Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
45


__ADS_3

Juna Pov


Mungkin ini saatnya membahagiakan mereka. Toh aku juga tidak akan menderita kan. Kalau memang Marchel benar-benar tulus kepadaku, kelak aku akan bisa kembali mencintainya. Ya, kembali mencintainya. Cintaku yang dulu pernah tumbuh dan bersemi kepadanya memang sudah layu dan terkubur ditelan masa. Sudah bertahun-tahun juga perasaan itu sirna. Tapi seperti tanah tanpa tanaman, walau gersang tak terawat jika diberikan benih dan ditanam, tanaman tersebut lambat laun akan tumbuh karena dulunya tanah itu pernah di pupuk dan disiram.


Sudah delapan bulan aku berada disini, kebaikan demi kebaikan yang dilakukan oleh Mama dan juga Marchel semakin menjadi-jadi. Mama benar-benar memanjakan aku seperti anaknya sendiri, bahkan lebih dari anak-anaknya. Sedangkan Marchel, walau kami sering bertengkar, tapi dia tetap selalu bisa membuatku tersenyum. Dia menjadi kakak dan sahabat yang baik untukku.


Satu bulan terakhir ini, aku memutuskan untuk membuka lembaran baru ku bersama Marchel. Setelah meminta izin kepada Papa dan respon positif yang kudapatkan dari kedua orangtua kandungku bersama pasangan mereka masing-masing, aku memutuskan untuk menerima Marchel.


Aku akan menjawab ya, aku bersedia menikah dengan mu nanti sesampainya dia kembali ke Indonesia. Marchel dan Mama Maria sedang pergi ke Jepang. Mengurus bisnis mama dan juga untuk berobat. Itu yang dikatakan Marchel terakhir kami bertemu. Mama sedang dalam kondisi kurang baik, Kista dalam rahimnya harus segera di angkat. Dan Mama memutuskan untuk berobat ke negri matahari terbit tersebut.


Sudah hampir dua minggu ini mereka disana. Aku merasakan ada yang hilang dalam hidupku. Entah karena aku terbiasa bersama dengan Marchel dan juga mama. Atau memang aku sudah merasakan hal yang di inginkan oleh semua keluargaku termasuk laki-laki yang mengaku tampan itu.


\=\=\=\=


Laki-laki gagah namun sudah menampakkan keriput dibeberapa bagian kulit wajahnya tampak mengurut bagian pelipisnya dengan jemari. Seperti memikirkan sesuatu, seolah ada beban berat di hatinya.


"Aku bahagia akhirnya Juna memutuskan ini. Tapi kenapa aku merasa tak enak terhadap Adzka. Aku kasihan kepada anak itu. Kalau aku tutupi hal ini, nanti malah akan membuatnya semakin sakit hati jika mendengarnya dari orang lain. Ah ... biarlah, aku akan memberitahukannya nanti." batin Rudi


Jam menunjukkan pukul 12.20 Adzan Zuhur berkumandang. Beberapa laki-laki berseragam sama dengan yang dipakai oleh Rudi berjalan menuju asal suara merdu tersebut. Sementara Rudi bersiap-siap mengambil sajadah yang ia letakkan dalam lemari kecil di ruangannya.


Dia menghentikan langkahnya, memantapkan niat mengambil benda pipih miliknya yang baru saja di letakkannya ke dalam laci.


"Halo, Assalamu'alaikum, Dok. Bisa kita bertemu makan siang jam 1 siang ini?" ucapnya


"Wa'alaikumsalam, Bisa Om, dengan senang hati." jawab laki-laki dari seberang sana. Rudi pun menentukan tempat mereka bertemu sebelum mengakhiri panggilan tersebut.


\=\=\=\=\=


Siang ini gadis cantik dengan wanita paruh baya nampak senang makan siang bersama. Sangat jelas keakraban antara mereka berdua. Walau makan dalam ruangan kerja, namun ke nikmatan sajian yang khusus dibawakan oleh gadis tersebut memberikan rasa bangga tersendiri bagi Fatmala wanita paruh baya itu.


"Ini kamu yang masak? pinter banget, sih. Benar-benar mantu idaman." ucap Fatmala memuji gadis yang bersamanya.


"Saya memang suka masak, Tante. Sudah biasa hidup sendiri juga kan." ucap Indah tersenyum percaya diri.


Pintu ruangan dokter Fatmala terbuka, Nia asistennya masuk kedalam ruangan itu. Gadis itu tampak terkejut melihat sepupunya berada disana.

__ADS_1


"Eh, Maaf dokter. Dokter sudah makan, ini pesanannya bagaimana?" ucap Nia. Dia baru saja pulang dari membeli sop buntut pesanan Fatmala dari warung langganan yang terdekat dengan klinik. Memang, Nia baru saja selesai shalat Zuhur makanya dia tak bertemu dengan Indah saat gadis itu masuk keruangan dokter.


"Yok, sini makan bareng, Kak" ucap Indah memberikan senyum termanisnya.


"Makasih, di enakin saja. Aku sudah pesan makanan tadi, tinggal nunggu datang aja." ucap Nia, pandangannya sangat tidak ramah kepada Indah, hanya saja ia bisa menyembunyikannya dari dokter Fatmala.


"Ya sudah, kalau begitu. Sup pesanan saya berikan pada bi Sumi saja." ucap Fatmala, bi Sumi adalah cleaning service kliniknya.


"Iya, Dok. Kalau begitu saya permisi." ucap Nia. Pandangan kedua gadis itu bertemu. Indah masih saja memamerkan senyumaan manisnya, sementara Nia seperti mengumpat dalam hati.


\=\=\=\=


Ikan bakar dengan lalapan dan sambal tersaji dimeja, kedua lelaki beda usia itu makan sangat lahap. Tak ada pembicaraan diatas mereka. Keduanya begitu menikmati sajian dari rumah makan legendaris yang terkenal dengan ikan bakar bumbu andalimannya.


Setelah semua hidangan habis berpindah kedalam perut, barulah mereka memulai pembicaraan yang mulai tampak serius.


Adzka sudah bisa menebaknya, karena jika akan menceritakan masalah kesehatan Rudi pasti laki-laki itu akan datang kerumah sakit, bukan mengajaknya bertemu diluar seperti ini.


"Adzka, mungkin berita ini akan membuatmu sedih. Om tau, sampai saat ini kau masih berusaha mendapatkan restu dari ibumu untuk menyetujui hubungan mu dengan anak om. Om percaya kau memang benar-benar serius menginginkan Juna menjadi pendamping hidupmu. Tapi, Om minta maaf. Tadi malam Juna menghubungi ku. Dia memutuskan untuk bersama dengan Marchel. Dia akan menerima pinangan Marchel saat nanti Marchel dan Mamanya pulang dari Jepang." Rudi mencoba bicara sehalus mungkin.


"Oh, Marchel dan Juna sedang di Jepang lagi, Om?" tanya Adzka


"Oh" Adzka hanya menyebut itu. Tak ada lagi yang bisa diucapkannya. Memaksa untuk tersenyum walau hatinya seakan hancur berkeping-keping. Inilah akhir dari kisahnya yang dijaga sedari dia berusia remaja.


"Maafkan,Om. Om tidak bisa berbuat banyak." Rudi menangkap wajah sedih dari laki-laki berkacamata tersebut.


Mencintaimu ....


Seumur hidupku, selamanya


Setia menanti


Hanya satu yang tak mungkin kembali


Hanya satu yang tak pernah terjadi

__ADS_1


Segalanya teramat berarti di hatiku


Selamanya


Mencintaimu


Seumur hidupku


Selamanya


Kau tetap milikku


(Mencintaimu KD)


Soal rasa tak bisa dipaksa, begitupula dengan selera bermusik, Adzka yang umurnya masih duapuluhan itu begitu menyukai karya-karya dari Diva pop Indonesia. Mungkin karena hampir semua lagunya mewakili perasaannya. Tapi kali ini berbeda. Syair lagu mencintaimu yang dihapalkan dari usianya masih belasan, saat ini dirasa tak berguna lagi.


Mungkin setelah ini selera bermusiknya akan ikut berubah juga.


Selamanya, kau tetap milikku.


Itu hanya berlaku beberapa hari lagi, setelah Marchel menginjakkan kakinya kembali ke tanah kelahirannya, semua keinginan keegoisan untuk tetap memperjuangkan gadis ayu itu sudah harus dikubur dalam-dalam.


"Janganlah seorang laki-laki mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah oleh saudaranya, kecuali bila saudaranya itu telah meninggalkannya atau memberinya izin.” (HR. Bukhari).


Adzka menambah laju kendaraannya, menepi di sebuah gedung kosong. Gedung itu tampak sudah lama ditinggalkan tampak dari banyaknya tumbuhan rambat dan rumput lalang yang tinggi.


Dengan emosi yang meluap-luap, Adzka menjerit sekeras-kerasnya. Melalui suara yang menggelegar tampak air mata yang menganak sungai.


"Sesakit inikah mengikhlaskannya, Tuhan." sisi lain dari Dokter spesialis jantung itu terlihat. Lelaki itu tampak rapuh saat ini, tak ada lagi pegangan, semangatnya untuk sekedar menyunggingkan senyum.


.


.


.

__ADS_1


.


khusus hari ini author receh ini update 2 bab ya😁


__ADS_2