
"Terimakasih ya, sudah mau jadi teman anak saya. Mama justru berharap kalian lebih dari teman. Semenjak kenal dengan mu, anak saya banyak perubahannya. Jadi rajin kuliah. Mau bicara sama saya." wajah sedih tak bisa disembunyikan oleh wanita paruh baya itu.
"Memangnya dari dulu Marchel begitu, Tan?"
"Panggil mama saja ya, Nak." senyumnya menepuk pundak gadis manis yang duduk disebelahnya.
Kedekatanku dengan mama Marchel memberikan warna tersendiri buatku. Mama yang mempunyai nama yang sama dengan mamaku itu kulihat sangat tulus menyayangiku. Sempitnya dunia ini, ternyata mama Marchel itu juga kenal dengan mamaku.
Aku jadi sering berkunjung kesana kalau sedang tidak ada kelas. Mama banyak bercerita tentang Marchel kecil, sampai apa yang membuat Marchel menjadi badung seperti saat ini. Kuliah mengambil jurusan Farmasi adalah permintaannya sendiri, kakaknya yang berprofesi sebagai seorang dokter dirasa belum lengkap untuk mengobati sakit yang diderita oleh papanya. Kakak hanya bisa memberikan resep saja, biar aku nanti yang membuatkan obat untuk ayah! itu ucapan Marchel.
Tapi semuanya berubah setelah Marchel mengetahui bahwa ternyata papanya mempunyai istri selain mamanya. Rasa sayangnya yang selama ini menjaga dan merawat papanya yang mengidap penyakit langka tersebut berubah menjadi sebuah kebencian yang amat sangat besar. Pendidikan yang sudah tinggal selangkah lagi itupun dibiarkannya begitu saja. Tak ada lagi keinginannya untuk menjadi seorang apoteker. Anak yang sangat penurut dan ceria menjadi seorang anak yang tak terkendali dan sangat dingin. Tapi setelah pertemuan dikantin waktu itu, kami menjadi dekat karena beberapa kali bertemu. Katanya aku ini perempuan yang aneh, bahkan dia mengatakan aku sebenarnya terjebak diwujud perempuan. Haha, mengingat semua itu aku serasa ingin menamparnya! secara tak langsung dia mengataiku laki-laki kan.
Persahabatan kami semakin erat, aku menemukan kembali kenyamanan bersahabat seperti saat aku bersahabat dengan Erwin dan juga Mila. Semakin hari ternyata ada rasa lebih yang tumbuh dihati Marchel si playboy. Aku tak menampik hal itu. Aku pun mengiyakan saat dia mengatakan perasaannya padaku. Aku yang ingin merasakan indahnya cinta, mencoba untuk berani memulainya. Ditambah lagi kasih sayang yang tulus dari mamanya. Setiap libur kuliah mama mengajak kami pergi bersama, aku merasakan sudah punya mertua hehe.
Dua tahun hubungan itu terjalin. Walaupun kami berpacaran dan sudah mendapat restu dari mamanya dan mamaku, aku tak pernah menceritakannya pada Papa. Nanti saja, aku akan mengatakannya nanti saat Marchel sudah bersedia merubah status ini menjadi status yang lebih tinggi lagi. Tapi semuanya kandas saat peristiwa itu. Aku melihat Marchel sedang berduaan dengan seorang perempuan didalam mobilnya yang menepi di pinggir jalan. Waktu itu hujan sangat lebat mengguyur kota. Aku yang kebetulan melintas menghentikan langkahku.
"Ini bukannya mobil Marchel!" kuhentikan motorku tepat dibelakang mobilnya. Jas hujan yang kukenakan serasa tak mampu menahan rembesan air hujan. Aku merasakan baju yang kukenakan mulai basah. Tapi itu semua tak membuat langkahku terhenti untuk melihat keadaan Marchel. Dalam pikiranku, aku menyangka dia dalam keadaan tak baik waktu itu. Bisa saja pingsan atau apapun! karena mesin mobil tetap hidup.
Betapa terkejutnya aku melihat pemandangan yang tak pernah terpikirkan olehku. Kepercayaanku tercoreng. Luka dihatiku seakan tersiram air garam Pedih, sangat pedih. Dia melihatku dengan sangat terkejut. Aku berlari menghampiri motorku, kemudian kupacu dengan kecepatan tinggi. Tangisku bercampur dengan derasnya air hujan. Aku tau, dua tahun bersamanya tanpa sentuhan seperti pasangan yang berpacaran, walau hanya sekedar berciuman mungkin membuatnya jengah.
Ciiit, aku menginjak rem motorku sekuat tenaga. Saat mobil hitam milik Marchel melintang menghalangi jalanku.
"Aku bisa jelaskan semuanya!" ucapnya begitu keluar dari dalam mobil. Perempuan yang kulihat bersamanya tadi sudah tidak ada dalam mobilnya.
"Tak ada lagi yang harus dijelaskan! aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!" sebenarnya dia sudah mendengar dari beberapa temannya, kalau Marchel punya pacar lain selain dirinya. Tapi Juna tak mengindahkan kata-kata dari Ina teman satu pekerjaan dengannya di Perpustakaan waktu itu.
"Maaf!"
__ADS_1
"Tak apa Chel, mungkin ini yang terbaik! mulai saat ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi."
"Jun, Juna ...." Marchel menarik tangan gadis itu.
"Apa kau tau, dua tahun kita berpacaran tak sekalipun kau mengijinkan aku menciummu. Walau hanya mencium keningmu. Aku merasa kau tak benar-benar mencintaiku."
"Kalau kau menginginkan hal seperti itu, kau salah orang. Papaku menyekolahkan ku di sekolah agama 6 tahun. Aku tau batas-batas hubungan dengan lawan jenis. Aku mau memberikan itu saat aku sudah halal menjadi istrimu."
"Alah ... sekolah agama katamu? apa disitu diajarkan berpacaran? apa disekolahmu tak diajarkan tentang aurat yang wajib ditutupi oleh seorang wanita?" ucapannya seperti tamparan buat gadis yang sudah basah kuyup itu.
"Biakan itu menjadi urusanku! yang terpenting urusanku denganmu sudah tak ada. Kita putus!"
\=\=\=\=\=
Tes ... tak terasa kristal bening jatuh dari sudut mata Juna. Menyadarkannya kembali kedunia nyata. Dari jendela pesawat yang terlihat hanya benda yang tak dapat dipegang berwarna putih, tandanya dia masih berada diatas ketinggian beribu-ribu kaki.
"Kalau tidak begini, aku tidak aku tau rasanya patah hati. Biarlah itu menjadi pengalaman dan pelajaran untukku. Marchel hanya masa laluku. Dia hanya sekejap singgah dalam kehidupanku. Untuk apa terus berjuang mempertahankannya hanya karena merasa dimana lagi aku bisa mendapatkan mertua yang sayang padaku seperti mamanya, tapi suamiku nanti tak benar-benar sayang padaku. Lebih baik aku memiliki mertua yang galak tapi suamiku sangat sayang padaku."
"Ah, kan lebih bagus sayang keduanya." Juna memukul sendiri kepalanya.
Dia mengambil headset yang ada dalam tasnya, lalu menggunakannya. National geography menjadi acara yang dapat menghilangkan bosannya dalam perjalanan udara tersebut. Dipalingkannya wajahnya, menatap sekilas ketampanan laki-laki yang sedang tertidur bersedakep dada.
"Hm ... tak berubah! dasar tukang tidur!" ucapnya.
Suara tangisan balita memecah kesunyian dalam pesawat yang ditumpanginya. Mungkin anak yang berumur sekitar tiga tahun itu sudah merasa bosan. Terdengar suara ibunya yang menenangkannya. "Adek, sabar ya Nak. Sebentar lagi kita sampai, jangan menangis!" ucap perempuan yang bersama balita tersebut.
Juna teringat sesuatu. "Adek!"
__ADS_1
"Astaga, aku melupakan nya. Sudah satu minggu lebih ini aku memblokir nomor nya. Dan aku masih belum membuka blokirannya. Haha ... biar saja lah. Bawel banget sih jadi orang. Kepo banget, mau tau aja aku lagi apa. Rasain loe, dasar adek-adek."
\=\=\=\=
Aplikasi yang menunjukkan tentang keberadaan pesawat yang berlalu lalang diudara, tak luput dari pandangan laki-laki tampan berkacamata.
"Kalau tak ada alang melintang setengah jam lagi dia akan sampai." ucapnya. Dimatikannya alat pendingin udara dalam mobilnya, kemudian melangkah meninggalkan mobilnya masuk kedalam bandara.
"Setengah jam bukan waktu yang lama, lebih baik aku menunggu didalam saja. Lagipula aku sedikit mengantuk. Menunggu memang membuat mengantuk!" celetuknya. Bagaimana tidak sudah sejak dua jam yang lalu dia sampai ke bandar udara Kuala Namu tersebut tak sabar untuk bertemu gadis yang selalu membuatnya rindu.
Teleponnya berdering, panggilan dari seseorang yang tertulis dalam ponselnya dengan nama "Papanya". Digulirkannya icon lingkaran kedalam icon bergambar telepon.
"Assalamu'alaikum, Om." sapanya
"Wa'alaikumsalam, sudah sampai dibandara, Ka?"
"Sudah, Om. Sejak dua jam yang lalu." senyumnya mengembang.
"Waduh, sepertinya ada yang sudah rindu berat nih!" suara tawa dari seberang sana.
"Haha ... om seperti tidak pernah muda saja. Mohon restunya, Om!"
"Restu ku menyertaimu, Dokter! titip anak saya."
"Siap, Om. 86!" Salam terucap dari suara diseberang sana menutup pembicaraan mereka.
Adzka kembali membuka aplikasi yang dilihatnya tadi. Tak tampak lagi pesawat dengan nomor penerbangan yang dia amati. Bersamaan dengan itu announcement menandakan yang dinanti telah tiba.
__ADS_1