
Eneng yang telah pama menyembunyikan perasaannya kepada Irfan, kini hanya diam mematung. Menyaksikan apa yang tengah terjadi sast ini.
"..." Sedangkan Irfan hanya diam, memandang kue tersebut.
Merasa canggung, Sari pun mengurungkan niatnya memberikan kue itu.
"Kalau nggak mau, bilang nggaak mau. Jangan diam begitu aja dong." Ucap Sari dengan menarik kembali tangannya.
Dan Eneng pun segera menghela nafas panjang, seraya berjalan mendekati Sari.
"Ada apa, Sar? Dia ada ganggu kamu, ya?" Ucapnya dengan menatap sinis ke arah Irfan. Berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Oh. Nggak kok, kak. Dia nggak ada ganggu aku." Ucap Sari dengan pelaan.
"Terus, enapa kamu nentengun kue itu dari tadi?" Tanya Eneng menyelidiki.
"Oh, kue ini? Begini, kak. Dia kan waktu itu nolong aku, jadi aku berniat memberinya kue ini sebagai tanda terimakasih. Tapi, sepertinya dia nggak mau. Jadi ku ambil lagi, deh." Jelas Sari dan kini ia hendak pergi meninggalkan kedua orang itu.
Hingga tiba-tiba, langkahnya terhenti. Tepat ketika tangannya di cengkeram oleh Irfan. Membuatnya dia mematung saking takutnya.
"A-ada apa?" Tanyanya dengan nada suara yang bergetar.
Dengan sigap, Irfan mengambil kue itu dan memakannya seketika di tempat.
Membuat Sari dan Eneng terperangah seketika.
"Siapa bilang aku nggak mau?" Ucapnya dengan mulut penuh serpihan kue.
"Ya kan tadi, saat aku menyodorkan kue itu. Kamu diam aja. Jadi ku kira kamu nggak mau." Kata Sari menjelaskan.
"Sudah ku makan." Ucapnya dingin dan segera pergi.
Sedangkan Sari, hanya diam dan bersyukur karena masih bernafas hingga saat ini.
"Untung masih hidup." Ucapnya seraya mengelus dadanya bersamaan dengan ia menghela nafas panjang.
Eneng yang melihat itu pun, kini mulai paham akan situasi yang terjadi.
Ia sempat berfikir jika Sari menyatakan cinta kepada belahan jiwanya.
"Ku kira tadi kamu nembak Irfan, loh." Ucapnya dengan nada bercanda.
Sontak saja hal tersebut membuat Sari ngeri sendiri.
__ADS_1
"Apaa?!! Ya nggaklah kak. Pokoknya pacarku kelak orang yang baik hati dan nggak kasar." Sahut Sari yang masih bergidik.
Membayangkannya saja ogah. Ia benar-benar tak ingin memiliki urusan dengan Irfan, apalagi urusan perasaan.
'Jangan deh. Pokoknya jangan.' Batinnya.
"Dia juga baik, kok. Buktinya kamu di tolongin gitu." Ucapan Eneng barusna membuat Sari sedikit curiga dengannya.
"Kakak suka sama dia, ya?" Kata Sari tepat membuat Eneng terkesiap.
Ia tak menyangka jika ia harus ketahuan secepat ini.
"Ng-nggak, kok." Jawab Eneng tergagap.
Membuat Sari semakin yakin, jika Eneng memiliki perasaan terhadap pria dingin itu.
"Jangan malu-malu, kak. Mgaku saja, lah." Goda Sari dengan mencolek-colek pinggang Eneng.
"Kubilang nggak, ya nggak. Ngotot banget, sih!!" Bentak Eneng. Membuat Sari terkejut dan menunduk.
Dan segera ia pergi saja, tanpa menghiraukan Eneng yang memanggil-manggil namanya.
"Ah. Ma-maaf Sar. A-aku nggak bermaksud membentakmu. Aku tadi, hanya refleks aja." Perkataan Eneng barusan tak di gubris sama sekali oleh Sari.
'Duh. Jadi masalah lagi, nih.' Batin Eneng, dengan perasaan menyesal di benaknya.
****
Wanita itu mengajak Lia ke suatu tempat lainnya di panti tersebut.
"Silahkan masuk, mbak." Ucapnya dengan membukakan pintu tersebut, dan mempersilahkan duduk kepada Lia.
Lia pun menuruti saja, dengan perasaan dag-dig-dug-derrr. Saat ia harus mengetahui yang sebenarnya akan dirinya.
Dan wanita itu pun turut menduduki kursi yang telah tersedia, tepat di hadapan Lia. Dengan meja yang menjadi pemisah di antara keduanya.
"Maaf sebelumnya, saya belum memperkenalkan diri. Nama saya, Riska. Saya asisten oanti ini. Jika boleh tahu, nama anda siapa?" Tanyanya dengan senyum yang terus mengambang di bibirnya.
"Oh, iya. Nama saya Adelia, anda bisa memanggil saya Lia saja. Saya hanya ibu rumah tangga." Ujar Lia, dengan menjabat tangan wanita yang kini ia ketahui bernama Riska.
"Jadi, ada maksud apa anda kemari." Ucapnya, kini berubah menjadi formal.
"Langsung saja. Saya kemari karena saya berasal dari tempat ini." Ujar Lia dengan sembari menyerahkan dokumen perihal dirinya.
__ADS_1
Dengan cekatan, wanita itu mengambil dokumen yang sangat berarti bagi Lia.
Dengan waktu singkat, Riska mengerti akan maksud kedatangan Lia ke Panti asuhan ini.
"Tunggu sebentar ya, mbak." Ucapnya seraya memilah beberapa buku yang terpanjang di belakangnya.
Rak buku yang cukup luas, terbentang di belakang Riska. Lia yang mihat itu pun merasa gugup.
Setelah mendapatkan buku yang ia cari, ia pun kembali duduk dan menatap Lia dalam-dalam.
"Hhh.." Menghela nafas sejenak.
"Sebelum kedua orang tua meninggal beberapa waktu yang lalu, mereka berpesan jika ada seseorang yang datang mencari ini, berilah kepadanya petunjuk ini. Karena hanya ini yang mereka miliki." Ucapnya seraya menyodorkan buku yang tak nampak tebal itu.
'Oh. Pantas saja dia tak menjawab pertanyaanku tadi. Ternyata dia anak yatim piatu.' Batin Lia dengan raut wajah nampak bersalah.
"Ma-maafkan saya, tadi saya tidak tahu jika.. kedua orang tua anda telah tiada." Ujar Lia dengan menundukkan wajahnya.
"Iya. Tidak apa-apa, awqlnya saya sayang sedih dan terpukul atas kepergian mereka. Tapi, mau bagaimna lagi? Ini sudah suratan takdir. Saya hanya dapat menerimanya dengan ikhlas. Kematian, tidak dapat kita hindarkan. Akan tetapi, dibalik itu semua, terdapat kebahagiaan yang tengah menanti kita." Jelasnya dengan menyuguhkan senyuman manisnya, seraya mengelus pertunya yang sedari tadi, tanpa Lia sedari sedikit buncit.
"Ah. A-anda hamil?" Ucap Lia sedikit terkejut dan dijawab senyuman Riska yang semakin lebar dengan anggukan kecil, mewakili pertanyaan Lia.
'Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya.' Batin Lia yang masih tak percaya.
"Lalu, mana suami anda?" Tanya Lia yang tak melihat pria sedari tadi, kecuali hanya beberapa anak-anak laki-laki sebagai anak tampungan panti ini.
Mendengar pertanyaan Lia barusan, membuat Riska terdiam dan mengulum bibirnya. Hingga membuatnya kehilanagb senyum manisnya.
"A-ada apa? Apa kamu sakit?" Tanya Lia sedikit khawatir, melihat perubahan ekspresi Riska.
Sebuah gelengan di berikan Riska, dan air matanya menetes tiada henti.
"Sa-saya tidak apa-apa. Maaf." Ucapnya setelah merasa lebih tenang.
"Saya tidak memiliki suami." Ucapnya, sontak membuat Lia terkejut bukan main.
"Hah? Lalu, bagaimana anda bisa hamil? Apakah anda-?" Pertanyaan Lia terputus, saat ia mendengar jawaban keluar dari mulut Riska.
"Saya di perkosa oleh pacar saya, yang ternyata telah memiliki istri." Ucapnya singkat, tapi begitu menyakitkan bagi wanita manapun yang mendengatnya.
Benar-benar sebuah kenyataan yang ironis. Ia telah kehilangan kedua orangtuanya, dan kini ia harus menanggung beban menjadi wanita hamil tanpa suami.
Beban mana yang tidak lebih berat daripada ini?
__ADS_1
Bersambung..