
Perempuan cantik dengan jilbab yang menutupi rambutnya, duduk manis di meja yang bertuliskan angka diatasnya. Sesekali dia melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Belum ada apapun yang terhidang di atas meja tersebut, sudah hampir setengah jam dia berada disana. Bukan karena yang ditunggu datang terlambat, melainkan gadis itu yang datang terlalu cepat. Karena jam prakteknya sudah selesai beberapa jam yang lalu, dia memutuskan untuk lebih dulu datang ke salah satu restaurant yang tak terlalu jauh dari tempat ia bekerja.
"Sudah sampai dimana, Bang? apa aku pesankan saja. Seperti biasa kan?" ucapnya setelah android miliknya melekat di telinganya.
"Sebentar lagi, Sayang. Udah lapar ya? boleh deh, pesankan saja, jadi nanti begitu sampai bisa langsung makan. Abang juga sudah sangat lapar! maklumlah, terlalu lama menunggu pangeran kodok ini bersiap." suara dari seberang sana, membuat senyuman Dewi terukir di bibir indahnya.
Tak berapa lama, seorang pelayan dengan pakaian serba hitam dan sedikit sentuhan batik di bagian bawah bajunya datang menghampiri, setelah dokter Dewi mengangkat tangannya beberapa saat setelah panggilan teleponnya berakhir.
"Ada tambahan lagi, Dok?" ucap pramusaji tersebut, setelah mengulang kembali pesanan dari kustemernya.
"Itu dulu deh, nanti kalau ada saya panggil Mba lagi!" balas Dewi ramah. Karena sudah sangat sering berkunjung kesana, mereka sudah mengenal dokter cantik itu dan pacarnya.
Restaurant tersebut menjadi tempat makan favoritnya setelah berpacaran dengan Zuan. Selain tempatnya yang nyaman, makanannya juga pas di lidah keduanya.
"Restoran Simpang Tiga! katanya mau ngopi! ternyata mau makan berat, astaga Zuan! aku lagi diet nih." ucap laki-laki berkacamata saat turun dari mobil yang sudah rapi terparkir di tempat semestinya.
"Besok aja dietnya, biar apa sih! sudah tampan dan menawan juga!" Zuan merangkul saudara kandungnya itu, bersama melangkah masuk menemui sosok yang dari tadi membuat penasaran sang dokter berkacamata itu.
"Ih, apa sih. Jangan sok akrab!" jawab Adzka ketus.
Langkah laki-laki itu terhenti. Setelah memastikan siapa wanita yang akan ditemuinya. Dengan sigap Adzka menarik kerah jaket yang dikenakan Zuan, seperti kucing yang sedang menggendong anaknya.
"Kau menjebakku! kau kan sudah tau, aku tidak suka dengan Dewi. Kenapa harus membohongiku dengan dalih ingin mengenalkanku dengan pacarmu. Aku pulang saja!" Adzka melangkahkan kakinya meninggalkan Zuan dan Dewi yang menatap kedua laki-laki dihadapannya dengan tatapan penuh tanya, sedangkan Zuan hanya membisu setelah Adzka tak mau menerima penjelasan apapun darinya.
Zuan melangkah menemui Dewi yang masih berdiri.
"Adzka salah paham. Sudahlah, kita makan saja. Abang sudah sangat lapar!" Zuan langsung menjelaskan tanpa diminta, dia juga sudah sangat berselera melahap semua santapan yang sudah terhidang di meja. Sambal cabe ijo, gurame goreng, sambal udang, ayam pop dan yang paling menggugah selera yaitu sayur daun singkong membuat Zuan segera mencuci tangannya di wastafel.
"Kunci mobil!" Adzka menepuk bahu sang kakak.
"Naik angkot saja sana!" Zuan melengos menabrak bahu Adzka dengan sengaja.
"Zu!" Adzka menghampiri Zuan yang telah duduk di meja untuk makan.
__ADS_1
"Duduk! ayo kita makan. Calon kakak iparmu sudah memesan makanan sebanyak ini, siapa yang akan menghabiskannya. Masak Dewi, nanti kalau dia jadi gendut gimana!" oceh Zuan dengan lirikan mengarah ke pacarnya.
Adzka mengerutkan alisnya, "Kakak ipar? Dewi? Oh ... kalian! kok bisa! kepalamu kebentur Dew? ini Zuan loh, apa dia bisa bilang cinta." dokter muda itu mendudukkan badannya menarik kursi disebelah kakaknya. Mengisi piring dengan nasi putih dan beberapa lauk pauk yang tersedia, tiba-tiba selera makannya kembali hadir, cacing di perutnya juga sudah menyanyikan hymne kelaparan.
"Kenapa gak bilang dari tadi sih, kalau kalian pacaran?" ucap Adzka dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Kau itu yang main pergi-pergi aja! gak mau dengar penjelasan orang dulu." ucap Zuan.
"Iya deh, maaf ... maaf. Kok gak makan Dew, ntar kuhabisin loh!" ucap Adzka lagi saat melihat piring di hadapan Dewi masih kosong, tanpa ada isian apapun.
"Masih ada yang ditunggu, Ka! duluan saja." ucapnya tersenyum penuh arti.
"Ada lagi yang ditunggu, siapa? duh ... jadi gak enak nih, udah makan duluan." oceh Adzka, ternyata Zuan yang duduk disebelahnya juga belum makan apapun. Ia hanya bisa menelan salivanya, melihat adiknya makan begitu lahapnya. Namun tak tega untuk makan duluan sedangkan wanita kesayangannya belum menyentuh apapun.
"Katanya lagi diet!" celetuk Zuan.
"Iya tadi! tapi setelah melihat hidangan ini batal! aku sangat merindukannya." Adzka menunjuk satu porsi udang sambal goreng yang merah merona karena sangat pedas. Sudah hampir setengah tahun dia menetap kembali di Indonesia, namun makanan favoritnya itu belum pernah di icipnya lagi. Karena dia mencoba memakan makanan yang disukai Juna saja dan melupakan makanan kesukaannya sendiri.
"Maaf terlambat! wah, ternyata ada Zuan juga, kirain cuman kita berdua aja Dok!" ucap perempuan yang baru saja sampai menghampiri mereka. Baju hitam lengan panjang dengan rambut yang dibiarkan tergerai, dengan polesan make up tipis membuat penampilan gadis itu tampak cantik.
Mood Juna seketika berubah, niat hati ingin menjaga jarak dari dokter spesialis jantung itu, tapi malah ketemu malam ini. Dia juga merasa tak enak karena tadi dia tidak masuk kerja dengan alasan sakit.
"Yok makan, kami sudah sangat lapar Jun. Kenapa lama sekali datangnya." Dewi menarik lengan Juna yang masik terpaku berdiri dengan tatapan kosong.
"Eh, iya. Maaf ya! Mumun tadi datangnya lama!" ucap Juna menyampirkan tasnya dikursi yang di dudukinya.
"Ya udah ayo kita makan!" Zuan memanggil pramusaji meminta kembali beberapa hidangan yang sudah terlebih dahulu di lahap laki-laki disebelahnya.
"Mba, sambal udangnya tiga porsi lagi ya!" ucap Zuan dengan mengacungkan beberapa jari tangannya.
"Dua aja, Mba! satunya ayam Pop, plus satu botol kecap!" sambung Adzka membuat seluruh tatapan orang yang berada di dekatnya menatapnya lekat-lekat.
"Juna gak suka makan pedas, sambal udang itu pedasnya pake banget, dari pada kalian dibuat repot gak bisa pulang karena dia harus bolak-balik ke toilet, mendingan cari aman aja! yakan Jun!" tatapan Adzka kini tertuju pada sosok yang terlihat canggung dihadapannya.
__ADS_1
"He ... he, iya! aku gak tahan pedas!" ucap Juna
"Maaf ya!" tambah Juna lagi
"Kami yang minta maaf, Jun. Kami gak tau kalau kau tak suka makanan pedas, kalau tau dari awal kami akan mencari tempat makan lain." ucap Dewi merasa tidak enak hati.
"Kalian sih, gak tanya dulu sama saya!" imbuh Adzka pula
"Ya deh, yang tau segalanya tentang Juna!" dengan senyum menyeringai Zuan ikut menimpali. Membuat pipi Adzka terasa panas karena perkataan Zuan tadi, ditambah lagi Juna menatapnya dengan tatapan tak suka.
"Apaan sih, berasa tau aku banget nih orang!" batin Juna berontak.
Semua hidangan yang terhampar dimeja makan bersama dengan menu tambahan tadi sudah habis termakan. Hanya menyisakan kuah, dan tulang belulang ikan dan kulit udang. Dewi meminta pelayan untuk membersihkan meja itu dengan segera, karena mereka masih ingin berlama-lama disana menghabiskan waktu berempat, seperti double date saja.
"Akhirnya setelah tiga tahun pacaran secara rahasia, sekarang kalian sudah mulai berani terang-terangan ya! saat ini masih Adzka yang tau, terus kapan rencana kalian memberitahu kedua orang tua kalian? apa masih kurang lama pacarannya?" ucap Juna, sembari menyomot buah potong dihadapannya.
"Iya, buruan deh kasih tau Mama. Atau aku aja yang bilang nanti!" Adzka ikut bicara.
Zuan dan Dewi saling menatap, "Kalau saja itu segampang ucapanmu, Ka. Pasti aku tak akan menyembunyikan hubunganku ini bertahun-tahun." gumam Zuan dalam hati.
"Aku juga menginginkan itu, Adzka. Kalau saja bang Zuan berani mengatakan semua ini pada mama kalian. Kami tak akan sembunyi-sembunyi lagi." dengan tarikan nafas yang berat Dewi menghembuskan nafasnya kembali dengan perlahan.
Suasana hening seketika, Adzka menahan nafasnya setelah tangan lentik Juna memelintir sedikit daging bagian pinggangnya. Mereka saling menatap, Juna menyunggingkan senyum usilnya sambil berbisik "antar aku pulang!"
Adzka langsung berdiri dan mengambil kunci mobil yang diletakkan Zuan diatas meja.
"Pinjam mobil mu, aku antar Juna pulang. Sudah malam. Ayo!" Adzka meninggalkan mereka semua, berjalan keluar restaurant.
"Aku duluan ya, terimakasih traktirannya malam ini, Zu! Dew, semoga hubungan kalian langgeng ya." Juna memegang pundak Dewi sedikit mengelusnya.
Dengan langkah yang dipercepat, Juna menghampiri Adzka yang sudah berada dalam mobil.
"Ayo cepat, lama banget!" seru Adzka, mesin mobil pun sudah menyala.
"Iya, Dok!" Junapun masuk kedalam mobil tersebut.
__ADS_1
"Kau itu kalau bicara pikirkan perasaan orang dong, Ka! kasian Zuan dan Dewi!" ucap Juna setelah mobil mulai melaju, membuat isi kepala Adzka penuh dengan tanda tanya mengenai hubungan kakaknya itu.