
Perlakuan Lia barusan tentu saja membuat pria dihadapannya menoleh seketika. Pandangan keduanya bertemu untuk yang kesekian kalinya. Tak peduli dengan apapun yang ada, wanita bernama Adelia itu kini hanya ingin suaminya lebih terbuka kepadanya.
Terlebih tentang kematian keluarganya, membuat Lia sungguh merasa seperti memiliki kesamaan dengan pria dingin dihadapannya saat ini.
Dirinya pun telah kehilangan sang ibunda, diarenakan sakit demam berdarah. Hal itu membuat Lia menjadi pribadi pendiam, terlebih lagi bisnis sang papah yang mulai meroket. Membuat papahnya melupakan keberadaan Lia.
Ingatannya kini tertuju pada malam hari dirumah yang cukup megah dengan interior yang cukup lengkap, Lia hanya menangisi sang mamah yang telah tidak bernyawa lagi.
"Mah!! Mamah!!" Seru Lia dengan memggocangkan tubuh mamahnya, namun tak ada respon dari sang mamah.
Dengan tubuh lunglai karena baru pulang sekolah, dengan seragam yang masih menempel. Lia menyusuri jalan menuju sebuah rumah milik kenalan papahnya yang kerap didatangi oleh sang papah.
Guyuran hujan yang membasahi dirinya pun tak membuatnya berhenti berlari-lari kecil. Guna mencai keberadaan papahnya yang sangat ia butuhkan disaat-saat seperti ini.
"Pah!! Mamah, pah!!" Seru Lia lagi memanggil sang papah yang kini tengah asyik bermain judi dengan kawan-kawannya, diteras rumah milik warga setempat.
Adelia yang melihat itu pun, mengepalkan tangannya dan menghampiri papahnya.
"Pah!! Papah ini gimana sih?! Nggak lihat kah mamah lagi sakit?!" Seru Lia kepada papahnya yang tengah tertawa terbahak-bahak, setelah melemparkan salah satu kartu ditangannya.
"PAH!!" Bentak Lia dengan cukup nyaring sekarang. Membuat papahnya beserta kawannya menoleh kearah Lia seketika.
"Apa sih dek? Biar aja mamah mu. Nanti juga sembuh sendiri." Ucapnya tanpa dosa.
"Tapi pah. Mamah nggak bangun-bangun dari tadi. Tolongin mamah , pah. Tolong pah." Ucap Lia memohon kepada papahnya sendiri dengan air mata membasahi seluruh wajahnya, serta air hujan yang membasahi seragam SMP miliknya.
Menghela nafas besar, akhirnya pak Tomo pun berdiri dan berjalan pulang menuju rumahnya. Namun ketika setibanya disana, ia melihat istrinya telah tak bernyawa lagi.
Kini hanya tinggal kenangan sajalah yang mnghiasi dirinya yang merasa bodoh. Namun perasaan tersebut teralihkan disaat ia meminta izin kepada Lia untuk menikah kembali dengan wanita pujaannya, yang perlahan menggerogoti harta yang seharusnya turut dimiliki oleh Lia juga.
Lamunan Lia pun terbuyarkan saat tanpa aba-aba, kedua tangan tun muda mencengkram pinggang sang istri. Membuat sang istri memekik sesaat, sebelum akhirnya ia merasakan dirinya terangkat.
Lia kini berada di pangkuan sang suami. Mendadak hatinya seperti leleh. Semua rasa sebal dengannya dahulu sirna seketika.
Menyadari jika tuan muda dihadapannya yang selalu disegani oleh banyak pihak adalah pria yang lemah. Namun ia, dengan apiknya menutupi kelemahannya itu dengan sikap dinginnya.
__ADS_1
"Saya.. Belum cukup mengenal anda, jadi saya tidak tau perihal kematian keluarga anda." Ujar Lia berusaha menenangkan tuan muda di hadapannya itu.
"Anda tidak perlu khawatir. Saya kan ada, anda sudah memiliki saya dan kelak kita akan memiliki banyak anak untuk meramaikan rumah ini." Sambung Lia tanpa beban.
Dengan senyum yang mengambang dibibirnya, Lia tak menyadari jika ucapannya barusan sudah membuat sang tuan muda merasa tersentuh.
Tak banyak orang yang berani bicara begitu dengannya. Apalagi mengenai masalah keluarga. Sudah menjadi tabu bila seseorang bicara yang menyangkut nama keluarga dihadapan tuan muda, maka akan berakhir sudah karirnya.
Tak perduli dia adalah seorang yang berpengaruh duluar maupun didalam negeri, ia tak akan segan-segan.
Namun kini, wanita dihadapannya dengan lantang dan percaya diri. Ia mengagungkan dirinya yang dapat menjadi keluarga bagi seorang Leo NusaJaya tersebut.
"Apa kamu yakin?" Ucap Leo seraya menatap balik wajah sang istri.
Pandangannya tertuju pada bola mata Lia yang berwarna coklat, dengan kulit bernuansa kuning langsat, serta rambut lurus yang ia sibakkan kebelakang dengan aksen bando menghiasi rambutnya.
Membuat tampilannya terlihat manis, bahkan kepada tuan muda yang terlihat cuek kepada wanita manapun.
"Tentu saja, saya sangat yakin bahwa kelak kita akan memiliki banyak a.. a... anak.." Perkataan Lia nampak terbata-bata ketika ia mengucapkan kata anak.
Yaaa.. Meskipun mereka telah menjadi sepasang suami istri, namun tentu saja itu hal yang memalukan bagi Lia pribadi.
Ia tak pernah, bahkan mimpi pun tak pernah memiliki seorang kekasih. Berpacaran pun tidak, boro-boro pacaran. Dirinya dulu hanya mengerti bekerja dan bekerja.
Tak pernah dalam dirinya tersemat untuk menjalin hubungan dengan siapapun, kecuali kedua sahabatnya. Jessica dan Hery, hanya merekalah yang menjadi teman sekaligus keluarga bagi Lia.
Rasa sukanya terhadap Herylah yang membuatnya mempertahankan status jomblonya. Hingga ia kini menjadi seorang istri daripada seorang pria yang disegani oleh seluruh masyarakat.
Menyadari Leo kini menatapnya dalam, hingga membuat Lia tak mampu berkedip akibat ditatap begitu intens.
"A-anda mau apa, tuan muda?" Ucap Lia terbata-bata.
"Bukankah sudah saya bilang, jangan panggil saya yuan muda. Panggil saja mas Leo!" Titah Leo yang kini malah memeluk tubuh mungil sang istri.
"Bukankah tadi kamu bilang bahwa kelak kita akan memiliki banyak anak?" Sambung Leo tanpa melepas pelukannya.
__ADS_1
"I-iya. B-benar." Jawab Lia tertunduk malu.
"Kalau begitu, jangan malu-malu dan bayar ucapanmu barusan." Kata Leo sembil mengangkat dagu Lia.
Lia yang tau apa yang akan dilakukan oleh suaminya hanya pasrah, sembari menutup kedua matanya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Leo usil.
Liapun membuka sebelah matanya saat melihat suami dihadapannya tengah menatap dirinya dengan seringai diwajahnya. Seolah-olah ia telah berhasil mengerjai Lia.
"Eh!!" Kaget bercampur malu, Lia segera mendorong tubuh sang suami dan bergegas berdiri.
Wajahnya memerah karena malu, serta kedua telinganya pun tak luput dari rasa malu yang tengah ia alami saat ini.
Melihat hal itu, Leo pun menarik tangan sang istri dan mencium punggung tangan sang isti.
Membuat Lia tambah salah tingkah karena diperlakukan bak putri seperti ini. Namun ia diam saja dan menikmati apa yang tengah dilakukan oleh suaminya kini.
"Apa kamu marah?" Ucapnya seraya menyisipkan helai rambut panjang milik sang istri dibelakang telinganya. Membuat Lia merasakan sensasi geli diarea tersebut.
"Tidak. Saya tidak marah." Sahut Lia yang masih enggan menatap Leo.
"Benarkah? Tapi kenapa menghadap kesana? Saya kan ada disini." Ucap Leo sekali lagi sukses membuat Lia menoleh kearahnya dan... Cup.
Bibir keduanya bertemu dan Leo pun ******* bibir sang istri yang terasa seperti buah stroberi.
Manis dan kecut serta sedikit panas. Dengan lihai seolah telah berpengalaman, Leo dengan santainya memainkan bibir sang istri.
Tangannya pun kini masuk kedalam pakaian sang istri dan jelas saja hal tersebut membuat Anita terkejut sesaat, namun ia tetap mengikuti permainan sang suami.
Entah sejak kapan, keduanya kini telah berada diatas ranjang dengan Leo yang setengah menindih tubuh mungil sang istri.
Memagut rindu dan mencari kehangatan yang talah lama tak kunjung mereka dapatkan. Hingga mereka pun mendapatkannya dengan kenikmatan tiada tara.
Bersamaan dengan terkulai lemas sang istri, merekapun menyudahi kegiatan tersebut dan memejamkan mata keduanya dalam balutan selimut serta pelukan yang tak ingin dilepaskan.
__ADS_1
Bersambung..