Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Apakah tuan muda sakit?


__ADS_3

Mendengar perkataan yang di sematkan oleh Sari, membuat Lia berfikir dua kali untuk meninggalkan rumah tersebut.


"Yasudah lah. Saya akan disini dulu. Oh iya, kalian sedang apa? Mau saya bantu?" Tanya Lia yang memang sedari tadi berada di dapur, dan melihat kedua pelayan setianya tengah mengerjakan sesuatu disana.


"Ah. Tidak usah nyonya. Andakan baru tiba, akan merepotkan bagi anda jika membantu melakukan pekerjaan ini. Toh kami hanya membuat steak kesukaan nyonya saja." Ujar Eneng dengan di iringi anggukan mantap dari Sari.


"Lagi pula, ini perintah dari tuan muda Leo. Mengingat anda begitu menyukai masakan steak, tuan muda langsung memerintahkan kami membuatkannya untuk anda. Bukankah itu romantis, nyonya? Saya saja yang mendengarnya jadi tersipu sendiri." Sambung Eneng.


"Benar sekali, nyah. Tidak di sangka-sangka, ternyata tuan muda bisa perhatian dan romantis sekali. Hihihihi." Sahut Sari dengan tawa kecilnya yang membuat Lia merasa gemas.


"Ya ampun. Bukannya tuan kalian sudah sering membawa wanita? Saya mungkin bukan yang pertama kali baginya. Saya yakin itu, tuan muda Leo pasti punya wanita lain selain saya." Ucap Lia dengan memasang wajah sedih, membuat Sari dan Eneng yang mendengarnya pun turut terkejut.


"Tunggu, nyah. Setahu saya yang sudahp bekerja disini selama beberapa tahun lamanya, tuan muda Leo tidak pernah sekali pun membawa wanita kerumah ini. Bahkan rumor tentang tuan muda mempunyai kekasih pun tidak ada." Ucap Eneng seraya menatap Lia intens.


"Saya pun begitu, nyah. Tuan muda hanya memiliki anda seorang, tidak ada kekasih lain atau wanita lainnya, nyah." Ucap Sari pun menyetujui perkataan Eneng.


"Saya masih ragu perihal itu semua. Lagi pula kami pun menikah karena di jodohkan oleh kakek Edward, bukan karena perasaan kami masing-masing. Jadi saya pun tak yakin dengan perkataan kalian." Sahut Lia dengan menundukkan kepalanya, seraya tangannya memainkan selada di meja dapur tersebut.


Sejenak Lia menatap kedua pelayan itu yang tengah mengamatinya dalam diam, membuat Lia tak tega dan memberi mereka semangat kembali.


"Tapi tidak apa-apa!! Toh ini semua juga akan segera berakhir!! Saya hanya harus bersabar dan mengikuti saja. Kalian jangan sedih begitu dong! Ayo kita masak daging enak ini." Lanjut Lia dengan memberikan senyuman terbaiknya.


Membuat Sari dan Eneng saling bertatapan muka dan mengangguk seraya membalas senyuman Lia kepada mereka.


"Baik, nyah." Ujar keduanya bersamaan.


Memegang daging yang masih berada di atas loyang itu, Lia pun menyentuhnya. "Jadi, bagaimana cara kalian membuat daging ini menjadi steak yang sangat lezat sekali? Saya bahkan masih ingat rasanya yang memenuhi rongga mulut saya." Ucap Lia mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


"Oh, jadi ini begini, nyah. Dan daging ini bla.. bla.. blaa.." Kesibukan mereka terlihat jelas dan sedikit suara gaduh yang mereka ciptakan mampu membuat seseorang yang berada di balik tembok pembatas antara dapur dan ruang keluarga pun dapat mendengarkan keasikan mereka bertiga.


Senyum kecilnya terukir di wajahnya, namun kembali menghilang tat kala ia teringat akan perkataan Lia beberapa saat yang lalu. "Toh ini semua juga akan segera berakhir!! Saya hanya harus bersabar dan mengikuti saja."

__ADS_1


"Akan segera berakhir, ya? Apa kamu seyakin itu, Adelia? Kamu adalah istriku dan akan selalu seperti itu." Ujarnya dan meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


****


Tiba saatnya makan malam, namun sang tuan muda Leo belum juga menghampiri meja makan. Begitu pula dengan kakek Edward yang belum juga tiba di rumah sang cucu.


"Kenapa mas Leo belum turun juga? Dia kan sudah tidur dari tadi siang." Gumam Lia yang melihat meja makan masih nampak kosong.


"Jangan-jangan tuan muda Leo sesang sakit, nyah. Apa perlu saya panggilkan dokter kemari, nyah?" Ucap Sari yang jelas mwmbuat Lia panik bukan main.


"Apa? Sakit? Tapi tadi mas Leo terlihat baik-baik saja." Jawab Lia.


"Saya akan melihatnya dulu, jangan memanggil dokter dulu. Mungkin tuan kalian sedang ketiduran." Sahut Lia dan segera menghampiri Leo yang berada di kamarnya.


Tok.. tok.. tok..


Tidak ada sahutan dari ketukan pintu tersebut, membuat Lia menyembulkan kepalanya dan mengintip, mengamati seisi kamar yang telah lama tak ia tempati.


Mengedarkan pandangannya dan mendapati sang suami tengah terbaring di atas ranjang berukuran king sizenya.


"Eh. Mas Leo masih tidur? Kenapa dia pulas sekali? Apa selelah itu, sampai tidur sepanjang hari ini." Ucap Lia pelan seraya menghampiri dan melihat keadaan dari pria yang telah membuat dirinya mengandung dari benihnya, Lia pun mencoba membangunkan sosok tersebut.


"Mas.. mas Leo.. bangun.." Ucap Lia sembari mengoncang-goncang pelan tubuh sang pria.


Tak ada jawaban maupun gerakan tubuh yang menandakan jika pria di hadapannya itu akan segera terbangun dari tidurnya.


"Kenapa tidak bangun-bangun? Apa jangan-jangan, mas Leo beneran sakit?" Seru Lia seraya kembali menggoncang-goncangkan kembali tubuh Leo yang hanya terbaring dalam diam, tanpa membalas perkataan Lia.


Menyentuh dahinya, Lia tidak merasakan kenaikan suhu pada tubuh Leo. "Tidak panas, kok. Tapi kenapa mas Leo tidak bangun-bangun?" Gumam Lia.


"Sebaiknya ku panggilkan dokter saja." Ujar Lia sembari beranjak dari ranjang tersebut.

__ADS_1


Namun gerakannya membuat Leo mengerjipkan kedua matanya, "apa yang kamu lakukan disini?" Ucapnya membuat Lia terkejut bukan main, hingga hampir terjatuh menimpa sang yuan mida.


"Kyaaa!!" Serunya karena terkejut dengan Leo yang tiba-tiba mengejutkannya.


"Kenapa kamu berteriak?" Ujar Leo dengan menutip kedua telinganya.


"Kenapa juga mas Leo tiba-tiba bangun?" Sanggah Lia.


"Kenapa memangnya kalau saya terbangun? Apa kamu menginginkan saya mati?" Ucap Leo tanpa berusaha memdudukkan tubuhnya.


"Apa?! Kenapa anda berfikir begitu?!" Seru Lia yang tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Lalu, kenapa kamu begitu terkejut saat saya terbangun?" Lanjut Leo dengan pertanyaannya.


"Itu karena anda tiba-tiba terbangun saja, makanya saya kaget saat melihat anda terbangun." Ujar Lia kembali.


"Apa kamu sedang melakukan sesuatu kepada saya?" Ucap Leo dengan seringai memenuhi wajahnya.


"Apa?! Tidak. Saya tidak melakukan apapun kepada anda. Kenapa anda bisa berfikir seperti itu?" Tanya Lia seraya memasang wajah pejuh tanya.


"Karena sepertinya kamu sedang berusaha menggoda saya, ya? Saya akui jika kamu cukup berani, meskipun sudah lama tidak bertemu tapi seharusnya kamu jangan terlalu sensitif. Nanti kamu kesulitan sendiri, lho." Bisik Leo tepat di telinga Lia.


Hingga membuat Lia baru menyadari jika ia berada di posisi yang kurang menguntungkan bagi dirinya.


Pasalnya ia berada tepat di atas tubuh Leo, lebih tepatnya ia tengah setengah menindih tubuh samg suami.


Seketika wajahnya memerah, hingga membuatnya segera beranjak dari posisi itu. Namun tangannya segera di cengkeram oleh Leo, membuatnya mau tak mau kembali menindih tubuh snag suami.


Pandangan keduanya bertemu, seolah tak ada yang menghalangi keduanya. Suara detak jantung keduanya pun menjadi irama tersendiri di situasi lada saat ini.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2