
Sierra menatap ruangan yang bertuliskan 'Direktur' dengan ragu. Berkali-kali Sierra mencoba mengetuk pintu ruangan tersebut namun dengan cepat niatnya itupun langsung ia urungkan.
Sierra menarik nafas yang dalam. Ia melihat layar ponselnya kembali lalu membaca pesan singkat yang baru saja diterima olehnya beberapa menit yang lalu. Pesan yang mampu membuat Sierra putus asa dan seakan ingin menyerah dengan kehidupan yang dijalaninya.
“Sierra jangan lupa lunaskan hutang ayahmu secepatnya! Saya memberikan waktu seminggu untuk membayarnya. Jika dalam waktu seminggu belum juga dilunaskan bersiaplah untuk pergi dari rumah kalian!”
Begitulah isi pesan singkat yang sedari tadi mengusik pikiran Sierra. Yang membuat hati Sierra menjadi gelisah dan tidak tenang. Bahkan kepalanya juga mulai terasa pusing dan berputar-putar karena harus memikirkan cara untuk mendapatkan uang 80juta dalam waktu seminggu.
Meskipun Sierra mempunyai tabungan, tentu saja tabungan yang dimilikinya itu tidak sebanyak itu. Setengahnya saja tidak ada. Dan jika Sierra berniat untuk menjual dirinya, tetap saja mustahil jika ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam jangka waktu yang sangat singkat. Apalagi Sierra juga sadar jika dirinya tidak termasuk dalam kategori wanita yang cantik dan sexy. Jadi ide untuk menjual tubuhnya tentu hanya akan sia-sia saja.
Untuk kesekian kalinya Sierra pun menatap ruangan yang ada didepannya itu kembali. Hanya lelaki yang berada didalam ruangan inilah yang bisa membantu dan menolong Sierra. Karena Sierra tau, jika lelaki itu memiliki seorang wanita maka lelaki itu akan memberikan apapun kepada wanitanya. Meskipun itu adalah uang yang bernilai puluhan juta.
Setelah cukup lama bergelut dengan perasaannya sendiri dan hanya berdiri didepan ruangan dengan tatapan kosong, akhirnya Sierra pun berusaha memberanikan diri. Ia mulai mengetuk pintu ruangan itu dengan ragu. Hingga setelah 3 kali suara ketukan akhirnya lelaki yang berada didalam ruangan itupun bersuara.
“Masuk,”
Sierra yang mendengar perintah itupun langsung membuka pintu ruangan dengan perlahan. Lalu ia berjalan masuk kedalam dengan langkah yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
Sesekali Sierra juga melirik dan mencuri pandang kearah lelaki yang sedang disibukan dengan pekerjaannya itu. Hingga disaat Sierra sudah berada tepat didepannya, lelaki itupun mengalihkan pandangannya kearah Sierra.
“Ada apa?” tanya lelaki itu dingin.
Sierra menatap lelaki itu dengan ragu. Ia tidak tau apakah yang akan diucapkannya nanti akan benar-benar menjadi penolongnya atau malah menghancurkan pekerjaannya.
Sierra sadar jika ucapannya itu akan memberikan kesan yang lancang dan diluar batas. Apalagi Sierra mengatakannya kepada direktur perusahaannya. Sierra yang merasa bimbang pun memegang kedua tangannya yang mulai berkeringat.
"Kenapa kamu diam saja? Ada yang ingin kamu bicarakan tidak?" lelaki itu berkata kembali dan terlihat mulai tidak sabar. Sierra pun menarik nafas yang dalam. Ia berusaha mengumpulkan segala kekuatannya. Ini semua demi kebaikan keluarganya!
__ADS_1
“Begini direktur ada yang ingin saya bicarakan dengan anda," Sierra membuka suara.
“Bicaralah," jawab lelaki itu masih tetap dingin seperti biasanya.
“Sebelumnya saya ingin meminta maaf direktur jika perkataan saya terlalu lancang. Tapi saya benar-benar membutuhkannya dan hanya anda yang bisa menolong saya,"
Kali ini suara Sierra mulai serak. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Rasanya Sierra ingin sekali menangis. Entah menangis karena rasa takutnya atau karena beban hidupnya.
Lelaki yang berada didepannya itupun hanya diam. Dia memperhatikan Sierra yang terlihat gugup tidak seperti biasanya. Padahal jika hanya menyangkut masalah pekerjaan, sekretarisnya ini pasti tidak akan setakut itu. Pasti ada masalah lain diluar pekerjaan yang ingin dikatakan olehnya. Lelaki itu bisa langsung menebaknya.
“Iya coba kamu katakan dulu agar saya bisa mengerti," kali ini suara lelaki itu terdengar bersahabat. Membuat Sierra menarik nafas yang dalam kembali.
“Begini direktur saya benar-benar meminta maaf tetapi saya sangat membutuhkannya. Direktur Revan, apakah saya boleh meminjam uang pada perusahaan?”
Lelaki yang bernama Revan itu menyipitkan matanya. Lalu Revan bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Sierra. Tubuh Sierra pun semakin gemetaran karena rasa takutnya.
“Sekitar 80juta direktur. Saya benar-benar minta maaf karena sudah lancang. Tapi saya sangat membutuhkan untuk itu untuk melunasi hutang-hutang ayah saya. Saya mohon direktur bantulah saya. Tolong saya direktur,"
Kali ini Sierra sudah berlutut untuk memohon kepada lelaki yang berada dihadapannya. Bahkan airmata yang sedari tadi ditahan Sierra pun mulai membasahi wajahnya.
“Hei berdirilah. Jangan seperti ini," Revan memegang tangan Sierra untuk berdiri kembali. Sedangkan Sierra hanya bisa menuruti hingga akhirnya kini Sierra sudah berdiri kembali tepat didepan Revan dengan menundukan wajahnya. Sierra sudah terlalu malu untuk menatap lelaki yang merupakan direktur perusahannya itu.
“Baiklah saya akan meminjamkan uangnya padamu. Tetapi jaminan apa yang bisa kamu berikan pada saya? Apa yang bisa saya dapatkan jika saya membantumu?” tanya Revan yang masih menatap Sierra dengan lekat.
“Saya juga tidak tau direktur. Saya tidak mempunyai apa-apa. Saya tidak punya harta yang berharga untuk dijadikan jaminan. Mungkin saya bisa memberikan janji bahwa saya akan mengabdi kepada perusahaan dan mencicil utang-utang saya," jawab Sierra yang masih saja menundukan wajahnya.
“Kamu bilang mencicil? Mau berapa lama kamu mencicilnya hingga lunas? Bahkan saya tidak yakin jika kamu bisa membayar semua hutangmu meskipun kamu sampai mati bekerja di perusahaan ini mengingat jumlah gaji yang kamu dapatkan setiap bulannya tidak lah banyak,"
__ADS_1
Sierra diam sejenak. Apa yang dikatakan oleh Revan memang benar. Meskipun sampai tua Sierra bekerja di perusahaan dan mengabdi kepada perusahaan, tetapi mengingat jumlah gaji yang Sierra dapatkan setiap bulan pasti tidak akan bisa melunasi hutangnya. Bahkan untuk melunasi setengahnya saja pasti tidak akan mampu.
“Mungkin saya tidak bisa menjaminkan sesuatu yang berharga pada anda direktur. Tetapi saya bersedia untuk menjual diri saya kepada anda jika itu bisa membuat saya mendapatkan pinjaman uangnya,"
Sierra menggigit bibir bawahnya. Ia sadar bahwa ucapannya itu bisa saja membuatnya dipecat dan kehilangan pekerjaan. Tetapi mengingat dirinya yang saat ini memang benar-benar membutuhkan uang maka Sierra berusaha memberanikan diri dan akan menerima konsekuensi apapun dari yang diucapkannya.
Revan tersenyum. Lalu dia memegang wajah Sierra yang sedari tadi tertunduk untuk menatapnya. Hingga akhirnya kini mereka pun sudah menatap satu sama lain.
“Menjual dirimu? Kamu pikir kamu semenarik itu? Kamu pantas untuk menjual dirimu itu kepada saya? Memangnya kamu cantik dan sexy?”
Untuk kesekian kalinya Sierra terdiam. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Revan. Sierra sangat sadar dengan dirinya sendiri yang jauh dari kata cantik ataupun sexy.
Sierra hanyalah wanita biasa. Jauh dari kata sempurna. Apalagi jika dibandingkan dengan wanita-wanita yang dikencani oleh direkturnya itu. Sierra tidak ada apa-apanya. Menyadari kenyataan itu Sierra pun hanya bisa menundukan wajahnya kembali.
“Saya berikan kamu satu kesempatan. Besok datanglah menggunakan pakaian yang berbeda. Cobalah untuk merayu saya. Jika kamu bisa merayu saya, maka saya akan memberikan pinjaman itu dan mempertimbangkan kelayakanmu untuk menjual diri kepada saya. Apakah kamu mengerti?” ucap Revan kembali.
Sierra menggangukan kepalanya. Rasa khawatir yang sedari tadi menghantuinya seperti hilang begitu saja. Karena setidaknya Sierra masih mempunyai kesempatan. Sierra pun berjanji jika ia akan menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin. Meskipun hal itu akan benar-benar mempermalukan dirinya dan membuatnya kehilangan harga diri. Sierra tidak akan peduli.
“Terima kasih direktur. Terima kasih atas kesempatan yang sudah anda berikan. Saya akan menggunakan kesempatan itu dengan baik,"
“Baiklah. Sekarang kamu bisa kembali ke tempatmu bekerja. Saya akan menunggumu besok," Revan sudah berjalan kembali ketempat duduknya dan disibukan dengan kertas-kertas yang berada dimeja kerja.
“Saya pamit pergi direktur. Terima kasih banyak,"
Sierra membungkukan tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Sesampainya diluar, seluruh tubuh Sierra pun terasa lemas. Bahkan Sierra sampai berjongkok karena menahan gemetaran ditubuhnya.
Tidak lama dari itu, airmata pun mulai membasahi wajah Sierra kembali. Airmata yang menunjukan betapa sulitnya ia menjalani hidup ini.
__ADS_1
Sierra merasa sangat malu dan jijik dengan dirinya yang terlihat begitu murahan. Sierra benar-benar merasa tidak mempunyai harga diri. Sierra tidak jauh berbeda dari wanita-wanita malam yang mau menjual tubuh hanya demi mendapatkan uang. Tangis Sierra pun semakin pecah saat ia mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Sierra pun semakin larut dalam kesedihannya.