Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
85


__ADS_3

Pintu terbuka, derap langkah terdengar jelas memasuki ruangan bercat biru. Netra gadis nerjilbab itu menangkap sosok perempuan yang sedari tadi sangat ingin ia berikan omelan-omelan khasnya.


"Permisi ibu, selamat sore! Kita periksa dulu ya!" ucapnya menyadarkan perempuan yang ada di depannya saat ini. Mila membalikkan badannya seketika, mungkin jenuh ... gadis itu terus menatap jendela, tirainya sengaja di buka lebar-lebar.


"Tadi kan, suster sudah datang kesini sama dokter Shah. Kok ada lagi yang datang, mau di apain lagi saya." gumamnya membalikkan badan. Matanya terbelalak, tak percaya dengan penglihatannya.


"Lo, kok! Ya Allah," ucap Mila menutup mulutnya.


"Loh kok, apa? Kenapa macam gak percaya gitu aku bisa sampe sini!" rutuk Juna mendekatkan dirinya ke brangkar.


"Kau anggap apa aku, Hah!" Juna mencubit sahabatnya, disusul jeritan Mila yang dibuat-buat.


"Auw... is, teganya!" Mila cemberut.


"Tak butuh do'aku rupanya kau? udah gak di anggap lagi aku ya! mentang-mentang udah punya laki, punya anak, punya mertua! Harusnya tau lah kau, makin banyak yang mendoakan mu, makin cepat kau sehat!" Juna terus mengomel. Rasanya semua rasa kesalnya telah habis ia tumpahkan bersama dengan air mata yang menetes dari sudut mata.


"Sakit hatiku! Kenapa harus kau sembunyikan sakit mu! apa kau anggap aku ini orang lain." Juna memeluk sahabatnya, Mila menyambutnya dengan senyuman. Begitulah Juna, sahabatnya yang begitu ceplas-ceplos, selalu meledak-ledak, tapi hatinya sangat lembut.


"Maafkan aku, aku gak mau menyusahkan mu, aku tak mau membebani pikiran mu. Calon pengantin ini, pasti sedang sibuk mengurusi pernikahannya kan? Aku juga sudah tidak apa-apa, Alhamdulillah." Mila mencoba menjelaskan alasan kenapa dia tak memberitahu Juna. Dua sahabat itu saling berpelukan lagi.


Mila tersadar dengan ucapannya sendiri.


"Eh, kau kan gak sampai satu bulan lagi udah mau kawin! Ngapai kau di sini? mana boleh dara manis kelayapan! Pulang sana!" usir Mila.


"Tenang, tenang! Aku bawa bodyguard!" ucap Juna santai, menaikkan kedua alisnya.


"Adek, Masuk!" ucapnya kearah pintu.


"Adek? tapi Bodyguard? Kau bawa dia kemari?" tanya Mila selidik. Adek yang di maksud Juna itu pasti calon suaminya. Walaupun Mila dan Juna terpisah jarak, namun komunikasi mereka masih tetap intens. Juna juga sering curhat kepada sahabatnya itu, termasuk curhat tentang "si Adek" yang barusan di panggilnya tadi.


Laki-laki tampan berbaju koko membuka pintu. Matanya menatap Juna tajam. Tak terima mendengar calon istrinya memanggilnya dengan sebutan itu lagi.


"Kenapa?" Juna meletakkan kedua tangannya di pinggang. Mila yang melihatnya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kok mau sih, bang. Sama yang model begini?" ucap Mila begitu Adzka sudah berada di samping Juna.


"Sudah Nasib, Kak. Mau cemana lagi!" ucap laki-laki itu. Juna meliriknya, Adzka menyunggingkan senyuman termanis.


"Baarokallahulaka wabaroka 'alaika wajama'a bainakuma fii khoir." ucap Mila menengadahkan tangannya berdoa. Doa untuk pasangan pengantin itu di ucapkannya tulus untuk sahabatnya yang ada di depannya.


"Belum lagi, Mila! kenapa di do'akan sekarang?" Juna menepuk kaki Mila. Sekarang Juna memang sudah duduk di ujung brangkar dekat dengan kaki Mila yang berselonjor di dalam selimut.


"Aamiinkannya nanti saja saat sah! Aku tak yakin bisa datang!" ucap Mila, matanya menatap kesembarang arah dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Apa itu artinya kau tidak mau datang?" ucapan itu bernada kecewa


"Hm ... aku sangat ingin hadir. Tapi sepertinya tidak bisa, aku dan mas Dzaki akan berangkat umroh kalau sembuh nanti, semoga saja waktunya pas, Allah juga mengizinkan ku untuk hadir disana. Yang terpenting dimanapun aku, aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian." tangan yang masih di infus itu menggenggam jemari Juna.


\=\=\=\=


Lelah, namun rasa rindu dan cemas telah hilang. Perasaan plong setelah melihat keadaan sahabatnya masa SMA dulu.


"Mas, kenapa bisa cepat banget ada di bandara?" pertanyaan yang dari tadi sudah berkecamuk di kepala ia lontarkan.


"Oh, pantesan."


"Berasa lari-larian di taman bunga itu pasti, terpaksa ya aku manggil, Mas. Dari pada di terkam, karena tadi manggil di adek." gumam Juna dalam hati.


Pesawat pun mendarat setelah kurang lebih 55 menit menembus angkasa.


"Berasa mimpi ya, pagi tadi di Penang eh ini udah di Medan lagi." ucap Juna menggeret kopernya.


"Aku gak yakin bisa jaga diri kalau kita menginap beberapa hari disana." ucap Adzka, berjalan beriringan.


"Siapa yang mau nginap dengan anda." ketus Juna


"Hm, aku tak akan membiarkanmu sendirian. Kau harus ku jaga agar tidak lepas." bisik Adzka

__ADS_1


"Aku bukan burung!"


"Siapa yang bilang kau burung!"


"Terus?"


"Kucing!!"


"Ih enak aja. Loe pikir aku Indah, aku gak pernah ya lendetan, gelayutan seperti dia itu." Juna mencubit lengan Adzka


"Aww! ampun, Yank. Sakit!" Adzka mengusap lengannya.


"Issh, berdarah kan." Laki-laki itu meniup bagian lengannya yang tampak merah


"Lebay! aku cubitnya pake tangan. Bukan pakai gunting."


"Aduh!" Adzka terus mengaduh, wajahnya tampak menahan sakit, membuat Juna mendekat. Gadis itu tampak merasa bersalah.


"Beneran sakit ya, Dok. Mana sini aku lihat. Biasanya gak pernah berdarah kok kalau nyubit orang." Juna memegang lengan kiri Adzka, melihat bekas cubitan yang ia tinggalkan.


"Sakit ...." ucap Adzka manja


"Mana darahnya? bohong ih!" Gadis itu malah menepuknya.


"Hahaha, makasi ya udah khawatir. Ya Allah, percepat lah waktu, aku sudah tidak sabar untuk menciumnya." Adzka menengadahkan tangannya.


"Dih, siapa yang khawatir. Jangan ya Allah, perlambat lah waktu. Aku belum siap punya suami seperti ini." balas Juna, lirikan serta senyum aneh terlihat dari bibir Adzka.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading ya, maaf terlambat. Mood author sedang jelek sejelek wajah sendiri, eh ... ralat, author gak jelek kok. Manis 😁


__ADS_2