
Pandangan dua laki-laki yang tak terpaut jauh usianya itu sama-sama tertuju pada benda petak seperti tv kecil. Berharap jangan sampai yang bergelombang di dalamnya menjadi lurus. Keduanya seperti anak kecil yang takut di tinggalkan pergi oleh orang tuanya.
Perempuan berjilbab juga sama, meski posisinya berada sedikit menjauh dari brangkar, namun netranya tetap saja ke arah wanita paruh baya tersebut.
"Kami permisi dulu, Dokter! Zu!" lelaki paruh baya menepuk pundak kedua laki-laki itu.
"Istirahat lah, kami sekeluarga mendoakan dokter Fatmala diberikan yang terbaik." ucap Rudi, Juna juga berada di sebelahnya. Tanpa berkata apapun hanya mencoba memberikan senyum berharap energi positif tersalurkan ke pada yang melihatnya.
"Dew, aku pulang dulu ya. Besok aku kesini lagi. Kau istirahatlah." peluk Juna, Dewi memang tampak sangat lelah, ucapannya di jawab dengan anggukan.
Laki-laki bertubuh tegap yang masih berseragam lengkap itu keluar lebih dulu, membiarkan anaknya mengobrol barang sebentar saja. Ia mendudukkan tubuhnya yang semakin berisi di kursi yang terpajang hampir di sepanjang koridor rumah sakit, hingga sosok gadisnya keluar. Mereka berdua berjalan beriringan menembus rintik hujan yang masih terus berjatuhan. Untungnya mobil Rudi berada tepat di depan rumah sakit tersebut.
\=\=\=\=
Cindy menatap lekat-lekat gadis yang dibawa suaminya bersamanya. Pelukan hangat dari wanita yang usianya semakin bertambah itu.
"Kakak apa kabar?" ucapnya, senyuman terukir manis di bibir tipisnya. Namun sorot matanya tampak menyimpan sendu.
"Kasihan sekali nasib jodoh anakku. Apa yang di pikirkan Marchel? kalau aku jadi dia, aku pasti akan terus mempertahankan Juna. Masalah cinta kan belakangan bisa tumbuh dengan sendirinya. Masa lalu kan bisa di lupakan. Iya kalau Adzka juga masih mempunyai perasaan yang sama, kalau tidak? bisa sajakan Adzka sudah punya pengganti. Alamat panjang ke jombloan anak gadis ku ini." Cindy terus membatin.
"Bunda ...." Rudi memanggil, merasa di abaikan oleh istrinya. Cindy dan Juna masih saling berpelukan.
"Apa sih, Pa." Juna mencebik, dia tau betul kalau ayahnya itu pasti iri karena Cindy terus memeluknya.
"Ya gantian gitu!" Rudi tak kalah manjanya, Cindy hanya tertawa melihat tingkah polah kedua manusia sedarah itu.
Malam pun semakin kelam, mengantar semua makhluk untuk damai dalam peraduan. Termasuk Juna yang tampak pulas tertidur diatas ranjangnya yang ia rindukan tentu saja masih dengan pakaian yang sama saat sampai di Medan bebebrapa jam yang lalu, Juna yang jorok dan malas mandi telah kembali ke habitatnya.
\=\=\=\=
Pagi hari, Rudi sudah duduk bertemankan kopi dan lembaran surat kabar. Suasanan begitu sejuk ditambah lagi sisa hawa dingin dari hujan yang terus mengguyur sepanjang malam.
"Pa, pinjam mobil boleh?" Juna telah berdiri di depan laki-laki paruh baya itu, berpakaian rapi dengan membawa kotak bekal makanan.
"Eh, siapa ini?" ucap Rudi melipat korannya, menatap wajah Juna lekat-lekat, menautkan kedua alisnya.
"Amnesia, Pa? kepentok apa?" Juna masih pada posisinya.
"Boleh ya, Pa. Bentaaar aja kok! habis antar makanan ini, Juna langsung pulang."
__ADS_1
"Kapan bisa nyetirnya?" Rudi mengintrogasi, selama Juna tinggal bersamanya bahkan sudah bekerja waktu itu, Rudi tak pernah mengizinkan Juna menyetir.
"Panjang ceritanya, Pa. Juna udah gede gini juga. Gak apa-apa kali nyetir sendiri. Siapa tau nanti Juna bisa beli mobil sendiri dari hasil kerja Juna."
"Bukan sudah gede, Nak. Sudah tua! hahaha. Kau pengangguran ... dapat uang dari mana buat beli mobil? nemu harta karun?" Rudi membulatkan lembaran koran, memukulkannya ke kepala anak kesayangannya itu sambil tertawa.
"Pesan taksi aja." ucapnya santai. Juna hanya bisa diam. Tak ada gunanya berdebat dengan Rudi. Kalau masalah aturan yang dibuat laki-laki itu tak akan bisa di ubah walau hujan badai menerpa. Kalau gak boleh nyetir ya akan tetap gak boleh sampai kapanpun. Karena itu, Juna dulu kemana-mana sering diantar Zuan. Rudi lebih memilih mencarikan sopir pribadi dari pada membiarkan Juna menyetir sendiri.
Juna pun duduk dengan muka yang di tekuk, mengambil benda pipih dalam tas kecilnya. Memesan ojek online langganannya.
"Jangan di jelek-jelekin gitu mukanya! udah jelek juga."
Juna diam saja hanya kaki yang terus di hentakkan ke lantai menjadi jawaban bahwa gadis itu sedang ngambek.
\=\=\=\=\=
Uweek ...uweek!
Dewi memuntahkan semua isi perutnya, wajahnya tampak sangat pucat. Sehabis shalat subuh tadi, perutnya terasa sangat gak nyaman, mulutnya terasa asam.
Zuan terus memijat tengkuk Dewi, membantunya agar lebih baik, memberinya air hangat untuk berkumur.
Di gendongnya tubuh mungil Dewi, membaringkannya diatas sofa empuk di ruangan VVIP rumah sakit. Adzka tampak prihatin melihat kondisi kakak iparnya.
"Kalau sudah enakan, kalian pulang saja. Biar aku yang jaga mama." ucapnya dari jauh, tangannya masih terus mengelus-elus tangan Fatmala berharap kesadaran mamanya itu kembali.
"Aku gak apa-apa kok" Dewi tak ingin meninggalkan mertuanya.
"Dek, kondisimu saat ini berbeda. Aku gak mau kalau nanti ...." ucapan Zuan terhenti saat telunjuk Dewi sampai ke bibirnya yang sedikit tebal.
"Adek gak apa-apa, Bang. Ini hanya proses." ucap Dewi keras kepala.
"Kalau mama tau pasti mama akan menyuruh kalian pulang. Mama akan merasa bersalah kalau terjadi sesuatu padamu. Pulang lah, kalau sudah merasa baikan nanti kau bisa datang lagi kan!" ucapan Adzka seperti perintah, Zuan juga manggut-manggut.
"Ya sudah." Dewi mengalah. Zuan pun berinisiatif untuk kembali menggendong istrinya.
"Mau apa? adek bisa jalan sendiri." Dewi menepis lengan Zuan yang bersedia mengangkat tubuh mungilnya. Polisi tampan itu terkekeh.
"Iya iya, maaf. Kalau bersedia abang rela kok, Yang. Jadi kakimu." rayunya
__ADS_1
"Masih langsing sih iya. Lihat nanti kalau sudah emak-emak." Adzka ikut menggoda. Dewi hanya cemberut, membereskan tasnya, kemudian keluar dari ruangan itu.
"Kan gak semua emak-emak gendut. Aku yang mungil gini masak bisa jadi besar, gak mungkin kan." batin Dewi.
Mobil putih meluncur membelah jalanan kota di pagi hari. Zuan menyetir dengan kecepatan sedang, sembari melihat-lihat sekitar mencari keberadaan lontong sayur. Wanita disebelahnya mendadak menginginkan makanan berkuah itu.
\=\=\=\=
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, menampakkan gadis berambut sebahu memasukinya.
"Pagi!" ucapnya dengan senyum ramahnya. Matanya mencari keberadaan temannya yang beberapa waktu lalu berbalas pesan dengannya, tapi tak menemukan satupun dari mereka. Hanya satu laki-laki tampan yang tampak lelah berada di samping brangkar.
"Pagi" jawab Adzka.
"Eh, itu ... apa ... mm ... Dewi sama Zuan mana?" Juna kikuk, rasanya ia ingin segera pergi keluar dari ruangan yang mendadak menjadi sangat panas itu.
"Baru aja pulang, kira-kira 15 menit yang lalu lah."
"Bawa apa itu?" Adzka melihat kotak bekal yang dibawa Juna.
"Oh, ini. Itu ... sarapan. Dokter belum sarapan kan?"
"Belum! ya sudah mana? siniin. Apa ini? ayam geprek?" Adzka menghampiri Juna yang masih berdiri di dekat pintu.
Sarapan pagi dengan ayam geprek plus sambal yang pedasnya aduhai waktu itu tak bisa dilupakan Adzka.
Keduanya saling tatap. Ada kerinduan dalam manik mata coklat keduanya.
"Kalau saja boleh, aku sudah memelukmu dan akan mengikatmu. Aku tak mau kau pergi dari sisiku." batin Adzka.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading. Semoga cerita ringan ini menghibur kalian. Vote dan like ya, supaya author semangat menyelesaikan novel ini. Terimakasih 🙏