Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Pagi Yang Indah


__ADS_3

*****haaaiiiiiii semuaaaa.....author ingin mengucapkan minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin😊. Tetap setia ya dengan kisah cinta Revan dan Sierra. Jangan lupa untuk dukung author dengan like, komen dan votenya. Terima kasih banyaakk☺️


Happy Reading***.........


Kini Sierra sudah selesai dengan penampilannya. Ia menatap pantulan dirinya didepan cermin yang saat ini menggunakan kemeja berawarna pink dengan hiasan syal berwarna hitam dibagian atasnya.


Ini adalah pertama kalinya Sierra menggunakan pakaian pemberian dari Revan setelah sebelumnya ia sengaja mengabaikan semua barang-barang itu begitu saja tanpa adanya keinginan untuk menyentuhnya.


Melihat pantulan dirinya yang terasa masih sedikit kurang, Sierra pun tidak lupa menambahkan riasan natural diwajahnya dan mengikat tinggi rambutnya hingga memperlihatkan bagian jenjang lehernya.


Sierra pun tersenyum ketika melihat hasil karyanya ini. Ia merasa penampilan dirinya sudah tergolong kata cantik walaupun tidaklah benar-benar sempurna. Yang terpenting Sierra yang merupakan seorang sekretaris dari Revan Atmaja tidak akan mempermalukan Revan dihadapan clientnya.


Setelah merasa puas dengan penampilannya, Sierra pun berjalan kearah ruangan tamu untuk menunggu kehadiran Revan hingga akhirnya langkah Sierra pun terhenti ketika ia mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.


Saat itu terlihat sosok Revan yang hanya menggunakan handuk putih yang diikat dibagian pinggangnya dengan santai berjalan keluar. Sierra yang melihat Revan saat ini tidak menggunakan satu helai pakaian ditubuhnya langsung menutup matanya. Pipi Sierra pun kembali merona merah.


"Astaga mengapa aku harus melihat pemandangan indah ini dipagi hari? Apakah tuhan sedah menguji imanku? Sedang berusaha menggodaku?. Liatlah dada putih bidang itu dan juga perut six pactnya yang bagaikan roti sobek. Benar-benar membuat wanita manapun tidak tahan untuk tidak menyentuhnya. Apalagi ditambah dengan rambutnya yang basah dan berantakan itu. Sungguh membuatku kehilangan akal sehat". Ucap Sierra didalam hati dengan tangan yang menutupi matanya. Ya walaupun tangan itu tidak benar-benar menutupi penglihatannya sepenuhnya karena masih ada beberapa celah yang membuat Sierra tetap bisa menikmati tubuh indah Revan.


"Kamu sudah siap Sierra? Tolong berikan kemeja saya yang ada diatas tempat tidur itu". Revan menunjuk kearah tempat tidur dimana kemeja berwarna putih sudah tertata rapih disana.


Sierra tidak menjawab. Bahkan Sierra juga masih tetap ditempatnya. Ia seakan mematung tanpa bisa melangkahkan kakinya ataupun mengeluarkan kata-katanya.


"Sierra kenapa kamu masih diam saja? Kamu tidak mendengar perkataan saya tadi?". Kali ini nada suara Revan mulai terdengar kesal.


Sierra menggelengkan kepalanya. Dengan susah payah ia pun berusaha mengeluarkan suaranya.


"Direktur Revan, oh maksudku Revan mengapa kamu tidak menggunakan kemejamu didalam kamar mandi saja? Kamu tahu kan bahwa dikamar ini ada seorang wanita dan kamu tidaklah sendirian".


Hening. Sierra tidak mendengar jawaban dari Revan. Sierra hanya bisa mendengar suara langkah kaki yang kini mulai mendekat kearahnya. Sierra pun semakin merapatkan tangannya itu untuk bisa menutupi matanya dengan sepenuhnya.


"Memangnya kenapa jika ada seoarang wanita dikamar ini? Toh wanita itu adalah kekasih saya jadi untuk apa repot-repot harus memakai baju didalam kamar mandi segala". Ucap revan dengan suara yang begitu dekat dengannya.


"Tapi tetap saja kamu tidak boleh melakukannya Revan. Walaupun aku kekasihmu tapi tidak seharusnya membuat aku melihat seluruh tubuhmu itu".


"Sierra apakah saat ini kamu sedang merasa malu? Atau kamu merasa tergoda dengan tubuh saya ini?". Kali ini Sierra merasa ada tangan dingin yang memegang tangannya yang membuat pandangan Sierra langsung tertuju pada tubuh polos Revan.

__ADS_1


"Astaga Revan. Kamu benar-benar keterlaluan. Tidak tahu malu".


Sopan santun yang selama ini Sierra jaga untuk direkturnya itupun kini seperti hilang begitu saja. Sierra langsung mengeluarkan kata-kata yang ada diotaknya dan berlari pergi kearah kamar mandi untuk meninggalkan Revan.


Sierra tahu bahwa situasi saat ini sudah berwarna merah yang menandakan keadaan darurat sehingga ia harus segera menghindar sebelum apa yang ditakutkannya akan benar-benar terjadi.


Saat sudah berada didalam kamar mandi Sierra pun merasa jantungnya berdetak begitu kencang. Bahkan wajahnya sudah benar-benar memerah tapi bukan merah karena blush on yang digunakannya. Tapi merah karena menahan malu. Sierra pun menghembuskan nafas panjang untuk menenangkan dirinya kembali.


"Sierra untuk apa kamu ngumpet didalam kamar mandi segala. Selama seminggu ini kamu akan melihat tubuh saya yang seperti ini setiap habis mandi jadi bersiaplah". Terikan Revan yang membuat pipi Sierra menjadi lebih merah dari sebelumnya.


"Revan jangan mempermalukan dirimu sendiri didepanku. Jika sudah selasai dengan persiapanmu cepatlah beritahu aku agar aku bisa langsung keluar".


"Sudah selesai Sierra. Kamu bisa keluar sekarang". Revan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu.


"Apa kamu yakin? Kamu tidak membohongikukan?".


"Sungguh saya tidak berbohong. Kamu bisa keluar sekarang dan memastikannya sendiri. Jangan mengulur waktu semakin lama Sierra".


Sierra menarik nafas yang dalam. Mungkin saat ini Revan memang tidak membohonginya. Karena jika Revan berbohong maka acara meeting mereka akan semakin terlambat dan Sierra yang sangat tahu bagaimana sifat disiplinnya direkturnya itu maka tidak akan membuang-buang waktu begitu saja.


"Lihat benarkan saya tidak membohongimu?".


Sierra menganggukan kepalanya. "Iya Revan. Maafkan aku".


Apakah kamu bisa membuat dasi? Tolong pakaian dasi ini dikemejaku". Revan memberikan sebuah dasi berwarna coklat kepada Sierra.


"Aku bisa sedikit-sedikit. Aku akan mencobanya". Sierra mengambil dasi coklat itu dan mulai memakaikannya di kemeja Revan. Sierra yang merasa jarak diantara mereka terlalu jauh pun berjalan mendekat untuk mempermudahnya membuat dasi itu.


Namun tanpa disadari ternyata Revan sudah mengambil kesempatan disaat itu. Revan yang malah melingkarkan tangannya dipinggang Sierra yang membuat Sierra kini berada didalam pelukannya.


Bahkan Revan dengan sengaja menciumi rambut Sierra dengan lembut yang membuat Sierra langsung menghentikan kegiatan membuat dasinya. Sierra berusaha mengambil langkah jauh namun Revan dengan cepat semakin mempererat pelukannya. Lalu Revan pun membisikan sesuatu ditelinga Sierra.


"Cepat selesaikan tugasmu ini agar kita tidak terlambat".


Sierra yang mendengar bisikan itupun langsung merinding. Lalu ia semakin mempercepat kerja tangannya sebelum Revan melakukan hal lebih padanya.

__ADS_1


Setelah beberapa detik, kini dasi itupun sudah terpasang dengan rapih dikemeja Revan. Sierra langsung melepaskan tangan Revan dari pinggangnya dan menjauh.


"Sudah selesai Revan. Ayo kita pergi".


Sierra mengambil tas merahnya dan berjalan keluar dari kamar itu. Sedangkan Revan masih saja memperhatikan Sierra dengan senyuman yang terukir diwajahnya.


Ketika sudah berada diluar kamar berkali-kali Sierra menepuk lembut pipinya dengan kedua tangannya. Ia berusaha menyadarkan dirinya dan menormalkan perasaannya setelah ia mendapatkan berbagai perlakuan dari Revan yang mungkin bisa menggoda imannya.


"Ayolah Sierra sadarkan dirimu. Kembali menjadi Sierra seperti sebelumnya. Jangan memikirkan hal yang mesum". Sierra memperingatkan dirinya.


Tidak lama dari itu suara langkah kaki Revan yang berjalan keluar pun mulai terdengar. Sierra menarik nafas yang dalam. Ia berusaha memberikan senyumannya dan menghilangkan segala pikiran kotor yang memenuhi otaknya.


"Kamu sudah selesai Revan? Ayo kita menemui asisten Vino yang sudah menunggu kita dari tadi".


Revan tidak menjawab. Dia hanya melangkah pergi begitu saja dan menggengam tangan Sierra. Sierra yang terkejut awalnya mematung namun dengan cepat ia pun berusaha menormalkan dirinya kembali dan menyeimbangkan langkah Revan agar tidak terus menerus mengulur waktu.


Saat sudah tiba diloby hotel Vino pun langsung menghampiri mereka. Tidak lupa Vino membungkukan tubuhnya seperti biasa untuk memberi salam. Lalu Vino pun melirik kearah tangan Revan yang saat ini sudah menggengam tangan Sierra dengan erat. Sebuah senyuman kecil pun terukir diwajahnya.


"Direktur Revan apakah anda ingin sarapan terlebih dahulu?". Tanya Vino dengan sopan.


"Tidak kita langsung berangkat saja. Tolong kamu bawakan segelas kopi, teh hangat dan roti untukku".


Vino yang mengerti pun mengangukan kepalanya dan langsung berjalan pergi kearah restoran yang tidak jauh dari mereka. Setelah beberapa menit Vino pun mengampiri mereka kembali dengan membawa pesanan yang sudah diminta oleh Revan.


"Ini kopi, teh hangat dan juga roti anda direktur".


Revan mengambil teh hangat terlebih dahulu dari tangan Vino lalu memberikannya kepada Sierra. Setelah itu Revan mengambil rotinya dan memberikan kepada Sierra kembali.


Hingga akhirnya hanya tersisa kopi hitam yang masih ada ditangan Vino dan Revan langsung mengambil kopi itu untuk dirinya sendiri. Sierra pun hanya bisa diam sambil memperhatikan apa yang Revan lakukan.


"Ayo kita berangkat sekarang".


Revan berjalan dengan tangan yang masih menggegam tangan sierra dengan erat dan diikuti oleh langkah Vino dibelakangnya. Sierra pun melirik kearah Revan sekilas. Lalu sebuah senyuman manis pun terukir diwajah Sierra.


"Aku tidak menyangka bahwa Revan adalah orang yang sehangat ini. Dia begitu memperdulikanku dan mementingkanku sebelum dirinya sendiri. Bahkan dia memberikan roti satu-satunya ini untukku dan membiarkan dirinya sendiri tidak makan apapun terkecuali minuman kopi hitam itu. Sungguh aku sangat tersentuh dengan sikapnya ini. Bahkan dipagi hari ini dia terlihat lebih tampan dari biasanya yang membuat hatiku selalu bergetar hebat. Aku merasa pagi hari ini adalah pagi yang sangat indah yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya". Ucap Sierra didalam hati dengan senyuman yang masih terukir diwajahnya.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2