
Mobil meluncur dengan kecepatan sedang dan berhenti di depan apotek yang baru saja buka. Tampak beberapa karyawan masih sibuk berkemas bersiap memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan yang datang.
Area yang bersih, pelayanan yang ramah dengan tiga 'S' di utamakan. Karenanya dua pintu itu tampak selalu ramai.
"Pagi!" ucap laki-laki berkemeja lengan pendek. Senyumnya mengembang di pagi yang cerah.
"Pagi, Pak." balas mereka serentak.
Marchel pun masuk kedalam ruangannya. Hari ini kerjaannya mengurus usaha ibunya masih sangat menguras tenaga. Laptop yang sengaja ia tinggalkan di ruangannya menjadi alasan untuknya datang ke tempat usahanya itu karena ingin selalu berada dekat wanita pilihan hatinya.
"Assalamu'alaikum. Cepat banget datangnya. Buang tabiat loe! biasanya habis subuh tidur lagi." Juna masuk kedalam ruangannya membawa kotak bekal.
"Wa'alaikumsalam. Jangan bawel! mana pesanan ku." Juna meletakkan kotak bekal yang dibawanya ke atas meja tepat di hadapan Marchel.
"Ini dia sandwich monte cristo ala chef Juna. Selamat menikmati." ucap gadis itu dengan senyum penuh kebanggaan.
Sepanjang perjalanan pulang dari pantai waktu itu. Marchel terus menggodanya dengan mengatakan gadisnya itu hanya bisa masak air saja. Juna pun tak terima dan mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah mulai banyak menguasai beberapa resep masakan. Memang benar kan!
"Kalau begitu buatkan aku Roti lapis. Jangan belajar memasak makanan Indonesia saja. Sekali-sekali cobalah memasak masakan luar, calon suamimu ini kan seleranya internasional. Jodohnya saja yang pribumi. Mungkin sudah takdir, apa mau dikata." seringainya membuat Juna mendaratkan beberapa cubitan di pinggang laki-laki berginsul tersebut. Juna tak mengatakan apapun, bisa mencuil kulit laki-laki yang di panggilnya Udin itu seakan membuatnya puas.
"Aku akan buktikan. Besok aku akan bawakan sarapan roti sandwich Monte cristo untuk mu lengkap dengan saladnya juga." Juna merasa tertantang, kebetulan acara lomba memasak yang di lihatnya di Tv waktu itu menyajikan sajian yang baru saja di sebutkannya.
"Oke, aku tunggu. Kalau kau bisa membuatnya dan pastinya enak. Aku akan memberimu hadiah. Janji!" Marchel menunjukkan ke dua jarinya.
\=\=\=\=
Perempuan paruh baya tampak sudah sangat segar. Rambutnya masih tampak basah, bedak tipis tertabur di wajahnya yang mulai keriput di beberapa bagian.
__ADS_1
"Dewi keringikan rambutnya ya, Ma." gadis itu menyalakan hairdryer.
"Kau memang benar-benar menantu idaman, Nak. Wajah mu secantik hatimu. Tapi kemana Indah? dari tadi pagi aku belum melihatnya." Fatmala menyapu sekeliling ruangan berharap sosok itu muncul. Dewi mengerti hal itu.
"Nyari Indah, Ma?" pertanyaan itu di anggukan, sudah mulai ada kemajuan dari dokter kandungan itu.
"Indah mungkin kecapean. Dari semalam kan dia yang jaga Mama. Mungkin masih tidur. Biarin aja, Ma. Nanti kalau ini sudah selesai biar Dewi bangunkan. Mama makan yuk." Dewi menaruh pengering rambut keatas nakas. Kemudian mengambil mangkok bubur yang baru saja di antar bibi.
Suasana menjadi hening, yang terdengar hanya detak jam dan suara sendok yang berbentur dengan mangkuk kaca.
"Sedikit lagi, Ma. Biar tenaga mama semakin meningkat." rayu Dewi.
"Aku memang ingin segera sembuh. Kedua perempuan yang merawatku ini berbanding terbalik. Dewi menyuruhku makan banyak agar tenagaku bertambah, tanpa memikirkan hal lainnya. Sedangkan Indah, dia malah menyuruhku jangan terlalu banyak makan, karena aku juga meminum suplemen penambah tenaga. Kalau aku banyak makan, nanti akan membuat aku banyak mengeluarkan kotoran. Ternyata dia tak tulus sayang kepadaku." Fatmala tampak melamun, batinnya terus mengajaknya bicara.
"Mama jangan melamun. Apa yang mama pikirkan? ini obatnya, Ma. Setelah ini mama sandaran di tempat tidur saja ya, Ma. Dewi mau keluar sebentar, sebentaar aja Ma. Mau siapin sarapan buat bang Zuan, lagi pengen nasi goreng buatan Dewi katanya." perempuan itu kemudian memindahkan mertuanya keatas tempat tidur di bantu bibi.
Di dapur
"Maaf aku merepotkan mu, Sayang." Zuan memeluk Dewi dari belakang. Gadis itu tampak sedang memotong bawang dan beberapa bumbu pelengkap lainnya.
"Gak apa-apa, Bang. Gak ada yang repot kok. Namanya juga lagi kepengen, ya harus di buatkan dong. Gak susah juga kan. Tapi maaf kalau gak enak." Dewi memblender semua bumbunya.
"Mau pakai telur atau gak?"
"Iya dong, telurnya setengah mateng ya."
"Oke, siap. Duduk dulu disana. 15 menit lagi selesai." Dewi menumiskan bumbu yang sudah di haluskan, menambahkan garam dan sedikit gula kemudian memasukkan kecap manis. Tak lupa menambahkan cabe rawit utuh ke dalamnya.
__ADS_1
"Wih, nasi goreng. Enak nih. Aku juga mau." ucap Adzka yang sudah rapi untuk berangkat bekerja.
"Enak aja, itu buat ku!" Zuan tak rela masakan khusus untuknya di nikmati laki-laki lain.
"Bang, adek masaknya banyak kok. Gak apa-apa kan. Abang juga gak bisa menghabiskan semuanya." Dewi mencoba menengahi.
"Tuh, berbagi dong ke sesama. Banyak pahala jalan rezki. Aku doakan semoga kau cepat bertobat." timpal Adzka.
\=\=\=\=\=
"Aagh ...." wanita berambut panjang itu menggeliat malas. Kantuknya sebenarnya sudah hilang, tapi rasa seluruh badannya terasa pegal-pegal.
"Duh, rasa habis di gebukin sekampung badan gue. Gini amat ya, ngurus orang tua." Indah mematah-matahkan lehernya.
"Pokoknya aku harus pulang. Gak gini juga dong rasanya. Belum juga jadi mantu, aku sudah harus ngurus tante Fat. Kalau nyiapin makan, mijitin aku gak masalah sih. Tapi gak untuk bantu ngangkat juga kan, apalagi harus bersihkan PUP, mandiin tente juga. Haaah! kenapa gak nyewa perawat aja sih."
Dengan malas-malasan gadis itu masuk kedalam kamar mandi kamar tamu tersebut. Menyalakan shower dan membiarkannya membasahi seluruh tubuhnya berharap penatnya hanyut bersama jatuhnya air.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading gaes, jangn lupa berikan komentar kalian tentang novel othor receh ini.🙏