat dari sikap Adzka terhadapmu, cerita dari Zuan juga. Hm ... susah buat percaya sih, manusia setampan dan berprestasi seperti itu dengan suka rela mencintai anak bunda yang tak seberapa ini."
"Haha, bunda. Anakmu ini cantik dan menawan loh." gadis itu kini menghampiri ibu sambungnya, Juna bersimpuh meletakkan kepalanya sembari memeluk kaki Cindy
"Hargai setiap kasih sayang yang di berikan seseorang kepadamu, cara menyampaikan rasa sayang itu beda-beda, Nak. Tak semua sesuai keinginan kita. Mencintai berlebihan itu juga tak boleh." tangan lembut Cindy membelai lembut kepala sang anak.
"Makasih, Bunda." mata coklat itu menatap sosok wanita yang dulu datang di saat yang tepat, saat hidupnya sedang membutuhkan sosok ibu pengganti.
"Untuk apa?"
"Semuanya!" Juna memeluk wanita paruh baya itu.
"Ih, kakak bau ah. Mandi gih!"
"Hehehe, berkeringat itu kan baik, Bun. Maklumlah baru berkebun." Juna menyeringai
"Iya, ini Juna mau mandi habis itu mau ke supermarket, bunda mau titip sesuatu?" tatapan Cindy membuat Juna mengurungkan niatnya untuk mandi beberapa menit sebelun shalat Dzuhur nanti.
"Mau ngapain?"
"Belanja bulanan, Bun. Roti bantal Juna sudah habis."
__ADS_1
"Oh, ya sudah sana. Tapi, Heey!! kasi tau Adzka dulu." Cindy berteriak memanggil, Juna sudah hilang dari balik pintu.