Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
38


__ADS_3

*Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa


Padahal kau tahu keadaannya


Kau bukanlah untukku


Jangan lagi rindu cinta


Ku tak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia aku tak apa


Biar aku yang pura-pura lupa*


(Mahen, Pica Iskandar)


Syair dari lagu yang mengalun merdu melalui radio dalam mobil yang sedang melaju itu terasa menyindir seorang gadis yang berada didalam sana. Ya, pura-pura mungkin untuk saat ini adalah cara terbaik, atau mungkin saja sudah saatnya untuk "Melupakan".


"Jelek banget sih selera musik loe." gumam Juna melirik laki-laki disebelahnya yang menikmati bait demi bait syair lagu yang sedang trending beberapa hari terakhir ini. Sebenarnya lagu itu memang bagus, suara penyanyinya apalagi, hanya saja mood gadis kurus itu saja yang sedang tidak baik.


"Kenapa? lagunya kelihatan cengeng ya, pasti kamu berfikir begitu kan?" ucap lelaki itu, matanya menangkap Juna sedang meliriknya.


"Kok tahu?"


"Ya tahu lah, apasih yang tidak aku ketahui! bahkan jadwal penerbangan mu saja aku mengetahuinya. Dasar gila. Kau pikir badanmu itu robot? pergi naik penerbangan pertama dan pulang jadwal pesawat terakhir. Kalau kau sakit bagaimana hah! apa kau tak memikirkan kesehatanmu?" ketus lelaki itu membuka maskernya.


"Hm ... sudah ku duga. Pasti kau. Kau mengikuti ku!" Juna sama sekali tidak terkejut, tadinya memang dia bertanya-tanya siapa laki-laki yang ada disebelahnya itu. Tapi setelah melihat jam tangan yang melekat ditangan kiri lelaki tersebut dia pun memastikannya bahwa itu adalah Marchel.


"Kok gak kaget sih?" Marchel masih saja ketus, luapan emosinya masih belum hilang.


"Padahal aku sudah mengubah gaya berpakaianku. Aku juga tidak memakai parfum."


"Tapi kau lupa meninggalkan jam tangan kesayanganmu itu!" Ucap Juna bangga bisa mengenali temannya itu.


"Yah! aku lupa soal ini." Marchel menepuk jidatnya.


"Hm, maklumlah aku begitu setia. Aku begitu menyayangi jam ini." Marchel menyingkap lengan bajunya, Jam bermerk Va**cheron Chonstantin melekat dilengan kekarnya. Jam yang katanya merk kesayangan Napoleon Bonaparte ini adalah hadiah ulang tahun dari kakaknya pada saat ia remaja. Jam yang bentuk dan gaya tradisional itu begitu ia jaga dan sayangi dengan baik, sehingga tak satu haripun dia melupakan untuk memakainya.


"Bagaimana bisa kau tahu aku kemari, Udin?"


"Makanya, jangan membiarkan laptopmu terbuka begitu saja kalau kau meninggalkannya. Tapi seharusnya kau berterimakasih, karena aku kau selamat dalam rahasiamu ini."

__ADS_1


"Untung ada Chef Hanakawa." Marchel tertawa atas apa yang dilakukannya tadi.


"Aku begitu piawai membaca situasi, kebetulan juga tadi aku bertemu Chef dan meminjam bajunya, dan untung juga tadi aku melihat dulu isi makanan yang ada dimeja prasmanan itu." Marchel dengan songongnya membanggakan dirinya.


"Iya deh, Otetsudae arigato! (Terimakasih atas bantuannya)" Juna membungkukkan badannya. Marchel pun tersenyum melihat gadis itu.


Flashback On


Waktu jam makan siang tiba, namun gadis itu masih saja berkutat dihadapan laptop miliknya. Seakan tak mengingat waktu, bahkan adzan Zuhur pun sudah selesai setengah jam yang lalu.


"Heh, Butet. Kemana hapemu?" tanya laki-laki tampan berkacamata hitam. Pemuda itu masuk kedalam ruangan yang bertuliskan DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK BERKEPENTINGAN.


"Apa sih, Udin. Gue lagi sibuk nih. Hape tuh dimeja. Kenapa?" jawab gadis itu, dia tetap fokus kelayar laptop.


"Tante telpon nih. Hape loe gak aktif?"


"Aktif kok. Ngapain mama telpon ke hape loe?" Juna beranjak dengan malasnya menuju meja tempat benda pipih miliknya bersemayam.


"Gak ada apa-a ... hehe, hapenya mati ternyata!" wajah itu memerah menahan malu.


"Ya udah nih, Tante." Marchel memberikan hape miliknya, Juna pun mengambilnya dan keluar meninggalkan ruangan itu.


"Iya, Ma. Hape Yuyun low. Kenapa, Ma." ucap Juna yang masih terdengar dari arah luar. Sementara Marchel, rasa ingin tahunya meronta. Dia bergegas melihat kearah laptop yang masih menyala.


Beberapa menit kemudian Juna kembali lagi keruangan itu. Marchel tampak sedang tiduran di sofa sambil selonjoran. Matanya terpejam.


"Tidur, Chel?" Juna menggoyangkan bahu Marchel pelan


"Hm" hanya itu jawaban Marchel.


"Chel, makan yok. Laper nih." Juna memegang perutnya yang berbunyi, cacing dalam perutnya sudah minta jatahnya.


"Marchel! ayo dong. Traktir aku yok." ucap gadis itu manja.


"Loe udah sholat?" mata Marchel masih saja terpejam.


"Aku lagi 'M'."


"M? Males!" Marchel mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Hooh." Juna menyeringai


"Shalat dulu gih. Aku tidur 15 menit lagi aja. Lagi nanggung tadi mimpinya." Marchel menelonjorkan lagi kakinya, bersedekap dan memajamkannya matanya.

__ADS_1


Juna pun beranjak masuk kedalam ruangan shalat yang tak begitu luas dalam ruangan itu, sebelumnya ia mematikan laptopnya dahulu. Gadis itu memang sering shalat di akhir waktu.


Flashback Off


"Apa kau tidak ingin bertemu Papa?" tanya Marchel kemudian.


"Papa?" Juna nyaris melupakan kalau dia sedang berada di Medan saat ini.


"Tiket pesawatku gimana? Sayang dong, Chel."


"Gampang itu. Lebih sayang tiket atau Papa?"


\=\=\=\=\=


Mobil hitam melaju dengan kecepatan sedang memasuki jalanan komplek perumahan, tak lupa menyapa para security yang bertugas malam itu.


Sepasang suami istri yang tak lagi muda itu baru saja pulang menghadiri pernikahan salah satu anggotanya sesama abdi negara.


Perlahan mobilnya memasuki pekarangan rumah, Rudi merasa heran, pagar rumahnya sudah terbuka seluruhnya. Tampak mobil yang asing baginya telah terparkir disana.


Seorang gadis dan pemuda sedang memandang mereka dari teras rumah. Pemuda berkacamata hitam itu membuka kaca matanya dan menghampiri Rudi yang baru saja keluar dari mobilnya.


"Om." sapa Marchel mencium punggung tangan Rudi


"Kalian sudah lama?" tanya Rudi ramah.


Belum sempat Marchel menjawab pertanyaan Rudi, Juna yang tadi masih membersihkan aglonema kesayangannya menghampiri Rudi dengan berlari. Tubuh kurusnya menubruk Rudi, pelukan rindu mendarat di tubuh yang tampak sedikit tambah berisi itu.


"Papa, Juna kangen." ucap Juna manja.


"Pulang juga anak gadisku." ucap Rudi sendu. Kasihan, ya ... Rudi memang merasa sangat kasihan dengan kejadian yang menimpa anaknya itu.


"Kenapa papa menangis?" Juna melihat airmata yang sudah menggenang dinetra papanya.


"Tidak apa-apa. Papa hanya takut tak melihatmu lagi." ucap Rudi memeluk erat Juna kembali.


"Papa bicara apa sih. Juna disini nih." Junapun mengeratkan pelukannya.


"Ya sudah, beginilah nasibnya kalau mereka sudah bertemu. Kita hanya menjadi debu yang tak berarti bagi mereka. Ayo mas ganteng, kita masuk kedalam saja." ucap Cindy, mengajak Marchel masuk kedalam rumah mereka.


"Hehe, Bunda." Juna mengejar Cindy yang sudah membuka pintu. Tangan Cindy menjadi sasaran Juna untuk bergelayut manja disana.


"Ayo, ayo masuk. Istirahatlah. Perjalanan jauh pasti sangat melelahkan." Rudi mengajak Marchel masuk kedalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2