
"Halo, papa! Juna pergi dulu beberapa hari ya, Pa! Mau kerumah sakit. Kawan Juna sakit!" ucap gadis itu membawa koper meniti anak tangga.
"Kawanmu dimana?" terdengar suara dari seberang sana, Juna mematikan sambungan teleponnya. Kemudian menekan icon berwarna hijau dengan logo telepon didalamnya. Dia mengetik dengan cepat, kemudian menekan gambar berlogo pesawat kertas. Tak lama teleponnya berdering.
"Sudah sampai, Pak?" tanyanya saat sudah mendengar kata "Halo" dalam benda pipih yang di tempelkan ditelinganya.
"Oke, sebentar!" ucapnya mengakhiri panggilan. Menghabiskan roti ditangannya kemudian menengguk susu yang tinggal setengah gelas.
"Bunda, Juna berangkat! Assalamu'alaikum!" ucapnya mencium punggung tangan bundanya yang baru saja datang ke meja makan.
"Loh! udah izin Papa belum, Nak? Kalau papa tanya nanti bunda bilang apa? sudah bilang sama pak dokter juga?" dengan cemas Cindy mengantar anak gadisnya itu sampai menemui taxi yang sudah berada didepan rumahnya. Rudi memang sedang di luar kota saat ini.
"Sudah bunda! Sudah semuanya. Bunda tenang saja!"
"Teman yang sakit dimana, Nak? Kok bawa koper segala?" berusaha menggali informasi sebanyak mungkin, takut kalau-kalau suaminya marah membiarkan anaknya pergi tanpa mengetahui kemana tujuannya.
"Ke Malaysia, bunda! Assalamu'alaikum." ucap Juna menaikkan kaca mobilnya dan mengucapkan kata "Jalan, Pak" kepada driver.
"Ya ampun! Malaysia." Cindy terkejut mendengar ucapan anak sambungnya itu.
Cindy terus menatap punggung mobil berplat kuning tersebut. Cemas pasti menghampirinya, dengan terburu-buru masuk kedalam rumah. Telepon genggamnya menjadi sasaran utama.
"Assalamu'alaikum, Adzka. Juna ada telepon kalau dia mau pergi ke Malaysia tidak?" suara itu kian gusar
"Apa?! Malaysia, Bunda? tadi Juna memang kirim pesan mau pergi jenguk temannya sakit. Tapi gak tau kalau yang sakit itu disana, ya Allah ... main pergi aja. Mm ... sudah lama Juna berangkatnya, Bun?"
"Baru saja, Nak. Mungkin taksinya baru sampai pos."
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Penampilan anggun dengan hijab yang membalut menutup dada memberikan kesan berbeda kepada gadis yang menarik koper dan berjalan tergesa.
Rencana hendak membeli tiket pesawat, namun tangan kekar dengan baju kaus lengan panjang menghentikan langkahnya. Dua lembar boarding pass ia berikan kepada gadis itu.
"Loh!" manik mata mereka beradu, seringai tampan dari Adzka membuat Juna hanyut sesaat.
"Kok kamu disini."
"Gak boleh pergi sendirian, untung bunda gercep memberitahu aku. Kamu tuh ya, kalau ada yang kecantol disana aku gimana?"
"Aduuh!! Bunda. Pantesan getol amat tanya-tanya. Ternyata ini! hufft ... biar aja deh." batin Juna
"Ya udah ayo masuk, Aku mau duduk. Capek." Juna menarik lengan baju Adzka, penampilan Adzka berbeda dari biasanya, tak ada kemeja lengan panjang seperti saat bekerja, celanan jeans dan kaus lengan panjang abu-abu pilihan yang tepat untuk memikat calon istrinya.
"Ups! maaf ... maaf." gadis itu melihat wanita di sebelah Adzka
"Mas apa kabar? kangen deh. Sudah lama ya kita nggak ketemu."
"Iya" Adzka hanya menjawab sekenanya, dengan senyum yang di paksakan.
"Mas mau kemana?" gadis itu terus mencecar dengan pertanyaan
"Seperti pernah lihat nih orang, tapi dimana ya?" Juna yang memilih membiarkan mereka berdua mendudukkan dirinya di kursi panjang.
"Oh, iya iya. Aku ingat. Hm ... bukannya dia udah nikah ya. Suaminya mana?" Juna celingukan mencari seseorang yang mungkin bisa di ajak ngobrol saling berbagi emosi melihat pasangan masing-masing.
__ADS_1
Adzka semakin risih, Indah bergelayut manja di lengannya seperti biasa. "Ya ampun, anak ini! sudah menikah juga tapi tetap saja seperti kucing. Eh, tapi kenapa calon istriku mukanya di tekuk gitu? hahaha ... apa dia cemburu?" Adzka menerka dalam hati.
"Suami kamu mana?" akhirnya Adzka memberikan pertanyaan
"Suami Indah tidak ikut, Mas."
"Oh, pantesan berani nempel-nempel."
\=\=\=\=
Pesawat sudah mengudara, di ketinggian beribu kaki gadis berjilbab peach masih dengan emosi yang juga kian meninggi. Meskipun mereka duduk berdampingan, tapi sepatah kata pun tak terucap dari bibir laki-laki berlesung pipi tersebut.
"Pake senyum-senyum segala lagi! menghayalkan Indah yang sebenarnya tidak terlalu indah itu." Juna cemberut, hatinya terus menggerutu.
"Katanya cinta, liat cewek yang lebih cantik aja terus berubah gitu." batinnya lagi, dudukpun menjadi tak tenang. Sosok tampan di sebelahnya bisa membaca gelagat aneh dari si empunya badan.
"Kenapa? kok sepertinya bete gitu." Dengan menopang dagu Adzka menatap gadis yang hari ini menggunakan hijab.
"Enggak, siapa yang bete. Muka ku kan memang begini!" Juna melempar pandangannya.
"Itu tadi Indah." Perubahan mood Juna di mulai saat bertemu dengan perempuan itu, Adzka menyadarinya.
"Iya, tau! Indah ya, seindah orangnya." kata itu keluar begitu perlahan, tapi penuh dengan penekanan.
"Iya Indah. Tapi aku tak menikmati ke indahan itu kok. Tenang saja, hati calon suamimu ini sudah tergembok, dan kuncinya hanya ada padamu."
"Apaan sih." Juna menarik tangannya yang di pegang Adzka, menatap keluar jendela dengan muka yang memerah.
__ADS_1