Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
07


__ADS_3

Mobil dengan plat kendaraan berwarna kuning, berlogo burung berwarna biru melesat dengan kecepatan penuh setelah memasuki gerbang tol. Aspal yang masih kilat menghitam dengan garis putih memanjang ditengahnya, menunjukkan bahwa jalan tol itu memang benar-benar baru di oprasikan.


Dua orang penumpang tampak asik bercerita mengisi kekosongan waktu. Perjalanan yang bebas dari kemacetan dan keruetan ibu kota itu, hanya memakan waktu 30 menit untuk sampai ke tempat tujuan.


"Jam berapa pesawatmu berangkat?" ucap perempuan yang sedang membetulkan jilbab yang sedari tadi masih disampirkannya dibahu.


"Jam 16.35!" jawab laki-laki disebelahnya tanpa melihat karena dia sibuk mencari dompetnya di dalam tas sandangnya.


"Masih lama? ini masih jam dua! kenapa kita langsung kesini! wah ... ngerjain gue loe, Dek! Astaga, mau ngapain kita disini!" Juna kaget, melihat jam di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul 14.00 lewat sedikit.


"Hm ... sengaja!" gumam Adzka, dengan senyum menyeringai.


"Sudah sampai, Pak! belum mau turun!" ucap supir taksi mengingatkan mereka berdua.


"Sebentar ya, Pak! saya mencari dompet saya, belum ketemu!" Adzka mulai panik, dan membongkar sebagian isi tasnya.


"Ini pak!" Juna memberikan satu lembar uang bergambar pahlawan, dan mengucap terimakasih. Dia membuka pintu mobil, sambil melemparkan benda berwarna hitam tepat di depan tumpukan barang-barang Adzka yang dibongkarnya.


"Kau! kenapa gak bilang dari tadi!" Adzka mengambil benda itu. Ternyata dompetnya ada bersama gadis disebelahnya.


"Kenapa kau tak bertanya!" Juna menutup pintu mobilnya dengan tertawa puas.


"Kenapa aku harus membongkar ini tadi! eh ... tunggu sebentar ya, Pak. Saya bereskan barang-barang saya dulu!" ucap Adzka menepuk pundak pak supir yang masih setia melihatnya.


\=\=\=\=


"Kenapa harus di buka trus dipasang lagi, dibuka lagi, gitu sih, Jun? kalau dipakai terus kan gak papa, kamu cantik kok kalau pakai jilbab." Adzka membuka percakapan, setelah mereka duduk di kursi panjang.


"Iya, aku tau kok. Kalau aku tu tambah cantik, kalau pakai hijab. Tapi aku masih belum siap. Ntar aja deh, kalau sudah menikah, mungkin!" Juna menaikkan kedua bahunya. Memang ada perasaan untuk terus memakai hijabnya bahkan dari saat dia sekolah dulu. Apalagi Mila temannya juga selalu mengingatkan. Tapi memang Juna belum siap melaksanakannya, dia tau itu suatu hal yang wajib dilakukan oleh perempuan seusianya, tapi biarlah waktu yang menjawabnya nanti.


"Hah! menyesal aku bilang kau cantik!" Adzka mencebikan bibir tipisnya. Ternyata kau juga orang yang narsis. Keduanya tertawa.


Beberapa jam bersama Adzka membuat Juna merasa nyaman. Adzka orang yang asik, dan juga dewasa. Pengetahuannya juga luas.


"Eh, Dek! bagaimana rasanya jadi dokter?" Juna memposisikan badannya menghadap Adzka.


"Aku sudah bilang, jangan panggil aku 'Dek'!" ketus Adzka.


"Ya kan, kau memang masih muda. Umurmu jauh dibawahku. Kita beda 6 tahun Adzka, seharusnya kau memanggilku kakak!" Juna menjawab dengan wajah yang serius dibuat-buat. Merasa aneh, kenapa laki-laki dihadapannya tak suka dengan panggilan itu.


"Darimana kau tau?" Adzka menautkan alisnya, merasa heran. Sebelumnya dia tak pernah bercerita umur.

__ADS_1


"Dari Ktp mu!" Juna menunjukkan dua jarinya dengan senyum yang menyeringai, berharap Adzka memaklumi ke jahilannya.


"Ternyata kau sudah memeriksa dompetku!" Adzka mengambil dompetnya, dan memeriksanya dihadapan Juna.


"Syukurlah, masih utuh!" ucapnya mengelus dada.


"Kau pikir aku mengambil uang mu! aku tak serendah itu, Kisana!" Juna melipat kedua tangannya di dada.


"Oya? kalau begitu maafkan aku Sinyorita!" Adzka tertawa mengingat perkataannya sendiri, membenarkan posisi kacamatanya yang melorot.


Mereka terus berbincang seolah sudah saling kenal lama, tak jarang mata orang yang berlalu lalang berfikir mereka adalah sepasang kekasih.


"Kenapa Papa belum datang juga ya! kau kan sudah mau check in kan?" Juna melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Tak terasa sudah hampir dua jam mereka ngobrol ngalor-ngidul.


"Mungkin sebentar lagi. Apa kau merasa sedih ku tinggalkan?" Adzka menatap Juna dengan tatapan tak biasa. Suasana menjadi begitu serius.


"Ya, aku baru saja merasa nyaman, mempunyai teman yang sok akrab, dan aneh sepertimu!" Juna meninju bahu Adzka.


"Aku serius! kau pasti akan merindukan ku. Tunggu aku, Ya!" masih dengan wajah seriusnya, Adzka tak berhenti memandang wanita yang sudah beberapa jam menemaninya itu.


"Belajar yang benar, semoga kau bisa menjadi ahli jantung tersohor di dunia!" ucap Juna berdiri.


"Ayo ku antar kau check in!" Juna berjalan mendahului Adzka, menuju konter maskapai.


"Udah, gak usah pakai KTP. Mereka pasti maklum kok. Kau kan belum cukup umur untuk punya KTP!" Juna menghampiri Adzka kembali.


Dua pasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan. Pemilik sepasang mata menyunggingkan senyum lebarnya melihat kedekatan Adzka dan Juna, tapi tidak dengan satu pasang mata lainnya.


"Siapa dia, Bang?" tanya perempuan berjilbab itu dengan nada datar.


"Itu temannya Adzka, sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Aku kesini memang akan menjemputnya, dia anak komandanku!" Zuan menjawab tanpa melihat ke arah Dewi yang sudah terbakar cemburu. Pandangan Zuan terus mengarah kedepan. "Pasti Adzka sangat senang, syukurlah. Aku tak pernah melihat senyumnya seperti itu, apalagi ketika dengan Dewi. Tapi maafkan aku mengganggu kenyamanan mu, Ka. Terpaksa aku membawa Dewi kemari, aku tak bisa menolak permintaan ayahnya." Zuan berbicara sendiri dalam hati.


Langkah mereka terhenti begitu telah sampai ke tujuan. Adzka masih terus mencari kartu identitasnya, Juna juga mencoba membantu. Laki-laki berkacamata itu menghentikan aksinya saat pundaknya ditepuk oleh tangan kekar Zuan.


"Oh kau sudah sampai!" Adzka terlihat membulatkan matanya ke arah Zuan saat matanya menangkap sosok perempuan yang tak diharapkannya hadir saat ini, meminta penjelasan.


"Hai, Ka! Sudah mau berangkat ya!" sapa Dewi mendekat. Matanya menatap Juna dengan tatapan tak suka. Sedangkan Juna celingukan mencari keberadaan Papanya.


"Hai!" jawab Adzka malas, dia kembali menyibukkan dirinya, saat ini beralih ke bagian pakaiannya.


"Papa mana, Zu?" setelah bosan bercelingukan ria.

__ADS_1


"Pak Rudi masih ada urusan, mungkin jam 5 nanti baru selesai, jadi komandan menyuruhku menjemputmu, sekaligus melihat kepergian Adzka!" jelas Zuan, Juna hanya menggunakan metode mulut ikan mas kekurangan oksigen, "O".


"Hai kenalin aku Dewi, teman dekatnya Adzka!" Dewi mengulurkan tangannya.


"Oh ... Hai, aku Juna, bukan siapa-siapanya Adzka!" Juna melihat gelagat aneh pada Dewi saat melihatnya dengan Adzka. Juna menyimpulkan pasti Dewi punya perasaan khusus pada Adzka dari cara dia menatap.


"Aduh!" Adzka mulai putus asa, menyandarkan tubuhnya dikursi, mengusap mukanya kasar.


"Kau mencari apa?" tanya Zuan.


"Kartu identitasku, bagaimana aku mau check in!" Adzka menjawab dengan malas.


"Udah ayo, biar kakak antar kesana! nanti biar kakak yang bilang! kalau punyamu yang 'ini' hilang!" Juna menunjukkan benda berbentuk kartu tipis dengan foto Adzka di dalamnya.


"Jadi dari tadi kau! ih ... kau ini, aku sudah membongkar semua barang-barangku!" Adzka mengejar Juna yang sudah melarikan diri.


"Awas kau ya, sudah dua kali aku kau membongkar tas! membongkarnya gampang, membereskannya ini yang malas!" Adzka terus mengoceh, sambil memasukkan barang yang tadi dibongkarnya.


"Iya deh, Maaf ... maaf! sini biar kakak yang beresin!" entah sejak kapan Juna sudah ada kembali di dekat Adzka yang terus ngedumel seperti nenek-nenek.


Pandangan tak suka semakin kentara terlihat dari perempuan yang merasa jadi obat nyamuk. Sementara Zuan sibuk dengan gawainya.


"Oke beres! Hati-hati, Ya!" Juna menyerahkan tas ransel milik Adzka, melambaikan tangannya, seolah-olah Adzka sudah akan berangkat.


Mereka berempat berjalan menuju konter, setelah boarding pass di tangan, Adzka kembali menemui tiga orang yang bersamanya.


"Aku pergi dulu, Zu! titip mama!" kedua saudara itu berpelukan.


"Kau hati-hati disana, jaga kesehatanmu!" ucap Zuan menasehati, bagaimanapun Adzka itu adiknya, tentu rasa sayangnya lebih dari apapun.


"Dew, aku berangkat ya!" Adzka berpamitan kepada Dewi, tak ada jabatan tangan antara keduanya, hanya sekedar kata yang diucapkan Adzka, itupun hanya menghargai Dewi, dia tak ingin ada kesan sombong di hari terakhirnya di Indonesia.


"Aku pergi ya, jangan rindukan aku ya!" ucap Adkza memegang pucuk kepala Juna yang terbalut jilbab. Kedua manik mata mereka bertemu.


"Yang semangat belajarnya pak dokter!" ucap Juna tersenyum mengepalkan tangannya.


Adzka yang sudah berjalan sedikit menjauh dari Juna kembali menghampirinya, mendekat membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.


"Tunggu aku ya, Arjuna!" bisik Adzka di telinga Juna.


"Kau juga yang semangat kuliahnya. Jangan sampai pasien kau racuni dengan racikan obatmu!" ucap Adzka melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Apa katamu!" Juna mengepalkan tangannya, kali ini bukan menyemangati. Tapi kepalan tangan yang siap meninju lawan. Adzka tampak tertawa dan terus melambaikan tangannya.


__ADS_2