
Entah mengapa, kini Lia berada di dalam pesawat dengan Feri tepat di sebelahnya.
'Kenapa tiba-tiba kita pergi keluar kota? Baru kerja satu hari sudah kerja ke luar kota. Jadi gini ya, rasanya kerja sebagai sekretaris?' Batin Lia.
Sudah lama sekali ia tak mengendarai benda terbang yang tebuat dari besi itu. Kini ia dan atasan barunya tengah menaikinya, meski pun sedikit terburu-buru.
Flashback on
Awalnya Lia yang asyik mengetik beberapa dokumen masalah pemasaran di komputernya, dikejutkan oleh panggilan dari telpon yang berada di mejanya.
"Iya. Halo, pak? Baik, pak." Ucap Lia saat ia di suruh masuk kedalam ruangan milik atasannya.
Dengan segera, Lia memasuki ruangan tersebut. Nampak nyaman dan juga tenang, tidak terlalu luas tapi memberi kenyaman tersendiri bagi Lia.
"Ada apa, pak?" Tanya Lia pada Feri yang duduk di kursinya.
"Dusuklah. Ada yang ingin saya bicarakan." Ujar Feri dengan nada serius.
Mendengar perintah itu, Lia segera duduk dan menunggu pembicaraan selanjutnya.
"Tolong siapkan data mengenai seluruh produk kita, dan jangan lupa sekalian harganya. Dan satu lagi, siapkan beberapa perlengkapan pribadimu, karena besok kita akan ke kota B." Titah Feri dengan menatap Lia yang tengah menukis di atas buku kecil miliknya.
"Apa?! Kenapa mendadak sekali?" Tanya Lia.
"Kamu sekretaris pribadiku. Jadi kamu juga harus ikut. Memang seperti itu tugas sekretaris. Apakah kamu bisa, nona Lia?" Tanya Feri intens.
"Oh. Iya. Saya bisa, pak." Jawab Lia dengan memberi senyum kecil kepada atasannya tersebut.
Flashback off
Dan kini tibalah Lia dan Feri di kota tujuan mereka, kota B. Dan benar saja, seluruh keperluan mereka telah di sediakan oleh beberapa orang.
Bahkan ledatangan mereka telah dinanti oleh supir taksi. Ketika mereka menaiki taksi pun telah disediakan oleh orang asing tersebut.
Taksi itu melaju, menuju ke sebuah hotel yang cukup tinggi.
"Saya diperintahkan sampai disini, tuan, nyonya." Ucap supir taksi tersebut.
"Iya. Terimakasih." Tutur Feri, dengan segera ia dan Lia menuruni taksi tersebut. Bersamaan dengan barang bawaan mereka yang merak bawa masing-masing.
Menuju lobby hotel tersebut, Feri memerintahkan Lia untuk duduk terlebih dahulu. Karena sepertijya Lia mabuk udara, sehingga ia terlihat lebih pucat dengan tubuh lemahnya.
__ADS_1
"Kamu duduk saja dulu disini. Aku akan menanyakan kamar kita kepada resepsionis itu." Ucap Feri. Tapi sepertinya perkataannya sedikit berat bagi Lia.
"Ehem. Maksudku, kamar kita masing-masing." Jelas Feri sekali lagi.
"I-iya, pak." Jawab Lia sekenanya. Ia merasa pusing yang ia alami semakin menjadi.
Sehingga ia memutuskan untuk memainkan ponsel miliknya, guna menghilangkan rasa mual dan pusing yang ia alami saat ini.
Tapi bukannya hal baik yang ia dapatkan, melainkan sebuah artikel yang menjadi pusat pembicaraan netizen baru-baru ini.
-Keserasian Tuan Muda Leonardo NusaJaya dengan Wanita Cantik-
Seperti itu lah judulnya, hingga membuat Lia merasa penasaran akan artikel tersebut.
Ia pun membaca seluruh isi dari artikel tersebut, dengan perasaan yang bercampur tak karuan, Lia pun memutuskan untuk mematikan ponselnya.
"Mas Leo ternyata memiliki kekasih lain. Apakah aku hanya permainannya saja?" Gumam Lia dalam kesedihannya.
Kepalanya yang pusing, serta rasa mual yang semakin ia rasakan, Lia ingin segera berbaring dan menenangkan fikirannya sejenak, meskipun hatinya bergejolak dengan perasaan yang tak dapat diartikan.
Tak lama kemudian, Feri yang datang dengan membawa 2 buah kartu untuk akses membuka pintu kamar mereka pun ada dalam genggamannya.
"Ini kartu milikmu, dan ini milikku. Sebaiknya kamu segera istirahat, wajahmu semakin pucat." Ujar Feri dengan membantu Lia membawakan koper miliknya.
"Sudah. Tidak apa-apa. Bentar lagi juga kita sampai." Tukas Feri.
Setibanya dikamar Lia, Feri tidak turut ikut masuk kesana. Ia masih memiliki harga diri, ia sadar diri jika wanita yang berada dihadapannya telah berkeluarga.
"Jika ada apa-apa, segera hubungin aku, ya?" Ucap Feri sebelum meninggalkan Lia.
"Baik, pak. Terimakasih banyak." Ujar Lia dengan membungkukkan tubuhnya.
"Yasudah. Kamu istirahat dulu." Sahut Feri dan menutup pintu itu.
Lia segera menghamburkan tubuhnya di ranjang nyaman milik hotel tersebut. Saking nyamannya, mampu membuat Lia tertidur dalam sekejap mata, dan melupakan sejenak fikirannya mengenai suaminya saat ini.
***
Leo menyadari kedatangan Lia dan juga atsan barunya, namun sepertinya keberadaannya tidak di ketahui oleh kedua orang yang baru saja memasuki lobby hotel tersebut.
"Hm. Kenapa wanita itu?" Gumamnya saat melihat wajah Lia yang nampak pucat.
__ADS_1
"Jadi, dia adalah pemiliki saat inj perusahaan Cakramulia? Terlihat masih muda." Lanjut Leo dengan mengamati dari balik koran yang ia pegang sedari tadi, postur tubuh pria yang baru saja memberikan sebuah kartu kepada istrinya.
Tak berselang lama, Leo pun turut ikut masuk kedalam lift yang lainnya. Menuju lantai yang berada istrinya di dalam kamar tersebut.
'CEKLEK'
Dengan mudahnya, ia membuka pintu kamar tersebut dengan menggunakan kartu yang telah ia terima dari resepsionis.
'Kenapa gelap sekali?' Batin Leo yang mengamati seluruh ruangan kamar tipe deluxe room itu.
Dari arah ranjang, Leo mendengar suara rintih seorang wanita yang sangat ia kenal.
"Ugh.. Mas.. Leo.." Ucapnya lirih.
Segera Leo memastikan akan keadaan Lia, ia mengamati dari tepi ranjang istrinya yang seperti kesakitan saat ini.
Leo memegang dahi istrinya dan betapa terkejutnya ia, saat ia merasakan suhu tubuh sang istri begitu tinggi.
"Panas sekali. Apa dia demam?" Gumam Leo dan tanpa sadar, suaranya membuat Lia membuka matanya pelan. Samar-samar Lia melihat bayangan sang suami.
"Mas.. Leo.. anda.. disini?" Gumam Lia dengan mengerjipkan matanya.
Tapi yang ia lihat hanyalah ruangan dari kamar yang ia tempati saat ini, tidak ada apa-apa selain ruangan kosong.
"Apa aku bermimpi, ya?" Ucap Lia dan beranjak dari tidurnya, sekadar menyalakan lampu dan kembali tidur.
Sedangkan Leo yang hampir ketahuan, kini hanya berdiri dalam diam di dalam kamar mandi milik Lia.
Dengan langkah yang perlahan, ia melangkahkan kakinya dan keluar dari ruangan tersebut sesaat setelah ia melihat Lia kembali tidur.
"Sepertinya dia baik-baik saja." Gumamnya di balik pintu kamar sang wanita yang telah teridur lelap saat ini.
***
Pagi telah berlalu, hari menjelang siang. Kini tiba saatnya waktu yang ditentukan. Pertemuan antara kedua kubu pemimpin NusaJaya dan juga Cakramulia.
Disebuah meja yang telah disediakan, Lia dan juga Feri nampak duduk berdua. Mereka kini tengah menantikan kedatangan orang yang sangat di harapkan dalam kemajuan perusahaan Cakramulia.
Disaat Lia tengah sibuk memahami seluruh prosuk dan harga yang tertera pada lembaran kertas di tangannya, ia tak menyadari jika sosok yang sangat ia kenal tengah berjalan mengarah kepadanya.
"Selamat siang. Apakah anda, pemilik perusahaan Cakramulia. Tuan Feri Cakramulia?" Kata seseorang dengan notasi suara yang sangat sangat Lia kenal.
__ADS_1
Membuat Lia mendongak dengan mata terbelalak, tat kala ia mengetahui dengan nyata, seseorang yang seharusnya tidak kngin ia jumpai untuk saat ini.
Bersambung..