Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
88


__ADS_3

Purnama begitu indah, rembulan tampak penuh nyaris tanpa awan menutupnya, cahayanya seolah lampu penerang sampai ke lubang semut sekalipun.


Kedua anak manusia tampak makan bersama dengan keluarga lainnya. Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Resepsi sederhana yang di laksanakan di rumah pribadi milik Rudi berlangsung sukses. Hampir semua orang yang di undang hadir.


"Akhirnya, aku bisa makan bersama papa dan mama lagi. Walau pun sudah punya pasangan masing-masing." gadis itu berbisik, laki-laki di sebelahnya mendekatkan tubuhnya.


"Itu semua karena aku kan. Secara tidak langsung aku berhasil membuat keluargamu berkumpul lagi." balasnya dengan seringai khasnya yang menjengkelkan namun masih saja tampan.


"Ih, nyesal gue ngomong sama loe!" Juna menekan-nekan nasi di piringnya


"Eh, ngomong apa barusan?! panggil apa tadi kurang jelas!" mata Adzka melotot.


"Awas ya! bicara yang sopan sama suami."


"Iya suami. Maafkan aku suamiku!" keduanya terus berbicara hampir semua mata menatap mereka dengan tersenyum, semua maklum karena semua yang makan saat itu pernah merasakannya.


Hampir jam sebelas malam, Lia dan suaminya pamit pulang. Hotel tempat mereka menginap tak terlalu jauh dari sana hanya memakan waktu satu jam saja. Mereka datang hanya berdua saja, adik Juna tak bisa ikut hadir karena sedang menjalani program pertukaran pelajar di Singapura.


"Kenapa tidak menginap disini saja, Ma. Mama bisa tidur di kamar sama Juna kok. Ayah sama Mas Adzka kan bisa tidur di luar." Juna bergelayutan manja di lengan mamanya.


"Loh, kamu ini. Masak suaminya di suruh tidur di luar. Kasian amat nasib pengantin baru." Lia melirik Adzka yang wajahnya seketika tampak masam mendengar ucapan anaknya.


Adzka yang menyadarinya menyetujui pula saran istrinya. "Iya, Ma. Adzka gak apa-apa kok. Adzka bisa tidur di ruang tamu sama yang lain." ucapnya


"Enggak! mama harus pergi. Besok mama kesini lagi kok, janji." hibur Lia, memeluk anaknya yang sudah mencebikkan mulut.


"Bener loh, Ma. Jangan balik Makassar dulu."


"Iya, Sayang. Mama masih punya waktu tiga hari lagi di sini." terang wanita paruh baya itu.


"Tiga hari, Ma. Jadi acara ngunduh mantu nanti mama nggak ada?" Juna mendadak seperti anak kecil yang memaksa di belikan mainan.


"Maaf, Sayang. Mama tidak bisa menunggu selama itu." Lia mengeratkan pelukannya.


"Mama ...."

__ADS_1


"Yuyun jangan gitu ah. Malu dong sama pak dokter. Maklum ya, Ka. Juna masih seperti anak kecil tingkahnya."


"Siapa yang seperti anak kecil, dia tuh yang pantas dipanggil adek kecil." Juna kesal, Adzka dari tadi menertawakannya.


"Ya sudah, mama pergi dulu ya. Udah makin malam. Sana gih, bobok!" Lia pun masuk kedalam taksi bersama suaminya setelah berpamitan kepada semuanya.


"Bye, Ma ... Ayah! hati-hati." Adzka melambaikan tangannya, merangkul pinggang Juna dengan lengan kirinya.


Juna menatap mobil sampai hilang ditelan malam hanya menampakkan lampu belakangnya yang semakin menjauh.


"Ada yang panggil aku adik kecil lagi nih sepertinya. Apa kau sudah siap?" bisik Adzka memecah lamunan Juna


"Apa? kapaan!? siapa yang bilang anda adik kecil. Sadar diri mungkin." Juna menggendikkan bahu


"Hei, pendengaranku masih normal, Sayang."


"Hm ... ayo." Adzka menyatukan jemarinya dengan jemari lembut nan halus milik istrinya.


"Kemana?" Juna berusaha menahan langkah, namun tenaga Adzka jauh lebih besar dari-nya.


"Oh, itu. Aku lupa bilang. Hehe" Juna menatap iba Adzka, entah itu akting atau serius.


"Apa?"


"Aku sedang datang bulan, Dokter. Hahaha" tawa Juna begitu lantang, seolah kemenangan telah berpihak kepadanya.


"Hah!! datang bulan?! astaga." Adzka menepuk jidatnya.


\=\=\=\=


Laki-laki berginsul sedang rebahan di atas kasurnya. Netranya tak lepas menatap layar ponselnya yang menampilkan foto sepasang pengantin.


"Senyuman mu itu, Tet! kau tampak sangat bahagia. Aku ikut bahagia melihatnya." ucapnya


"Heh, Udin. Apa kau merindukanku!" Suara itu seolah membuat laki-laki itu terperanjat. Sepersekian detik ia selasa melayang di bawa kantuk yang tiba-tiba hadir.

__ADS_1


"Astaga, mimpi apa itu!" Marchel mendudukkan tubuh tegapnya, menuang air putih dari dalam kulkas mini dekat pembaringannya.


"Mungkin sebaiknya aku mengirimi-nya kabar. Sejak saat itu aku menutup diri. Saat ini mungkin sudah tepat. Dia sudah bahagia. Aku juga belum mengucapkan selamat untuknya." Marchel mengambil benda pipihnya


Jemari pun menari di atas kyboard, senyuman terukir di bibirnya. Beberapa menit pesan yang dikirim sudah centang biru, namun tak ada tanda-tanda akan di balas. Malah yang tadinya online berubah menjadi ofline.


"Setengah dua belas! biasanya masih melek kau butet! eh, iya ini malam pertamamu. Sorry ya, sengaja nganggu." tawa Marchel pecah menampakkan deretan giginya yang rapi.


"Apa yang lucu,Sayang?" suara serak khas bangun tidur terdengar lirih.


"Umm ... maaf sudah mengganggu tidurmu, honey. Tidur lagi yuk." Laki-laki itu memasukkan tubuhnya ke dalam selimut yang sama. Dekapan begitu erat, wanita sebelahnya pun tampak merasakan kenyamanan.


\=\=\=\=\=


Wajah gadis yang tampak kelelahan itu pun tampak bercahaya, lampu kamar yang sangat redup hanya menyisakan seberkas cahaya membuat sinar biru benda pipihnya begitu kentara.



"Akhirnya aku tak harus berbagi mama dengan mu, Butet! Selamat atas pernikahanmu, semoga langgeng bahagia sampai menua bersama." pesan singkat disertai foto berhasil membuat rasa kantuk sirna.


"Marchel!!" Juna terperanjat, sudah berapa purnama laki-laki itu tak pernah berkirim kabar, bahkan nomornya di blokir. Pelukan posesif dari sang suami pun seketika merenggang.


"Kenapa kau menyebut namanya saat bersamaku?" ucapan itu sangat menghujam jantung, status Juna sudah berbeda saat ini pun lagi kalian tau lah, bagaimana sifat cemburu Adzka.


"Maaf ... aku hanya terkejut, sudah lama Marchel tak memberi kabar. Lihat dia mengirimkan fotonya dan mama juga ucapan selamat untuk kita. Jangan marah! aku tak akan menghianati mu." Juna melembutkan suaranya, berharap kali ini cemburu suaminya tidak kambuh.


"Hm, mana lihat?!" Adzka mengambil benda pipih itu


"Ow! kenapa tidak di balas?"


"Boleh??"


"Besok saja. Ayo tidur, jangan buat aku semakin merana menatap wajahmu itu." Adzka menyimpan hape Juna di bawah bantalnya, terlebih dahulu ia mematikannya.


Gerimis pun mengguyur bumi, hawa dinginnya membius semua makhluk Tuhan untuk hanyut di alam mimpi menutup malam, bersiap menyambut pagi menjalani hari baru dengan status yang baru pula.

__ADS_1


__ADS_2