Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Cinta yang Sebenarnya


__ADS_3

Merasa tak nyaman dengan keadaan yang semakin canggung, Lia pun memilih untuk diam saja.


Tapi suara lembut Riska membuyarkan lamunannya, ia segera menatap wanita yang kini tersenyum sembari menitikan air matanya.


"Akan tetapi, saya tidka menyesal dengan keadaan saya sekarang ini." Ujarnya dengan lirih.


Membuat Lia terheran-heran, hingga Lia memberanikan dirinya untuk mengajukan satu pertanyaan kepada wanita di hadapannya saat ini.


"Kenapa begitu? Seharusnya anda sedih dan meminta pertanggung jawaban darinya." Ucap Lia dengan amarah yang tak dapat di bendung.


"Memangnya wanita barang? Dapat di pake dan di buang gitu aja. Anda berhak memiliki suami atas anak di kandungan anda. Kenapa anda malah diam saja disini." Sambung Lia.


Fikirannya melayang tak karuan, membayangkan apa yang akan terjadi pada Riska dan juga anaknya. Bila mana pria tak bertanggung Jawab itu pergi begitu saja.


Namun semua fikiran dan juga komentar Lia yang baru saja ia lontarkan, segera terbalaskan dengan senyuman dan juga suara tenang pemilik wanita dengan rambut porang bergelombang di hadapan Lia.


"Karena saya mencintainya." Ucapnya tulus.


Tatapan keduanya bertemu, tak kuasa menahan air matanya pagi, Lia pun turut menangis sesenggukan.


Ia mampu merasakan apa yang tengah Riska rasakan saat ini. Pedih yang mendalam, namun ia pendam. Mau cerita namun tak ada siapapun yang dapat ia bagi cerita tersebut.


Kedua orangtuanya meninggal, ia hamil dengan pria yang tak dapat bertanggung Jawab, dan dia harus berusaha keras mempertahankan panti asuhan ini remi kelangsungan hidup anak-anak yang berada di sini.


"Hhh.. Jika memeng begitu, saya bisa bilang apa?" Ucap Lia dengan mengulum senyum seraya berdiri dan memeluk lembut tubuh Riska, yang ternyata lebih kurus darinya.


"Hiks.. Hiks.. Hikss.." Keduanya larut dalam tangisan, tanpa di ketahui oleh siapapun bahkan anak-anak yang tak tahu apapun itu.


Suara kekeh tawa dan teriakan mereka saling bersahut-sahutan, menyembunyikan tangisan yaang tengah kedua orang itu redam dalam diam.


Melepas pelukannya, Lia mengusap air mata di wajah Riska. Keduanya pun saling tatap dan kembali tersenyum.


Jika orang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mungkin mereka akan menyangka jika Lia dan Riska adalah orang bodoh.

__ADS_1


Tapi pada kenyataannya, air mata yang keluar di kala sedih serta di tambah dengan pelukan dari seseorang, dapat mengurangi rasa penat dan juga sakit hati manusia akan suatu hal.


Terbanding terbalik dengan orang yang lebih memilih diam dan berusaha untuk menahan air matanya, hal tersebut dapat membuat depresi, kehilangan kepercayaan diri dan berakhir dengan hal yang dapat menyakiti dirinya sendiri.


"Terimakasih karena telah mendengatkan kisah saya, meskipun hanya sesaat, saya benar-benar berterimakasih." Ucap Riska lembut.


"Ah, bukan hal yang menyusahkan bagi saya. Itu hal wajar bagi kita sesama manusia. Kitakan makhluk sosial, sudah tentu kita membutuhkan satu dengan yang lain." Ujar Lia dengan membalas senyuman Riska.


'Wanita ini senang sekali senyum, padahal dia sangat terluka. Berbeda denganku yang hanya dapat menangis, walaupun beban ku tidak seberat dia.' Batin Lia merasa takjub akan kepribadian yang dimilik oleh Riska.


"Yang seharusnya berterimakasih itu saya. Saya sangat terbantu dengan adanya dokumen ini. Saya jadi bisa mengetahui siapa saya." Sambung Lia.


"Sama-sama, saya hanya dapat membantu sebisa yang saya bisa." Kata Riska.


"Ini ada sedikit untuk keperluan panti ini. Mungkin tidak banyak, tapi setidaknya untuk keperluan mandi dan makan anak-anak serta keperluan mainan dan juga pakaian, saya harap dapat membantu anda." Ujar Lia dengan menyodorkan sebuah amplop coklat yang nampak menggembung.


"Ah. Benarkah? Syukurlah. Terimakasih banyak, ya. Saya benar-benar tertolong berkat anda." Ucap Riska dengan mengambil amplop tersebut, memastikan isinya benar uang.


Riska bukanlah orang yang tamak akan uang, namun karena dulu pernah ditipu oleh beberapa oknum, ia mendapati isi amplop seperti itu bukanlah berisi uang. Melainkan uang kertas, hal tersebut membuatnya marah dan kecewa.


Tapi sepertinya hal tersebut tidak mengurangi rasa iklas Lia dengan apa yang telah ia berikan.


"Teriamaksih banyak. Ini banyak sekali. Jika ada perlu apa-apa, datang saja kesini. Kalau tidak, ini nomor saya." Kata Riska dengan menyodorkan kartu namanya.


"Iya. Akan saya save. Saya lebih khawatir dengan anda. Bagaimana anda akan melahirkan kelak? Kalau ada apa-apa, hu ungi saya juga ya." Ujar Lia dengan memberikan nomor ponselnya pula kepada Riska.


"Kalau begitu, saya permisi. Terimakasih banyak atas bantuannya." Ucap Lia dengan membuka berdiri san membuka pintu tersebut.


" Ah. Cepat sekali perginya. Baiklah kalau begitu, saya mengharapkan kedatangan anda kembali. Mari saya antar." Ujar Riska dengan mengiringi kepergian Lia yang sepertinya kurang mulus.


Pasalnya, kerumunan anak-anak kecil itu mulai memenuhi jalanan. Membuat Lia sulit untuk menggerakkan kakinya, apalagi meninggalkan panti itu.


"Tante.. Tante kok mau pulang? Cepat sekali. Main dulu yuk, tan." Kata anak laki-laki yang berdiri paling depan.

__ADS_1


"Bawa saya saja, tante."


"Sama saya saja, tante. Mereka itu malas. Saya pintar mijat loh."


Melihat itu semua, Lia hanya dapat tersenyum dan membiarkan anak-anak itu memeluk dirinya dan bercerita kepadanya.


"Anak-anak.." Ucap Riska dengan lembut.


"Ma-maaf ya , mbak. Anak-anak ini, bikin malu saja!!" Lanjutnya dengan nada membentak yang ia paksakan.


"Sudah.. Sudah.. Tidak apa-apa. Jadi, kalian mau apa ni??" Ucap Lia denganmengajak anak-anak itu kembali ke auka bermain, dan bermain bersama dengan Lia yang hanya mengikuti mereka.


Sepertinya, keinginannya untuk pergi pun segera ia urungkan. Tidak memiliki saudara dan juga sosok ibu, membuat Lia ingin sekali turut bermain bersama dengan anak-anak tersebut.


Kekeh tawa dan suara cengengesan, serta sekali-kali tangisan cengeng dari anak-anak itu, lebih menambah ramai suasana saat ini.


'Jadi gini, ya. Rasanya main sama adik. Menyenangkan sekali.' Bantin Lia yang tengah asyik bermain lompat tali dengan anak-anak perempuan.


Sedangkan anak laki-laki, bermain dengan anak laki-laki lainnya. Sederhana, tapi nyaman. Itu menurut Lia.


Sekali lagi,pada kenyataannya tidak seperti itu. Kerap kali terkadang mereka menahan lapar, karena tak kunjung ada donatur yang membantu mereka, hanya sekadar untuk memberi mereka sedikit rasa kenyang, pada perut mereka yang masih mungil.


Sehingga banyak penyakit yang menghinggap, tak terkecuali seperti busung lapar, demam berdarah, muntaber, batuk pilek, dan yang paling sering adalah kelaparan.


Fikiran itu yang kini tengah melayang di kepala Riska saat ini, tat kala ia melihat anak-anak yang lahir tanpa kasih sayang kedua orang tuanya.


Tak tahu bagaimana penampilan keluarganya, kakek dan neneknya. Paman dan semuanya. Mereka tidak memiliki itu semua.


Itulah yang membuat Riska bertahan hingga saat ini. Jika ia ingin meneruskan rasa egonya dan mengejar cinta palsu itu, maka ia telah meninggalkan cinta yang sebenarnya.


Anak-anak panti ini dan juga, anak dalam kandungannya. Seraya mengelus lembut perutnya, Riska menatap anak-anak yang nampak bahagia, begitu pula dengan wanita yang bernama lengkap Adelia Anggraini itu.


Senyumannya mengambang di wajahnya, dengan angin sore yang menerpa rambutnya. Membuatnya menyelipkan jarinya untuk menyisihkan helai rambut pirangnya di antara telinganya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2