Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
52


__ADS_3

Waktu semakin bergulir, tak ada jeda untuk menunggu bahkan berhenti sedetikpun. Satu bulan telah berlalu. Luka-luka akibat kecelakaan waktu itu pun telah lenyap dengan tak menyisakan sedikitpun bekas. Gadis itu sudah sembuh total, namun ia masih betah tinggal berlama-lama dirumah besar tersebut.


Cara Fatmala memperlakukannya membuatnya seolah mempunyai orang tua lagi. Ya, Indah sudah tak memiliki orang tua, ayahnya sudah berpulang saat ia merintis usaha ekspedisi bersama dengan Pram tepatnya lima tahun yang lalu. Keluarganya saat ini hanyalah Nia dan keluarganya yang sudah berhijrah dari Jawa ke Sumatra saat Nia masuk bangku kuliah.


Sebenarnya saham Indah sangat sedikit di usaha yang dirintisnya bersama Pramono, tapi kalian mengertikan kenapa nama ekspedisi itu menggunakan namanya kalau bukan karena alasan cinta 😉. Bisa diartikan sendiri seberapa besar rasa yang selalu disimbolkan dengan warna pink itu.


Ting tung


Suara bel berbunyi nyaring, gadis berambut panjang itu berlari dari arah dapur. Bibi yang bantu-bantu membersihkan rumah besar tersebut baru saja pulang. Indah yang sedang memasak makan malam pun harus turun tangan.


Kedua matanya membola melihat siapa yang bertamu. Dengan sigap di tutupnya kembali daun pintu bercat coklat tersebut. Namun laki-laki yang memiliki tinggi hampir 180 itu lebih dulu memasukkan sebelah kakinya yang terbalut sepatu. Tenaga Indah kalah telak, pintu itu dapat dengan mudah dibuka kembali.


"Kenapa takut? apa yang kau lakukan disini. Aku sudah berkali-kali ke rumah Nia tapi tidak menemukan mu. Apa kau kos dirumah ini?" ucap Pram yang sudah mendudukkan dirinya di Sofa.


"Mm ... tidak, eh ... ya. Aku lebih leluasa tinggal di sini. Kondisi keuangan bude sedang bermasalah. Aku tidak enak terus tinggal di sana. Mas kan tau sendiri kalau bude tidak mau aku membayar biaya hidup selama tinggal disini." Indah duduk dihadapan Pramono, meja besar menjadi pemisah antara mereka.


"Aku sangat merindukan mu. Kalau tau kau sangat betah disini, aku akan mempercepat pernikahan kita. Kalau kau ingin tinggal disini ... Mas akan beli rumah disini, Dek. Apapun untuk kebahagiaanmu." Pramono berdiri mendekati Indah, memeluk tubuh langsing itu, saat tubuhnya duduk bersebelahan. Mendaratkan bibirnya di puncak kepala gadis itu.


"Mas, jangan asal cium ah. Kalau ada yang lihat gimana?" Indah menjauhkan dirinya semakin berjarak dengan laki-laki tampan itu.


"Ada apa denganmu? tidak kah kau merindukan mas mu ini hem ...."


"Indah buatkan kopi ya, Mas." Indah meninggalkan Pram yang masih penuh dengan tatapan rindu, menuju dapur tanpa menjawab pertanyaan tersebut.


Satu cangkir kopi dengan beberapa potong cake sudah rapi di atas nampan. Tinggal memberikannya kepada penikmatnya. Belum sempat Indah mengantarnya, tangan laki-laki itu sudah melingkar di tubuh ramping Indah.


"Aku sangat merindukanmu."


"Mas jangan seperti ini. Gak enak kalau tante yang punya rumah pulang." Tangan itu ditepisnya.


"Kenapa dia tak seperti biasanya. Apa ada yang dia sembunyikan?" Pramono membatin.


Hal aneh bahkan sangat aneh dirasakan Pramono. Kebiasaan Indah yang selalu menempel seperti lintah telah berubah, bahkan seolah enggan untuk disentuh.

__ADS_1


Hampir setengah jam mereka berbicara di ruang tamu. Pramono yang hanya punya waktu satu hari berkunjung ke sumatera membuatnya harus permisi meninggalkan Indah yang mengatakan tempat kost nya saat ini tak boleh menerima tamu malam hari.


"Ya sudah, Mas pulang. Besok subuh mas pulang ke Jakarta. Cepat selesaikan urusanmu. Mas sudah tak sabar mengurus pernikahan kita, aku mau kita mengurusnya sama-sama." laki-laki itu membenamkan ciumannya di kening Indah.


"Mas nginap di hotel?"


"Enggak, mas nginap di rumah Nia saja. Ada teman ngobrol, kalau di hotel gak enak sendirian." pungkasnya.


Terbesit kecemburuan dalam hati gadis itu. Serakah? ya, bisa dikatakan begitu. Ditambah lagi ia tau, kalau kakak sepupunya itu pernah jatuh cinta dengan teman sekelasnya itu. Hubungan Indah dengan Pramono dulunya juga sangat harmonis dan mesra orang tua Pram juga sangat sayang kepada gadis itu. Tapi entah apa yang membuat Indah mencoba berpaling darinya.


Pramono melambaikan tangannya, Indah memandangi mobil milik tunangannya itu sampai menghilang dari pandangan.



Secepatnya Indah menutup pintu, membereskan cangkir kopi dan cemilan serta merapikan kembali bantal sofa yang berpindah dari posisi awal. Menghilangkan bekas keberadaan tamu yang singgah kerumah itu.


Tepat pukul 6 sore, mobil putih memasuki halaman. Wanita paruh baya dengan wanita muda berhijab keluar dari sana. Disusul sosok laki-laki gagah yang tak kalah tampan dengan penghuni rumah itu.


"Wa'alaikumsalam, Tante." Indah menyambut Fatmala, Dewi dan juga Zuan.


"Hei, apa kabar?" Dewi beramah tamah.


"Baik." jawab Indah dengan senyum manisnya. Gadis berjilbab itu memang berlaku ramah kepadanya, berbeda dengan suaminya. Zuan bertingkah 11 12 dengan adiknya. Mungkin mereka memiliki prinsip yang sama, anti dengan wanita ramjan alias ramah jantan. Menurut mereka perempuan itu harus bisa menjaga harga diri. Mereka berdua paling anti dengan perempuan yang suka lendetan seperti kucing.


"Adzka sudah pulang?"


"Belum, tan."


"Wah, siapa yang masak nih? enak ni kayaknya." ucap Dewi dari dapur.


"Saya, Mba. Iya, kebetulan hari ini pulang cepat. Jadi bisa masak. Sekali-kali, kasian tante udah capek pulang sore harus masak lagi." jawab Indah bangga.


"Halah, cari muka." umpat Zuan dalam hatinya.

__ADS_1


"Dia ini pinter masak loh, Wi. Masakannya enak lagi." puji Fatmala.


Dewi tak sabar mengambil piring kecil, dan mencoba masakan Indah. Mungkin karena capcay itu dimasak dengan bawang putih geprek, membuat Dewi merasakan bau yang sangat menyengat.


Setengah berlari Dewi memuntahkan makanan yang baru saja masuk kedalam mulutnya di wastafel. Bukan hanya itu saja, makanan yang sudah lama dalam perutnya pun ikut keluar.


Zuan yang melihatpun langsung membantu istrinya. Mengambil air hangat untuknya berkumur. Memijit tengkuknya membantu Dewi menguras semua isi perutnya agar lega.


"Apa kau memberikan racun dalam masakanmu ini?" ketus Zuan. Dewi memegang lengan Zuan untuk menghentikan aksinya.


"Bang, jangan bicara kasar. Dewi masuk angin mungkin. Antar ke kamar ya, Bang." ucap Dewi yang juga merasa pusing. Zuan mengangguk dan mengangkat tubuh mungil dokter gigi tersebut.


"Maafkan suami saya ya, Mba" ucap Dewi saat melewati Indah yang terpaku tak percaya mendengar Zuan menghardiknya.


"Iya, maafkan anak tante. Dia memang begitu kalau belum kenal. Ketus, cuek, bahkan kasar. Tapi kalau sudah akrab, dia itu baik." Fatmala mengelus punggung Indah.


"Iya, gak apa-apa kok,Tante" ucapnya tersenyum.


\=\=\=\=


Suami istri dalam kamar itu saling diam. Perempuan berhijab itu kecewa dengan sikap suaminya. Tapi ia memilih mendiamkan laki-laki itu. Dewi adalah tipe perempuan yang diam ketika marah.


"Apa kepalanya masih sakit? Abang pijitin ya." Zuan memposisikan kepala istrinya berbantalkan tubuhnya. Dengan lembut Zuan memijat pelipisnya sampai seluruh bagian kepala istrinya. Tak lupa mengoleskan minyak kayu putih aroma terapi.


"Perutnya masih gak enak?" lanjutnya


"...." masih tak ada jawaban


"Jangan mendiamkan abang seperti ini. Kalau marah ya omelin saja abang. Abang gak bisa menerka-nerka. Kalau ada yang adek tidak suka ya bilang." ucap Zuan lembut.


"Ayolah, Sayang. Jangan seperti ini. Mana-mana lesung pipinya abang mau lihat. Adek, is ... jangan cemberut gitu dong." Zuan memeluk Dewi yang duduk dengan memanyunkan bibirnya.


"Adek gak suka abang seperti tadi. Adek gak suka abang kasar, apalagi sama perempuan!"

__ADS_1


__ADS_2