Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
68


__ADS_3

Hari ke dua setelah acara saling Deal terlaksana. Juna kini resmi menjadi perawat dari dokter spesialis kandungan yang sedang terbaring koma. Setelah Zuan menjelaskan siapa orang yang akan merawat ibunya, Adzka langsung menyetujuinya. Padahal tadinya dia yang kekeh ingin menjaga sendiri mamanya, dia tak rela mereka menyewa jasa perawat, berasa anak durhaka katanya. Tapi, setelah tau siapa orang yang akan menjaga Fatmala ... Adzka langsung setuju plus bonus gaji darinya yang tak ia sebutkan nominalnya.


"Walau sebulan, dua bulan pun jadilah. Asal aku bisa melihatnya saja aku sudah bahagia. Semoga saja orang Makassar itu melepaskannya, karena terlalu lama menunggu Juna kembali kesana." batin Adzka saat itu.


Wanita cantik dengan rambut yang di cepol sedang menyiapkan handuk basah bersama dengan air hangat di dalam baskom ukuran sedang. Gadis itu mengusap bagian tubuh Fatmala dengan perlahan dan hati-hati, beberapa alat yang terpasang ditubuh lemah itu, membuat Juna harus ekstra teliti dan hati-hati mengelap tubuh Fatmala yang masih betah tertidur.


Setelah semuanya selesai, Juna menghidupkan pemutar musiknya, sengaja ia mendownload mutottal al-qur'an. Setiap hari dia mendengarkannya bersama Fatmala tentunya. Ruangan yang lumayan luas itu menjadi lebih sejuk, dengan lantunan ayat suci tersebut.


Untuk mengusir kejenuhan, tak jarang Juna mengajak Fatmala untuk ngobrol. Dari hal yang penting sampai hal yang tidak penting sekalipun. Tapi, yang paling sering Juna ceritakan adalah kenangannya bersama Fatmala malam itu dan malam pesta waktu itu tapi peristiwa menyedihkan baginya saat itu sengaja ia skip.


Ya ... kalau kalian melihatnya pasti kalian akan mengatakan Juna sudah gila. Tapi, ini cara nya. Setiap orang yang menjaga seseorang yang sakit itu mempunyai cara sendiri untuk mengusir penat dan kejenuhannya.


"Ibu, Ibu bangun dong. Lihat Dewi, sebentar lagi perutnya akan besar. Pasti dia jelek ya, Bu. Hahaha ... bagaimana bisa manusia mungil itu membawa perutnya." Juna bertepuk tangan sendiri membayangkan hal gila yang barusan ia ucapkan.


"Hayo ibu, marah ... marah!" Juna membatin


Pintu ruangan itu terbuka, dokter jaga masuk memeriksa kondisi pasien. Setelah selesai dokter yang usianya hampir kepala 4 itu berpamitan kepada Juna dengan senyuman yang sulit diartikan.


Senyuman itu juga dilihat oleh sosok laki-laki yang baru saja memasuki ruangan itu. Wajahnya seketika menjadi datar, tak ada senyuman ramah seperti biasanya kepada dokter jaga yang berpapasan dengannya barusan.


"Dasar dokter ganjen. Kuburan istrimu belum kering, sudah melirik yang lain." Adzka membatin, ingin rasanya dia mengeluarkan saja kata-kata itu. Tapi dia juga tak ada hak untuk marah.


"Hei, Dok. Apa sudah selesai pekerjaanmu?" sapa Juna, waktu sudah hampir Dzuhur, biasanya dokter itu pulang setelahnya atau jauh sampai hampir sore.


"Iya sudah, Alhamdulillah. Hari ini hanya sedikit pasien yang datang. Orang-orang mungkin sudah mulai menyayangi jantungnya." ucap Adzka membuka jas nya dan meletakkannya di sembarang tempat.


Juna mengambil jas tersebut dan menggantungnya kedalam lemari, juga mengambil tas kerja dokter itu dan memasukkannya pula kedalam lemari yang sama.


"Dasar laki-laki! seenaknya meletakkan barang-barangnya. Nanti kalau lupa siapa yang repot! pasti nanya deh, tas ku mana jas ku mana!" Juna menggerutu

__ADS_1


"Eh, kok aku jadi gini." ucapnya sendiri dalam hati.


"Juna ... juna bangun, kerja! kerja! bukan latihan jadi istri dokter itu." ucap Juna pada dirinya sendiri.


Perbuatan Juna itu tak luput dari penglihatan Adzka, dengan senyum sumringah laki-laki yang saat ini tengah duduk disamping sang Mama terus menatap gadis itu, tak sekalipun ingin berpaling.


"Ma ... apa mama bisa merasakan kebaikan Juna, Ma? gadis yang selalu mama bandingkan dengan Indah. Lihat? kemana Indah saat mama butuh dia? gak ada kan, Ma. Dia malah sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya." Adzka mengelus lengan Fatmala, hatinya berbicara berharap Fatmala bisa mendengar jerit hati anaknya itu.


\=\=\=\=\=


"Bagaimana, Mas? cantik gak?" gadis tinggi dan ramping berlenggok didepan cermin, berputar kekiri dan kanan melihat setiap jengkal baju pengantin yang melekat di tubuhnya.


"Cantik sih, tapi tampak kekecilan, Sayang. Lihat bagian lengannya. Bagian siku tanganmu seperti berlebih. Kau harus diet. Aku yang atur pola makanmu. Pokoknya dua bulan kedepan adek harus turun 9 kilo." laki-laki berjas biru masih tetap pada posisinya duduk dengan menaikkan satu kaki.


"Tapi, Mas ... kata Mba nya cantik kok!" Indah mencoba merayu.


"Kau mau aku yang bilang cantik, atau orang lain?" bisik Pramono ditelinga Indah. Satu lengannya melingkar di pinggul gadis itu.


"Hm ... ini semua pasti karena aku sok-so'an masak di rumah Tante Fat deh. Bodoh ... bodoh! pengorbanan sia-sia." umpat gadis itu.


Pramono sudah kembali duduk di singgasananya, sibuk dengan benda pipih miliknya. Mengirimkan undangan pernikahannya kepada teman yang ia temui di pesawat waktu itu. Setelah pesan tersebut centang biru, Pram tertawa melihat balasan dari temannya tersebut.


"Aku pasti datang. Tenang saja ... aku ini laki-laki, laki-laki yang di pegang itu kan kata-katanya. Aku juga akan membawa gadis ku, akan ku buktikan padamu kalau gadisku pasti lebih cantik." Isi pesan tersebut


\=\=\=\=


Juna tampak memberekan barang-barangnya. Charger handphonenya tak lupa kembali ia masukkan kedalam tas mungilnya. Hari sudah hampir senja, Zuan dan Dewi masuk kedalam ruangan itu bersamaan. Bumil itu tampak lebih segar dari sebelumnya.


"Loh, Dew ... kok kesini. Udah enakan?" tanya Juna yang sudah bersiap pulang.

__ADS_1


"Kangen ...." ucap Dewi memeluk Juna manja.


"Kangen Ibu kok peluk aku?" Juna tersenyum menampakkan lesung pipi kecilnya


"Kangen dua-duanya." Dewi melepas pelukan itu, melihat Juna yang sudah menjinjing tasnya.


"Udah mau pulang?"


"Iya, shif ku selesai sekarang giliran anak laki-laki ibu." ucap gadis itu.


"Ka, antar!" ibu hamil itu memerintah. Namun bukannya keberatan, laki-laki itu dengan senang hati menjalankan titah sang Dewi.


"Kau memang best!" Adzka menunjukkan jempolnya, hanya dia dan Dewi yang tau, sebenarnya sejak tadi Adzka sudah mengirim kabar kepada Dewi. Berharap suami istri itu segera datang ke rumah sakit, agar Adzka bisa mengantarkan Juna pulang malam ini.


"Eh, gak usah. Aku sudah pesan ojol kok." Juna menunjukkan aplikasi ojolnya.


"Gampang, tinggal bayar. Berees!" Zuan ikut menimpali, memberikan selembar uang kepada Adzka untuk kang ojol. Akibat dari ucapan dan perlakuannya Zuan mendapatkan tatapan tajam dari Juna, bibir gadis itu tampak komat-kamit mengutuk laki-laki perut gendut itu.


"Awas kau!" ucap gadis itu lirih namun penuh penekanan, Zuan hanya menunjukkan dua jarinya.


Awan dilangit mulai tampak jingga, Adzka menghentikan mobilnya di depan masjid, kumandang Adzan telah selesai di lafadz kan. Kewajiban harus segera ditunaikan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Selamat membaca semoga kalian terhibur 🙏


__ADS_2