Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
37


__ADS_3

Suasana ijab qabul begitu hening, dua sejoli yang cantik dan tampan itu telah sah menjadi suami istri. Pancaran kebahagiaan begitu kentara terpancar dari wajah keduanya. Doa yang dibacakan diaminkan dengan begitu khidmat. Seolah semua tamu yang terbatas itu mendoakan kebahagiaan Zuan dan Dewi.


Tak terkecuali gadis bermasker yang menggunakan celana Jins dan Kaos oblong lengan panjang. Ia lebih mirip seperti petugas catering bagian dapur, dari pada tamu undangan. Juna memang sengaja berpakaian seperti itu.


Dari sudut ruangan yang tak jauh dari tempat aqad tersebut Juna menengadahkan kedua tangannya ikut mengaminkan doa yang dipimpin langsung oleh Papa dari dokter gigi itu.


Dewi menangkap sosoknya. Juna membuka sebentar maskernya menunjukkan senyuman khasnya yang tulus. Kemudian dia memakainya kembali saat sosok laki-laki berkacamata yang baru saja memasuki ruangan digandeng oleh perempuan bergaun coklat dengan polesan tipis menghias wajahnya, namun tampak sangat cantik.


Pandangan kedua terkunci begitu masing-masing netra mereka beradu. Ada rasa rindu yang tak dapat diucap. Sepasang mata bola gadis bermasker itu berpindah fokus kearah lengan yang dipegang erat.


Juna tak menampik ada sedikit rasa aneh dalam hatinya, seperti luka tapi tak berdarah. Laki-laki yang tertatap Juna pun, tubuhnya seakan terkunci. Mungkin ada rasa penasaran atas wanita yang ada disudut sana.


Juna Pov


"Siapa gadis itu. Dia cantik sekali, dari penampilannya dia juga tampak bukan seperti gadis biasa. Mungkinkah itu wanita pilihan Ibu?"


"Aku harus bahagia, inilah yang terbaik. Aku harus segera pergi, bisa saja Adzka mengenaliku."


"Dewi, Zuan. Selamat kepada kalian. Peluk cium kasih sayang ku dari jauh."


\=\=\=\=


Juna meninggalkan ruangan itu setengah berlari. Menghindari bertemu Adzka yang mungkin akan mengenalinya.


Benar saja, tak jauh dari ruangan pernikahan tersebut, seseorang memanggilnya.


"Tunggu!" Ucap laki-laki bertubuh tegap itu dari kejauhan.


Juna sangat mengenal suara itu, diapun enggan membalikkan badannya menuju asal suara. Dengan sigap dia seolah memeriksa meja prasmanan yang dekat dengannya, seperti memeriksa kesiapan disana. Diapun berlagak seolah bagian dari petugas catering. Tanpa menjawab panggilan Adzka, Juna terus berakting.


"Oh, Mba petugas catering ya?" ucap Adzka yang merasa salah orang. Lawan bicaranya hanya mengangguk dan seolah sedang sibuk. Matanya tak berani menatap lelaki itu.


Wanita berbaju coklat pun menyusul, dengan lenggok bak model, perempuan itu menghampiri Adzka dan kemudian menggandeng tangannya seperti tadi.


"Mas, sudah lapar?" ucapnya dengan manja, berfikir bahwa Adzka hendak makan.


Adzka menghempaskan tangan Indah yang sedari tadi ingin bermanja saja dengannya. Bukannya bahagia, dia justru merasa sangat risih dengan kelakuan gadis itu. Baru saja mengenal beberapa hari, tapi dia sudah berani seperti itu.

__ADS_1


"Gadis macam apa ini? baru kenal berapa hari sudah mau nempel-nempel aja." gumam Adzka.


Sosok laki-laki bermasker dengan baju chef menghampiri Juna dengan kedua tangan dibelakang seperti sikap istirahat dalam baris berbaris.


"Dono yo ni, Subete no junbi ga dekite imasu ka? (Bagaimana, semuanya sudah siap?)" sebut laki-laki berpakaian ala koki tersebut kepada Juna.


"Yatta, Subete wa hanayome to hanamuko no yokyu ni yoru monodesu. (Sudah, semuanya sudah sesuai permintaan pengantin)" balas Juna dengan suara yang dibuat-buat.


Kebetulan sekali hidangan yang ada meja prasmanan mereka saat ini adalah makanan khas Jepang. Tak heran, Dewi memang sangat menyukai makanan tersebut.


Juna dan laki-laki yang berpakaian koki tadi pun beranjak kemeja lainnya. Adzka hanya bisa mengelus dada. Harapannya seketika pupus saat wanita bermasker tadi ternyata bukan wanita yang dirindukannya.


"Ternyata hanya petugas catering." ucap Adzka putus asa.


"Kerinduanku mungkin sudah naik stadium nya, jadinya aku berhalusinasi." gumamnya lagi.


"Wah, ini makanan Jepang. Mas mau makan apa? biar Indah ambilkan." ucap Indah yang sudah berada dihadapan meja tersebut.


"Aku gak lapar!" Ketus Adzka berlalu meninggalkan Indah yang sudah memegang benda putih bundar dan pipih itu. Ia pun mengejar Adzka kembali dan meraih pergelangan tangan Adzka untuk dia gandeng kembali.


\=\=\=\=\=


"Excuseme, who are you, Sir?" Juna mengerutkan alisnya. Perbendaharaan bahasa Jepangnya sangat minim. Untung saja kata-kata yang disebutkan chef tadi biasa didengarnya.


Laki-laki tadi membuka chef jaket yang dikenakannya, menyampirkan baju tersebut ke kenop pintu. Ia kemudian menarik lengan Juna dan memaksanya pergi meninggalkan tempat tersebut. Juna hanya mengikut saja, mau berontak juga percuma, tenaga laki-laki itu jauh dari kekuatannya. Mau minta tolong, justru akan membuat keberadaannya diketahui semua orang.


Laki-laki itu membuka pintu mobilnya dan memaksa Juna untuk masuk kedalam tanpa berkata sedikitpun. Setelah Juna duduk manis didalam, diapun beralih ke kursi kemudi dan menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran rumah keluarga dokter gigi tersebut.


\=\=\=\=\=


Suasana begitu ceria, ucapan selamat dari para keluarga tamu yang datang menambah rasa syukur untuk kedua insan yang sedang mengadakan resepsi. Walau di adakan dirumah, namun undangan yang hadir pun tak sedikit. Setelah selesai acara resepsi nanti pasti akan menyisakan kerepotan disana sini bagi pemilik rumah, beda hal dengan resepsi di hotel. Tapi ini kemauan dari orangtua Dewi. Untuk apa punya rumah dan halaman yang luas kalau tidak dimanfaatkan. Ucap Papanya waktu itu.


Suasana hening dalam kamar pengantin. Hanya terdengar suara peralatan make up yang beradu dalam boxnya karena si empunya sedang melukis diwajah Dewi. Balutan gaun yang menjuntai manja dengan ornamen berwarna emas menambah kecantikan dokter gigi itu. Deretan giginya yang putih bersih menambah sempurna senyumannya yang seakan tak pernah jemu diumbarnya kepada siapapun. Hari ini dia memang benar-benar sangat bahagia.


Zuan yang sudah sah menjadi suaminya pun sedang asik memainkan handphonenya, bosan rasanya hanya duduk diam memandang istrinya yang sedang dirias itu.


Cklek!

__ADS_1


Pintu kamar mereka dibuka, Laki-laki berkacamata masuk tanpa permisi. Menghempaskan tubuh tegapnya keatas kasur bigsize tersebut. Goncangan akibat badan Adzka yang berat membuat Zuan terganggu, aktifitasnya membalas ucapan selamat dari teman-temannya di dunia maya pun terhenti.


"Napa sih loe, Dek"


"Jangan panggil aku adek." entah kenapa Adzka sangat tidak suka dipanggil dengan sebutan Adik.


"Mana Indah? Bukannya dari tadi dia nempel terus tuh, kayak perangko." Zuan tersenyum mengejek.


"Gak tau. Gak mau tau. Aaah!" Adzka bangun dengan cepat dia bergegas mengunci pintu kamar itu.


"Risih tau nggak di ikutin terus. Mana pegang-pegang lagi!" Adzka menepuk-nepuk badannya seolah membersihkan badannya yang kotor, jijik.


"Bete banget gue." ucapnya menidurkan kembali badannya diranjang.


"Indah itu cantik loh, Ka. Kayak model." Dewi berbicara melihat Adzka dari pantulan kaca. Sunting yang digunakannya membuat kepalanya enggan berpaling.


"Gitu kok cantik." ketus Adzka.


"Mana ada perempuan yang bisa mengalahkan kecantikan pujaan hatinya itu, Sayang. Kau seperti tidak tau saja." Zuan semakin menggoda Adzka yang tampak semakin kesal.


"Bang, lihat ini deh. Tunjukin ke Adzka juga. Pasti bete nya hilang seketika." Dewi memberikan telepon selulernya kepada perias pengantin.


Zuan mengambilnya, matanya membola sempurna kemudian memberikan benda pipih itu kepada Adzka.


Adzka pun bangun, memperbesar gambar yang dilihatnya.


"Dia datang!"


"Tuh kan, tadi aku gak salah lihat. Tadi aku lihat dia. Tapi kenapa jadi petugas catering?" ungkap Adzka.


"Kok gak cerita sih, Dek. Juna datang." tanya Zuan.


"Tadinya mau bilang sih, Bang. Pas dia masih ada waktu lihat kita akad. Tapi keburu pergi gitu lihat Adzka datang." ucap Dewi berdiri.


"Udah, Mba?" tanyanya menyeka sedikit keringat yang muncul dari pori-pori dibawah bibirnya.


"Sudah, Dokter. Cantik banget." ucap perias itu.

__ADS_1


Zuan pun melihatnya dengan tatapan bahagia.



__ADS_2